Adik dan 'yang Asing': Sebuah Respons terhadap Lagu Bob Anwar ‘Kepada Adik’
Banyak lagu bercerita tentang ayah, ibu, atau anak. Namun, lagu untuk adik? Saya jarang menemukannya. Apa yang membuat adik tidak menarik untuk dibuatkan lagu?

Boby Anggara
Penulis puisi dari Bandung.
10 Agustus 2026
BandungBergerak – Saya terbangun dengan sisa mimpi yang belum luruh sepenuhnya di ujung ranting bulu mata. Dengan kelopak mata lengket, saya menatap layar. Ada mention di grup chat. Kang Bob Anwar baru saja merilis lagu berjudul “Kepada Adik”. Saya langsung mendengarkan lagu tersebut melalui tautan yang Kang Bob bagikan.
Iya, ya. Saya sering mendengar lagu tentang ayah, ibu, atau anak. Namun, lagu untuk adik? Saya jarang menemukannya. Kalau ayah, ibu, atau anak adalah darah daging, bukankah adik juga? Apa yang membuat adik tidak semenarik itu untuk dibuatkan lagu?
Saya tidak paham musik. Setelah saya mendengar beberapa lama, ada tarikan-tarikan nada yang nostalgik. “Tarikan yang biasanya dirancang untuk membuat orang menangis,” pikir saya saat mendengarnya. Secara teknis, saya tidak tahu namanya. Namun, yang saya pernah dengar, ada perpindahan tangga nada yang memang dirancang untuk memberikan impak yang sentimental. Seakan-akan jantung dibetot ke bawah secara perlahan. Ada juga suara biola yang mengiringi, dan saya rasa itu yang membuat musiknya memiliki daya tarik tersendiri.
Kemudian vokal. Saya juga tidak paham teknik-teknik vokal. Namun, tampaknya, Kang Bob menyuguhkan vokal yang sederhana dan mudah didengar, layaknya suara seorang kakak yang ramah. Entah mengapa, ada perbedaan dengan vokal perempuan, Nuranica, yang datang belakangan. Vokal Nuranica terdengar penuh tarikan dengan nada yang lebih tinggi. Nuranica memberikan warna folk indie yang lebih pekat di lagu ini. Saat vokal Kang Bob dan Nuranica jalan beriringan, ada harmoni yang tidak saling mendahului. Keduanya terdengar akur, seperti hubungan kakak-adik yang diidam-idamkan oleh orang tua.
Lalu soal adik. Soal ini saya paham. Saya juga seorang kakak. Namun, yang saya tidak terlalu paham adalah perihal “yang dahulu/ tumbuh di sampingku” seperti yang disampaikan dalam lirik lagu Kang Bob. Hal itu disebabkan oleh masa kecil saya yang tidak terlalu lama dihabiskan bersama adik. Namun, lirik lagu Kang Bob memvalidasi perasaan saya dengan menyertakan “jadi orang asing,” karena begitulah hubungan saya secara keseluruhan dengan adik sendiri.
Meskipun saya berusaha yang terbaik, terkadang, untuk menjadi seorang kakak yang normatif, misalnya dengan memberikan bantuan moral maupun material kepada adik saya secara tidak langsung (baca: online), saya tetap tidak bisa menjadi sosok kakak sepenuhnya. Hubungan masa kecil saya dengan keluarga mungkin agak rumit. Tidak bisa saya babarkan di esai singkat ini. Namun, lagu Kang Bob memang mengingatkan saya akan kompleksitas hubungan keluarga saya. (Mungkin jika dibabarkan pelan-pelan tidak sekompleks itu juga sih.)
Baca Juga: Balcony dan Homicide Membumikan Musik ke Akar Rumput
Membaca Kembali Permasalahan Komunitas Musik Tradisi
Hajatan di Grimloc: Nongkrong, Kenalan, dan Merayakan Musik
Mengingatkan Pendengar Soal Adik
Lagu ini barangkali memang dibuat untuk mengingatkan pendengar soal adik (atau mungkin kakak?). Saya dengar beberapa orang punya hubungan yang rumit dengan adik/kakak mereka. Ada yang sudah tinggal berjauhan atau ada yang sering berantam karena tinggal bersama. Ada juga yang akur-akur saja. Mungkin ketika mendengar lagu ini, mereka akan berhenti sejenak untuk sekadar memikirkan ulang soal hubungan kakak-adik mereka.
Adik, sebagai anggota keluarga yang lahir dari rahim Ibu yang sama (atau mungkin tidak), juga sering menjadi sosok yang penting dalam pertumbuhan seorang Kakak. Adik juga turut membentuk identitas seorang Kakak. Sementara itu, Kakak mungkin sering merasa lebih bangga karena bisa diandalkan saat adik menggantungkan beberapa urusan kepadanya sebagai seorang Kakak. Namun, di lagu Kang Bob juga, si aku-lirik menunjukkan rasa penyesalan karena tidak benar-benar bisa membantu si tokoh Adik ini. Seakan-akan, aku-lirik sebagai Kakak merupakan perpanjangan tangan orang tua untuk melakukan peran perawatan terhadap tokoh Adik.
“Dik, maaf/ aku tak meneduhkanmu,” dalam lirik lagu Kang Bob juga secara tidak langsung membuat kita membayangkan sosok aku-lirik sebagai perwujudan pohon atau mungkin atap yang biasanya dilekatkan pada predikat “meneduhkan”. Jika begitu, siapa yang meneduhkan si aku-lirik dari serangan hujan dan panas? Ada perasaan bersalah yang eksplisit, ditandai oleh kata “maaf” pada baris lirik tersebut. Oleh karena itu, tokoh Kakak dikonstruksi sebagai tempat bernaung yang selalu dibebankan ekspektasi untuk menjadi pelindung. Secara tidak langsung juga, lirik tersebut beresonansi dengan suara pahlawan yang menyesal karena tidak dapat menyelamatkan seseorang yang harusnya ia lindungi.
Lirik lagu Kang Bob juga menambahkan, “saat/ bahagia/ kerap/ kuterlupa.” Hal ini justru menunjukkan keterbatasan si aku-lirik dalam menanggung beban emosi dalam satu waktu tertentu. Si aku-lirik itu juga terlihat berusaha melihat keterbatasan itu sebagai kelemahan, seakan-akan di saat bahagia, si aku-lirik tetap harus terbebani peran Kakak yang harus tetap ingat soal adiknya. Si aku-lirik menunjukkan oposisi antara “bahagia” dan “terlupa”. Dua oposisi ini hadir bersamaan, dan itu yang tidak diinginkan oleh si aku-lirik rupanya. Hal ini justru menunjukkan bahwa si aku-lirik menanggung peran lain sebagai seseorang yang harus eling setiap saat soal adiknya.
Satu hal tambahan yang saya rasakan dalam lagu ini. Di dalam tema yang begitu relate dengan banyak orang, ada bunyi yang tidak familier di bagian “malah/ jadi orang asing”. Saya curiga, bunyi “malah” yang terkesan banal di tengah-tengah lirik yang puitis, ditambah bunyi akhiran “-ing” pada kata “asing” yang datang tiba-tiba sebagai penyebabnya. Hal itu membuat saya sedikit merasa bahwa ada kikiran yang sedikit kasar pada bangunan keseluruhan lirik. Mungkin hal itu disengaja untuk menambah impak “keasingan” pada sebuah narasi tentang hubungan kakak-adik yang sudah dibangun sejak awal liriknya. Penambahan “jadi orang asing” untuk menutup lagu membuat kegamangan yang mengganggu. Perasaan yang ditimbulkannya adalah ketidaknyamanan, sama seperti sesuatu di dalam diri saya yang merasakan hal serupa saat mengingat-ingat hubungan saya dengan keluarga.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


