• Berita
  • Warga Kekurangan Air, Data Center AI Dibangun di Jatiluhur

Warga Kekurangan Air, Data Center AI Dibangun di Jatiluhur

Proyek pusat data di dekat Waduk Jatiluhur memunculkan kekhawatiran soal kebutuhan air bersih dan dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan.

Ilustrasi. Eksploitasi alam yang berlebihan akan mendekatkan kehidupan manusia pada bencana. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Jadid Alfadlin 13 Oktober 2026


BandungBergerak – Mobil tangki air tiba di wilayah Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta. Muatan air bersih itu kemudian disalurkan ke lima titik tempat yang berlokasi di Desa Cilegong dan Desa Jatiluhur, dua dari sekian banyak tempat dilanda kesulitan air bersih dampak dari kemarau panjang.

Peristiwa tersebut terjadi pada awal Agustus lalu. Penyaluran bantuan dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purwakarta sebagai respons dari kekeringan yang telah terasa dampaknya bahkan hingga aktivitas sehari-hari warga, termasuk pada kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan konsumsi.

Desa Cilegong dan Desa Jatiluhur yang terletak di Kecamatan Jatiluhur sebenarnya berjarak sangat dekat dengan Bendungan Ir. H. Djuanda atau sering dikenal dengan Waduk Jatiluhur, tidak lebih dari 5 kilometer. Beberapa daratan di antaranya bahkan berbatasan langsung dengan waduk yang menyimpan sekitar 2,44 miliar meter kubik air.

Ironisnya, kekeringan masih saja terjadi di permukiman sekitar waduk yang menjadi pemasok utama kebutuhan air bersih bagi warga DKI Jakarta ini. Terlebih pada musim kemarau panjang, warga di sekitar Waduk Jatiluhur yang mengalami kekeringan justru mengandalkan bantuan-bantuan penyaluran air bersih seperti yang dilakukan oleh BAZNAS dan BPBD pada Agustus silam.

Dua bulan kemudian di wilayah yang sama, pembangunan Data Center AI (Artificial Intelligence/AI) mulai dilakukan. Peletakan batu pertama (groundbreaking) bahkan dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein serta jajaran pimpinan BDx dan BDx Indonesia, 22 September 2022 (Pikiran Rakyat). Proyek Data Center AI di Jatiluhur berdiri di atas lahan seluas 8.000 meter per segi.

BDx merupakan perusahaan raksasa penyedia infrastruktur digital dan pusat data yang berasal dari Singapura. Pembangunan pusat server AI ini kemudian banjir komentar di media sosial. Diketahui, banyak ahli yang menyatakan Data Center AI sangat membutuhkan air sebagai alat pendingin. Sejumlah pihak khawatir, kelak jika proyek tersebut benar-benar terealisasi akan semakin berdampak pada warga yang setiap kemarau selalu kesulitan air bersih.

Pembangunan Data Center AI di Jatiluhur

Dalam siaran pers Humas Provinsi Jabar disebutkan bahwa proyek ini kelak akan memiliki kapasitas daya listrik hingga mencapai 640 Megawatt. Adapun dalam pengoperasiannya, Data Center AI diklaim memiliki perbedaan dengan pengoperasian Data Center pada umumnya, baik dari perangkat yang digunakan hingga konsumsi daya yang dibutuhkannya.

Terkait hal tesebut, dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan pasokan daya listrik dan air bersih Data Center AI di Jatiluhur, pengelola telah berkerja sama dengan Penyedia Listrik Negara (PLN) dan Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu guna menjamin kestabilan pasokan. Namun, bagaimana kebutuhan air bersih yang dihadapi warga selama kemarau Panjang? Belum terjawab. Warga masih mengandalkan bantuan saluran air bersih dari BAZNAS atau BPBD ketika kekeringan tiba, sebagaimana yang mereka alami pada bulan Agustus kemarin.

Belakangan, Humas Provinsi Jabar menyatakan pembangunan Data Center AI itu telah diberhentikan sementara waktu dikarenakan tidak lengkapnya persyaratan administratif berupa dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Belum adanya kajian AMDAL ini perlu menjadi perhatian khusus, terlebih hal tersebut baru diketahui setelah beberapa waktu proyek pembangunan mulai berjalan.

Dengan potensi penggunaan air bersih yang cukup signifikan ke depannya, di mana tidak sedikit orang yang selama ini bergantung kepada air bersih yang berasal dari Jatiluhur, kepastian atau analisis terhadap dampak dari pembangunan Data Center AI ini menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan.

Baca Juga: Warga Indramayu dan Sukabumi Menolak PLTU dan Penggunaan Biomassa
Aktivis Lingkungan Menyerukan Bumi Pasundan agar Bebas dari Plastik dan Polutan, Pengelolaan Sampah Jawa Barat masih Bermasalah

Pentingnya Kajian AMDAL Sebelum Membangun

Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat Wahyudin mengungkapkan kajian AMDAL amat penting sebagai syarat dari proyek pembangunan Data Center AI di Jatiluhur. Ia juga menambahkan, analisis tersebut harus dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai pihak yang merasakan dampak dari pembangunan tersebut.

“Sangat penting dokumen lingkungan itu dibuat oleh pemrakarsa atau pihak ketiga. Salah satunya dokumen analisis dampak lingkungan, AMDAL. Dan itu harus dilakukan secara partisipatif, di mana tokoh masyarakat, apalagi masyarakat yang akan terdampak secara langsung itu betul-betul dilibatkan dalam penyusunan dokumennya, aspirasinya harus tertuang dalam dokumen AMDAL itu sendiri,” ungkap Wahyudin atau akrab disapa Iwank, Rabu, 7 September 2026.

Iwank juga menyoroti terkait dampak-dampak lainnya yang dapat terjadi akibat rusaknya lingkungan atau berkurangnya pasokan air jika kelak Data Center AI benar-benar beroperasi di Jatiluhur. Menurutnya, akan terdapat banyak sekali orang yang terdampak mulai dari sektor pertanian hingga kehidupan warga kota yang selama ini sangat mengandalkan pasokan air dari Jatiluhur.

“Kajian ini yang kemudian akan bisa menghitung berapa juta orang yang akan terdampak di Jawa Barat, yang selama ini menggunakan air tersebut. Berapa juga misal masyarakat DKI yang selama ini menggunakannya. Termasuk sektor pertanian, berapa banyak petani-petani yang selama ini teraliri gitu irigisanya akan terdampak,” ungkap Iwank.

Selain itu, Jatiluhur merupakan bendungan yang terhubung dengan Sungai Citarum. Hal itu menandakan bahwa dampak yang terjadi di Waduk Jatiluhur terkait air bersih dapat berdampak secara lebih luas ke wilayah-wilayah dengan jarak yang lebih jauh lagi.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//