Ziarah ke Astana Gunung Sembung
Dari koin yang terbang hingga doa yang menempel di dinding merah, tradisi menghormati leluhur tetap hidup di antara kerabat keraton dan masyarakat Cirebon.
Dari koin yang terbang hingga doa yang menempel di dinding merah, tradisi menghormati leluhur tetap hidup di antara kerabat keraton dan masyarakat Cirebon.
BandungBergerak - Hiruk-pikuk kendaraan di jalur Pantura menuju Indramayu dan Kota Cirebon berbaur dengan langkah warga dan peziarah yang memasuki kompleks makam Sunan Gunung Djati serta keluarga Kesultanan Cirebon di Gunung Sembung, Kabupaten Cirebon, 28 Maret 2026.
Lapak pedagang memenuhi kiri-kanan jalan menuju kompleks permakaman. Agar-agar rumput laut berwarna-warni dan tahu jumbo khas Cirebon menjadi dagangan utama di meja-meja pedagang.
Di depan gapura utama berbentuk candi bentar, terbentang spanduk hijau mengatasnamakan keluarga Kesultanan Cirebon dengan tulisan menohok: “Kami tidak mengakui Luqman Zulkaedin sebagai Sultan Sepuh XV.”
Ribuan peziarah memasuki kompleks makam melalui Gapura Wetan dan Gapura Kulon. Di halaman setelah gapura utama, ratusan orang sudah duduk bersimpuh di antara makam kerabat keraton.
Area gerbang kedua atau Lawang Krapyak juga dipenuhi peziarah. Mereka duduk di sela makam-makam tua keluarga keraton. Sementara gerbang ketiga, Lawang Pasujudan, tidak terbuka untuk umum. Hanya kerabat dan keluarga keraton yang diperbolehkan masuk.
Di atasnya terdapat Lawang Ratnakomala. Pepohonan tua menaungi makam-makam kuno keluarga keraton di halaman lawang ini. Hanya keluarga keraton atau peziarah yang mendapat izin sultan yang dapat memasukinya.
Mulai dari Lawang Ratnakomala, dinding kompleks makam berupa bata merah berhias ornamen piring keramik Cina, membentang hingga puncak lawang kesembilan, Lawang Teratai, area tertinggi yang menjadi makam Sunan Gunung Djati.
Grebeg Syawal Astana Agung Gunung Sembung merupakan tradisi penghormatan leluhur di lingkungan Keraton Kanoman dan Kasepuhan. Tradisi ini dilaksanakan sepekan setelah Idul Fitri atau pada akhir pekan pertama bulan Syawal dalam kalender Islam.
Kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Cirebon yang dibangun sekitar abad ke-15 ini memiliki sembilan pintu gerbang: Gapura Kulon, Lawang Krapyak, Lawang Pasujudan, Lawang Ratnakomala, Lawang Jinem, Lawang Rararoga, Lawang Kaca, Lawang Bacem, dan Lawang Teratai.
Tidak semua gerbang terbuka untuk umum. Masyarakat hanya dapat mengakses area makam di gerbang paling bawah. Di kawasan ini terdapat tradisi unik bernama surak. Saat tradisi berlangsung, ratusan keping uang logam Rp500 dan Rp1.000 beserta bunga dilemparkan ke arah pintu di sayap kiri Lawang Pasujudan.
Ratusan peziarah di luar Lawang Pasujudan, dari barisan depan hingga belakang, serentak melempar koin dan bunga. Hujan uang logam mengarah ke pintu gerbang. Surak merupakan tradisi melempar koin sebagai bentuk sedekah. Para abdi dalem dan pengurus makam tampak tersenyum sambil menahan peziarah agar tidak melewati gerbang menuju Lawang Ratnakomala.
Di dekat guci padusan terdapat Pendopo Soka yang dipenuhi bunga dan uang koin. Menurut para peziarah, bunga terbaik untuk nyekar adalah bunga selasih. Jika tidak ada, bunga campuran seperti mawar, melati, kenanga, dan bugenvil juga digunakan. Konon, bunga selasih merupakan bunga kesukaan Sunan Gunung Djati.
Peziarah melanjutkan ritual melalui halaman di sisi bangunan pesanggrahan, melewati sumur keramat Kanoman, lalu naik menuju area pemakaman kerabat keraton lainnya. Di puncak kompleks, banyak peziarah berdoa di depan dinding bata merah pembatas lawang makam para sultan dan keluarganya, termasuk makam Sunan Gunungjati.
Usai berdoa, banyak peziarah menempelkan tangan ke dinding makam.
“Ngalap berkahnya sunan dan sultan. Setelah tahlil dan wirid saya berwudhu di padasan (guci air untuk beruwudhu dekat Lawang Pasujudan) sekalian bawa airnya dalam botol plastik untuk di rumah,” kata Hartini, peziarah asal Kabupaten Cirebon.
Tradisi Ratusan Tahun
Tradisi ziarah ke kompleks makam Sunan Gunung Djati dan keluarga Kesultanan Cirebon telah berlangsung selama ratusan tahun. Sejak era Syekh Syarief Hidayatullah, peziarah telah datang untuk menghormati leluhur, dan seiring waktu, kegiatan ini semakin ramai hingga menjadi rutinitas tahunan.
Ziarah dilakukan setelah enam hari puasa Syawal, melibatkan tidak hanya keluarga keraton, tetapi juga masyarakat sekitar yang leluhurnya dimakamkan di area tersebut. Kegiatan ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan terhadap para pendahulu.
“Ziarah ini sudah berjalan ratusan tahun. Dari zaman Syekh Syarief Hidayatullah sudah ada tradisi ziarah, lalu semakin ramai hingga menjadi rutinitas. Kami berziarah setelah enam hari puasa Syawal. Selain keluarga keraton, ada juga masyarakat sekitar yang leluhurnya dimakamkan di sini. Kami menghormati leluhur,” kata Sekretaris Keraton Kanoman Cirebon sekaligus juru bicara keraton, Ratu Raja Arimbi Nurtina.
Semakin siang, jumlah peziarah terus bertambah. Mereka datang dari berbagai daerah. Grebeg Syawal juga menjadi kesempatan masyarakat bertemu Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin yang diwakili Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran beserta kerabat keraton dalam ziarah bersama di kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Cirebon itu.
Pesan Sunan Gunungjati, "Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin", bukan sekadar tentang masjid dan kaum papa. Lebih dari itu, pesan tersebut mengajarkan keluarga keraton untuk hidup berdampingan tanpa sekat dengan rakyat, menghidupkan silaturahmi, memakmurkan masjid, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui kegiatan bernuansa ibadah.
*Foto dan Teks: Prima Mulia
COMMENTS