• Opini
  • Ketika Kabel Publik Dicuri, Satu Kota Ikut Terhenti

Ketika Kabel Publik Dicuri, Satu Kota Ikut Terhenti

Satu tindakan pencurian pada fasilitas publik di Kota Bandung tidak hanya menghasilkan kerugian material. Ada biaya sosial yang ikut muncul di belakangnya.

Fauziansyah Hartadi

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Aktif di komunitas Kertas Pulih dan Kembang Kata.

Sopir Trans Metro Bandung sedang menunggu lampu lalu lintas, Kamis (15/12/2022). Transportasi di Bandung belum terintegrasi dan masih banyak yang perlu dibenahi. (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak.id)

12 Oktober 2026


BandungBergerak – Hanya karena seseorang ingin mendapatkan uang dari beberapa kilogram tembaga, ribuan orang bisa ikut menanggung akibatnya. Bukan karena bencana atau kecelakaan besar, melainkan karena fasilitas yang seharusnya bekerja untuk kepentingan bersama dirusak demi keuntungan pribadi. Sesuatu yang mungkin dianggap sepele oleh pelakunya ternyata mampu mengacaukan perjalanan, memperpanjang waktu tempuh, dan membuat satu ruas jalan kehilangan kendali atas arus kendaraannya.

Ada sesuatu yang sering kali luput kita pikirkan ketika menggunakan fasilitas publik. Kita melihat lampu lalu lintas menyala, kendaraan berhenti ketika lampu merah, kemudian kembali berjalan ketika lampu hijau. Semuanya terlihat sederhana, seolah-olah semua itu memang seharusnya berjalan begitu saja.

Padahal di balik satu lampu lalu lintas yang menyala, terdapat berbagai perangkat yang saling berkaitan dan membutuhkan listrik, perangkat pengendali, serta jaringan pendukung agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ketika salah satu bagian mengalami gangguan, dampaknya dapat dirasakan jauh melampaui lokasi kerusakan itu sendiri.

Seperti beberapa waktu terakhir, terjadi kehilangan yang diduga bukan sekadar akibat kerusakan biasa, melainkan karena kabel sengaja diputus dan dicuri. Penjelasan Dinas Perhubungan Kota Bandung traffic light yang rusak akibat peristiwa pencurian tersebut ada di persimpangan Jalan Ibu Inggit Garnasih-Moch. Toha, Simpang Cikapayang, Veteran-Lembong, Naripan-Lembong, dan Veteran-Jalan Sunda. Di balik peristiwa tersebut ada persimpangan yang tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya, perjalanan yang berubah, dan pengguna jalan yang harus menanggung akibat dari sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan.

Baca Juga: Kapan Ruang Publik Kita Merdeka dari Bayang-bayang Chilling Effect?
Pohon-pohon di Ruang Publik
Merebut Kembali Narasi Ruang Publik di Bandung

Fasilitas yang Sangat Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari

Hari ini saya merasakannya sendiri ketika menaiki Metro Jabar Trans. Semestinya kendaraan dapat langsung berbelok ke kanan menuju Jalan BKR dan berhenti di halte BKR. Namun karena adanya rekayasa lalu lintas yang dikelola oleh warga setempat, kendaraan dari Jalan Moch. Toha, tepat di depan PT Inti, diarahkan untuk berbelok ke kiri dan melakukan putar balik di area U-turn Jalan BKR, tepat di depan Taman Tegalega. Namun, di lain hari, tepat di persimpangan yang sama, pembatas yang dibuat oleh warga untuk merekayasa lalu lintas sudah tidak ada ketika lampu lalu lintas masih mati total. Maka yang terjadi adalah, lalu linta pada persimpangan tersebut menjadi semerawut tidak teratur dan memiliki peluang besar untuk terjadi kecelakaan lalu lintas.

Pada kondisi seperti itu, pengaturan lalu lintas menjadi semakin penting. Ketika arus kendaraan sudah dialihkan dari jalur biasanya, pengguna jalan membutuhkan petunjuk yang jelas agar setiap pergerakan tetap teratur. Namun ketika lampu lalu lintas mati total, salah satu alat bantu utama bagi pengendara tiba-tiba tidak dapat digunakan. Akibatnya bukan sekadar lampu yang tidak menyala.

Arus kendaraan dari berbagai arah bertemu dalam ruang yang sama. Kendaraan yang seharusnya dapat bergerak secara bergantian harus berhadapan dengan kendaraan lain yang juga ingin melewati titik tersebut. Ruang yang terbatas kemudian menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan, dan dari sanalah bottleneck terbentuk. Kemacetan menjadi semakin panjang, kendaraan bergerak lebih lambat, dan waktu tempuh masyarakat ikut bertambah.

Kita dapat melihat bahwa fasilitas publik memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penumpang hanya tahu bahwa perjalanan mereka menjadi lebih lama. Pengemudi hanya tahu bahwa jalan yang biasanya dapat dilewati kini tersendat. Pengguna angkutan umum hanya tahu bahwa mereka terlambat tiba di halte atau tempat tujuan. Mereka tidak melihat apa yang terjadi di balik gangguan tersebut. Mereka hanya menerima akibatnya, dan mungkin di situlah persoalan fasilitas publik sering kali tidak terlihat. Masyarakat cenderung baru menyadari pentingnya sesuatu ketika sesuatu itu berhenti memberikan manfaat.

Kita baru menyadari pentingnya lampu lalu lintas ketika persimpangan menjadi kacau. Kita baru menyadari pentingnya halte ketika kendaraan umum tidak dapat berhenti sebagaimana mestinya. Kita baru menyadari pentingnya jalan yang tertata ketika perjalanan yang biasanya sederhana berubah menjadi rangkaian putar balik dan antrean panjang.

Banyak hal dalam kehidupan kota memang sengaja dibuat agar tidak kita pikirkan. Kita tidak perlu mengetahui siapa yang memasang lampu lalu lintas atau siapa yang memperbaikinya ketika rusak. Kita hanya berharap ketika melewati persimpangan, lampunya menyala. Kita hanya berharap bus datang, jalan dapat dilewati, dan perjalanan selesai sesuai waktu yang diperkirakan. Justru ketika harapan sederhana itu tidak terpenuhi, kita baru menyadari betapa banyak hal yang selama ini kita anggap biasa sebenarnya menopang kehidupan sehari-hari.

Satu tindakan pencurian akhirnya tidak hanya menghasilkan kerugian material. Ada biaya sosial yang ikut muncul di belakangnya. Waktu masyarakat terbuang, konsumsi bahan bakar meningkat karena kendaraan lebih banyak berhenti dan bergerak kembali, perjalanan menjadi tidak efisien, dan potensi konflik antar pengguna jalan juga dapat meningkat ketika tidak ada petunjuk yang jelas mengenai pergerakan kendaraan.

Bagi seseorang yang sedang mengejar waktu masuk kerja, keterlambatan mungkin berarti harus menerima teguran. Bagi seorang pelajar, beberapa puluh menit tambahan di jalan bisa membuatnya terlambat mengikuti pelajaran. Bagi pekerja, perjalanan yang lebih panjang berarti waktu produktif yang hilang. Bagi pengemudi angkutan umum, kemacetan berarti perjalanan menjadi lebih lama dan perputaran kendaraan menjadi tidak efisien.

Yang menarik adalah pelaku mungkin tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang akhirnya terkena dampaknya. Ia mungkin tidak pernah melihat pengemudi yang terjebak dalam kemacetan, penumpang yang terlambat, atau kendaraan umum yang harus mengubah pergerakannya. Ia mungkin hanya melihat benda yang dapat dijual dan uang yang bisa diperoleh. Namun orang-orang yang terkena akibatnya melihat sesuatu yang berbeda, seperti waktu yang hilang, perjalanan yang terganggu, dan aktivitas yang tidak dapat berjalan seperti biasanya.

Di sinilah perbedaan antara barang pribadi dan fasilitas bersama menjadi penting. Ketika seseorang kehilangan barang miliknya sendiri, kerugiannya terutama kembali kepada dirinya. Namun ketika sesuatu yang digunakan bersama dirusak, kerugian tersebut menyebar kepada orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa pelakunya.

Karena itu, persoalan ini seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa banyak material yang hilang atau berapa biaya yang dibutuhkan untuk memperbaikinya. Ada pertanyaan yang lebih besar mengenai bagaimana kita memperlakukan sesuatu yang dibangun dan dipelihara untuk digunakan bersama.

Kita sering berbicara mengenai pembangunan kota, transportasi publik, dan peningkatan kualitas pelayanan masyarakat. Namun pembangunan tidak hanya mengenai membuat sesuatu yang baru. Menjaga apa yang sudah ada juga merupakan bagian dari pembangunan.

Pembangunan sering kali lebih mudah terlihat ketika bentuknya adalah sesuatu yang baru. Jalan baru dapat difoto, halte baru dapat diresmikan, kendaraan baru dapat diperkenalkan. Tetapi pekerjaan menjaga agar semuanya tetap dapat digunakan sering kali tidak terlihat. Padahal, bagi masyarakat, keberlanjutan pelayanan justru terasa setiap hari. Sebuah kota tidak hanya membutuhkan pembangunan, tetapi juga membutuhkan kepedulian agar apa yang sudah dibangun tidak menjadi sia-sia.

Infrastruktur yang baik tidak akan banyak berarti jika tidak dijaga. Transportasi publik yang terus dikembangkan juga tidak akan memberikan pengalaman perjalanan yang baik apabila lingkungan tempat ia beroperasi terus mengalami gangguan.

Di sisi lain kejadian semacam ini juga memperlihatkan bahwa keamanan fasilitas publik bukan hanya persoalan teknis. Ada persoalan sosial di dalamnya. Kita memiliki banyak benda yang digunakan bersama, tetapi tidak semuanya dijaga bersama.

Kita mungkin tidak pernah mengenal orang yang menggunakan jalan yang sama dengan kita. Kita mungkin tidak tahu siapa yang duduk di dalam bus di sebelah kita, siapa yang sedang menunggu di halte, atau siapa yang sedang terburu-buru menuju tempat kerja. Namun justru karena kita tidak mengenal mereka, ada tanggung jawab yang lebih mendasar untuk tidak membuat kehidupan mereka menjadi lebih sulit secara sengaja.

Ketika Fasilitas Publik Rusak

Ruang publik sebenarnya berdiri di atas kepercayaan yang sangat sederhana, yaitu  bahwa orang lain tidak akan dengan sengaja merusak sesuatu yang dibutuhkan bersama. Kita tidak harus mengenal orang yang akan menggunakan jalan setelah kita. Kita tidak harus tahu siapa yang akan duduk di halte setelah kita pergi. Cukup dengan menyadari bahwa fasilitas tersebut bukan hanya tersedia untuk kepentingan kita hari ini, tetapi juga untuk orang lain setelah kita.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu melihat fasilitas publik bukan sebagai sesuatu yang “milik pemerintah”, melainkan sebagai sesuatu yang keberadaannya memang diperuntukkan bagi kita bersama. Pemerintah memang memiliki kewajiban untuk menyediakan dan memperbaikinya. Namun masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk tidak merusaknya.

Ketika fasilitas itu rusak, pemerintah memang harus memperbaikinya. Tetapi masyarakat pula yang kehilangan waktu, kenyamanan, keamanan, dan kelancaran perjalanan.

Kita sering merasa bahwa kerusakan terhadap fasilitas publik adalah persoalan orang lain selama kita tidak sedang berada di lokasi kejadian. Padahal, kehidupan kota saling terhubung. Gangguan di satu titik dapat mengubah perjalanan di titik lain. Satu persimpangan yang tidak berfungsi dapat memengaruhi ruas jalan berikutnya. Satu perubahan arus dapat membuat perjalanan yang biasanya hanya membutuhkan beberapa menit menjadi jauh lebih panjang.

Yang hilang mungkin hanya beberapa bagian dari sebuah fasilitas, tetapi yang terganggu adalah aktivitas banyak orang. Dan mungkin itu yang sering kita lupakan. Jota tidak hanya bekerja karena ada orang yang membangun dan mengaturnya, tetapi juga karena ada masyarakat yang bersedia menjaga sesuatu yang manfaatnya tidak hanya kembali kepada dirinya sendiri.

Kota pada akhirnya bukan hanya kumpulan jalan, kendaraan, gedung, halte, lampu lalu lintas, dan berbagai perangkat yang membuatnya terlihat modern. Kota adalah ruang tempat jutaan kepentingan manusia bertemu setiap hari.

Ketika satu bagian dari ruang itu sengaja dirusak demi keuntungan pribadi, yang dirugikan bukan hanya pemerintah atau pengelola fasilitas. Yang dirugikan adalah orang-orang yang sedang berusaha pulang, bekerja, belajar, berdagang, mengantar anak, atau sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sehingga mungkin karena itulah pencurian terhadap fasilitas publik tidak pernah benar-benar menjadi persoalan kecil. Sebab yang dicuri bukan hanya benda, yang ikut dicuri adalah waktu orang lain, kenyamanan orang lain, dan kesempatan orang lain untuk menjalani perjalanan mereka sebagaimana mestinya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//