• Narasi
  • Mengapa Gen Z Memilih ‘Situationship’ daripada Komitmen?

Mengapa Gen Z Memilih ‘Situationship’ daripada Komitmen?

Manusia tetap butuh kepastian dan kedekatan tulus. Situationship mungkin aman dan praktis, tapi jarang berujung pada hubungan sehat yang langgeng.

Nayla Andrea Maharani

Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Ilustrasi. Aktivitas manusia dengan gawainya di era teknologi digital. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

28 Juli 2026


BandungBergerak – Saya sering mendengar cerita-cerita relationship zaman sekarang yang bikin geleng-geleng kepala. Beda banget sama dulu di zaman milenial. Dulu kalau suka, langsung bilang. Misalnya, “Eh, lo mau enggak pacaran sama gue?” atau ketemuan langsung. Sekarang? Chat cuma dibaca, kadang enggak dibalas, atau tiba-tiba hilang tanpa jejak. Yang paling ngetren namanya situationship. Udah deket, sering ketemu, ada chemistry-nya, tapi kalau ditanya, “Kita ini apa sih?” jawabannya cuma, “jalanin aja dulu.”

Entah kenapa, hal absurd ini sudah jadi makanan sehari-hari anak Gen Z. Banyak yang capek, kesel, bahkan trauma gara-gara di ghosting atau stuck di hubungan yang masih abu-abu. Padahal dulu komitmen terasa sederhana. Lalu, apa yang sebenarnya berubah?

Kita hidup di dunia yang serba cair, seperti yang dibilang sosiolog Zygmunt Bauman. Pilihan pasangan yang unlimited. Zaman dulu menemukan calon, hanya lewat teman, keluarga, atau kampus. Sekarang? Buka sosial media, scrolling lima menit, sudah ketemu ratusan akun yang “potensial”. Hasilnya? Takut salah pilih. Daripada komitmen dan nyesel, mending main aman. Ghosting jadi senjata pamungkas buat kabur dari drama. Daripada bilang jujur, “Gue nggak tertarik lagi”, lebih enak menghilang.

Jean-Paul Sartre pasti geleng-geleng kepala. Ini bad faith klasik. Kita punya kebebasan mutlak untuk memilih, tapi malah lari dari tanggung jawabnya. Kita pura-pura “jalanin aja” supaya enggak harus menghadapi kecemasan eksistensial bahwa hidup dan cinta itu penuh risiko.

Banyak temen saya yang nyangkut di situationship. Katanya lebih nyaman daripada relationship resmi yang ribet. Enggak ada ekspektasi ketemu orang tua, enggak ada drama “ke mana arahnya”. Alasannya klasik, takut merusak pertemanan, khawatir bosan, atau belum siap dengan tanggung jawab emosional. Akhirnya persahabatan “diselamatkan”, tapi di hati masih ganjel. Ini seperti alienasi ala Marx, di mana kita dekat tapi tak pernah benar-benar terhubung, karena semua jadi komoditas yang bisa dibuang kapan saja.

Baca Juga: Siapakah Van Berling? Mengungkap Misteri Nama Lapangan Sepak Bola di Kertasari
Menstruasi dan Harga Mahal yang Harus Dibayar Perempuan
Paradoks WFA di Balik Citra Kota Bandung sebagai Kota Industri Kreatif

Mengapa Gen Z Lebih Nyaman Situationship?

Tekanan hidup sehari-hari jadi biang keladinya. Kuliah sambil kerja, kejar target karier, organisasi, ditambah scroll media sosial yang penuh pasangan “sempurna”. Hubungan serius terasa terlalu berat. Banyak yang punya gaya avoidant (sulit terbuka) atau anxious (takut ditinggal), jadi komitmen penuh terasa scary.

Di TikTok, konten “situationship horror stories” selalu viral. Ada yang ditinggal pas lagi sakit parah. Kita semua relate. Itu bukti betapa gampangnya orang mundur begitu ada sedikit masalah. Erich Fromm bilang, cinta itu seni yang butuh disiplin dan usaha. Tapi di zaman ini, kita lebih suka yang instan.

Kita enggak perlu balik ke cara pacaran kuno yang kaku. Yang penting, lebih jujur sama diri sendiri dan sama orang yang lagi situationship bareng kita.

Pertama, obrolin ekspektasi sejak awal. Jangan tebak-tebakan. Langsung bilang, “Gue mau yang serius atau santai aja?” Kedua, kurangi aplikasi dating. Ketemu orang lewat komunitas, hobi, atau acara offline, chemistry-nya lebih asli. Ketiga, belajar menerima risiko. Hubungan memang bisa gagal, tapi kalau terus menghindar, kita juga enggak bakal pernah bahagia.

Paling penting, bangun kebahagiaan dari dalam. Kalau self-worth kita enggak tergantung status relationship atau seberapa sering di ghosting, hidup bakal jauh lebih ringan. Manusia tetap butuh kepastian dan kedekatan tulus. Situationship mungkin aman dan praktis, tapi jarang berujung pada hubungan sehat yang langgeng.

Jadi, lain kali ada yang deketin, berani tanya aja, “Kita nih mau ke mana sih?” Kalau dia kabur, ya sudahlah, berarti bukan orang yang tepat. Kalau dia mau ngobrol terbuka, siapa tahu itu awal dari sesuatu yang lebih baik.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//