• Berita
  • Balcony dan Homicide Membumikan Musik ke Akar Rumput

Balcony dan Homicide Membumikan Musik ke Akar Rumput

Showcase di IFI Bandung mempertemukan generasi lama dan baru skena: dari Balcony, Homicide, hingga band muda, mengingatkan kembali semangat solidaritas musik keras.

Viky Mono Bernostalgia Kembali Bernyanyi Untuk Balcony di IFI Bandung, Sabtu, 14 Februari 2026. (Foto: Trica Octavia)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 10 Maret 2026


BandungBergerak - Lampu panggung menyala redup di ruang pertunjukan Institut Français Indonesia (IFI) Bandung ketika dentuman gitar pertama pecah, Sabtu, 14 Februari 2026. Kerumunan langsung merapat ke depan panggung. Malam itu, showcase kecil yang mempertemukan band lawas Balcony dan Homicide terasa seperti membuka halaman lama skena musik keras Bandung—di kota yang dulu pernah menyebut dirinya “Bandung Kota Hardcore”.

Di venue yang tak terlalu besar itu, penonton datang dari lintas generasi: mereka yang tumbuh bersama gigs era 1990-an, hingga pendengar muda yang selama ini hanya mengenal nama-nama itu dari cerita dan rilisan lama. Dentuman musik keras bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa skena Bandung pernah dibangun dari kemarahan yang terarah, keberanian bersuara, dan solidaritas yang menyatukan.

Showcase atau konser intim Balcony diawali oleh penampilan beberapa band era bawah tanah lainnya, seperti Bleach dan Honey sebagai representasi generasi baru skena hardcore Bandung, sementara Rotten to the Core membawa energi lama dari band punk era 1990-an. Penampilan Rotten to the Core menjadi salah satu momen yang cukup mencuri perhatian, terutama ketika mereka membawakan lagu hits nya yang berjudul Police on My Back.

Pertemuan lintas generasi semakin kental saat Homicide, band hiphop yang kaus-kausnya masih dipakai orang-orang muda kekinian, turut menggetarkan panggung IFI Bandung.

Penonton larut dalam irama tanpa upaya saling menunjukkan dominasi, melainkan bergerak bersama musik cepat dan teriakan vokal. Menurut Danil Muhammad Ivan, energi konser ini mengingatkan pada masa-masa gigs lama di Bandung. Sesuatu yang telah lama jarang ditemukan di gigs sekarang yang mungkin banyak penonton berekspresi terlalu ganas hingga melukai fisik di mosh pit.

“Mosh pit-nya seperti yang dulu. Tidak ada yang melakukan violence dance atau tough guy. Lebih ke ekspresi bareng-bareng menikmati musik,” ujar Danil.

Danil terkesan saat Balcony membawakan lagu Monodramatik. Lagu selalu terasa kuat setiap kali dimainkan di panggung. Liriknya disebut “edan”, karena mengandung kata-kata tajam sekaligus puitis. Lagu tersebut dinyanyikan oleh mantan vokalis Balcony yang gahar dan berkarakter, Viky Mono.

“Di tahun tersebut mereka sudah membuat lirik bagus, puitis, dan semarah itu,” ujar Danil, dalam bahasa Sunda.

Suasana lintas generasi semakin terasa ketika penonton dari generasi Z ikut memenuhi ruang pertunjukan di Institut Français Indonesia Bandung malam itu. Salah satunya Martha Setiawan. Ia mengaku baru mengenal Balcony setelah melihat poster showcase yang diunggah oleh Disaster Records di Instagram.

Rasa penasaran membuatnya datang. Ia ingin melihat langsung seperti apa sosok “abang-abangan” skena musik Bandung yang selama ini hanya ia dengar dari cerita. Namun ketika Balcony mulai tampil, ia merasakan atmosfer yang berbeda dari konser yang biasa ia datangi. Energi di ruangan itu dengan cepat menyeret penonton baru seperti dirinya ikut bergerak di mosh pit.

“Pecah banget. Enggak ada sekat antara fans lama sama fans baru. Semua berbaur,” katanya.

Di sisi lain, penulis musik asal Bandung, Idhar Resmadi, melihat malam itu sebagai pertemuan lintas generasi dalam satu ruang skena. Menurutnya, banyak orang datang bukan hanya untuk menonton satu band, tetapi untuk menyaksikan momen yang jarang terjadi—ketika Homicide kembali tampil, Vicky Mono kembali menyanyi bersama Balcony, sementara band generasi baru seperti Honey dan Bleach ikut meramaikan panggung.

Ketika Balcony memainkan lagu-lagu seperti “Memoar 98” atau membawakan ulang lagu Puppen, “United Fist”, ruangan seakan berubah menjadi ruang ingatan kolektif tentang gigs lama di Saparua. Sebagian penonton bernyanyi keras, sebagian lain terus bergerak di mosh pit yang tak berhenti.

“Penonton udah beres, udah Bersiap-siap pulang, tiba-tiba siap ucok manggil Arian (ex-Puppen) untuk menyanyikan lagu puppen tersebut,” kata Idhar ketika ditanya momen paling berkesan.

Masa keemasan Balcony sendiri kerap terdengar seperti mitos yang diwariskan dari cerita ke cerita. Sekitar 2003, band ini mulai memasuki masa hiatus. Sebelum vakum, terjadi pergantian vokalis ketika Om Barus keluar dari formasi. Posisi itu sempat diisi Vicky Mono yang tampil bersama Balcony dalam beberapa kesempatan, meski tidak berlangsung lama.

Periode ketika Vicky menjadi vokalis hanya disaksikan oleh sebagian kecil penonton sebelum band ini kembali berhenti. Pada waktu yang hampir bersamaan, label yang menaungi mereka, Harder Records, juga berhenti beroperasi sekitar 2004. Para personel Balcony kemudian menempuh jalan masing-masing di industri musik, menjauh dari dinamika panggung seperti yang mereka alami pada akhir 1990-an. 

Menurut Idhar, kemunculan kembali Balcony di masa sekarang justru terasa pas secara momentum. Ia melihat lanskap musik hari ini jauh lebih terfragmentasi dan plural dibandingkan masa lalu, ketika selera pendengar masih dibatasi sekat genre.

“Sekarang orang sudah sangat terfragmentasi selera musiknya, hampir tidak ada sekat. Bahkan musik yang dulu dianggap pinggiran bisa menjadi arus utama dan dimainkan di stadion atau lapangan besar. Artinya selera masyarakat semakin fluid,” ujarnya.

Zine Beredar

Di luar dari pertunjukan musik Balcony di IFI Bandung, showcase ini juga dimeriahkan praktik-praktik kultural yang sejak lama menjadi bagian dari skena musik independen. Penonton mendapatkan zine yang berisi tulisan teks pleidoi para tahanan politik Bandung. Tradisi ini bukan hal baru dalam kultur musik bawah tanah. Bagi sebagian orang yang tumbuh bersama gigs-gigs kecil di Bandung pada awal 2000-an, zine adalah media alternatif untuk menyebarkan gagasan di luar arus media utama.

Gigs bukan menjadi tempat menonton band saja, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan. Kebiasaan bagi bagi zine saat pertunjukan musik memang sempat menghilang dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kini zine perlahan kembali muncul karena ada banyak imajinasi dan kreativitas orang muda Bandung terhadap kultur lama percetakan.

Selain zine, merchandise juga menjadi titik perhatian penonton. Kaos “Bebaskan Para Tahanan Politik” pun di gaet beberapa penonton yang datang. Penjualan kaos tersebut juga menjadi salah satu bentuk solidaritas kawan-kawan Bandung terhadap para tahanan politik. Sebagian hasil penjualannya didedikasikan untuk mendukung para tahanan politik di Bandung.

Penulis musik Bandung Idhar Resmadi melihat praktik tersebut sebagai bagian dari tradisi lama skena yang selalu berusaha menghubungkan musik dengan isu sosial. Menurutnya, sejak era awal, komunitas hardcore dan hiphop di Bandung sering menjadikan gigs sebagai ruang solidaritas. Musik bukan hanya hiburan, tetapi juga medium untuk menyuarakan sikap politik dan membangun jaringan dukungan.

Melalui mekanisme ini, pesan sosial dapat beredar secara organik di tengah kerumunan tanpa harus disampaikan melalui forum formal. Penonton datang untuk menikmati musik, tetapi di saat yang sama mereka juga terpapar wacana politik, isu penahanan aktivis, hingga kritik terhadap situasi sosial yang sedang berlangsung. Bentuk komunikasi seperti ini kerap muncul dalam budaya alternatif, di mana ruang seni dan musik menjadi medium untuk menyelipkan pesan yang lebih luas kepada komunitasnya.

Isu tersebut lantang disuarakan Ucok Homicide di atas panggung. Ia menyinggung berbagai persoalan yang menurutnya tengah melingkupi kehidupan sosial dan politik hari ini di Bandung. Ia menyebut masifnya penangkapan terhadap tahanan politik, praktik pencurian oleh elite dan mafia yang terus berlangsung, serta penggusuran lahan yang tidak pernah benar-benar berhenti sebagai rangkaian masalah yang memperlihatkan ketimpangan kekuasaan. Kritiknya juga diarahkan kepada kalangan intelektual dan musisi di Bandung yang menurutnya, memilih mencari aman, enggan bersuara, dan justru cenderung menjilat kekuasaan.

Baca Juga: Dari Femisida hingga Upah 500 Ribu Rupiah, Seratus Tuntutan Perempuan di IWD Bandung
Empat Puluh Lima Tahun LBH Bandung: Setia Bersam

Ucok Homicide di panggung IFI Bandung, Sabtu, 14 Februari 2026. (Foto: Trica Octavia)
Ucok Homicide di panggung IFI Bandung, Sabtu, 14 Februari 2026. (Foto: Trica Octavia)

Apakah Mosh Pit Menjadi Ruang Inklusif bagi Penonton Gigs?

Di tengah euforia musik keras dan energi kolektif yang meledak di depan panggung, praktik violence dance dan kultur tough guy dalam skena hardcore kerap memunculkan perdebatan. Bagi sebagian orang, mosh pit adalah ruang ekspresi bebas—tempat tubuh bergerak liar mengikuti ritme gahar yang cepat dan drum yang menghantam tanpa ampun. Namun di sisi lain, ada pula kritik yang menilai bahwa praktik tersebut sekarang mulai bergeser dari sekadar ekspresi menjadi bentuk agresi yang berpotensi melukai orang lain.

Violence dance pada awalnya dipahami sebagai bentuk tarian khas dalam kultur hardcore. Gerakan menendang udara, menonjok angin, atau berputar dengan tenaga penuh menjadi simbol pelepasan emosi. Namun dalam praktiknya, tidak jarang gerakan tersebut berubah menjadi aksi yang lebih keras dan mengarah pada kontak fisik yang tidak selalu diinginkan. Dalam beberapa gigs, muncul figur-figur yang dikenal sebagai “tough guy”, yaitu orang-orang yang mendominasi area pit dengan sikap intimidatif, seolah menjadikan ruang tersebut sebagai arena adu kekuatan.

Kehadiran kultur tough guy ini sering menuai kritik karena dianggap menciptakan atmosfer yang eksklusif dan menakutkan bagi sebagian penonton. Mereka yang datang hanya untuk menikmati musik atau sekadar berdiri di pinggir pit kadang ikut terkena tendangan atau pukulan yang tidak disengaja. Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang batas antara ekspresi dan kekerasan. Apakah pit masih menjadi ruang kolektif bagi semua orang, atau justru berubah menjadi ruang yang hanya nyaman bagi mereka yang siap bertarung secara fisik?

Saya sendiri menilai ini sebagai bentuk performative masculinity—sebuah upaya untuk menampilkan citra maskulinitas yang keras, berani, dan dominan di hadapan orang lain. Dalam konteks ini, violence dance tidak lagi sekadar mengikuti ritme musik, tetapi menjadi panggung validasi bagi individu untuk menunjukkan kekuatan fisik. Jika biasanya performative males era sekarang dikaitkan dengan segelas matcha, buku tebal, dan musik clairo dengan tujuan menggaet hati wanita, lantas para performative di mosh pit hardcore ingin menggaet apa?

“Bandung adalah kota hardcore, maskulin dan jantan (sembari menonjok angin layakanya melakukan violence dance), sehingga saya tak peduli jika hardcore (sekarang) menjadi joget-joget menggelikan, karena saya sudah kenyang melihat elite dan seleb joget-joget oke gas,” Ucok Homicide dalam orasi panggungnya.

Meski demikian, banyak pula komunitas hardcore yang berusaha menjaga agar mosh pit tetap menjadi ruang yang aman dan saling menghormati. Di beberapa gigs, penonton akan saling membantu ketika ada yang terjatuh, mengangkat mereka kembali ke atas, atau memberi ruang bagi orang yang ingin keluar dari kerumunan. Praktik-praktik kecil seperti ini menunjukkan bahwa di balik energi yang tampak brutal, kultur hardcore sebenarnya juga memiliki etika solidaritas yang kuat.

Perdebatan tentang violence dance dan kultur tough guy kemungkinan akan terus berlangsung di dalam skena. Namun yang jelas, pertanyaan tentang batas antara ekspresi, solidaritas, dan kekerasan menjadi refleksi penting bagi komunitas hardcore itu sendiri—tentang bagaimana mereka ingin menjaga ruang musik ini tetap hidup, inklusif, dan bermakna bagi semua yang datang.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//