• Berita
  • Indonesia Berkisah, Cara Kreatif Mendekatkan Siswa pada Literasi

Indonesia Berkisah, Cara Kreatif Mendekatkan Siswa pada Literasi

Lewat latihan vokal, olah tubuh, dan pertunjukan cerita, siswa SMA Plus Muthahhari, Bandung, belajar melampaui kegiatan membaca dan menulis.

Program Indonesia Berkisah yang digagas LSP Creation di SMA Plus Muthahhari, Bandung, Selasa, 6 Oktober 2026. (Foto: Zahran Gabriel/BandungBergerak)

Penulis Zahran Gabriel27 Oktober 2026


BandungBergerak - Suara siswa bersahutan di ruang kegiatan SMA Plus Muthahhari, Bandung, Selasa, 6 Oktober 2026. Sebagian melatih vokal, sebagian lainnya menggerakkan tubuh mengikuti instruksi. Mereka harus berkonsentrasi, bereaksi cepat, dan menjaga ketepatan gerakan. Sesekali, suasana pecah oleh tawa. Permainan itu bukan sekadar selingan, melainkan bagian dari latihan literasi melalui seni pertunjukan dalam program Indonesia Berkisah yang digagas LSP Creation.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak mengenal literasi dengan cara yang berbeda. Mereka tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mengolah cerita, menyampaikan gagasan, dan menampilkannya di hadapan orang lain. Proses ini memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus melatih keberanian berbicara di depan publik.

Pendekatan semacam ini menjadi salah satu alternatif di tengah persoalan kemampuan literasi pelajar Indonesia. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan skor membaca pelajar Indonesia tercatat sebesar 359 poin pada 2022 dan meningkat menjadi 365 poin pada 2025. Meski mengalami kenaikan, skor tersebut masih berada di bawah rata-rata OECD sebesar 461 poin. Selain itu, hanya sekitar 27 persen pelajar Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai kemampuan membaca minimum Level 2, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 69 persen.

Giman B. Susanto, pendiri LSP Creation, menghadirkan Indonesia Berkisah dengan menggabungkan kegiatan menulis dan membaca dengan unsur seni pertunjukan. LSP Creation merupakan lembaga yang bergerak di bidang seni, pendidikan, produksi, dan penyelenggaraan acara. Dalam program ini, cerita tidak berhenti sebagai tulisan, tetapi dikembangkan menjadi bahan untuk monolog, mendongeng, dan bercerita.

Alvino, salah satu siswa SMA Plus Muthahhari, mengatakan bagian paling menarik dari kegiatan tersebut adalah latihan olah tubuh dan vokal yang dikemas dalam permainan. Ia merasa kegiatan itu memberinya kesempatan mencoba hal baru sekaligus melatih konsentrasi dan fokus. Suasana belajar pun terasa lebih hidup dibandingkan kegiatan yang hanya berpusat pada bacaan dan tulisan.

Alvino juga merasakan manfaat lain dari proses tersebut. Selain mendorongnya menciptakan ide, kegiatan ini melatihnya menggunakan logika dan berbicara di hadapan orang lain. Pengalaman membawakan cerita menjadi kesempatan baginya untuk membangun kepercayaan diri.

“Itu sangat berguna banget buat menjadi percaya diri. Dan melatih kita buat lebih percaya diri. Buat ngomong di depan orang-orang,” ungkapnya.

Menurut Alvino, kegiatan literasi perlu dikemas dengan cara yang dapat menarik perhatian anak muda. Membaca buku tetap penting, tetapi kegiatan itu bisa diselingi permainan dan aktivitas yang melibatkan kreativitas peserta.

“Harus ada yang bisa menarik perhatian dari literasi itu. Seperti ada gamenya. Biar ada ice breaking. Biar ga kaku,” ujarnya.

Permainan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Berkisah, bukan tujuan akhirnya. Sebelum praktik, siswa mengikuti pemaparan materi dari Giman. Mereka kemudian menerima kertas untuk menyusun gagasan dan mengembangkan cerita menjadi tulisan. Setelah itu, peserta berlatih olah vokal dan olah tubuh sebagai persiapan untuk menyampaikan cerita di depan orang lain.

Latihan berlangsung dengan penuh semangat. Keringat bercucuran ketika siswa mengikuti gerakan yang dipandu Giman, sementara suara mereka terdengar melengking saat berlatih vokal. Seusai sesi tersebut, peserta kembali berkumpul untuk menyiapkan penampilan berdasarkan tulisan yang telah mereka susun.

Pada sesi akhir, siswa dibagi ke dalam kelompok beranggotakan lima hingga tujuh orang. Mereka berlatih membawakan cerita dengan memadukan vokal, koreografi, dan unsur artistik sederhana. Tulisan yang semula disusun di atas kertas kemudian diolah menjadi pertunjukan. Melalui proses ini, siswa tidak hanya belajar merangkai cerita, tetapi juga menentukan cara menyampaikannya kepada penonton.

Baca Juga: Bagja, Buku, dan Puing-puing di Trotoar Cihapit
Mengorbankan Buku demi Andesit: Ironi Kosmetik Kota di Jantung Bandung

Kepercayadirian Anak

Guru Bahasa Indonesia SMA Plus Muthahhari Bandung, Helva Nurhidaya, menilai kegiatan tersebut memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kepercayaan diri dan keberanian berbicara di depan publik. Menurutnya, pendekatan itu juga sejalan dengan minat sebagian siswa terhadap seni pertunjukan.

Sekolah tersebut memiliki ekstrakurikuler teater bernama Teater Timbal. Pengalaman menulis, membaca, dan menyampaikan cerita melalui Indonesia Berkisah dapat menjadi bekal tambahan bagi siswa yang tertarik pada bidang tersebut. Bagi siswa yang masih malu atau gugup ketika tampil, latihan dan kesempatan pentas menjadi bagian dari proses belajar.

“Ini karena yang pertama ini melatih kepercayaan diri anak. Jadi anak yang tidak percaya diri akhirnya dipaksakan untuk pentas membacakan hasilnya. Dan mereka, oh ternyata saya bisa gitu,” ujar Helva.

Melalui Indonesia Berkisah, LSP Creation berupaya mempertemukan literasi dengan kreativitas dan seni pertunjukan. Pendekatan ini memberi siswa kesempatan untuk mengolah gagasan menjadi tulisan, kemudian menghidupkannya melalui suara dan gerak. Literasi pun tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup proses memahami cerita dan menyampaikannya kepada orang lain.

Giman berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut setelah program selesai. Ia ingin siswa terus menggali cerita dari lingkungan sekitar, mengenali budaya yang hidup di tengah masyarakat, dan mengembangkannya menjadi karya yang dapat ditampilkan di panggung. Dengan begitu, cerita yang lahir dari pengalaman sehari-hari pelajar dapat menjadi bagian dari kegiatan seni dan budaya yang lebih luas.

“Komunitas ini menjadi bagian ekosistem sebuah seni dan budaya, khususnya untuk mengapresiasi pelajar dan umum, agar Indonesia Berkisah ini menjadi bagian anak-anak Indonesia untuk bisa menuangkan ide pada sebuah tulisan, dan dapat membawakannya sehingga menjadi apresiasi untuk semua orang, mudah-mudahan ekosistem ini bisa tercipta dengan baik,” papar Giman.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//