• Opini
  • Membaca Kembali Permasalahan Komunitas Musik Tradisi

Membaca Kembali Permasalahan Komunitas Musik Tradisi

Potret umum sanggar seni tradisi di Indonesia yang kerap dirawat dengan cara keliru: dipuja saat tampil, dilupakan saat harus dijaga keberlanjutannya sehari-hari.

Abizar Algifari Saiful

Pendidik musik, komposer, dan peneliti

Proses pengembangan pembelajaran musik tradisi di Sanggar Purnama Sari. (Foto: Dokumentasi Abizar Algifari Saiful)

23 Juli 2026


BandungBergerak – Setiap kali seni tradisi dibicarakan, yang terbayang biasanya panggung: gemerlap pertunjukan, tepuk tangan penonton, dan dokumentasi yang ramai dibagikan sehari lalu senyap. Padahal, di balik panggung, banyak sanggar sesungguhnya sedang sekarat pelan-pelan. Sanggar Seni Purnama Sari di Desa Cibodas, Lembang, adalah salah satu contohnya. Berdiri sejak tahun 2000, sanggar ini masih dipercaya mengisi kegiatan desa, tetapi latihannya menyusut, regenerasinya tersendat, dan repertoarnya hanya hidup dalam ingatan. Kondisi ini bukan kekhususan Cibodas, melainkan potret umum sanggar seni tradisi di Indonesia yang kerap dirawat dengan cara keliru: dipuja saat tampil, dilupakan saat harus dijaga keberlanjutannya sehari-hari.

Akar persoalannya terletak pada cara kita memaknai pelestarian itu sendiri. Selama ini pelestarian sering direduksi menjadi frekuensi pementasan; semakin sering sebuah kesenian tampil, semakin ia dianggap lestari. Padahal pertunjukan hanyalah permukaan. Ia buah, bukan akar. Sebuah sanggar bisa saja rutin manggung, tetapi tetap rapuh karena tak punya sistem pembelajaran yang menarik bagi yang muda, tak punya arsip yang menjaga repertoarnya, dan tak punya tata kelola yang membuatnya sanggup berdiri tanpa bergantung pada satu-dua orang. Merawat seni tradisi, dengan demikian, bukan soal memperbanyak panggung, melainkan soal membangun fondasi yang membuat panggung itu masih mungkin ada esok hari.

Pada 29 Juni 2026, tim pengabdian Universitas Pendidikan Indonesia melalui Program Inovasi Seni Nusantara mencoba menerjemahkan keyakinan itu ke dalam praktik. Kami tidak datang membawa panggung, melainkan tiga hal yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendasar: percakapan tentang tata kelola, proses pembelajaran, dan dokumentasi karya. Sekitar 25 orang terlibat hari itu, mulai dari pengelola dan anggota sanggar hingga peserta muda. Sejak awal kami menegaskan bahwa program ini dijalankan secara partisipatif, tumbuh dari kebutuhan nyata di lapangan, bukan dari target yang dibawa dari luar. Sebab intervensi yang bermakna hanya mungkin lahir ketika ia menjawab persoalan yang benar-benar dirasakan mitra, bukan yang diasumsikan dari kejauhan.

Baca Juga: Menggugat Nasib Seniman Tradisi di Masa PandemiJejak Tradisi Kapitalisme OrtodoksTokécang dan Dunia yang Rakus, Membaca Ketidakadilan Global dari Kearifan Tradisi Sunda

Sanggar Sebagai Subjek Aktif

Prinsip yang kami pegang sepanjang kegiatan adalah menempatkan sanggar sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima manfaat. Purnama Sari tidak kami posisikan sebagai objek pasif yang menunggu diberi, melainkan sebagai mitra yang ikut merumuskan arah kegiatan sesuai konteks sosial dan budayanya. Pengelola dan anggota sanggar dilibatkan dalam menentukan apa yang paling dibutuhkan dan bagaimana kegiatan sebaiknya berjalan. Pendekatan semacam ini bukan sekadar soal etika kolaborasi, melainkan strategi keberlanjutan. Ketika mitra merasa memiliki proses dan hasilnya, kemungkinan besar mereka akan meneruskan praktik itu secara mandiri setelah pendampingan berakhir. Sebab intervensi yang paling gagal justru yang menjadikan penerimanya bergantung selamanya pada pihak luar.

Percakapan tentang tata kelola barangkali terdengar paling tidak “seni” di antara ketiganya, tetapi justru di sinilah persoalan paling dalam bersembunyi. Bersama ketua sanggar, kami membicarakan hal-hal yang selama ini jarang diucapkan terbuka: siapa mengerjakan apa, bagaimana peran dibagi, dan siapa yang akan meneruskan bila penggerak intinya berhalangan. Banyak sanggar runtuh bukan karena keseniannya tidak bernilai, melainkan karena pengelolaannya bertumpu pada ingatan dan kebiasaan satu orang. “Selama ini kami jalan berdasarkan kebiasaan. Baru terasa pentingnya menata organisasi ketika mulai memikirkan siapa yang akan meneruskan,” ujar Anang Gurning, ketua sanggar. Pengakuan sejujur itu jarang berani diucapkan komunitas seni mana pun, dan justru di sanalah titik awal pembenahan bisa dimulai.

Alur kedua, pembelajaran musik tradisi, menyentuh persoalan regenerasi yang paling sering diabaikan. Hari itu para peserta berlatih menabuh gamelan salendro, menyimak pola tabuhan lalu menirukannya berulang hingga terasa mengalir di tangan. Momen ini bukan sekadar latihan teknis, melainkan proses transmisi pengetahuan yang bersifat tersirat – pengetahuan yang tak sepenuhnya bisa dibukukan karena melekat pada tubuh, rasa, dan pengalaman pelakunya. Di sinilah letak kerentanan sekaligus keistimewaan seni tradisi. Ketika tak ada yang menirukan, pengetahuan itu ikut mati bersama pemiliknya. Maka menghidupkan kembali ruang belajar yang cair dan lintas generasi bukanlah kemewahan, melainkan syarat paling dasar bagi kelangsungan sebuah tradisi.

Alur ketiga, dokumentasi, menjawab persoalan yang paling menghantui dalam kerja pelestarian: betapa mudahnya warisan musikal hilang tanpa jejak. Sebagian besar repertoar sanggar diwariskan secara lisan, tanpa rekaman, tanpa catatan. Satu pergantian generasi yang tidak mulus bisa memusnahkan apa yang dibangun berpuluh tahun. Karena itu, merekam repertoar, latihan, dan aktivitas sanggar ke dalam bentuk audio-visual bukan pekerjaan administratif belaka, melainkan tindakan pelestarian yang sesungguhnya. “Dokumentasi bukan tujuan akhir. Ia cara agar apa yang kami rawat hari ini masih bisa dipelajari sepuluh tahun lagi,” demikian ditegaskan dalam kegiatan tersebut. Arsip yang lahir dari proses ini kelak menjadi bahan ajar sekaligus jejak yang bisa dibagikan ke ruang publik.

Yang perlu ditegaskan, ketiga hal itu tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menyambung. Tata kelola menyediakan kerangka agar kegiatan berjalan, pembelajaran memastikan ada yang meneruskan, dan dokumentasi menjaga agar pengetahuan tidak lenyap seiring waktu. Ketiganya menegaskan satu hal: merawat seni tradisi tidak cukup dengan menampilkannya sesekali di panggung. Ia membutuhkan sistem belajar yang menarik bagi yang muda, arsip yang menjaga ingatan kolektif, dan pengelolaan yang membuat sanggar sanggup berdiri lebih lama. Apa yang dikerjakan di Cibodas memang kecil dalam skala, tetapi ia menyentuh akar persoalan yang selama ini dihadapi banyak komunitas seni tradisi di berbagai daerah, jauh melampaui satu sanggar.

Menyelamatkan Sanggar

Inilah cara berpikir yang ditawarkan Program Inovasi Seni Nusantara: integratif, bukan parsial. Terlalu sering program pelestarian gagal karena menyelesaikan satu gejala sambil membiarkan akarnya tetap membusuk. Sanggar diberi alat musik baru tetapi tak diajari mengelola, atau dilatih tampil tetapi tak dibekali cara mengarsip. Padahal keberlanjutan hanya mungkin ketika seluruh aspek diperkuat secara bersamaan. Penguatan pada satu titik seharusnya menular ke titik lain, membentuk ekosistem yang saling menopang, bukan tumpukan bantuan yang berserakan tanpa arah. Dengan kerangka semacam ini, pembelajaran, dokumentasi, dan tata kelola tidak dipandang sebagai kegiatan terpisah, melainkan satu kesatuan yang bersama-sama menentukan apakah sebuah sanggar mampu bertahan.

Kami menyadari, apa yang dikerjakan di Cibodas hari itu kecil. Satu hari kegiatan tidak akan mengubah nasib sebuah sanggar, apalagi nasib seni tradisi secara keseluruhan. Tetapi perubahan besar selalu berangkat dari pergeseran cara pandang yang tampak sepele. Selama pelestarian masih diukur dari ramainya panggung, sanggar-sanggar yang diam-diam padam di balik layar akan terus berjatuhan. Sudah waktunya perhatian dialihkan dari pertunjukan ke sistem yang menopangnya: dari tepuk tangan sesaat ke kerja panjang membangun pembelajaran, arsip, dan tata kelola. Sebab yang paling menentukan masa depan seni tradisi bukanlah seberapa sering ia tampil, melainkan seberapa kokoh fondasi yang menjaganya tetap hidup dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, menyelamatkan sanggar adalah soal mengembalikan tanggung jawab ke tangan komunitasnya sendiri. Peran para akademisi dan pegiat bukanlah menjadi penyelamat yang datang lalu pergi, melainkan pemantik yang menyalakan kesadaran kemudian mundur perlahan. Sanggar Seni Purnama Sari akan meneruskan perjalanannya dengan atau tanpa kehadiran tim pengabdian. Yang bisa kami lakukan hanyalah memastikan mereka berjalan dengan bekal yang lebih baik: struktur yang lebih tertata, pengetahuan yang lebih mudah diwariskan, dan arsip yang menjaga ingatan. Bila nyala itu kelak tetap menyala di Cibodas, ia akan menyala bukan karena kami, melainkan karena para pelakunya sendiri memilih untuk terus merawatnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//