Tiga Nama Satu Gunung
Warga Rancabali di Ciwidey menyebutnya Legok Meong, peta RBI lembar Rancabali menamakannya Gunung Pawéy, dan di peta AMS (1943) mencantumkannya sebagai Gunung Powek.

Rinaikelana
Pegiat gunung asal Bandung
11 September 2026
BandungBergerak – Di Peta RBI lembar Rancabali, namanya Gunung Pawéy. Tapi di peta AMS cetakan Washington DC edisi pertama tahun 1943, dengan titik koordinat yang hampir identik gunung yang sama justru tercatat sebagai Gunung Powek. Dua nama di atas kertas, jarak delapan dekade. Tapi begitu kami sampai di kaki gunungnya, warga setempat malah menyebut nama ketiga yang sama sekali berbeda dari keduanya. Dari situlah cerita Saba Gunung edisi Agustus kedua ini sebenarnya bermula.
Saba Gunung edisi Agustus kedua ini menjadi penutup rangkaian program Saba Gunung dari Jelajah Gunung Bandung sepanjang bulan Agustus 2026. Perjalanan kali ini diikuti oleh 10 baraya JGB, yaitu Pak Ikhsan, Teh Dila, Teh Tari, Teh Mayang, Hilman, A Ridwan, Teh Popin, Teh Ayu, Kang Zal, dan saya sendiri.
Cuaca pagi itu begitu cerah, dan udara sejuk khas Ciwidey menyambut seolah membawa kenangan lama yang menghangatkan. Sejenak membawa saya kembali melamun, mengingat masa-masa dulu menikmati keindahan alam sekitar sini bersama almarhumah istri saya.

Baca Juga: Catatan Perjalanan ke Puncak Jayagiri, Peluncuran Buku Lingkung Gunung Bandung Sambil Mendaki
Mempertanyakan Aktivitas Mendaki Gunung Hari Ini: Mencintai Alam atau Merusaknya?
Melanjutkan Jejak Tak Tuntas: Dari Soewalan ke Sualan
Pukul 08.20 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju titik awal pendakian sekaligus lokasi penitipan kendaraan, yaitu di Kampung Cikidang, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rancabali. Saat meminta izin parkir kepada masyarakat setempat kami di arahkan ke rumah Pak Iwan, warga Kampung Cikidang yang merupakan salah satu sesepuh juga DKM di Kampung Cikidang. Dalam sela perbincangan saya bertanya soal gunung yang akan kami daki. Menariknya, masyarakat sekita tidak mengenal nama Pawéy maupun Powek. Bagi mereka, gunung itu punya nama sendiri yaitu Gunung Legok Meong.

Tujuan kami hari itu adalah mendaki gunung yang oleh warga setempat disebut Legok Meong, dan yang di Peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) lembar Rancabali tercantum sebagai Gunung Pawéy.
Yang menarik, dalam peta AMS (Army Map Service) cetakan Washington DC edisi pertama tahun 1943, gunung yang sama justru tercatat dengan nama Gunung Powek, dengan titik koordinat yang hampir identik. Sebelum menyimpulkan apa pun, saya lebih dahulu memeriksanya melalui metode georeferencing, agar kesimpulan yang diambil benar-benar akurat dan tidak sekadar cocoklogi.
Penelusuran mengenai asal-usul nama "Powek" membawa saya ke Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië jilid 3, "Naaktslakken-Soekapoera", sebuah ensiklopedia mengenai Hindia Belanda yang disusun secara kolektif dengan melibatkan berbagai pegawai pemerintahan, ilmuwan, dan perwira, di antaranya P.A. van der Lith, A.J. Spaan, F. Fokkens, dan Joh. F. Snelleman. Ensiklopedia ini diterbitkan bertahap pada 1896-1905, dengan penyuntingan awal oleh van der Lith, Spaan, dan Fokkens. Pada halaman 240, terdapat entri untuk kata PATOEHA.

Satu kalimat dalam entri itu yang menjadi kunci: "...van den Powek tot den Kendang-Waringin gaat", yang berarti rangkaian vulkanik tersebut membentang dari Powek hingga Kendang-Waringin. Selebihnya, entri itu menggambarkan Patuha sebagai gunung berapi dengan puncak-puncak tertinggi dari rangkaian sepanjang 20 km di selatan Keresidenan Priangan mulai dari jalur pendakian via Tjisondari (Cisondari) atau Tjiwidej (Ciwidey), Kawah Tjiwidej yang masih sangat aktif, hingga kawah paling terkenal, Kawah Poetih (Kawah Putih), yang dinamai demikian karena warna keputihan danau berbelerang dan beraluminium di dasarnya. Di sisi selatan kawah ada puncak Patoeha II (2.384 m), dan di utara danau berdiri kerucut Patoeha Kalèr, titik tertinggi (2.433 m) yang dianggap sebagai puncak Patuha yang sebenarnya. Hutan di lerengnya masih menyimpan pohon rasamala dalam jumlah besar, dan di ketinggian 1.575 m di sisi barat terhampar danau pegunungan Telaga Patenggang.
Hal lai yang menarik perhatian saya justru satu frasa itu tadi "dari Powek hingga Kendang-Waringin". Ini mengindikasikan Powek merujuk pada sebuah lokasi atau titik geografis tertentu, bukan sekadar istilah umum.
Untuk memastikan itu, penelusuran saya lanjutkan ke beberapa kamus bahasa Sunda klasik di antaranya kamus Sunda-Inggris karya Jonathan Rigg (1862), kamus Sunda-Belanda karya Sierk Coolsma (1884), kamus bahasa Sunda karya Satjadibrata (1948), dan kamus bahasa Sunda karya R.A. Danadibrata. Dari keempat sumber itu, tidak satu pun memuat entri "powek" dengan makna leksikal tersendiri. Ketiadaan ini justru memperkuat dugaan bahwa Powek bukan kata umum dalam bahasa Sunda, melainkan sebuah toponim, nama tempat yang fungsinya murni sebagai penanda lokasi, bukan kata yang bisa diterjemahkan.
Penelusuran berlanjut untuk mencari asal nama "Pawéy". Dari keempat kamus yang sama, hal menarik muncul, dalam Kamus Basa Sunda karya R.A. Danadibrata, halaman 510, ada entri
pawéy, Ind. pawai: iring-iringan, arak-arakan.
Kata tersebut justru tidak ditemukan di tiga kamus Sunda yang lebih tua (Rigg 1862, Coolsma 1884, Satjadibrata 1948), hanya tercatat di kamus Danadibrata yang jauh lebih belakangan. Kesenjangan waktu ini memunculkan pertanyaan baru, apakah pawéy kata serapan yang baru masuk ke bahasa Sunda belakangan, atau sekadar variasi ejaan yang luput dicatat kamus-kamus terdahulu?
Saya kemudian meminta pandangan Hayati Mayang Arum, salah seorang baraya JGB yang ikut dalam perjalanan kami. Mayang adalah panyatur basa Sunda (native speaker), lulusan Bahasa Sunda UPI, yang hingga kini masih mengajar Bahasa Sunda dan membuka kursus menulis aksara Sunda.
Menurut Mayang, penulisan "Powék" pada peta lama mungkin tidak sesederhana perbedaan ejaan. Dalam bahasa Sunda ada runtuyan sora, rangkaian bunyi, termasuk pertemuan semi vokal dan vokal. Pada kata powék, misalnya, semi vokal /w/ bertemu vokal /é/, pola yang juga bisa ditemukan pada kuwéh-kuéh atau sowéh-soéh, sesuatu yang lazim muncul dalam penulisan aksara kuna.
(Catatan ejaan: "Powek" tanpa aksen adalah ejaan pada peta AMS 1943 "Powék" dengan aksen dipakai saat membahas pelafalan lisan bersama Mayang, keduanya merujuk pada nama yang sama, hanya beda konvensi penulisan sumber.)
Karena itu, ketika saya bertanya apakah Powék mungkin sebenarnya merujuk pada kata poék (gelap), Mayang menjawab kemungkinan itu cukup masuk akal karena kata tidak hanya hadir sebagai bentuk tulisan, tapi juga sebagai rangkaian bunyi yang diwariskan dari penutur ke penutur. Ia lalu menjelaskan soal glotal, bunyi yang muncul ketika aliran udara tertahan di glotis, seperti pada pengucapan huut, caah, buuk, atau lééh, ketika dua vokal yang sama berdampingan.
Pertemuan semi vokal dan vokal seperti pada powék, kata Mayang, berada di wilayah berbeda, semi vokal (panglancar) bisa hadir berdampingan dengan vokal dan membentuk satu rangkaian bunyi sendiri. Lalu kenapa powék tidak saya temukan di kamus-kamus itu? Menurut Mayang, kamus umumnya hanya mencatat kata dasar dan bentuk yang sudah lazim dipakai, bentuk lama, varian, atau bentuk yang jarang digunakan belum tentu tercatat di sana.

Saya tentu tidak ingin menjadikan penjelasan Mayang sebagai jawaban final tentang asal-usul nama gunung ini. Tetapi setidaknya ia membuka satu kemungkinan, bahwa Powék mungkin bukan nama yang sama sekali berbeda dari poék, melainkan jejak sebuah bentuk bunyi atau penulisan lama yang masih tersimpan.
Perjalanan kami tutup dengan sambutan dari Pak Iwan dan istrinya yaitu Bu Ayi yang ternyata beliau telah menyiapkan hidangan untuk kami. Bu Ayi menuturkan kekhawatirannya kepada rombongan kami karena saya mengatakan jam 15.00 WIB kemungkinan sudah turun gunung, namun pada realitasnya kami sampai di Kampung Cikidang jam 17.10 WIB.
Nasi liwet, waluh, ikan asin, sambal dan kerupuk menjadi kehangatan penutup Bab Saba Gunung Bandung edisi Agustus kedua, dan di situlah perjalanan mencari nama sebuah gunung menjadi lebih menarik. Seperti Legok Meong, nama yang justru paling hidup di mulut warga yang tinggal tepat di kakinya.
Tiga nama, satu gunung, dan tak satu pun dari ketiganya lebih "benar" dari yang lain. Sebab sebuah nama tidak selalu hidup hanya di atas peta. Ia bisa tersimpan dalam bunyi, dalam ingatan orang-orang yang tinggal di sekitarnya, atau bahkan hilang dari percakapan sehari-hari, lalu muncul kembali setelah puluhan tahun, lewat selembar peta tua.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


