• Narasi
  • Pengalaman Pertama ke Psikiater di Usia 34 Tahun

Pengalaman Pertama ke Psikiater di Usia 34 Tahun

Saran saya sih cuma satu, akseslah bantuan profesional seperti psikolog maupun psikiater jika mengalami gangguan kesehatan mental.

Raden Muhammad Wisnu Permana

Warga Bandung bisa dihubungi di Instagram Rwisnu93

Ilustrasi. Kesehatan mental memerlukan perhatian serius dari individu maupun negara. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

2 Oktober 2026


BandungBergerak – Beberapa waktu ini, saya mengalami satu peristiwa dalam hidup yang bikin trauma. Saya kerap kali gelisah dalam tidur. Bahkan ketika terbangun pada pukul dua dini hari, saya jadi cowok bingung yang beberapa kali bolak-balik toilet, dapur, maupun ruang tamu sebelum memutuskan kembali ke kamar saya. Deskripsi singkatnya mirip seperti orang lagi demam tinggi kemudian terbangun dan jalan-jalan karena otaknya korsleting.

Pada siang hari, gejalanya lebih parah, saya tidak bisa konsentrasi bekerja. Saya tidak bisa konsentrasi main gim maupun nonton series kesukaan saya. Bahkan saya bercerita pada tiga platform AI sekaligus, yakni ChatGPT, Gemini, dan Claude. Memang, jawaban mereka kurang lebih sama, tapi saya merasa itu jawaban dari tiga orang yang berbeda.

Beberapa malam ketika saya tidak bisa tidur, saya akhirnya memutuskan untuk menyibukkan fisik saya dengan lari di Lapangan Gasibu. Tidak terasa saya sudah berlari lebih dari 15 kilometer. Ali-alih relaks, saya malah makin menderita karena pikiran saya terus menerus berpikir negatif. Beberapa bagian tubuh saya pun lecet akibat lari sejauh itu saat kondisi mental dan fisik tidak baik-baik saja.

Beberapa teman dekat menyarankan saya pergi meminta bantuan profesional dan saya langsung mengamini hal tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, saya juga beberapa kali konsultasi ke psikolog, namun untuk kasus yang berbeda.

Akhirnya saya memutuskan untuk membuat janji dengan salah satu platform psikolog berbayar untuk menceritakan kegelisahan saya selama seminggu terakhir. Tidak lupa, pada di hari yang sama saya mengakses Faskes Tk 1 BPJS yang saya miliki, menceritakan permasalahan saya pada dokter umum dan dirujuk ke poli jiwa terdekat.

Sesi konseling lewat platform psikolog berbayar berlangsung selama lebih kurang 60 menit di salah satu coffee shop di Kota Bandung. Kami berkenalan. Saya sengaja meminta sejak awal agar diperbolehkan yapping tentang permasalahan saya dengan menggunakan kalimat kasar bahkan vulgar dan beliau pun mengizinkan.

Pada akhir sesi, konselor saya menyarankan saya banyak bersosialisasi, ikut kegiatan ini itu biar saya tidak sendirian dan terus memikirkan 20 episode skenario terburuk yang saya pikirkan padahal episode satu saja belum tentu terjadi. In football terms, saya ini ibarat pemain Manchester United yang takut berhadapan dengan Real Madrid di final UCL, padahal UCL musim ini belum dimulai dan belum tentu juga masuk babak knockout apalagi final.

Psikolog memang tidak bisa menyelesaikan permasalahan hidup kita. But it’s nice to have someone to talk to, apalagi profesional seperti psikolog. No judgment and everything is a secret.

Baca Juga: Bias Penanganan Gangguan Kesehatan Mental di Jawa Barat, Terkendala Stigma dan Masalah Struktural
Laporan Putus Asa di Jalan Layang Pasupati Bandung, Potret Krisis Kesehatan Mental yang Lebih dari Sekadar Masalah Psikologis
Di Balik Krisis Kesehatan Mental Orang Muda, Ada Trauma yang Diwariskan

Pengalaman Pertama ke Psikiater

Keesokan harinya, untuk pertama kalinya dalam hidup saya berkunjung ke psikiater. Saya tidak merasa takut, saya malah sangat tidak sabar untuk memperoleh bantuan profesional untuk permasalahan yang saya hadapi. Saya bahkan datang pada pukul dua siang, yakni sekitar satu jam sebelum jam praktik beliau dimulai untuk menghindari hujan dan demonstrasi yang sedang terjadi.

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, pemeriksaan tensi, pemeriksaan kadar oksigen, dan sedikit menjelaskan gejala yang saya alami pada nakes yang bertugas, saya pun menunggu psikiater saya datang. Saya yang satu hari sebelumnya Googling wajah beliau dan langsung excited saat beliau turun dari mobil yang dikendarainya sendiri.

“Psikiater yang menangani saya adalah ibu-ibu gaul,” setidaknya ini first impression saya dari tampilan beliau yang tampaknya hanya sekitar 15-20 tahun lebih tua dari saya namun cukup modis dan energik.

Beliau membuka sesi dengan menyampaikan disclaimer bahwa yang diceritakan di ruang ini rahasia dan saya tidak perlu takut bercerita. Saya pun merespons keramahan beliau dengan izin menggunakan kalimat vulgar atau kalimat kasar biar saya bisa leluasa cerita dan beliau pun mengizinkannya.

Sambil yapping akan segala masalah yang saya hadapi, beliau sambil mengetikkan apa yang beliau anggap penting pada layar komputernya. Sesi konseling dengan psikiater ini agak mirip dengan psikolog, di mana kita bebas yapping apa pun tenang permasalahan hidup tanpa dihakimi apalagi bocor keluar dari ruangan. Bedanya, nanti psikiater akan mendiagnosa secara klinis dan jika perlu meresepkan obat psikiatri sesuai kasus setiap individu.

Psikiater saya memberikan saya dua jenis obat yang saya harus konsumsi, yakni Divalproex sodium dan Sertraline HCl, termasuk cara penggunaannya dan hal-hal yang perlu saya perhatikan selama menjalani pengobatan.

Meski bukan antibiotik, saya diingatkan untuk tidak mengubah dosis atau menghentikan obat sembarangan hanya karena sudah merasa lebih baik. Bagaimanapun, ini bukan obat yang seharusnya saya konsumsi berdasarkan keputusan sendiri. Semua perubahan dalam pengobatan harus dikonsultasikan kembali dengan dokter.

Tentu, saya bertanya apakah akan ada efek samping dari obat psikiatri yang beliau berikan dan beliau menjelaskan bahwa tidak ada efek samping yang serius, justru ini akan membuat saya lebih tenang dan cemas dan tidak terus memikirkan 20 episode penderitaan dalam hidup saya yang belum tentu terjadi.

Obat psikiatri pun bukan seperti paracetamol yang efeknya biasanya bisa kita rasakan beberapa jam setelah diminum. Untuk obat yang saya konsumsi, dokter menjelaskan bahwa saya membutuhkan waktu untuk melihat efek terapeutiknya. Jadi saya tidak bisa berharap setelah menelan satu tablet, malam itu juga seluruh kegelisahan saya langsung menghilang. Sampai selesai medikasi, untuk sementara, saya paling harus jeda dari donor darah rutin saja.

Malam pertama setelah konsumsi obat psikiatri, obatnya belum bekerja. Saya tidur dengan gelisah, terbangun beberapa kali, dan bolak-balik kamar, ruang tamu, maupun dapur tanpa tujuan yang jelas sebelum akhirnya tidur. Saya juga berkali-kali chat teman terdekat saya, terutama mereka-mereka yang pernah ke psikiater dan menjalani pengobatan psikiatri sembari chat seluruh platform AI buat ngobrol.

Beberapa hari setelah konsumsi obat psikiatri, rasa gelisah saya berkurang, namun saya tidak bisa menentukan apakah itu karena konsumsi obat psikiatri atau bukan. Satu hal yang pasti, tidur saya lebih tenang dalam artian tidak terbangun terus menerus. Saya pun berusaha mengisi waktu luang dengan kegiatan positif seperti kumpul-kumpul komunitas buku atau komunitas film yang ada di Kota Bandung agar saya tidak terus-menerus overthinking dan bisa tidur dengan tenang karena sudah seharian berada di luar.

Kepala saya terus memberitahu saya skenario terburuk atas konsekuensi kesalahan yang saya lakukan di masa lalu dan pengaruhnya pada hidup saya sampai saya mati nanti. Saya sendiri tidak tahu bagaimana hasil pengobatan psikiatri yang saya jalani saat ini, saya cuma bisa berusaha move on maju ke depan dan menuruti apa kata profesional di bidangnya.

Setelah lewat 20 hari setelah konsumsi obat-obatan psikiatri, rasa cemasnya memang sudah sangat jauh berkurang dibandingkan 20 hari yang lalu. Tentu, bukan faktor obat-obatan itu saja, saya juga bercerita dan berdiskusi dengan banyak orang, terutama teman-teman saya yang pernah punya masalah psikologis sampai harus mengonsumsi obat-obatan psikiatri. Saya juga menyibukkan diri dengan ikut berbagai kegiatan, seperti diskusi buku maupun ikut kegiatan yang digagas berbagai book club yang ada di Kota Bandung maupun ikut acara-acara yang ada pada Perpustakaan Bunga Di Tembok. It really helps me hide the pain I’ve fight for.

Saya yakin, yang mengalami gangguan seperti ini bukan saya saja. Ada jutaan atau bahkan miliaran orang yang pernah atau sedang mengalami ini, baik dengan gejala yang lebih ringan maupun lebih berat. Saran saya sih cuma satu, akseslah bantuan profesional seperti psikolog maupun psikiater. Manfaatkan BPJS maupun asuransi yang kalian miliki, sebelum pikiran kalian mengonsumsi kalian hidup-hidup.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//