• Narasi
  • Melanjutkan Jejak Tak Tuntas: Dari Soewalan ke Sualan

Melanjutkan Jejak Tak Tuntas: Dari Soewalan ke Sualan

Apakah Sualan Prospek yang tercatat dalam literatur geologi merupakan Gunung Sualan di Kabupaten Bandung yang selama ini kami daki?

Rinaikelana

Pegiat gunung asal Bandung

Lanskap Gunung Sualan. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana–Saba Sualan 2)

21 Agustus 2026


BandungBergerak – Perjalanan menuju Gunung Sualan kami awali sekitar pukul 07.30 WIB dari Nam Outdoor. Seperti dua perjalanan sebelumnya, perjalanan menuju Kampung Bunikasih memakan waktu kurang lebih 45 menit. Pagi itu langit Pangalengan terlihat begitu cerah, biru terbentang tanpa banyak awan. Udara pegunungan yang sejuk pun masih terasa seperti mengajak kami untuk menikmati perjalanan dengan santai.

Namun, suasana tersebut mendadak berubah ketika jarak kami dari kampung tinggal sekitar 800 meter. Knalpot motor Dzaki tiba-tiba patah. Kami akhirnya menepi dan berhenti beberapa saat untuk mencari cara agar motor tetap bisa dibawa berjalan dan knalpot yang rusak dapat diamankan.

Setibanya di Kampung Bunikasih, rupanya masalah belum selesai. Motor yang ditumpangi Osama bersama Bu Imas justru mendadak mati. Melihat kejadian itu, pikiran saya pun mulai ke mana-mana. Jangan-jangan perjalanan kali ini akan bernasib sama seperti dua perjalanan sebelumnya dan kembali harus berhenti tak selesai.

Setelah berembuk singkat dan berdoa bersama, kami tetap melanjutkan pendakian. Berbekal tracklog yang telah saya susun dari dua ekspedisi terdahulu, kali ini kami memilih jalur yang diperkirakan lebih singkat untuk mencapai puncak. Ketika akan memulai perjalanan, rombongan pemburu berdatangan bersama anjing-anjing pemburu. Kami tak sempat berbincang banyak, hanya bertegur sapa dan kembali melanjutkan langkah.

Titik parker Kp. Bunikasih. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana–Saba Sualan 3)
Titik parker Kp. Bunikasih. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana–Saba Sualan 3)

Baca Juga: Catatan Perjalanan ke Puncak Jayagiri, Peluncuran Buku Lingkung Gunung Bandung Sambil Mendaki
Mempertanyakan Aktivitas Mendaki Gunung Hari Ini: Mencintai Alam atau Merusaknya?
Ziarah ke Astana Gunung Sembung

Menuju Puncak Gunung Sualan

Memasuki kawasan hutan setelah meninggalkan hamparan perkebunan teh, jalur yang kami lalui menembus hutan yang masih cukup rapat, sungai deras yang sebelumnya kami lalui, saat ini kami menyeberanginya dalam kondisi kering akibat musim kemarau. Tegakan pohon yang kami lalui didominasi huru, pasang, rasamala, berbagai jenis ara (Ficus), saninten, kiputri, hingga kihiang. Komposisi seperti ini umum dijumpai pada hutan pegunungan di kawasan Gunung Bandung Distrik Selatan.

Hutan rasamala. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana–Saba Sualan 3)
Hutan rasamala. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana–Saba Sualan 3)

Di tengah perjalanan, rombongan kami dikagetkan dengan kehadiran kelompok pemburu bersenapan angin, kelompok yang berbeda dari rombongan pemburu yang kami temui di awal perjalanan. Sama seperti sebelumnya, kami tidak banyak berinteraksi, hanya sebatas bertegur sapa sebelum melanjutkan perjalanan.

Berbeda dari dua pendakian sebelumnya yang mengharuskan kami menyeberangi aliran Sungai Cibaliung maupun Citutugan sebagaimana tergambar pada peta, kali ini kami memilih jalur yang membentang di lereng Gunung Baliung. Jalur tersebut hanya berjarak puluhan meter dari puncaknya, sehingga sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sualan yang menjadi tujuan utama, kami menyempatkan diri singgah lebih dulu ke puncak Gunung Baliung.

Dan tentu saja, seperti halnya hutan lembap di gunung Bandung pada umumnya, kami tidak benar-benar berjalan sendirian. Kedatangan kami seolah disambut "penghuni" setempat. Mulai dari pacet tanah yang bersembunyi di balik serasah daun, hingga pacet macan berwarna hijau dengan corak kekuningan yang menunggu di dedaunan. Ukurannya pun beragam, dari yang nyaris tak terlihat hingga yang sudah cukup besar untuk membuat siapa pun spontan berhenti sejenak memeriksa sepatu, baju, ketiak, dan di dalam kaus kaki.

Semakin jauh melangkah menyusuri lereng yang dipenuhi vegetasi rapat, rasa penasaran terhadap nama Gunung Sualan justru semakin besar. Mengapa pada berbagai peta lama penulisannya selalu berbeda? Dari mana sebenarnya nama gunung ini berasal? Pertanyaan itu membawa saya menelusuri berbagai literatur dan peta-peta kolonial.

Pada peta-peta kolonial, nama tempat di Nusantara kerap muncul dalam ejaan yang berbeda. Salah satu sebabnya berkaitan dengan cara nama lokal dicatat ke dalam sistem tulisan Latin yang digunakan para pembuat peta pada masa itu. Nama-nama gunung, sungai, dan kampung dapat muncul dengan ejaan yang berbeda karena belum adanya standar penulisan yang seragam untuk merepresentasikan nama-nama lokal ke dalam huruf Latin. Karena belum ada standar penulisan yang mengikat, satu nama tempat bisa muncul dengan berbagai variasi ejaan pada peta yang berbeda, tergantung siapa kartografernya, kapan peta itu dibuat, dan bagaimana telinganya menangkap bunyi asing yang diucapkan penduduk lokal.

Temuan lain menunjukkan bahwa informasi dalam peta kolonial tidak selalu berasal dari pengamatan langsung pembuat peta. Salah satu contohnya adalah peta François Valentijn tahun 1725–1727, Map showing part of the island of Java. Atlas of Mutual Heritage mencatat bahwa peta tersebut memuat banyak desa dan permukiman di wilayah Parahyangan yang tidak ditemukan dalam sejumlah sumber Belanda lainnya. Informasi itu diduga berasal dari register kadaster Cirebon. Hal tersebut memperkuat bahwa yang di lakukan para kartografer pada masa lampau bukan hanya hasil pengamatan langsung mereka sendiri.

Atlas of mutual heritage. Map showing part of the island of Jawa, Braam, J. van  Linden, Gerard onder de  Valentijn, François. (Foto: Dokumtensi Rinaikelana)
Atlas of mutual heritage. Map showing part of the island of Jawa, Braam, J. van Linden, Gerard onder de Valentijn, François. (Foto: Dokumtensi Rinaikelana)

Baru pada 1901 Ejaan Van Ophuijsen ditetapkan sebagai sistem ejaan resmi bahasa Melayu. Sebelum itu, penulisan nama-nama lokal dalam berbagai dokumen dan peta masih menggunakan beragam konvensi. Ejaan yang disusun oleh Charles Adriaan van Ophuijsen bersama Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Sultan Ibrahim ini kemudian menjadi acuan penulisan dalam berbagai dokumen resmi.

Dari penelusuran terhadap sejumlah sumber tersebut, perbedaan ejaan nama gunung ini lebih tepat dipandang sebagai kemungkinan yang berkaitan dengan cara nama lokal dicatat pada masa yang berbeda.

Fenomena ini tampak jelas ketika membandingkan beberapa peta lama. Pada peta tahun 1871, nama gunung ini tertulis “Soewalan”, sementara pada peta AMS (Army Map Service) tahun 1943 ejaannya berubah menjadi “Soealan”. Yang menarik, nama Gunung Sualan juga tidak dikenal oleh masyarakat Kampung Bunikasih yang kami temui, dan nama tersebut tidak tercantum dalam Peta Rupabumi Indonesia (RBI) yang kami gunakan.

Peta AMS Java & Madura 1:50.000,1924, dan peta Belanda skala 1:100.000, 1871–1886, Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT). (Foto: Dokumentasi Rinaikelana)
Peta AMS Java & Madura 1:50.000,1924, dan peta Belanda skala 1:100.000, 1871–1886, Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT). (Foto: Dokumentasi Rinaikelana)

Lalu bagaimana saya bisa memastikan bahwa koordinat yang saya tuju benar-benar merujuk pada Gunung Sualan yang sama dengan yang tercantum pada lembar peta Belanda tahun 1871 atau pada peta AMS lembar [Pengalengan], D G 35,18,” Java & Madura 1:50.000? Apakah cukup mengandalkan tebakan, atau sekadar mencocok-cocokkan nama yang terdengar mirip? Jawabannya tentu tidak. Proses ini saya lakukan melalui georeferensi peta dengan menggunakan sejumlah titik kontrol dan perhitungan yang terukur. Metodenya akan saya bahas lebih lanjut pada tulisan berikutnya.

Temuan berikutnya justru membawa penelusuran ini pada bagian yang paling menarik. Dalam penelusuran terhadap literatur botani lama, saya menemukan nama “Soewalan” yang dikaitkan dengan Borassus flabelliformis, tumbuhan yang dikenal sebagai lontar. Catatan tersebut muncul dalam buku Melchior Treub, ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg, 18 Mei 1817–18 Mei 1892, hlm. 138.

Buku Melchior Treub, ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg, 18 Mei 1817–18 Mei 1892, hlm. 138. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana)
Buku Melchior Treub, ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg, 18 Mei 1817–18 Mei 1892, hlm. 138. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana)

Petunjuk tersebut menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan kondisi vegetasi di lapangan. Berdasarkan pengamatan, sekitar 250 meter sebelum mencapai puncak Gunung Sualan, vegetasi yang tampak dominan adalah rotan berduri, yang termasuk dalam genus Calamus. Temuan ini menarik untuk dicatat, meskipun belum memberikan hubungan langsung dengan asal-usul nama Sualan. Borassus dan Calamus memang sama-sama termasuk dalam famili Arecaceae, tetapi keduanya merupakan genus yang berbeda.

Penelusuran nama Sualan kemudian membawa kita ke temuan lain yang datang dari ranah yang berbeda, bukan lagi botani, melainkan geologi dan jejak aktivitas pertambangan.

Sebuah artikel ilmiah berjudul Fluid Inclusion Studies of the Epithermal Quartz Veins from Sualan Prospect, West Java, Indonesia yang diterbitkan dalam Journal of Southeast Asian Applied Geology, Vol. 6 No. 2 tahun 2014, secara khusus mencatat Sualan sebagai salah satu lokasi penelitian.

Dalam artikel tersebut, nama Sualan muncul berulang kali dalam berbagai istilah, seperti Sualan Prospect, Sualan area, dan Sualan quartz veins. Lokasi ini disebut berada di Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, dan dikenal sebagai salah satu prospek emas epitermal di wilayah Garut. Catatan penelitian juga menunjukkan bahwa kawasan Sualan pernah menjadi bagian dari kegiatan eksplorasi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk., melalui penyelidikan geologi, geokimia, dan geofisika untuk mengidentifikasi keberadaan mineralisasi emas.

Yang membuat temuan ini semakin menarik adalah posisi geografisnya. Pada peta lokasi yang disertakan dalam penelitian tersebut, Sualan berada di wilayah Talegong. Sementara itu, Gunung Sualan yang kita daki juga berada di Kecamatan Talegong, tepatnya di kawasan perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Peta di Studies of the Epithermal Quartz Veins from Sualan Prospect dan peta google earth dengan kordinat Gunung Sualan. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana)
Peta di Studies of the Epithermal Quartz Veins from Sualan Prospect dan peta google earth dengan kordinat Gunung Sualan. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana)

Kesamaan nama dan wilayah ini tentu belum membuktikan bahwa Sualan Prospek dalam penelitian tersebut adalah Gunung Sualan yang kami daki. Tetapi setidaknya, keduanya berada dalam ruang geografis yang sama dan membawa kita pada sebuah pertanyaan yang layak ditelusuri lebih jauh.

Pertanyaan itu menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan temuan lapangan. Dalam dua ekspedisi sebelumnya, kita menemukan sejumlah jejak yang diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan emas di sekitar aliran sungai. Hasil wawancara dengan salah seorang warga yang rumahnya kami gunakan sebagai tempat parkir juga mengarah pada cerita yang serupa. Menurut penuturannya, kawasan tersebut pernah menjadi lokasi kegiatan pertambangan yang melibatkan sebuah perusahaan, yang oleh warga disebut berkaitan dengan PTPN. Menurut penuturannya, kegiatan tersebut kemudian tidak dilanjutkan karena kandungan emas yang di temukan, sedikit.

Aliran sungai Cibaliung dan jejak tambang emas. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana–Saba Sualan 2)
Aliran sungai Cibaliung dan jejak tambang emas. (Foto: Dokumentasi Rinaikelana–Saba Sualan 2)

Sualan, Siwelan, dan Soewalan

Penelusuran tersebut membawa kita kepada Soewalan, lontar, dan keluarga palma. Di sisi lain, literatur geologi membawa kita kepada Sualan Prospek, urat kuarsa, sistem hidrotermal, dan sejarah eksplorasi emas. Dua jalur penelusuran yang pada awalnya tampak berbeda itu kini seolah bertemu pada satu nama yaitu, Sualan.

Namun, sampai pada tahap ini, kita belum memiliki bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa seluruh temuan tersebut berasal dari satu akar penamaan yang sama. Hubungan antara Sualan, Siwelan, dan Soewalan masih merupakan kemungkinan yang menarik, bukan sebuah kesimpulan. Dan mungkin, justru di situlah menariknya sebuah penelusuran sejarah nama tempat.

Apakah Sualan yang kita kenal sebagai nama gunung hari ini hanyalah sebuah nama? Ataukah di baliknya tersimpan jejak yang lebih tua tentang tumbuhan, bentang alam, atau sejarah kawasan ini?

Dan satu pertanyaan lain masih tersisa, apakah Sualan Prospek yang tercatat dalam literatur geologi merupakan Sualan yang selama ini kami daki?

Untuk menjawabnya, diperlukan penelusuran yang lebih jauh. Bukan hanya terhadap literatur geologi, tetapi juga terhadap peta-peta lama, arsip pertambangan, catatan kolonial, sumber bahasa Sunda dan Jawa lama, nama-nama lokal tumbuhan, serta catatan toponimi yang mungkin dapat menjelaskan bagaimana nama Sualan terbentuk dan digunakan dari masa ke masa. Sebab untuk sementara, Sualan masih menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Kemiripan antara Sualan, Soewalan memang terlalu menarik untuk diabaikan, tetapi terlalu dini untuk dianggap sebagai bukti hubungan etimologis.

Setelah dua kali tertunda, perjalanan menuju Gunung Sualan akhirnya tuntas. Kami juga sempat menyambangi Gunung Baliung, sebelum kembali dengan lebih banyak catatan daripada jawaban. Catatan mengenai asal-usul nama Gunung Sualan dalam tulisan ini merupakan hasil penelusuran terhadap literatur, peta lama, dan pengamatan di lapangan. Sejauh ini, temuan-temuan tersebut belum cukup untuk menghasilkan satu kesimpulan. Karena itu, jika baraya, masyarakat, atau para pemerhati gunung, sejarah, dan budaya memiliki cerita tutur, data, peta lama, atau temuan lain tentang Sualan, kami sangat terbuka untuk mendengarnya.

Sebab, setiap perjalanan Saba Gunung bukan hanya tentang menapaki jalur menuju puncak, tetapi juga tentang menelusuri, memahami, dan merawat sejarah serta budaya yang hidup di balik setiap nama gunung di Bandung.

Sampai jumpa pada perjalanan Saba Gunung berikutnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//