• Narasi
  • Siapakah Van Berling? Mengungkap Misteri Nama Lapangan Sepak Bola di Kertasari

Siapakah Van Berling? Mengungkap Misteri Nama Lapangan Sepak Bola di Kertasari

Nama Van Berling telah diwariskan selama puluhan tahun oleh masyarakat. Apa hubungannya dengan Adolf Bertling, tokoh perkebunan teh Sedep pada masa kolonial Belanda?

Rafli Nurochman

Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Lapangan Sepak Bola Van Berling, Kertasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Mohamad Heri Rizal)

2 Juli 2026


BandungBergerak - Berawal dari perjalanan santai pada suatu sore menyusuri jalur Terusan Pacet–Kertasari dengan sepeda motor, perhatian saya justru tertuju pada sebuah lapangan sepak bola yang memiliki papan nama bertuliskan "Lapangan Sepak Bola Van Berling”. Nama Van Berling terdengar asing sekaligus bernuansa Barat. Siapakah sebenarnya Van Berling? Apakah ia seorang tokoh Belanda yang pernah hidup pada masa kolonial? Ataukah nama itu sekadar warisan dari masa lalu yang terus digunakan tanpa lagi diketahui asal-usul maupun kisah di baliknya?

Lapangan sepak bola Van Berling terletak di Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Lapangan ini menjadi daya tarik tersendiri ketika melintasi jalan terusan Pacet-Kertasari. Pemandangan hijau perkebunan serta hamparan perbukitan khas Bandung Selatan di sekeliling lapangan seakan menghipnotis orang-orang yang melihatnya, ditambah penamaan tempat yang terdengar cukup unik dan asing karena bernuansa Belanda. Lapangan tersebut dikenal masyarakat dengan nama ‘Van Berling’, Menurut penuturan yang diperoleh penulis, nama tersebut diwariskan secara lisan di tengah masyarakat. Namun asal-usulnya belum dapat dipastikan.

Masyarakat sekitar kerap kali menyebut dengan kata “Van Berling” atau “Van Der ling”. Perbedaan tersebut disebabkan karena obrolan mulut ke mulut di masyarakat dalam penamaan lapangan tersebut pada zaman dahulu. Hingga saat ini nama “Van Berling menjadi yang paling populer di masyarakat Kertrasari.

Merujuk artikel berjudul “Gempa Bandung: Apa Kabar Bangunan Pabrik teh Kertasarie Peninggalan Kolonial Belanda?” yang diterbitkan media Tempo pada tahun 2024, daerah Kertasari merupakan kawasan perkebunan teh dan kina yang berada di wilayah Bandung pada masa kolonial Belanda. Pada masa sekarang sebagian besar perkebunan teh dikelola oleh pihak BUMN dan PTPN yang telah berdiri sejak tahun 1896. Salah satu dari beberapa perkebunan yang terkenal adalah perkebunan sedep.

Mengutip artikel “Profil PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Sedep” (WordPress.com), perkebunan ini berada di ketinggian 1.600-2000 meter di atas permukaan laut, terletak di antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, dengan jarak ±56 kilometer dari Kota Bandung.

Pada masa kolonial setiap perkebunan memiliki seorang administratur sebagai kepala perkebunan (hoofd-administrateur) yang bertugas mengelola kawasan. Artikel berjudul “Simbol kuasa dan nilai budaya masyarakat perkebunan sedep di kabupaten bandung” yang ditulis oleh Lia Nuralia dan Iim Imadudin pada tahun 2020 menjelaskan, wilayah perkebunan Sedep dipimpin oleh administratur Belanda bernama Adolf Bertling.

Bertling merupakan salah satu tokoh administratur ikonik dan terkenal di perkebunan Sedep, bahkan ia memimpin perkebunan dengan kurun waktu yang cukup lama yakni dari tahun 1907-1939. Di bawah kepemimpinan Adolf Bertling perkebunan Sedep di Kertasari dan sebagian Pangalengan ini menjadi salah satu produsen teh hitam dengan kualitas tinggi yang mampu mengeskpor ke luar negeri hingga menembus pasar Eropa.

Merujuk tulisan dari Komunitas Aleut, catatan perjalanan van Wulfften Palthe tahun 1914 menerangkan bahwa sesampainya diperkebunan Sedep, ia disambut oleh sosok Adolf Bertling selaku Adminstratur perkebunan. Catatan tersebut menjadi pertanda bahwa Bertling merupakan tokoh sentral dalam pengelolaan perkebunan Sedep pada saat itu.

Baca Juga: NGULIK BANDUNG: Mendekolonisasi Ingatan Ketika Romantisisme Menutupi Luka Kolonial
Bandung yang Kebarat-Baratan: dari Kolonialisme Belanda sampai Invasi Inggris

Sosok Adolf Bertling mewakili jejak keemasan komoditas teh di tanah priangan pada zaman dahulu. Dikutip dari artikel berjudul “Simbol Kuasa dan Nilai Budaya Masyarakat Perkebunan Sedep di Kabupaten Bandung” yang ditulis oleh Lia Nuralia dan Iim Imadudin pada tahun 2020, disebutkan bahwa Adolf Bertling di era keemasannya dapat mempengaruhi harga pasar teh di bursa komoditas London dan Amsterdam.

Jika dikaitkan dengan nama Lapangan Sepak Bola Van Berling yang terletak di Jalan Terusan Pacet–Kertasari, tidak menutup kemungkinan bahwa penyebutan "Van Berling" oleh masyarakat memiliki keterkaitan historis dengan sosok Adolf Bertling. Tokoh ini diketahui memiliki pengaruh yang cukup besar pada masa kolonial Belanda di wilayah Bandung Selatan, khususnya di kawasan Pacet–Kertasari, termasuk wilayah Perkebunan Sedep. Kemungkinan tersebut membuka dugaan bahwa nama lapangan sepak bola itu merupakan bentuk pelafalan lokal atau perubahan penyebutan yang berlangsung dari waktu ke waktu terhadap nama Adolf Bertling.

Jika ditelusuri dari sudut ilmu linguistik, penamaan Van Berling bisa terjadi karena hilangnya bunyi huruf “T” dari pelafalan masyarakat dalam menyebut nama Bertling. Masyarakat Sunda kerap kali menyederhanakan pengucapan kata asing dengan kata yang lebih mudah dilafalkan, seperti kata Bertling menjadi Berling. Kluster konsonan seperti “rtl” dalam kata “Bertling” menjadi tidak lazim dalam ejaan bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda sehingga bisa berubah menjadi “rl” atau “Berling”.

Selain itu kemungkinan transmisi lisan berpengaruh dalam pelafalan kata, seperti nama yang diwariskan secara turun temurun selama puluhan tahun. Namun untuk kemunculan kata “Van” dalam penamaan “Van berling” belum diketahui asal-usul kata tersebut serta memerlukan pembuktian melalui sumber-sumber sejarah maupun tradisi lisan dari masyarakat setempat. Temuan-temuan tersebut memungkinkan terkait soal penamaan lapangan sepak bola Van Berling yang berada di pengunungan Kertasari memiliki hubungan dengan sosok Adolf Bertling. Namun hingga kini belum ditemukannya bukti langsung antara hubungan penamaan lapangan sepakbola “Van Berling dan sosok Adolf Bertling sebagai Adminstratur perkebunan teh Belanda di wilayah Kertasari.

Jika ditelisik dari perspektif memori lokal yang diperkenalkan oleh Maurice Halbwachs dalam karyanya On Collective Memory, masyarakat kerap kali mempertahankan nama lama namun terkadang melupakan siapa tokoh yang melatarbelakangi nama tersebut. Perubahan pelafalan yang terjadi di masyarakat merupakan suatu hal yang lumrah mengingat perbedaan gaya bahasa yang cukup jauh antara benua Eropa dan Asia, sehingga susunan huruf dalam kata terasa sedikit berbeda jika bahasa dalam kata tersebut berbeda dengan bahasa yang sering di lafalkan oleh masyarakat.

Dalam hal ini terlihat jelas bahwa sejarah hidup dalam ingatan kolektif yang berarti masyarakat tetap mengingat jejak peradaban di masa lalu, meskipun mereka sudah tidak mengetahui secara spesifik tentang fakta sejarah di balik hal tersebut. Sebuah tempat dengan penamaan tersendiri berdasarkan obrolan masyarakat dapat membuka jendela sejarah dari minimnya informasi serta rasa ketertarikan terhadap sejarah lokal yang belum terungkap.

Kertasari dan Bandung Selatan merupakan sebuah kawasan yang memiliki sejarah panjang meskipun terletak di ujung selatan ibu kota bumi Pasundan. Mungkin yang tersisa dari sebuah konsep kolonialisme bukan hanya tentang pembangunan, perkebunan, penjajahan, dan penumpasan, tetapi juga nama-nama yang terus diucapkan tanpa mengetahui siapa yang pertama kali memilikinya. Van Berling mungkin salah satunya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//