Baros Nyarita: Pada Desa Kita Bertumpu, Pada Kota Kita Bertumbuh
Mata air bukan titik tunggal yang dapat diselamatkan hanya dengan pipa atau tembok pelindung. Menjaga mata air berarti menjaga seluruh perjalanan air.

Tim Peneliti Bestari Saintek 2026
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung– Bebenah Lemah Cai
18 September 2026
BandungBergerak – Pada kaki Gunung Malabar, kabut menyentuh pucuk bambu yang kemudian memecah sunyi hutan Mega Tutupan, gemercik air yang mengalir dari celah tanah ke rumah warga, menjadi penanda jalan pulang, sekaligus saksi tumbuhnya padi, dan nadi yang menyambungkan warga dengan tanah yang dipijak. Pohon baros semacam penanda kehidupan, darinyalah keluar mata air yang menghidupi dan dihidupi oleh warga, yang kemudian menjadi penanda wilayah. Walaupun kini tak mudah lagi menemukannya, beberapa akar pohon masih bertahan, didampingi oleh mata airnya yang masih setia mengalir, tak semelimpah dahulu.
Dengan penuh semangat, Nanang, 60 tahun, warga asli Desa Baros, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, yang mengetahui asal-usul desa, menceritakan dengan gamblang bagaimana mata air menjadi nadi kehidupan bagi banyak kegiatan masyarakat, seperti hajat panen, mulasara liang cai, dan tradisi lainnya. Semua tradisi dan ritual yang bermuatan filosofis tentang bagaimana memperlakukan alam dan menjaga aliran mata air bermuara pada kehidupan warga.
Namun perlahan, lanskap Baros berubah. Lahan-lahan kebun yang dahulu menjadi ruang hidup dan ruang resapan mulai berganti menjadi bangunan dan perumahan. Mata air yang dulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat semakin jauh dari perhatian. Tradisi yang pernah hidup di sekitarnya pun perlahan berhenti dilakukan. “Sekarang banyak yang sudah berubah. Mata airnya masih ada, tapi tradisinya sudah tidak seperti dulu. Banyak yang tinggal cerita,” ujar Pak Nanang.
Meski begitu, air masih mengalir dari tempat-tempat yang sama. Di tengah perubahan desa, mata air seperti menyimpan pesan bahwa alam memiliki ingatannya sendiri. Ia mungkin tidak lagi dikelilingi oleh ritual seperti dahulu, tetapi keberadaannya tetap menjadi pengingat tentang bagaimana generasi sebelumnya memahami kehidupan. Barangkali yang perlu dikembalikan bukan sekadar tradisinya, tetapi kesadaran yang berada di balik tradisi tersebut, bahwa menjaga mata air bukan pekerjaan satu hari. Sebab ketika sebuah mata air menghilang, yang hilang bukan hanya air, tetapi juga bagian dari pengetahuan dan ingatan sebuah kampung. Baros mungkin kini tinggal nama dari pohon yang dahulu banyak tumbuh di sana. Tetapi selama air masih keluar dari akarnya, cerita akan selalu ada.
Baca Juga: Skandal Ekspoitasi Air oleh Perusahaan Raksasa Air Kemasan
Perempuan Penghayat Penjaga Mata Air di Lembah Ciputri
Cerita Roh Penjaga Mata Air: Cara Masyarakat Desa Wirogomo Merawat Lingkungan
Mengenal Air Lewat Nama
Orang Baros mengenal air melalui nama. Dalam penuturan warga asli Jajang Nurjaman dan Nanang Rusmantana, nama-nama itu adalah peta kehidupan. Sindangreret berasal dari kata Sindang yang berarti berhenti, dan reret bermakna melirik: mata air dekat jalan menanjak tempat orang yang lelah dapat berhenti, menoleh, lalu minum. Cikahuripan, di dua lembah yang berhadapan dekat masjid, mengairi beberapa hektare sawah dan menyediakan air untuk berwudu. Cipadabeunghar keluar dari dinding gawir, menghidupi sawah, kolam, dan empat belas rumah, terutama di RT 05. Ada pula Ciseupan, Cikokok, Cipengesahan, Cikawedugan, serta mata air lain yang masih harus ditelusuri bersama warga. Air memiliki alamat untuk dicatat dan riwayat untuk dirawat. Nama menjadi tanda, tanda menjelma makna; dari makna lahir penjagaan, dari penjagaan mengalir kehidupan.
Cerita pun memperpanjang aliran itu. Cikokok dikaitkan dengan ayam berkokok; sebagian orang dahulu melempar koin ketika melintas, dengan harapan air tetap lancar dan tanah semakin subur. Cijolang dikisahkan muncul dari jejak seorang tokoh yang hendak berwudu. Kisah-kisah ini bukan laporan geologi, tetapi bekerja dengan caranya sendiri: memberi nama agar tempat dikenali, makna agar tempat dihormati, dan batas agar tempat tidak dirusak. Bukti carita merawat rasa, rasa menuntun langkah nyata; yang dikenang tidak mudah hilang, yang disayang tidak mudah tumbang.
Dahulu, menurut warga, debit mata air stabil selama kawasan atas masih berupa leuweung. Air pernah memancar kuat hingga rumput di sekitarnya merunduk. Bambu tumbuh rapat, pepohonan Mega Tutupan menahan hujan agar tidak lekas lari, dan hampir setiap rumah memiliki balong. Kini balong semakin jarang sejak permukiman meluas, hutan dan lahan pertanian berubah fungsi, dan sumur bor atau artesis hadir hampir di setiap RW. Di lahan Kawasan Perumahan Teras Pelangi dan Bukit Pinus Arjasari, penebangan disebut turut mengecilkan debit, sampah plastik menyumbat selokan dan menghambat aliran ke sawah. Kualitas air mungkin terasa sama, tetapi jumlahnya menyusut. Leuweung meranggas, aliran menipis tanah kehilangan pelukan, desa kehilangan kehidupan.
Karena itu, mitigasi tidak cukup dimulai ketika air hampir hilang. Mata air bukan titik tunggal yang dapat diselamatkan hanya dengan pipa atau tembok pelindung. Ia bagian dari koridor sosial-ekologis: hutan dan kebun di hulu, akar bambu yang memegang tanah, jalur resapan di lereng, selokan yang bersih, sawah penerima aliran, hingga rumah-rumah penggunanya. Menjaga mata air berarti menjaga seluruh perjalanan air, dari hulu yang rimbun menuju hilir yang tetap mengalun. Ikhtiar ini memerlukan kunci, dan kuncinya ialah carita: carita membuat sumber dikenali, dicintai, lalu dilindungi; carita mengubah ingatan menjadi tindakan, tindakan menjadi ketahanan.
Langkah pertama adalah mengenali kembali. Warga, pemerintah desa, pemuda, petani, perempuan penjaga kebutuhan rumah tangga, dan peneliti perlu memetakan mata air secara partisipatif: nama lokal, lokasi, debit pada musim hujan dan kemarau, pengguna, vegetasi, serta ancamannya. Peta itu bukan sekadar kumpulan koordinat, melainkan peta ingatan. Daun bambu pun menjadi aksara alam: ketika menguning dan berguguran, orang tua membaca musim hujan mendekat; suara burung cukcruk menandai kelembapan dan pergantian musim. Cerita, pengamatan warga, dan pengukuran ilmiah tidak perlu saling meniadakan. Data memberi ukuran, cerita memberi arah, warga memberi daya. Sains membaca debit dan musim, carita menyalakan batin; ukuran menuntun pikiran, tuturan menggerakkan kepedulian.
Langkah berikutnya ialah memulihkan daerah tangkapan air. Ungkapan pasir awian, lengkob balongan, lebak sawahan menyimpan kecerdasan ekologis: dataran tinggi ditanami bambu untuk menguatkan tanah dan menyimpan air; cekungan menampungnya; dataran rendah menjadi sawah. Pemulihan dapat dilakukan melalui pocket forest atau kantong hutan di lahan kecil, berisi tanaman khas Baros yang menghubungkan kembali sabuk hijau. Pembangunan baru harus memperhitungkan resapan, limpasan, dan daya dukung. Air membutuhkan tempat tinggal sebelum menghidupi manusia: tanah untuk meresap, akar untuk mendekap, hutan agar sumber menetap. Resapan dirawat, harapan menguat; akar memeluk tanah, air pulang membawa berkah.
Mitigasi juga harus menjadi kebiasaan. Pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, kerja bakti, dan pemantauan sebelum musim hujan adalah tindakan sederhana dengan akibat besar. Ingatan tentang pamali dapat dibaca sebagai etika lingkungan: jangan mengganggu mata air, jangan menebang beringin dan bambu di atasnya, dan bila menebang satu pohon, tanamlah satu pohon. Kisah penunggu mata air dahulu menahan anak-anak dari tindakan merusak. Di balik bahasa gaib tersimpan pesan nyata: alam memiliki batas, manusia tidak boleh bertindak lepas. Pamali menjaga sikap agar mata air tetap menetap; carita menjadi pagar batin sebelum aturan menjadi disiplin.
Pernah pula hidup gagasan bahwa pasangan yang menikah perlu menanam pohon. Program itu tidak bertahan lama karena lahan semakin sempit, tetapi pesannya terlalu baik untuk ikut mati. Bukankah indah jika sebuah keluarga baru dimulai bersama sebuah pohon baru? Rumah bertambah, pohon pun bertambah; keluarga bertumbuh, resapan pun tumbuh. Tentu romantisisme saja tidak cukup–pohon memerlukan lahan, pemeliharaan, dan perlindungan. Namun cerita memberi alasan batin, sementara kebijakan memberi kekuatan lahir. Keduanya harus bertemu: hati yang tergerak dan aturan yang tegak; niat yang baik dan tindakan yang tidak berjarak. Pohon ditanam, janji disiram; keluarga bertumbuh, mata air tetap utuh.
Mencatat Cikahuripan
Baros dipandang sebagai lanskap budaya yang hidup (living cultural landscape) yang mempertemukan warga, pemerintah desa, perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku usaha. Kerja hulu–restorasi lahan, hutan saku (pocket forest), dan perlindungan hutan tutupan–perlu bertemu kerja hilir berupa arsip cerita (storybank), KIK(Kekayaan Intelektual Komunal), revitalisasi budaya, dan wisata regeneratif. Pemetaan partisipatif harus diterjemahkan menjadi kebijakan desa agar sabuk hijau penghasil air tidak mudah dibuka. Bestari Saintek menjembatani data dan carita, laboratorium dan lembur, gagasan dan gerakan; agar ilmu tidak hanya dibaca, tetapi bekerja menjaga mata air bersama warga.
Lahan desa yang tersebar di Blok Ringgul, Legok Sireun, Sampan, Jubul, dan Cikijing dapat menjadi ruang uji untuk pemulihan. Cikijing, misalnya, dipandang sebagai kawasan penyangga air tradisional dan bagian dari greenbelt. Kantong-kantong hutan tidak perlu menunggu lahan luas; banyak titik kecil dapat tumbuh menjadi jejaring kehidupan. Namun penanaman tidak boleh berhenti pada upacara dan foto bersama–pohon datang, kamera menyala, lalu semua lupa. Bibit perlu dipilih, dirawat, dicatat, dan dijaga sampai akarnya benar-benar mampu memeluk tanah dan menyimpan hujan. Bukan menanam lalu menghilang, melainkan merawat sampai rimbun menjelang. Bibit dijaga, akar bertenaga; hujan ditahan, mata air diselamatkan.
Storybank Baros, Baros Nyarita, menghidupkan kembali cerita yang menjadi landasan. Mencatat Cikahuripan yang berarti air kehidupan yang menghidupi warganya. Menyimpan Cilingga dan kisah penjaganya berarti mengakui bahasa moral masyarakat dalam merawat alam. Menghidupkan cerita mitologi penjagaan mata air dan mendeskripsikan terkait kata pamali yang ada di dalamnya, dan pranata mangsa berarti mengembalikan perangkat ingatan yang dahulu menuntun tindakan. Cerita bukan pajangan atau nostalgia yang dimuseumkan, melainkan alarm yang dibunyikan kembali agar yang lupa ingat, yang diam melihat, dan yang melihat berani merawat. Carita dihidupkan, kesadaran ditumbuhkan, mata air diselamatkan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


