Berlin Kota Berhantu
Di Berlin, masa lalu yang paling sepele sekali pun tak bisa lepas dari kontroversi.

Andrik Sulistiyawan
Dosen Universitas Teknologi Sumbawa
3 Oktober 2026
BandungBergerak – Berlin ibu kota Jerman dalam sejarahnya telah berulangkali mengalami beberapa perubahan. Berkat peran serta para pejabat elite pemerintahan, seniman serta arsitek dan perencana kota yang percaya bahwa pembangunan kota baru dapat menciptakan suatu masyarakat baru, kota ini menjelma sebagai salah satu kota Eropa kelas dunia yang baru di sekitar abad kedua puluh. Lothar Müller (1991) bahkan menyebut Berlin telah muncul sebagai kota metropolis dengan segala gemerlap dan hiruk-pikuknya. Berlin kala itu telah tampil sebagai salah satu pusat modernitas dunia dengan teknologi-teknologi modern yang menyokong industrialisasi dan tak lupa efek-efek negatif yang menyertainya. Dengan teknologi canggih dan pabrik-pabriknya, lalu lintasnya yang padat, dan dinamika kehidupan kotanya yang ekspansif, kota ini dapat dianggap sebagai intisari dari kota metropolis industri modern dunia.
Gambaran tentang Berlin terekam jelas di surat-surat kabar, jurnal-jurnal akademis, serta novel-novel populer. Di situ orang bisa menjumpai pesona Berlin yang indah. Meski begitu, kota ini telah menjadi “kota berhantu” saat sebagian dari orang-orang Yahudi yang dulu memiliki andil dalam pembangunan Berlin justru telah secara tragis menjadi korban tragedi genosida. Menurut Karen E. Till (dalam Luo, 2011), beberapa tempat yang ada di dunia ini memang tengah dihantui oleh pengalaman-pengalaman pahit masa lalunya yang hadir lewat material-material atau bangunan-bangunan usang yang menjadi bukti dari adanya kehidupan lain sebelum masa sekarang. Berlin ibukota Jerman kontemporer tentu saja termasuk salah satu kota dari apa yang disebut Karen E. Till itu.
Saya pikir tidaklah berlebihan untuk menyebut Berlin sebagai kota angker dengan banyak memori negatifnya. Para sarjana akademik akan dapat dengan cukup mudah mengidentifikasi Berlin sebagai tempat yang keberadaannya itu identik dengan pemerintahan-pemerintahan diktator yang traumatis, mulai dari pemerintahan Adolf Hitler yang fasis hingga pemerintahan rezim komunis negara Jerman Timur (Deutsche Demokratische Republik/DDR) setelahnya di Berlin bagian timur.
Baca Juga: Dekolonisasi dan Ironi Sejarah Warenhuis de Vries
Hikayat Harimau dan Pemburunya
Tiga Nama Satu Gunung
Pergolakan Memori Manusia
Mereka yang memiliki perhatian khusus seperti sejarawan, antropolog, pengkaji studi perkotaan dan memori rasa-rasanya bisa sepakat jika keistimewaan Berlin memang bukan terletak pada keindahan atau kemajuan kotanya, tetapi lebih kepada pergolakan-pergolakan memori manusia yang hidup di dalamnya. Ini adalah kota dengan banyak tempat dan juga bangunan megah hasil eksperimen arsitektur modern. Di sini, di kota berhantu yang bisa membuat orang menjadi lupa sekaligus ingat dengan memori-memori kelam masa lampaunya, kita bisa menjumpai bangunan-bangunan tua peninggalan masa lalu yang berusia lebih tua dari para perancangnya itu sendiri. Kita bisa menjumpai Gedung Parlemen Kekaisaran (Reichstag), Istana Prusia, Kantor Kanselir Jerman (Reichskanzlei), sampai dengan Tembok Berlin (Berliner Mauer) yang masih tersohor hingga kini sekalipun sudah dirobohkan dan hanya meninggalkan puing-puing bangunannya saja.
Ketika berada di kota ini kita akan mengerti bahwa setiap peradaban yang pernah ada selalu menandai eksistensinya dengan mendirikan bangunan-bangunan atau monumen-monumennya yang khas. Rezim-rezim penguasa Jerman yang dulu pernah berkuasa memiliki penafsiran-penafsiran berbeda atas Berlin sejak kota ini ditetapkan sebagai ibukota negara pada tahun 1871. Alhasil, masing-masing era pemerintahan dalam perjalanan sejarah kota Berlin memiliki identitasnya masing-masing, entah itu sebagai tempat Kekaisaran Jerman (Deutsches Kaiserreich), sebagai ibukota NAZI atau markas Das Dritte Reich dari Adolf Hitler, medan perang dari Perang Dingin Jerman Barat dan Jerman Timur atau bahkan sebagai ibukota baru dari Jerman yang bersatu di tahun 1990-an. Bangunan-bangunan atau monumen-monumen yang bisa kita jumpai sekarang ini tak lain merupakan warisan dari masing-masing rezim pemerintahan tersebut.
Bila kita merujuk pada catatan Brian Ladd dalam The Ghosts of Berlin: Confronting German History in the Urban Landscape (1997), kita akan tahu jika bangunan-bangunan yang masih eksis di Berlin saat ini penting bukan karena keindahan atau nilai intrinsiknya, tetapi lebih karena mereka itu merupakan simbol dan tempat penyimpanan memori-memori manusia, yang berkat hal itu orang dapat mengeksplorasi hubungan-hubungan antara bentuk perkotaan, sejarah, serta identitas nasional dari Jerman. Ladd bahkan berani menegaskan jika upaya-upaya memahami sejarah dan identitas Berlin layak mendapat perhatian dunia lantaran disanalah terdapat memori-memori bermasalah. Fakta yang demikian membuat Berlin berbeda dengan ibukota-ibukota negara lainnya yang bisa dengan leluasa dan bangga menandai dan menampilkan silsilah jejak masa lalunya yang bersejarah dalam bentuk bangunan-bangunan dan monumen-monumen kuno.
Di Berlin masa lalu yang paling sepele sekali pun tak bisa lepas dari kontroversi. Sebagian penduduk mengenang memori-memori memilukan yang kelam dari Berlin lewat bangunan-bangunan dan monumen-monumen yang berdiri di sana. Sebagian lainnya memilih untuk diam lalu melupakannya. Karenanya, tak heran jika langkah-langkah pemugaran terhadap setiap bangunan dan monumen kuno menjadi proses yang rumit di Berlin. Ini membuktikan betapa tempat bermemori kelam seperti Berlin tetaplah kontroversial dan betapa khayalan nasional yang penuh dengan nuansa politis di Jerman itu sendiri masih terus berlanjut hingga sekarang, berpuluh-puluh tahun kemudian. Tak ayal, penyatuan kembali Jerman tahun 1990 setidaknya telah mendorong warga Berlin untuk membuat banyak keputusan sulit tentang bangunan-bangunan dan situs-situs apa yang harus disingkirkan dan apa-apa saja yang harus dilestarikan. Kesulitan ini tak lain menyangkut identitas nasional mereka sendiri yang tak pasti. Meski begitu, kini bangsa Jerman telah selesai melalui periode-periode kelamnya, dan dengan begitu mereka telah berdamai untuk kemudian menjadi bangsa dan Negara yang jujur dalam menghadapi sejarah dan memori kelam masa lalunya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


