Tokécang dan Dunia yang Rakus, Membaca Ketidakadilan Global dari Kearifan Tradisi Sunda
Dari lagu Tokécang hingga kritik sosial, tradisi Sunda mengingatkan bahwa kerakusan menjadi sumber ketimpangan, krisis sosial, hingga kerusakan ekologis hari ini.

Arfi Pandu Dinata
Pegiat Dialog Lintas Iman. Penyuka Teologi dan Studi Agama.
1 April 2026
BandungBergerak - Tokécang-tokécang / Bala gendir tosblong / Angeun kacang - angeun kacang / sapependil kosong (Tokécang-tokécang / Bala gendir bolong / Sayur kacang - sayur kacang / Satu periuk kosong).
Lagu kaulinan barudak Tokécang lucu, menghibur, juga menjadi pengingat. Tokécang sendiri merupakan singkatan dari ‘tokek makan kacang’, metafora dari perilaku makan berlebihan yang melambangkan kerakusan. Sebuah pesan moral yang jelas, bahwa sikap mengambil terlalu banyak mencerminkan ketidakpedulian terhadap yang lain (Shintya Putri Setiowati, Pembentukan Karakter Anak pada Lagu Tokecang, Jawa Barat, Jurnal Ilmu Budaya, 2020). Ungkapan Sunda menyebutnya ‘ngarawu ku siku’, sikap ini dekat dengan ‘hawek’, yang bermakna rakus, tamak, atau serakah.
Mei Kartawinata, tokoh penggali ajaran leluhur Sunda, dalam Marhaen (1951), melihat bahwa kerakusan adalah akar utama dari berbagai sistem opresi hegemonik, seperti kolonialisme, imperialisme, feodalisme, kapitalisme, dan fasisme. Ia bahkan menyebut kapitalis sebagai ‘raja gembul’, figur rakus yang memposisikan diri sebagai tuan dan abai terhadap penderitaan kaum sengsara.
Istilah ‘gembul’ sendiri dalam bahasa Sunda merujuk pada kebiasaan makan berlebihan, yang juga dikenal dengan padanan kata lain seperti ‘rewog’, ‘gereba’, dan ‘gambuhang’. Hal tersebut yang menyebabkan ‘kamerkaan’ (begah). Mei Kartawinata juga menyebut para penindas tersebut sebagai mereka yang ‘hawek makmak-mekmek’, aji mumpung makan puas lagi enak di atas penderitaan orang lain.
Sebuah Metafora dari Pola Konsumsi
Makan adalah jembatan yang menghubungkan lagu Tokécang dengan pandangan Mei Kartawinata. Memang, dalam bentang kebudayaan Sunda, praktik makan mencerminkan sikap etis yang mendalam terhadap kehidupan. Makan adalah aktivitas yang dijalani dengan penuh kewajaran yang secukupnya. Makan yang bersahaja merupakan refleksi dari cara pandang kebudayaan bahwa rezeki harus dinikmati dengan kesadaran batas dan penghormatan terhadap yang lain.
Budiawati Supangkat Iskandar dan kawan-kawannya dalam Local Knowledge of the Sundanese Community on Traditional Foods to Enhance Family Food Security (ETNOSIA, 2023) menegaskan hal tersebut melalui penelitian di Desa Cijambu, Tanjungsari, Sumedang. Mereka menemukan bahwa pola makan sehari-hari masyarakat Sunda memang mencerminkan prinsip kesederhanaan. Misalnya, kebiasaan makan dua kali sehari yakni sarapan dan makan siang dengan sebagian yang makan tiga kali. Makan siang bahkan sering memanfaatkan sisa makanan dari sarapan sehingga tidak perlu memasak khusus. Selain nasi, warga juga mengonsumsi makanan tradisional berbasis pangan lokal dari pelataran rumah, kebun, sawah, dan hutan, dengan sebagian kecil dibeli dari pasar. Gaya hidup ini menekankan kemandirian serta keberlanjutan.
Senada dengan itu, Ilham Fajri lewat Strategi Peningkatan Penjualan Makanan Tradisional Sunda Melalui Daya Tarik Produk Wisata Kuliner di The Jayakarta Bandung Suite Hotel & Spa (Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal, 2018) menegaskan bahwa masakan Sunda menonjolkan karakter kesederhanaan dan kesegaran bahan. Citarasa masakan Sunda cenderung jelas, seimbang, dan ringan, antara asam segar, gurih asin, pedas lembut, dan manis ringan.
Dari sanalah kita juga diingatkan akan pikukuh karuhun Kanékés, yang menegaskan bahwa gunung teu meunang dilebur (gunung tak boleh dihancurkan), lebak teu meunang dirusak (lembah tak boleh dirusak), larangan teu meunang dirempak (larangan tak boleh dilanggar), buyut teu meunang dirobah (tabu tak boleh dirubah), lojor teu meunang dipotong (panjang tak boleh dipotong), pondok teu meunang disambung (panjang tak boleh disambung), nu lain kudu dilainkeun (yang bukan harus dibukankan), nu ulah kudu diulahken (yang terlarang harus dilarang), nu enya kudu dienyakeun (yang benar harus dibenarkan), mipit kudu amit (mengambil harus izin), ngala kudu menta (mengambil harus meminta).
Tidak hanya indah secara bahasa, tapi memang demikianlah titipan leluhur Sunda itu harus membingkai setiap keputusan kita dalam berkonsumsi. Cukup dalam makan berarti juga cukup dalam menggunakan, memakai, menyerap, atau memanfaatkan segala hal. Selalu ada ambang batas, selalu ada prinsip untuk ‘less is more’ sebagaimana dipopulerkan oleh Ludwig Mies van der Rohe di dunia modern kini.
Apa itu Rakus?
Erich Fromm dalam To Have or To Be (1997) memaparkan bahwa rakus atau serakah merupakan karakter yang dibentuk secara historis oleh masyarakat industrial-kapitalis, khususnya melalui dominasi mode memiliki. Cara hidup yang membuat orang merasa “aku adalah apa yang aku miliki” (I am what I have). Rakus lahir dari asumsi psikologis radikal hedonisme bahwa tujuan hidup adalah pemuasan semua hasrat, dari keyakinan bahwa egoisme dan individualisme yang akan membawa kita ke cita-cita yang tertinggi. Dalam kerangka ini, identitas manusia ditentukan oleh kepemilikan. Kita tampak menjadi lebih, sejauh kita memiliki lebih banyak sesuatu. Padahal keinginan untuk memiliki tidak pernah memiliki titik kenyang, karena itu rakus bersifat tak terbatas dan niscaya melahirkan kecemasan, kecemburuan, antagonisme, bahkan konflik kelas yang terus-menerus.
Fromm juga menegaskan bahwa selama kehidupan diarahkan pada akumulasi tanpa batas, perdamaian akan mustahil terwujud. Rakus justru membangun hubungan manusia dengan alam sebagai relasi penaklukan.
Tema kerakusan sebagai wajah ketidakadilan seperti itu konkret hadir dalam khazanah kesusastraan Sunda modern. Tini Kartini dan kawan-kawan melalui Yuhana Sastrawan Sunda (1979), mengungkapkan bahwa tokoh Akhmad Bassah yang memiliki nama pena Joehana (1895-1930) telah menulis setidaknya 14 judul buku yang terdiri dari roman, cerita sejarah, kumpulan anekdot, dan cerita wayang, selain karya lepas di majalah atau surat kabar. Karya-karya Joehana menonjolkan kritik sosial yang tegas, seperti menentang penindasan, memperlihatkan penderitaan kaum lemah, menolak perkawinan paksa, dan mencela mereka yang membanggakan kekayaan materi. Sebagai pengarang naturalis, peristiwa dalam roman Joehana langsung berpijak pada kondisi sosial masyarakat, dari pemerasan hingga konflik keluarga yang menonjolkan kerakusan sebagai faktor moral dan sosial yang utama.
Misalnya, karya Carios Agan Permas (edisi cetak ulang 1926-1928) Joehana menggambarkan konflik antara kelas sosial melalui penderitaan tokoh Mugiri akibat hutang berbunga tinggi. Begitupun karya Kalepatan Putra Dosana Ibu Rama (1927-1928), ia menyoroti tekanan sosial untuk mengejar kekayaan melalui strategi pernikahan yang tidak etis. Kedua karya ini tidak hanya mencerminkan realitas patologis masyarakat Sunda pada periode 1920‑an tetapi juga menguatkan kritik terhadap obsesi materi dan kerakusan yang paralel dengan pandangan Erich Fromm terhadap masyarakat kapitalis yang menempatkan kata kerja “memiliki” sebagai ukuran identitas kita.
Karen Armstrong lewat Twelve Steps to a Compassionate Life (2010), menegaskan bahwa kerakusan termasuk egoisme dan keinginan memiliki merupakan hambatan utama bagi kehidupan penuh belas kasih. Ia menunjukkan bahwa berbagai konflik dan kekerasan dalam masyarakat modern sering dilatarbelakangi oleh emosi egois seperti keserakahan dan iri hati yang disamarkan sebagai alasan agama atau ideologi tertentu.
Baca Juga: Perda Kota Bandung 13/2025: Bagaimana Ruang Urban Diciptakan jadi Toleran Menurut Versi Penguasa?
Genealogi Kementerian Agama: Sebuah Kesadaran bagi Perjuangan Kebinekaan Kita
Masalah Kita pada Hari Ini
Sekarang kita bisa mendaratkannya pada kehidupan sehari-hari. Misal, pada cara orang tua yang akan selalu menyela, “Pamali!”, jika kita makan céplak, makan dengan suara dan gerak mulut yang berisik. Tabu ini datang dari keresahan akan isyarat kerakusan, pada hal-hal yang tampak sepele. Namun dari sanalah bukan, minyak goreng kita di dapur asrama bisa raib, termasuk scam online yang meneror kita. Kerakusan memicu stres dan cemburu, terlihat jelas di lingkungan kerja yang toxic, di mana persaingan karier sering membuat orang saling sikut. Rakus juga bagian dari dunia kita dalam jejaring gaya hidup konsumerisme lewat fast fashion, paylater, sampai gacha game mechanics.
Kerakusan lebih serius terlihat dalam praktik korupsi dan bagi-bagi jabatan yang melanggeng di tata pengelolaan negeri ini. Apalagi eksploitasi industri ekstraktif yang memuntahkan limbah atas masalah krisis iklim. Kerakusan jugalah yang menjadi tindak penerabas batas privasi, membuat banyak kasus kekerasan seksual terjadi di mana-mana. Kerakusan telah menjadi akar penjajahan sepanjang masa, mempengaruhi cara kita membangun relasi dengan orang lain.
Sikap rakus bukan masalah kanak-kanak yang cukup direspons dengan cara dicarékan saja. Dari pelbagai fenomena yang menembus semua lapisan kehidupan manusia, rakus menjadi akar dari banyak bentuk ketidakadilan dan kerusakan. Termasuk sedentary lifestyle dengan ancaman diabetesnya, sedangkan di satu sisi stunting anak balita masih juga kita hadapi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

