Laporan Putus Asa di Jalan Layang Pasupati Bandung, Potret Krisis Kesehatan Mental yang Lebih dari Sekadar Masalah Psikologis
Fenomena percobaan bunuh diri di Bandung menegaskan bahwa butuh kerja multidisiplin antara komunitas, layanan kesehatan mental, serta respons serius pemerintah.
Penulis Yopi Muharam17 April 2026
BandungBergerak - Peringatan: Artikel ini mengandung pembahasan mengenai bunuh diri dan kekerasan. Jika Anda sedang mengalami depresi atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat, puskesmas atau rumah sakit setempat, atau layanan darurat Public Safety Center 119 Bandung Emergency Service UPT Yankes Mobilitas Dinas Kesehatan Kota Bandung Telepon 119 atau (022)2031711.
Ponsel itu berdering menjelang sore, Senin, 13 April 2026. Salah satu anggota komunitas Edan Sepur membuka notifikasi yang masuk direct message di Instagram. Pengirimnya seorang ibu. Pesannya singkat tapi bernada putus asa.
Ia menulis bahwa hidupnya akan diakhiri di Jalan Layang Prof. Mochtar Kusumaatmadja atau Pasupati. Di sela kalimat-kalimat itu terselip permintaan terakhir sang ibu, ia meminta motor dan berkas-berkas pentingnya agar diantarkan ke rumah suaminya.
Tak ada waktu lagi. Relawan Edan Sepur harus bergerak lebih cepat. Di saat yang sama, tim mendapatkan kabar bahwa ibu itu sudah diselamatkan oleh relawan yang lebih dulu ada di TKP bersama masyarakat yang melintas.
Meski begitu, beberapa anggota relawan Edan Sepur tetap meluncur ke Pasupati. Mereka tiba ketika situasi sudah mulai terkendali. Mereka memastikan perempuan itu mendapat penanganan, lalu menghubungi ambulans relawan.
Perempuan itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Santo Yusuf. Tak lama berselang, keluarga datang. Suaminya juga menyusul.
“Alhamdulillah dari keluarganya juga dan suaminya datang,” ujar Abdul.
Peristiwa percobaan bunuh diri di Jalan Layang Pasupati itu bukan yang pertama dihadapi komunitas Edan Sepur.
Delapan hari sebelumnya, 5 April dini hari, laporan lain masuk. Seorang pria, diperkirakan berusia sekitar 30 tahun, berdiri di titik yang sama. Waktu menunjukkan pukul 00.30.
Informasi itu datang dari tim 119. Anggota Edan Sepur bergerak cepat. Mereka mendekat dengan hati-hati, mencoba membuka percakapan, menjaga agar pria itu tetap terhubung.
“Kita ajak ngobrol, kita temani,” kata Abdullah.
Suasana kota sudah lengang. Tapi ada ketegangan yang mengendap di antara percakapan itu.
Pada satu momen ketika perhatian sempat lengah, pria itu mencoba melompat. Namun beberapa orang sigap menahan. Nyaris saja.
Tak lama kemudian, tim kepolisian tiba di lokasi. Mereka mengambil alih penanganan, menenangkan, lalu melanjutkan dengan konseling.
Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di Kota Bandung mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Sepanjang tahun 2026, setidaknya telah tercatat enam dugaan percobaan bunuh diri, dengan dua di antaranya berujung pada kematian di Jembatan Pasupati, melalui tindakan melompat dan menggantung diri.
Abdullah berpesan kepada masyarakat agar meningkatkan kepekaan di lingkungan sekitar. Ketika melihat seseorang yang sedang berdiam diri, melamun dengan tatapan kosong, ia menyarankan harus ada upaya pendekatan pada orang itu. Minimal mengajak ngobrol sebagai bagian dari langkah preventif.
Edan Sepur merupakan komunitas keselamatan lalu lintas kereta api yang berdiri pada tahun 2009. Aktivitas Edan Sepur berfokus sebagai relawan penjaga palang kereta api yang sering dilanggar.
Komunitas ini mengidentifikasi beberapa titik rawan percobaan bunuh diri di Kota Bandung, seperti Jembatan Pasupati, jalur kereta api di kolong jembatan Bebedahan, dan jalan layang Kiaracondong.
Namun, situasi di balik fenomena bunuh diri mengindikasikan adanya persoalan yang lebih luas, tidak hanya pada tingkat internal individu, tetapi juga dalam konteks sosial yang melingkupinya, seperti faktor ekonomi atau masalah struktural.
Apa Langkah Pemkot Bandung?
Kabar maraknya percobaan bunuh diri di Bandung telah menjadi sorotan Pemkot Bandung. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut hampir setiap pekan mendapatkan laporan tentang warga yang mencoba mengakhiri hidupnya, terutama di jalan layang Pasupati.
“Fenomena bunuh diri di Kota Bandung ini menunjukkan bahwa tingkat stres dan depresi warga sudah tidak bisa diabaikan lagi,” jelas Farhan, dalam keterangan resmi, Senin, 9 Maret 2026.
Ia juga mengungkap data hasil survei yang dilakukan di tingkat SD hingga SMA, sebanyak 75 ribu murid mengalami stres ringan hingga depresi berat. Sebagai langkah preventif, Pemkot Bandung, kata Farhan, menunggu program dari Kementrian Kesehatan yang akan menempatkan psikologis klinis di puskesmas. Nantinya masyarakat dapat mengakses konseling secara langsung di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Selain pendekatan konseling, Pemkot Bandung juga sedang mengkaji langkah pengamanan di jembatan Pasupati, seperti pengawasan melalui CCTV.
Baca Juga:
Darurat Kesehatan Mental: Tragedi Banjaran dan Peran Penting Masyarakat sebagai Sistem Pendukung
Bias Penanganan Gangguan Kesehatan Mental di Jawa Barat, Terkendala Stigma dan Masalah Struktural
Masih Psikologisentris
Langkah yang dilakukan Pemkot Bandung dalam menghadapi fenomena bunuh diri warganya terlihat masih parsial, hanya dilihat dari sisi psikologis. Padahal, ada masalah sosial dan struktural yang juga menjadi faktor.
Nastiti Soegeng Lestari, dalam Bunuh Diri dan Untai Problematikanya: Sebuah Rekonstruksi Teoritik Atas Bunuh Diri (Universitas Indonesia, 2024) menjelaskan, bahwa bunuh diri tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan individual, melainkan perlu dilihat dalam konteks sosial yang lebih luas.
Mengacu pada perspektif sosiologis, bunuh diri dipahami sebagai fenomena yang berkaitan dengan kondisi dan struktur sosial, seperti relasi sosial, integrasi dalam masyarakat, serta berbagai tekanan sosial yang dapat memengaruhi individu.
Dalam kerangka ini, masalah sosial, termasuk kesulitan ekonomi atau kondisi kesejahteraan, dapat menjadi bagian dari konteks yang membentuk kerentanan individu, meskipun tidak berdiri sendiri sebagai penyebab tunggal.
Oleh karena itu, Nastiti mengingatkan bahwa dominasi pendekatan psikologis dan psikiatris perlu dikritisi karena cenderung mengabaikan dimensi sosial tersebut, sehingga pemahaman yang lebih komprehensif menuntut penggabungan antara faktor individual dan konteks sosial yang melingkupinya.
“Individu yang rentan mungkin mengalami tekanan dari kondisi makro sosial yang tanpa disadari berkontribusi terhadap memburuknya kondisi mental. Tekanan dari faktor-faktor struktural dapat berupa kemiskinan, ketidakstabilan sosial, atau lingkungan kebudayaan yang menekan, yang semuanya bisa memicu ketidakstabilan psikologis,” ungkap Nastiti Soegeng Lestari.
Dalam konteks Kota Bandung, Data BPS Kota Bandung menunjukkan pada Maret 2025, persentase penduduk miskin tercatat sebesar 3,78 persen atau sekitar 99,12 ribu jiwa, menurun dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 3,87 persen atau 101,10 ribu jiwa. Garis kemiskinan juga mengalami kenaikan dari 614.707 rupiah per kapita per bulan (2024) menjadi 644.417 rupiah per kapita per bulan (2025).
Dari data tersebut, kemiskinan di Kota Bandung dapat dipahami sebagai kondisi yang tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk miskin saja, tetapi berkelindan dengan biaya hidup dan kerentanan ekonomi masyarakat perkotaan.
Akhirnya, masyarakat dengan ekonomi rentan maka rentan pula beban psikologisnya. Penanganan pencegahan pun menjadi multidisiplin, misalnya pendekatan ekonomi dan psikologis.
Perhatian Komunitas
Kasus percobaan bunuh diri menjadi perhatian komunitas di Bandung yang bergerak di bidang isu kesehatan mental. Salah satunya Bloom Under The Sun yang mulai berdiri di tahun 2024.
Regine Larasati, pendiri sekaligus konselor di Bloom Under The Sun mengatakan Kota Bandung masih belum cukup menjadi ruang aman bagi individu-individu yang membutuhkan bantuan psikologis atau layanan kesehatan mental.
“Masih banyak masyarakat yang menganggap remeh keluhan atau masalah psikologis yang dialami orang-orang terdekat, sehingga tanpa disadari mendorong kenaikan angka bunuh diri,” ungkapnya dalam pesan tertulis kepada BandungBergerak, Kamis, 16, April 2026.
Regine Larasati menekankan bahwa stigma kesehatan mental masih menjadi hambatan utama dalam akses konseling. Ia menjelaskan bahwa risiko bunuh diri dapat dikenali dari perubahan perilaku dan keputusasaan, serta dipengaruhi oleh faktor internal (tekanan psikologis) dan eksternal (lingkungan sosial yang tidak suportif).
Upaya penanganan dilakukan melalui psikoedukasi dan layanan konseling, dengan kasus yang banyak berkaitan dengan kecemasan, self-harm, dan depresi. Sebagai langkah pencegahan, penting untuk mencari dukungan dan bantuan profesional.
“Jika kamu butuh ruang aman bercerita, jangkaulah orang-orang terdekat yang kamu percaya, atau akses layanan konseling untuk mendapat penanganan awal,” terangnya.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


