• Berita
  • CERITA DARI TERMINAL LEDENG: Kang Mono tak Ingin Mesin Fotokopinya Berhenti

CERITA DARI TERMINAL LEDENG: Kang Mono tak Ingin Mesin Fotokopinya Berhenti

Hampir dua dekade mencari nafkah, Mono memilih pindah sementara agar usahanya tetap berjalan selama revitalisasi BRT Bandung Raya di Terminal Ledeng.

Kang Mono di toko fotokopi Terminal Ledeng, Bandung, Rabu, 14 Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Penulis Ardhzohal Roman Ario Bono22 Oktober 2026


BandungBergerak - Deru mesin fotokopi di salah satu sudut Terminal Ledang, Bandung, mengiringi kesibukan Dodi atau yang lebih akrab dipanggil Kang Mono, Rabu sore, 14 Oktober 2026. Di balik wajahnya yang tenang dan murah senyum, ada rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. Terminal tersebut akan dibangun, sementara para pedagangnya mesti mengosongkan tempat mereka berjualan.

Bagi Kang Mono, revitalisasi terminal dalam proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya bukan sekadar perubahan atap atau bentuk ruko, melainkan taruhan atas napas penghidupannya yang telah berjalan hampir dua dekade. Ketika warga melakukan aktivasi ruang “Proyek Dialog Pembangunan BRT Metropolitan Cekungan Bandung” yang diinisiasi oleh seniman Azis Zulfikar bersama komunitas Ledeng-Ledeng-Ledeng beberapa waktu lalu, Kang Mono menjadi salah satu pemilik ruko  yang memberikan dukungan penuh.

“Ya, mendukung sih ya. Selama kegiatannya positif mah insyaallah mendukung,” kata Kang Mono.

Aktivasi ruang tersebut berlangsung sebagai penyikapan warga terutama pemuda, di tengah dinamika rencana pembangunan terminal. Selama ini Kang Mono dikenal cukup dekat dengan para pemuda.

Kang Mono di toko fotokopi Terminal Ledeng, Bandung, Rabu, 14 Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)
Kang Mono di toko fotokopi Terminal Ledeng, Bandung, Rabu, 14 Oktober 2026. (Foto: Ardhzohal Roman Ario Bono/BandungBergerak)

Jejak Merantau dan Kehidupan Terminal

Hampir 18 tahun sudah Kang Mono menggantungkan nasibnya dari usaha fotokopi di Terminal Ledeng. Pria asal Jawa Tengah yang kini tinggal di Kampung Babakan. Lokasi rumahnya persis di belakang Terminal Ledeng, dekat Permakaman Umum Ledeng.

Mono memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya bertahan di sudut terminal. Kisah perantauannya dimulai pada akhir dekade 1990-an. Sebelum mengenal mesin cetak dan kertas, ia sempat mencicipi kerasnya kehidupan di Ibu Kota.

“Awalnya kerja sih saya kerja di Jakarta dari ‘99 sih. Di Jakarta mungkin dua tahun tiga tahunlah ya,” kenang Kang Mono.

Nasib kemudian membawanya ke Kota Bandung sekitar tahun 2001. Ia menyusul sang kakak yang tinggal di Ledeng, namun tidak langsung membuka usaha fotokopi melainkan sebagai penjual koran dan tabloid jalanan.

“Terus diajakin kakak di sini. Eh bukan diajakin, tapi ikut kakak di sini tapi saya jualan koran cuma di kakak mah nginap aja. Jualan koran mangkal gitu, kayak tabloid, itu tahun 2001-an mungkin ya? 2002-an,” tuturnya.

Area jualannya kala itu berada di kawasan Cihampelas bagian bawah. Baru pada sekitar 2002 atau 2003, sang kakak mengajaknya untuk mulai membantu mengelola usaha fotokopi di Terminal Ledeng. Sejak tahun 2008, usaha fotokopi itu ia mulai jalani dan kelola secara mandiri.

Pelanggan usaha fotokopi Kang Mono sangat beragam. Selain mahasiswa dari kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang kerap mencetak tugas atau berkas perkuliahan, pelanggan utamanya juga kerap berasal dari warga masyarakat sekitar Ledeng.

“Warga juga. Malah sekarang mah ini sih ya malah cenderung kebanyakan warga. Tapi sekarang mulai lalu lalangnya sudah mulai jarang sih ke terminal,” ungkapnya.

Kini, Kang Mono telah membangun keluarga dan menetap sebagai warga Ledeng bersama istri dan anak-anaknya. Usaha fotokopi ini menjadi satu-satunya tumpuan untuk menyokong kebutuhan harian keluarga serta membayar kewajiban retribusi dan sewa ruko.

Biaya Sewa dan Dukungan pada Aksi Warga

Untuk mempertahankan kios usahanya di Terminal Ledeng, Kang Mono harus menanggung beberapa komponen biaya rutin. Selain sewa tahunan kepada pemilik kios sebesar 8.000.000 rupiah, ia juga wajib membayarkan retribusi bulanan.

Biaya tersebut belum termasuk tagihan listrik bulanan yang cukup besar karena penggunaan mesin-mesin fotokopi dan komputer berdaya tinggi. Untuk listrik saja, ia harus mengeluarkan biaya sekitar 400.000 hingga 600.000 setiap bulan.

Mengenai pengosongkan tempat karena terminal akan dibangun, Mono mengaku hanya bisa mengikuti prosedur sambil menuntut transparansi. Ia berharap semua yang berjualan di Terminal Ledeng bisa berjualan kembali setelah revitalisasi.

Dari informasi sosialisasi yang ia terima, renovasi ruko sejauh ini direncakan tidak mengubah luas maupun letak kios, melainkan fokus pada penggantian atap asbes, peninggian atap, dan pengecatan agar tampilan terminal lebih seragam. Satu jalan yang persis di sebelah kios Kang Mono juga dikabarkan akan ditutup untuk penataan kawasan.

Namun, masalah utama yang dihadapi Kang Mono sebagai pengusaha fotokopi adalah kerumitan teknis dan logistik pemindahan barang-barang berat. Mesin fotokopi berukuran besar, perangkat komputer, printer, hingga tumpukan kertas dan alat tulis tidak bisa dipindahkan secara sembarangan.

“Nyewa orang sih pastinya jasa angkut. Tapi kan kalau fotokopi a, nggak hanya nyewa orang aja. Terus model masalah listrik juga kan kita harus mindahin listrik juga,” ujarnya.

Satu hal yang membuatnya heran dan cemas adalah skema pencairan dana kerahiman atau uang ganti rugi yang dijanjikan pihak dishub dan kontraktor. Berdasarkan keterangan pihak pengelola dan kontraktor saat sosialisasi, proses pencairan dana kerahiman melalui bank milik daerah baru direncanakan berjalan pada bulan November hingga pertengahan Desember. Padahal pedagang sudah diwajibkan mengosongkan kios paling lambat Oktober.

“Paling solusinya ya seumpamanya kita perlu biaya ya suruh ngutang dulu. Suruh ngutang dulu kalau seandainya kita enggak ada biaya. Jadi kita suruh ngutang dulu. Ya kalau nggak ngutang kita dari mana kan uangnya mundur. Katanya teh keluarnya uang teh 2 November sampai dengan minggu kedua Desember kalau enggak salah. Makanya kalau kita enggak ada uang kita harus ngutang dulu,” keluang Kang Mono.

Ia juga mempertanyakan dasar perhitungan dana kerohiman yang dinilai tidak sebanding dengan besaran modal usaha dan jumlah kios yang dimiliki pedagang. Ia mencontohkan pedagang yang memiliki dua kios dengan modal besar justru menerima dana lebih sedikit dibandingkan pedagang yang hanya memiliki satu kios dengan modal relatif kecil. Meski heran dengan perbedaan tersebut, ia mengaku tidak mempermasalahkan besaran dana yang diterima selama penyalurannya dilakukan secara adil.

“Tapi yang saya pertanyakan mah, tapi emang enggak penting sih, ya. Saya juga ngitungnya dari apa gitu uang kerohiman itu,” katanya. 

Untuk mengantisipasi pemindahan barang, Kang Mono sempat berkonsultasi dengan pihak kontraktor. Sebagian barang berat yang tidak terpakai akan ia titipkan sementara di area gudang bawah tanah yang ada di bawah kiosnya, sembari berkoordinasi dengan pihak PLN untuk pemindahan jalur listrik berdaya besar. Selain itu ia juga menjual salah satu mesin fotokopinya untuk biaya tambahan untuk pemindahan barang dan sewa ruko baru.

Baca Juga: Panggung Kesetaraan di Saung Anglung Udjo
CERITA ORANG BANDUNG #120: Sayap Kupu-kupu Kayu Menemani Langkah Panjang Syukron

Menatap Masa Depan di Belakang Terminal

Meski harus mengosongkan ruko utama di terminal selama masa pengerjaan proyek yang diperkirakan memakan waktu sekitar 4 bulan, Kang Mono memutuskan untuk tidak meliburkan usahanya. Demi membiayai kebutuhan harian keluarga dan menutup operasional, ia berencana menyewa tempat sementara di area pemukiman warga di belakang terminal.

“Sepertinya buka a, sepertinya buka. Tapi ya mudah-mudahan aja lebih ramai gitu. Di belakang sih ya kan lebih nyumput kan? Tapi ya kita cobain deh mudah-mudahan ada rezekinya,” ucapnya penuh harap.

Bagi Kang Mono pribadi, besaran dana kerahiman yang nanti akan diterimanya dinilai cukup untuk membantu menutupi kerugian selama 4 bulan masa konstruksi, asalkan ia tetap terus berproduksi dan tidak berhenti dagang. Mengenai jaminan tempat setelah proyek selesai, Kang Mono memegang janji lisan dan rekaman pernyataan dari pengelola bahwa seluruh pedagang lama dijamin bisa kembali menempati kios di Terminal Ledeng tanpa dipungut biaya pembangunan sama sekali.

“Setiap warung teh sudah terjamin a itu bakal pasti balik lagi ke terminal dan tanpa ada biaya sama sekali. Kalau itu sama contoh biaya penggantian bangunan, biaya bangunan atau apa atau apa yang ada. Malah saya rekam juga ini full ya waktu sosialisasi itu,” paparnya.

Mono berharap, kejujuran dari para pemangku kebijakan agar tidak ada masyarakat kecil yang terabaikan karena pelaksanaan proyek BRT di Terminal Ledeng. Harapan lain, setelah BRT jadi usahanya bisa lebih maju lagi.

“Mudah-mudah nanti setelah BRT masuk lebih ramai lagi,” pungkasnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//