• Opini
  • Relativitas Kebahagiaan dalam Lagu Oncom Gondrong di Negeri yang Ruwet

Relativitas Kebahagiaan dalam Lagu Oncom Gondrong di Negeri yang Ruwet

Kritik dalam lagu yang diamini massa akan menjadikan sebuah pergerakan yang tidak bisa diterka.

M. Romyan Fauzan

Petani yang suka menulis.

Di era streaming, pekerja seni yang teralienasi dari karya sendiri. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

28 September 2026


BandungBergerak – Ajen ajen ajen ajen ajen.... / Ajen ajen ajen ajen / He liki liki liki / He liki liki liki / ya oya ya hoya ya hoya ya o yaya.. – (versilama.budaya-indonesia.org)

Akhir-akhir ini lagu  Oncom Gondrong sering terdengar di berbagai platform internet. Bahkan ada video menarik dari massa suporter sepak bola yang berjoget bersama menikmati lagunya. Lagu yang dinyanyikan Bungsu Bandung tersebut secara musikalitas memang enak untuk dibawa enjoy joget. Kendang, trompet, bass elektrik, adalah perpaduan sempurna untuk dinikmati, terlebih jika di-DJ-kan, ampun sudah.

Namun penulis tidak akan membahas sisi musikalitasnya, tentu banyak yang lebih ahli di bidang itu. Ada yang lebih menarik untuk dikaji dari sisi sejarah lagu tersebut, juga hubungan makna lirik lagu itu (baik lirik versi dulu dan sekarang) dengan kondisi negara kita hari ini.

Baca Juga: Lagu Wajib, Lagu Perjuangan, Lagu Nasional, atau Lagu Tanah Air?
Adik dan 'yang Asing': Sebuah Respons terhadap Lagu Bob Anwar ‘Kepada Adik’
Kontroversi Lagu Bupati Purwakarta, Mengapa Humor Seksis Dianggap Lumrah dan Lucu oleh Pejabat Publik?

Kapan Oncom Gondrong Bermula?

Lagu ini pertama kali diciptakan oleh Memed S. dan terdapat dalam sebuah kaset album berjudul Oncom Gondrong dengan label FIA Record MTR Records yang dinyanyikan oleh Tating Sariningsih (Simanyar) dan Karawang Group - H.M.A. Dimyati (musictime.nl) pada tahun 1981. Dari manakah keterangan itu didapatkan? Ya, dari website penjajah kita, dengan ekstensi domain asal juga pengelolanya orang Belanda.

Memang segala hal yang berhubungan dengan sejarah Sunda telah disimpan baik-baik oleh mereka dan ternyata tidak hanya di Leiden. Sampai hari ini di website tersebut, bahkan sebagian besar lagu Indonesia dari berbagai genre telah disimpannya. Jangan tanyakan di Indonesia sebuah karya apapun bagaimana nasibnya. Entahlah.

He liki liki liki… He liki liki liki. Ya hoya ya hoya ya hoya ya ho yaya.

Lalu di tahun 1987 direkam ulang oleh Bungsu Bandung, dengan lirik yang sedikit diubah. Bahkan diubah lagi dalam versi viral terbaru dengan cara dirampingkan sebagian.

Versi 1981 yang dihilangkan dalam lirik yang dirilis tahun 2025:

(bagian awal sebelum intro):

Oncom..
(Penyanyi) Bade ngagaraleuh Oncom, Mang?
(Pemusik) Oncom ti mana ieu teh Neng?
(Penyanyi) Oncom Ciamis Ieu mah Oncom Gondrong
(Pemusik) Gening aya nu gondrong oncom teh
(Penyanyi) Hoyong uninga Mang?
(Pemusik) Kantenan
(Penyanyi) Nganggo Bawang Beureum, Cabe Beureum,
gula beureum, tarasi beureum, mangkok beureum,
aya hiji deui… anu ngicalna lambeyna beureum…

Bait Sisindiran Pertama (Tentang Micin dan Surawung)

Goreng dage diserehan
palay nikmat disalaman
komo mun disurawungan
palay gurih dipecinan

Bait Sisindiran kedua (Perihal poligami)

Aduh ibu abdi hoyong goreng dage
Oncomna mah oncom ti Bandung
Aduh-aduh ibu, sok aya beja teu sae
Tikapungkur abdi mah alim dicandung

Perubahan itu tidak banyak mengurangi makna inti lirik-lirik yang akan dibahas kemudian. Entah secara hak cipta apakah akan dipersoalkan apa tidak perubahan tersebut karena aturan tentang itu setidak jelas hukum di negara kita.

Di negara kita terlalu banyak orang menutupi sejarah hingga semua tidak menjadi persoalan. Barangkali penjajah Belanda lebih memahami bagaimana sejarah membentuk sebuah bangsa, tanpa harus ada kebohongan di dalamnya dibanding di negara Indonesia. Barangkali juga negara kita selalu, sedang, dan akan terus dijajah oleh orang-orang yang sedang membuat sejarahnya sendiri hari ini.

Isi dunia seperti bolak-balik dalam waktu yang berjalan karena semisal lagu yang telah sekian lama hilang bisa muncul tiba-tiba dan viral. Sejarah pun bisa jadi demikian, kebohongan-kebohongan yang telah disimpan sekian lamanya, tiba-tiba terkuak begitu saja entah karena apa saja penyebabnya.

Perkiraan Relativitas Kebahagiaan

Gramisci berpendapat (dalam Faruk, 2005) bahwa setiap revolusi harus didahului oleh kerja kritik yang intens, oleh difusi kebudayaan, dan penyebaran gagasan di antara massa manusia yang pertama kali mungkin melakukan penolakan karena keterikatannya pada interes-interes ekonomi yang langsung. Adanya ketimpangan sosial sekaligus ekonomi di sebuah negara mencerminkan perkiraan kebahagiaan dan penderitaan yang dialami masyarakatnya.

Kekuatan internet hari ini telah menjadi senjata yang bisa mengubah banyak hal di sebuah negara. Kerja kritik yang intens bisa melalui apa saja, termasuk secara tidak sadar melalui lagu-lagu yang viral di berbagai platform. Kekuatan lirik merupakan bagian dari difusi kebudayaan karena akan memengaruhi banyak orang terhadap sudut pandang pada sesuatu hal.

Tuh tingali.. si tukang dagang..
Rupina mah... nyandak karanjang
Teu tebih... tina sangkaan..
Moal lepat.. eta teh si tukang ampyang

Lirik lagu tersebut bercerita tentang perjuangan perempuan pedagang keliling yang membawa keranjang, yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Penulis masih ingat ketika dulu tahun 2000-an adik dari nenek, orang Tasikmalaya yang juga seorang perempuan, membawa keranjang dari rumahnya ke Bandung untuk mendagangkan makanan khas Tasikmalaya. Juga masih terlihat setiap pagi seorang Ibu Tua hari ini menjual gorengan berkeliling ke rumah-rumah di kampung.

Gambaran tentang kaum marginal pada karakter perempuan seperti dalam lagu tersebut memang sesuai dengan kenyataan ekonomi di negeri ini, sejak dulu. Tuh tingali.. si tukang dagang.. ada penggunaan kata si untuk menunjukkan ketidakberpihakan kelas sosial yang dirasakan. Di sisi lain, lirik yang terdapat di tahun 1981 bahwa oncom berasal dari Ciamis, bukan Sumedang (yang merupakan asal dari Bungsu Bandung). Ciamis dan Tasikmalaya sangat terkenal dengan nasi tutug oncomnya yang tidak lain berbahan dage (oncom hitam) dengan harga tilu talen (75 sen).

Bukan tahu yang dibahas dalam lagu itu, juga bukan kacang tanah. Tapi oncom yang merupakan fermentasi dari sisa-sisa tahu juga kacang tanah. Yang berarti bukan bahan utama makanan yang mencerminkan bagaimana keadaan masyarakat yang memanfaatkan sisa-sisa bahan makanan sebagai pegangan hidupnya.

Ada juga ampyang yang merupakan parutan kelapa yang diwarnai dan ditaburi gula. Juga bala-bala yang merupakan ciri khas makanan di daerah Sunda. Kuliner memang selalu menjadi ciri khas dari sebuah daerah. Namun juga dengan begitu, ketika lagu tersebut berjudul Oncom Gondrong, jelas sudah siapa yang sedang dibicarakan.

Nu paling genah jadi pagawe kantoran
lamun saban bulan narima duit gajihan
Pakokolot ge pasti boga pangharepan
Bakal narima duit pangsiunan...

Tidak berhenti sampai di situ. Ada anomali yang langsung ditabrakkan oleh Memed S. bahwa di satu sisi ada kehidupan kaum marginal yang berjuang hidup dari sisa-sisa bahan makanan, di sisi lain ada pegawai kantoran yang setiap bulannya menerima gaji tetap, juga pensiunan. Ada batas ekonomik dan intelektual, Gramisci berkata bahwa negara harus menjadi jembatan antara perbedaan kelas sosial yang ada. Jangan seperti kata lirik tersebut roda rodahe merege hese cap jahe yang berarti yang menggunakan mobil tidak peduli pada kaum marginal.

Kritik dalam lagu yang diamini massa akan menjadikan sebuah pergerakan yang tidak bisa diterka. Hari ini bisa jadi lagu Oncom Gondrong hanya sebatas dinikmati sebagai sebuah lagu viral. Hari lain bukan tidak mungkin, lagu ini mewakili kaum marginal yang merasa tidak diperlakukan adil oleh pengurus negara. Sehingga mengakibatkan sesuatu yang menggerakkan massa karena keadaan kaum marginal semakin ruwet untuk menjalani hidup.

Pada akhirnya mereka hanya bisa bersabar, menghibur diri karena barangkali sudah tidak ada hiburan lagi di negeri ini. Nu pang genahna lamun jadi tukang dagang/Unggal poe teh teu weleh nyekel rebuan/Hatena bungah lamun meunang kauntungan/ Lamun di imah tara kurang sandang pangan. Yang bermakna bersyukur kalau dapat keuntungan, kalaupun tersisa, berarti masih ada sesuatu yang bisa dimakan.

Relativitas kebahagiaan memang tidak bisa diukur dari hanya sebatas perkiraan makna lirik lagu. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan menerka seseorang lebih bahagia dibanding lainnya. Seperti dalam lirik lagu tersebut yang memperkirakan orang-orang kantoran lebih enak hidupnya dibanding pedagang keliling. Ceuk itu kitu/lamun euceuk ieu kieu. Kata itu begitu, kata ini begini.

Namun yang patut dicatat, penderitaan bisa diukur dari banyaknya fakta yang menyedihkan di sebuah negara. Penderitaan bisa menjadi senjata yang mematikan untuk meruntuhkan sebuah negara.

He liki liki liki/He liki liki liki/ya oya ya hoya ya hoya ya o yaya..

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//