Di Balik Krisis Kesehatan Mental Orang Muda, Ada Trauma yang Diwariskan
Lewat film The Other Daughter di acara Kelas Liar, peserta mengenali trauma antargenerasi, memahami bagaimana luka diwariskan keluarga, serta mencari solusinya.
Penulis Retna Gemilang6 Juli 2026
BandungBergerak - Film dokumenter The Other Daughter (2024) karya Fala Pratika membuka sesi pertama Kelas Liar dengan sebuah pertanyaan yang tak mudah dijawab: bagaimana jika luka yang kita rasakan hari ini ternyata warisan dari generasi sebelumnya? Lewat kisah tiga perempuan dari tiga generasi, film ini memperlihatkan bagaimana trauma dapat hidup dan berpindah dalam sebuah keluarga.
Sosok ibu hadir bukan sebagai tokoh yang sepenuhnya salah ataupun benar, melainkan manusia yang juga memikul luka dari generasi sebelumnya. Film yang sangat personal ini mengajak penonton melihat bahwa memahami asal-usul luka bukan berarti membenarkan luka yang terus diwariskan.
Cerita di layar rupanya bergaung hingga ke bangku-bangku penonton. Seusai pemutaran film, peserta Kelas Liar merespons dengan beragam emosi: sedih, haru, marah, dilema, iri, tenteram, bahkan ada yang merasa pengalaman menonton itu begitu memicu (triggering). Bagi sebagian peserta Kelas Liar, film tersebut menjadi cermin yang memperlihatkan pengalaman hidup mereka sendiri.
Dari sana, mereka diajak menengok ke dalam diri. Dalam kelompok-kelompok kecil, peserta merefleksikan warisan orang tua yang ingin mereka teruskan sekaligus pola-pola yang ingin mereka hentikan agar tidak sampai kepada generasi berikutnya. Percakapan berlangsung hangat dan penuh kepercayaan, menghadirkan ruang aman untuk saling berbagi kisah yang selama ini jarang mendapat tempat.
Bagi Rifka, salah satu peserta yang sehari-hari mengajar di Madrasah Aliyah di Kopo, tema yang diangkat film terasa begitu dekat dengan kehidupannya.
Ia menyadari bahwa ada warisan luka antargenerasi yang ingin ia akhiri. Rifka tumbuh dalam keluarga dengan aturan tak tertulis bahwa kesedihan tidak boleh ditunjukkan dan setiap anggota keluarga dituntut untuk selalu kuat. Kini, alih-alih mewariskan pola yang sama, ia ingin memberi ruang yang lebih aman bagi dirinya dan generasi setelahnya untuk mengenali serta menerima setiap emosi.
"Jadi yang ingin aku hentikan kayak tadi yang tidak belajar menerima emosi negatif, ya, aku mau stop sampai di aku aja," ujar Rifka, di
Kelas Liar edisi Bulan Juli yang membahas tentang Trauma Antargenerasi di Tengah Kehidupan Urban di Bandung, di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 4 Juli 2026.
Pengalaman serupa juga dirasakan Hobie, yang akrab disapa Hobs. Sebagai pekerja lepas, ia melihat pembahasan mengenai trauma antargenerasi masih jarang mendapat ruang diskusi, padahal dampaknya bisa terus dirasakan lintas generasi.
Menurutnya, budaya patriarki menjadi salah satu warisan yang perlu diputus. Ia meyakini bahwa laki-laki juga perlu dilibatkan dalam percakapan mengenai kesehatan mental, sebab selama ini mereka kerap dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu kuat hingga kesulitan mengenali dan mengelola emosinya.
"Patriarki harus dihentikan, karena itu merusak suatu tatanan keluarga yang seharusnya," kata Hobs.
Bagi Hobs, ruang seperti Kelas Liar menjadi alternatif ruang aman bagi siapa pun untuk bercerita, saling mendengarkan, dan belajar mengolah luka tanpa rasa takut dihakimi. Sebab, perubahan sering kali berawal dari keberanian untuk mengenali luka yang selama ini diwariskan, lalu memutuskan agar ia berhenti pada diri sendiri.
Cerita-cerita yang muncul di Kelas Liar memperlihatkan bahwa luka batin tidak lahir begitu saja. Di balik pengalaman personal, ada sejarah keluarga dan lingkungan sosial yang ikut membentuknya.
Di tengah pesatnya pembangunan Kota Bandung, persoalan kesehatan mental di kalangan anak muda juga semakin mengemuka. Hasil skrining Cek Kesehatan Gratis Pemerintah Kota Bandung terhadap 148.239 siswa pada Agustus–Oktober 2025 menunjukkan 71.433 siswa atau 48,19 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan mental.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak bisa semata-mata dipahami sebagai masalah individu, melainkan perlu dilihat dalam konteks relasi keluarga dan lingkungan sosial.
Kenyataannya, luka yang dialami seseorang kerap merupakan akumulasi duka dari generasi sebelumnya. Tekanan hidup di perkotaan, budaya patriarki, dan kebiasaan membungkam emosi membuat trauma antargenerasi terus diwariskan hingga hari ini.
Baca Juga: KELAS LIAR BESAR: Bandung, Kota yang Terkoyak Sejak Lahir
KELAS LIAR BESAR: Membedah Kepemimpinan Zombie dan Akademisi Toksik
Trauma yang diwariskan
Pada sesi berikutnya, Ayas dari Bloom Under The Sun mengajak peserta memahami konsep trauma antargenerasi. Ia menjelaskan bahwa trauma antargenerasi adalah luka yang tidak pernah dipulihkan pada satu generasi, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya melalui aspek psikologis, perilaku, bahkan biologis melalui mekanisme epigenetik.
Menurut Ayas, pewarisan trauma dalam keluarga umumnya berlangsung melalui tiga jalur: pola asuh yang ekstrem, komunikasi yang tidak sehat, dan represi emosi.
Anak yang tumbuh dalam pola asuh yang terlalu mengontrol atau justru mengabaikan kebutuhan emosional, misalnya, lebih mudah menyerap kecemasan. Trauma juga dapat diwariskan sejak masa kehamilan. Tingkat stres yang tinggi pada ibu dapat meningkatkan hormon kortisol yang memengaruhi perkembangan otak janin.
"Jadi itu (luka) terbawa sejak kita masih di dalam kandungan ibu, stres ibu turun ke dalam diri kita," ujar Ayas.
Selain itu, pola komunikasi yang dipenuhi sindiran, kritik tanpa henti, atau sikap pasif-agresif membuat konflik keluarga tidak pernah diselesaikan secara sehat. Emosi akhirnya ditekan, sementara kesedihan, kemarahan, dan rasa takut dianggap tidak boleh ditunjukkan.
"Emosi yang direpresi ini pada akhirnya menumpuk, kemudian meledak dalam bentuk kecemasan atau depresi," katanya.
Namun, Ayas menegaskan bahwa trauma antargenerasi tidak tumbuh dalam ruang hampa. Patriarki dan kehidupan urban menjadi dua faktor yang memperkuat siklus tersebut.
Dalam budaya patriarki, figur otoritas sering ditempatkan sebagai sosok yang tidak boleh dipertanyakan. Kondisi ini melahirkan komunikasi satu arah, budaya bungkam, hingga normalisasi kekerasan verbal, fisik, maupun emosional atas nama mendidik.
"Isu kesehatan mental sering kali dianggap aib atau malah kurang iman, padahal itu dua hal yang berbeda," tegasnya.
Di sisi lain, tuntutan hidup di kota—mulai dari tekanan ekonomi, kemacetan, jam kerja panjang, hingga kompetisi—membuat banyak orang tua kehabisan energi sebelum pulang ke rumah. Mereka sering kali tidak lagi memiliki kapasitas emosional untuk hadir secara utuh bagi anak-anaknya.
Di saat yang sama, dorongan mengejar status sosial dan stabilitas ekonomi membuat kesehatan mental kerap tersisih. Banyak orang lebih sibuk bertahan hidup daripada mengurai luka yang mereka bawa sejak kecil.
Meski demikian, Ayas menekankan bahwa rantai trauma antargenerasi dapat diputus. Langkah pertama adalah mengenali pola-pola yang diwariskan: mana yang ingin diteruskan dan mana yang perlu berhenti pada diri sendiri.
Langkah berikutnya adalah membangun batasan yang sehat. Batasan bukan berarti memutus hubungan dengan keluarga, melainkan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain terhadap ruang emosional kita.
"Hak kita untuk mengatakan tidak untuk menjaga kondisi psikologis serta kesehatan mental kita," ujarnya.
Ia juga mengenalkan konsep *reparenting*, yakni proses memberi diri sendiri kasih sayang, validasi, dan rasa aman yang mungkin tidak diperoleh semasa kecil.
"Karena kalau kita mengharapkan orang tua berubah, itu cukup mustahil. Mereka sudah berakar dengan kepercayaannya, tradisinya, dan pola pikirnya. Jadi, lebih baik kita fokus pada diri kita dulu," katanya.
Bagi Ayas, pemulihan tidak berhenti pada kerja personal. Trauma antargenerasi sering membuat seseorang merasa sendirian, padahal proses penyembuhannya membutuhkan dukungan dari orang lain.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun ruang aman yang memungkinkan orang didengar tanpa dihakimi atau dibandingkan dengan pengalaman orang lain. Dalam ruang seperti itu, komunitas dapat menjadi tempat untuk saling menguatkan, berbagi strategi bertahan, sekaligus merayakan setiap kemajuan, sekecil apa pun.
Ia juga mendorong agar percakapan tentang kesehatan mental menjadi hal yang lebih lazim, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun tempat kerja. Ketika seseorang mulai mengeluhkan relasi yang tidak sehat atau mengalami stres berkepanjangan, orang terdekat dapat berperan dengan mengarahkan mereka untuk mencari bantuan profesional.
"Biasakan untuk menormalisasi percakapan tentang terapi, konseling, dan kesehatan mental tanpa adanya stigma di lingkungan pertemanan atau pekerja," ujarnya.
Trauma antargenerasi memang bukan pilihan seseorang. Namun, menurut Ayas, proses pemulihan adalah tanggung jawab yang dapat dimulai dari diri sendiri. Dengan memahami akar persoalannya, melihat konteks sosial yang melatarinya, dan membangun ruang yang saling mendukung, rantai luka yang diwariskan dapat berhenti pada generasi sekarang.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


