• Narasi
  • Sendiri di Kota Orang: Belajar Hidup dari Stoikisme dan Eksistensialisme

Sendiri di Kota Orang: Belajar Hidup dari Stoikisme dan Eksistensialisme

Menjadi anak rantau bukan sekadar soal jarak dari rumah, tapi proses menulis ulang siapa diri kita.

Nurul Izzah Musfirah

Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Ilustrasi. Orang muda dan kotanya. (Ilustrator: Arctic Pinangsia Paramban/BandungBergerak)

30 Oktober 2026


BandungBergerak – Hari pertama di kota rantau akan selalu terasa aneh. Kamar kos yang belum ada isinya, suara-suara yang belum familier terdengar dari jendela, tidak ada lagi suara ibu memanggil untuk makan, dan tidak ada lagi kehangatan rumah yang selalu dirasakan. Semuanya yang dulu berjalan tanpa harus dipikirkan seperti jam makan yang sudah teratur, mengingatkan mengerjakan tugas, menemani di saat sedih, kini menjadi tanggung jawab diri sendiri sepenuhnya. Tidak ada lagi orang lain yang bisa disalahkan jika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena semua keputusan, baik besar maupun kecil, sekarang harus diputuskan oleh diri sendiri.

Situasi yang akrab dirasakan hampir setiap mahasiswa rantau, ternyata memiliki kedalaman filosofis yang jarang disadari setiap orang. Padahal di sanalah manusia berhadapan langsung dengan pertanya-pertanyaan lama: siapa aku tanpa lingkungan yang membentukku dan bagaimana aku hidup ketika tidak ada aturan yang mengikatku? Dua kerangka berpikir Stoikisme dan Eksistensialisme bisa membantu membedah apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang dihadapkan pada dunia baru dan lingkungan baru, seorang diri.

Baca Juga: Sebuah Refleksi tentang Sepi
Menstruasi dan Harga Mahal yang Harus Dibayar Perempuan
Mengapa Gen Z Memilih ‘Situationship’ daripada Komitmen?

Ketika Dunia Baru Terasa Tidak Masuk Akal

Jean-Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis Prancis, pernah mengungkapkan sebuah pernyataan yang terdengar bertentangan: manusia “dihukum untuk bebas (condemned to be free)”. Maksudnya, begitu seseorang terlepas dari struktur yang lama seperti keluarga, rumah, kebiasaan yang sudah terbentuk sebagaimana mestinya, ia justru dihadapkan pada kebebasan penuh untuk menentukan jati dirinya sendiri. Tapi kebebasan itu tidak datang secara Cuma-cuma. Setiap pilihan, mulai dari bagaimana mengatur waktu, memilah antara benar dan salah, memilih menjalin hubungan sosial, sampai menentukan prioritas hidup, sepenuhnya menjadi beban tanggung jawab pribadi.

Inilah yang dihadapi para anak rantau: kehidupan di rumahnya memberi batasan dan rasa aman untuk dirinya, sementara kehidupannya di kota baru memberinya kebebasan sekaligus merasakan kesepian. Sartre menyebut ini sebagai inti dari eksistensi manusia–excistence procedes essence, keberadaan lebih dulu ada sebelum makna. Tidak ada cetak biru siap pakai tentang “harus jadi siapa”; Identitas itu terbentuk perlahan-lahan melalui rangkaian pilihan dan tindakan sehari-hari, termasuk saat harus menyelesaikan masalah sendiri, mengurus makan sendiri dan menenangkan diri kala perasaan akan rindu rumah itu muncul.

Sartre juga memperingatkan tentang jebakan yang ia sebut mauvaise foi atau itikad buruk, yakni sikap menyangkal kebebasan sendiri dengan bersembunyi di balik alasan. Bagi perantau, bentuknya bisa sangat amat sederhana: "aku begini karena memang di sini tidak ada teman" atau "aku telat bangun karena tak ada yang membangunkan". Alasan-alasan itu terdengar masuk akal, padahal tanpa disadari hal itu diam-diam melepaskan kita dari tuntutan untuk memilih. Kebebasan yang paling sulit dijalani sering kali bukan kebebasan untuk melakukan apa pun yang kita inginkan, melainkan kebebasan untuk mengakui bahwa sebuah pilihan itu hanya kita yang dapat memutuskan.

Albert Camus menambahkan satu lapisan lagi lewat pikiran absurdisme: bahwa dunia tidak menawarkan makna secara otomatis, sementara manusia terus-menerus mencarinya. Jurang antara keduanya melahirkan perasaan absurd. Pada masa-masa awal merantau, perasaan ini sering muncul – buat apa semua ini, kenapa harus jauh dari rumah, apa gunanya kesepian hadir setiap malam.

Lewat Mitos Sisifus, Camus tidak memberikan jawaban yang pasti atas pertanyaan itu. Melainkan ia menawarkan sebuah cara untuk bersikap. Sisifus dihukum mendorong batu ke puncak bukit hanya untuk melihatnya menggelinding Kembali. Meski begitu, Camus mengajak kita membayangkan Sisifus sebagai sosok yang bahagia. Kebahagiaan itu bukan karena hukumannya bermakna, melainkan karena ia menolak menyerah dan memilih menjalaninya dengan penuh kesadaran. Bagi anak rantau, rutinitas yang berulang, seperti kuliah, tugas, dan pulang ke kamar yang sama, bisa terasa seperti batu itu. Namun manusia tetap bisa memilih untuk menjalani hidup dengan bermakna di tengah ketidakpastian, bukan karena dunia memberikan jawaban, melainkan karena ia memutuskan terus bergerak maju meski tanpa kepastian apa pun.

Memisahkan yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan

Jika Eksistensialisme menerangkan mengapa masa-masa awal merantau terasa begitu berat, Stoikisme menawarkan cara menjalaninya hari demi hari. Epictetus, lewat gagasan dikotomi kendali, mengajarkan untuk memisahkan dua hal: apa yang ada dalam kendali diri kita  (sikap, usaha, respons) dan apa yang berada di luar kendali diri kita (rasa rindu terhadap rumah, orang-orang yang masih asing, lingkungan yang belum akrab).

Rasa kesepian yang kita alami bukan sesuatu yang bisa dihilangkan dengan berharap saja; tetapi kita harus memberikan respons terhadapnya seperti membangun rutinitas baru, mencari komunitas yang bisa mengembangkan diri, mendisiplinkan diri untuk tetap produktif, itu semua berada di bawah kendali kita sendiri. Prinsip ini bukan soal memendam perasaan atau berpura-pura untuk selalu baik-baik saja, melainkan soal mengalihkan energi dari hal yang tidak bisa kita ubah menuju hal yang benar-benar bisa diupayakan.

Eksistensialisme dan Stoikisme, meski lahir dari tradisi yang berbeda, Yang satu lahir dari kegelisahan manusia modern, yang lain dari ketenangan para filsuf Yunani-Romawi kuno. Namun dalam pengalaman merantau, keduanya saling melengkapi. Eksistensialisme memberi ruang untuk mengakui bahwa kebebasan dan kesendirian itu berat, bahkan terasa tak masuk akal, tidak harus dipaksakan untuk terlihat baik-baik saja. Sementara Stoikisme memberi pijakan praktis untuk tetap berjalan menyusuri arti hidup di tengah keberatan itu, dengan fokus pada hal-hal yang benar-benar bisa dikendalikan

Tanpa Eksistensialisme, Stoikisme bisa terdengar seperti perintah untuk menahan diri. Tanpa Stoikisme, Eksistensialisme bisa berhenti pada kegelisahan yang tak kunjung ditindaklanjuti. Bersama-sama, keduanya membentuk urutan yang sehat: jujur pada apa yang dirasakan, lalu bijak dalam memilih apa yang harus dilakukan.

Pada akhirnya, menjadi anak rantau bukan sekadar soal jarak dari rumah, tapi proses menulis ulang siapa diri kita–dari nol, dengan kebebasan penuh sekaligus tanggung jawab penuh. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran filosofis terbesar dari hidup sendirian di kota orang; bukan tentang menghilangkan kesepian, tapi bagaimana kita belajar untuk bisa berdamai dan melangkah bersamanya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//