• Berita
  • Hajatan di Grimloc: Nongkrong, Kenalan, dan Merayakan Musik

Hajatan di Grimloc: Nongkrong, Kenalan, dan Merayakan Musik

Di acara Record Store Day Grimloc, rilisan fisik menjadi alasan untuk berkumpul. Di balik kaset dan vinyl, tumbuh ruang percakapan, solidaritas, dan sikap politik.

Record Store Day di Grimloc Records, Bandung, Jumat, 31 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 7 Agustus 2026


BandungBergerak - Dua jam perjalanan dari Cimahi bukan perkara sepele bagi Willy Aritonang, 23 tahun. Ia harus berganti angkot tiga kali untuk datang ke acara Record Store Day di Grimloc Records, toko sekaligus label musik di Jalan Suryalaya XII, Bandung. Ia datang seorang diri, bukan sebagai pekerja yang baru menerima gaji atau kolektor dengan dompet tebal.

"Saya mah pengangguran, belum ada pekerjaan tetap," ujarnya sambil tersenyum, Jumat siang, 31 Juli 2026.

Meski belum memiliki pekerjaan tetap, Willy tetap menyisihkan uang untuk menghadiri Record Store Day, agenda tahunan yang digelar Grimloc Records. Beberapa kaset incarannya hanya dijual langsung di acara tersebut. Namun, membeli rilisan bukan satu-satunya alasan ia rela menghabiskan hampir dua jam di perjalanan.

"Menurut saya worth it naik angkot. Dunia sekarang terlalu cepat. Saya mencoba melambat di tengah kecepatan dunia ini," katanya.

Pukul 13 lewat, suasana Grimloc sudah dipenuhi pengunjung. Sebelum memasuki ruangan, setiap orang terlebih dahulu mengambil nomor antrean. Sistem itu diterapkan untuk membatasi jumlah orang di dalam toko agar tidak terlalu padat.

Para pengunjung duduk di ruang tunggu menunggu nomor antrean mereka dipanggil. Willy sudah mendapat nomor antrean, begitu juga saya yang mendapatkan nomor 23.

Bagi Willy, perjalanan dari Cimahi ke Bandung bukan sekadar menempuh jarak. Di dalam angkot, ia menemukan percakapan yang jarang ditemuinya di media sosial. Ia berbincang dengan pedagang, sopir angkot, hingga seorang nenek tentang harga kebutuhan pokok, biaya hidup, dan kondisi ekonomi sehari-hari.

Pengalaman itu terasa dekat dengan kehidupannya. Orang tua Willy adalah pedagang sayur, sehingga sejak kecil ia terbiasa ikut berbelanja ke Pasar Induk Caringin. Perubahan harga cabai, bawang, kentang, dan sayuran bukan sekadar data, melainkan bagian dari keseharian keluarganya.

"Orang tua saya dagang, jadi saya ikut merasakan," tandasnya.

Pengalaman menyaksikan harga bahan pangan berubah hampir setiap hari membuat isu politik yang diangkat dalam rilisan Defbloc dan video musik Morgue Vanguard terasa nyata baginya. Kritik terhadap ketimpangan sosial, biaya hidup, dan persoalan kelas pekerja tidak lagi sekadar lirik, melainkan cerminan realitas yang ia temui di rumah dan di pasar.

Dari pengalaman itulah ketertarikannya pada Morgue Vanguard dan kolektif Defbloc tumbuh.

"Gerbangnya itu Morgue Vanguard. Terus dari kompilasi-kompilasi Defbloc Durgahayu juga saya suka karena irisan politiknya kuat," kata Willy.

“Nomor 21 sampai 30 silahkan masuk,” teriak pegawai Grimloc Records.

Pengunjung segera menyebar menuju rak-rak rilisan fisik. Sebagian tampak telah mengetahui album yang mereka incar. Saya langsung menuju rak Defbloc, berburu rilisan yang belakangan tidak lagi tersedia di berbagai platform musik digital. Album Amok and Peace milik Ken Amok dan 9051 karya Rand Slam menjadi dua rilisan yang saya incar hari itu.

Di sudut lain, antrean lain kembali terbentuk. Puluhan orang berdiri memanjang untuk mendapatkan poster edisi khusus yang dibagikan kepada pembeli produk Grimloc. Tepat di sampingnya, sebuah meja sablon manual tak pernah sepi.

Pengunjung dipersilakan membawa kaus polos atau kaus bekas milik mereka untuk dicetak ulang dengan desain Grimloc oleh Raw Press. Tidak ada tarif yang ditentukan. Siapa pun cukup memberikan donasi seikhlasnya sebagai bentuk apresiasi kepada para penyablon.

Sementara ruang di dalam toko dipenuhi aktivitas berburu rilisan, trotoar di seberang Grimloc berubah menjadi ruang berkumpul yang tak kalah hidup. Sejumlah pengunjung memilih duduk bersila di pinggir jalan, mengobrol dengan teman lama maupun orang yang baru dikenal.

Yang menarik, tidak semua orang datang untuk berbelanja.

Fenomena itu justru menjadi hal yang ingin dipertahankan oleh pengelola Grimloc Records, Herry Sutresna ‘Ucok’ atau yang dikenal dengan nama panggung Morgue Vanguard.

"Kalau Record Store Day itu memang perayaan tiap tahun. Kita sengaja rilisan-rilisannya dijual offline supaya orang datang ke toko," ujarnya.

Namun tujuan menghadirkan orang ke toko ternyata bukan semata-mata agar mereka membeli kaset.

Ucok justru bercerita tentang beberapa pengunjung yang datang dari luar Bandung hanya untuk duduk dan menikmati suasana. Cerita-cerita itu mengingatkannya pada masa mudanya.

Sebelum internet dan media sosial hadir, Ucok menghabiskan banyak waktu di toko kaset sejak duduk di bangku SMP. Ia datang tanpa uang ke record store bernama Reverse di Jalan Sukasenang, mendengarkan album menggunakan perangkat tester yang disediakan toko, kemudian pulang dengan membawa referensi musik baru dan teman-teman baru.

Pengalaman itu kini ingin ia hidupkan kembali melalui Grimloc.

Menurutnya, record store bukan sekadar tempat jual beli musik, melainkan ruang yang mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama.

"Aku pengin ngebangun tradisi itu lagi. Mau baca buku di sini boleh, nongkrong boleh, ketemu orang boleh. Enggak harus beli," kata pentolan band hiphop Homicide tersebut.

Jika masih ada poster atau zine tersisa, Ucok bahkan kerap memberikannya kepada pengunjung sebagai bentuk apresiasi.

Di mata Ucok, record store dahulu adalah ruang nongkrong sebelum media sosial mengambil alih perjumpaan. Orang datang bukan karena mampu membeli kaset, melainkan karena ingin bertemu orang-orang dengan selera musik yang sama. Musik menjadi alasan untuk berkumpul, sementara percakapan dan pertemanan menjadi hal yang dibawa pulang.

Record Store Day di Grimloc Records, Bandung, Jumat, 31 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)
Record Store Day di Grimloc Records, Bandung, Jumat, 31 Juli 2026. (Foto: Insan Radhiyan/BandungBergerak)

Bertahan di Luar Spotify

Meski identik dengan rilisan fisik, Grimloc tidak menutup mata terhadap perkembangan teknologi. Belakangan, Grimloc dan Defbloc menarik katalog musik mereka dari Spotify. Keputusan itu sempat menimbulkan anggapan bahwa mereka meninggalkan distribusi digital.

Menurut Ucok, mereka sebenarnya hanya ingin menarik katalog dari Spotify sebagai bagian dari aksi boikot terhadap platform tersebut. Namun agregator digital yang mereka gunakan tidak memungkinkan penghapusan hanya dari satu layanan, sehingga seluruh katalog ikut ditarik dari berbagai platform.

Dalam waktu dekat, katalog itu akan diunggah kembali ke layanan streaming lain, kecuali Spotify.

Di tengah dominasi layanan streaming, pendapatan dari platform digital masih menjadi persoalan bagi banyak musisi independen. Spotify, misalnya, rata-rata hanya membayar sekitar US$0,003 hingga US$0,005 atau sekitar 45 rupiah hingga 80 rupiah untuk setiap satu kali pemutaran kepada pemegang hak cipta.

Di saat yang sama, Spotify juga menuai kritik setelah CEO sekaligus salah satu pendirinya, Daniel Ek, melalui perusahaan investasinya Prima Materia, memimpin pendanaan baru senilai €600 juta untuk perusahaan teknologi pertahanan berbasis kecerdasan buatan, Helsing, yang berbasis di Jerman yang mengembangkan sistem AI untuk keperluan militer.

Investasi tersebut memicu gelombang kritik dari sejumlah musisi dan label independen yang menilai Spotify tidak lagi sejalan dengan nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Kritik inilah yang kemudian melatarbelakangi gerakan boikot Spotify oleh sejumlah label independen, termasuk Grimloc dan Defbloc.

Namun, bagi Grimloc distribusi digital tetap penting. Bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan menjaga hak cipta para musisi.

"Kalau kita enggak upload lagu di digital stream nanti ada orang lain yang upload dan dimonetisasi," kata Ucok.

Hal itu sejalan dengan kenyataan bahwa pendapatan dari streaming belum mampu menopang kehidupan label independen.

Grimloc membangun model bisnis yang lebih luas dan juga tetap melihat tren kekinian yang digemari. Musik menjadi fondasi, sementara keberlangsungan label banyak ditopang oleh penjualan merchandise.

"Kalau mau merchandise-nya laku, album musiknya juga harus bagus," ujarnya.

Rangkaian rilisan mendatang Grimloc Records akan diisi oleh beberapa proyek musik. Salah satunya adalah album terbaru dari Flyzad, kemudian split EP antara Dongker dan Sukatani yang mengangkat tema tentang tanah yang hilang akibat pembangunan atas nama kemajuan. Selain itu, Grimloc juga akan merilis ulang single dari band Kubik berjudul Matel dalam versi remake.

Adapun, Grimloc akan menggelar Showcase Balcony pada 2 Oktober di Dago Elos. Acara ini digagas sebagai bentuk penghormatan untuk mengenang almarhum Jojon, gitaris Grimloc yang pernah tinggal di kawasan tersebut. Showcase ini menjadi ruang temu antara musik, komunitas, dan ingatan kolektif terhadap perjalanan panjang Grimloc bersama lingkungan sekitarnya.

Baca Juga: Punk, Solidaritas, dan Suara-suara Perlawanan di Bandung
Homicide Tidak Akan Pernah Mati

Apakah Rilisan Fisik Relevan di Era Sekarang?

Annisa Rahma Putri, 23 tahun, salah satu pengunjung yang rutin menghadiri hajatan Record Store Day di Grimloc tiap tahunnya, mengaku alasan utamanya datang bukanlah berbelanja.

"Aku ke sini sebenarnya bukan karena pengin harus belanja. Aku ke sini buat nongkrong aja. Ketemu teman-teman, ketemu kenalan, hanging around here," ujarnya.

Bahkan ketika mengunjungi toko rilisan fisik lain di Bandung, seperti DU68, kebiasaannya tetap sama, yaitu hanya datang, ngobrol, cari refrensi lalu pulang.

Di tengah dominasi media sosial, record store justru menjadi ruang percakapan tatap muka mengenai album baru, konser, hingga musisi favorit terjadi secara alami di antara rak-rak kaset dan vinyl.

Meski begitu, Annisa tetap melihat rilisan fisik memiliki nilai yang tidak tergantikan.

Ia mulai mengoleksi kaset sejak duduk di bangku kelas tiga SMA atau sekitar tahun 2020. Seiring waktu juga kebiasaannya berubah. Jika dahulu hampir semua rilisan yang menarik perhatian dibeli, kini ia lebih selektif.

"Sekarang lebih milih yang benar-benar pengin aku ngulik," katanya. Mengoleksi rilisan fisik juga mengubah cara ia memperlakukan musik. "Jadi lebih mindful sama barang. Kaset kan harus dirawat. Tape deck juga sekarang susah nyarinya."

Menurutnya, pengalaman memutar kaset atau CD menghadirkan hubungan yang berbeda dengan musik dibanding sekadar menekan tombol putar di layanan streaming.

"Musisi sekarang enggak bisa bergantung dari streaming aja. Lewat kaset, CD, vinyl, kaos, atau merchandise itu justru lebih bisa mensejahterakan seniman,” kata Annisa.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//