Dekolonisasi dan Ironi Sejarah Warenhuis de Vries
Transformasi Warenhuis de Vries dari simbol kapitalisme kolonial, saksi delegasi KAA merumuskan perlawanan pada imperialisme, hingga menjadi bangunan cagar budaya.

Deardo Amigo Purba
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
3 Agustus 2026
BandungBergerak – Warenhuis de Vries, gedung yang berdiri megah di persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga, menyimpan memori perkembangan Kota Bandung. Sejarah bangunan dengan arsitektur khas kolonial tersebut tidak dapat dipisahkan dari mega proyek pembangunan Grote Postweg (Jalan Raya Pos) yang digagas Gubernur Jenderal Hindia Belanda H. W. Daendels pada tahun 1808. Pembangunan Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer di ujung timur Pulau Jawa hingga ujung barat di Panarukan pada awalnya didesain untuk kepentingan pertahanan militer dan logistik pemerintah kolonial, namun dampaknya jauh melampauinya.
Sebelum adanya jalan raya tersebut, Bandung secara geografis terisolir, hanya berupa wilayah pedalaman yang didominasi oleh hutan belantara pegunungan yang sulit diakses. Keputusan pemerintah Hindia Belanda memindahkan ibu kota ibu kota Kabupaten Bandung untuk mendekat ke dekat jalan raya tersebut secara langsung membuka gerbang bagi modernisasi, mobilisasi, serta ekonomi wilayah tersebut di masa mendatang. Pemindahan ibu kota dari Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) mendekati poros Jalan Raya Pos di tepian Cikapundung menciptakan pusat tata ruang kota yang baru, mencakup alun-alun, pendopo Bupati, dan infrastruktur lainnya. Sejak saat itulah, detak jantung perekonomian mulai berdenyut kencang, perlahan mengubah wajah kawasan Bandung yang sunyi menjadi titik pertemuan yang dinamis.
Pada akhir abad ke-19, seiring diterapkannya Undang-Undang Agrarische 1870, para pengusaha perkebunan Eropa mulai membanjiri wilayah Priangan. Undang-undang agraria ini mengizinkan pihak swasta, terutama dari Eropa, untuk menyewa lahan dalam jangka waktu panjang. Kebijakan ini secara langsung memicu ledakan investasi besar-besaran di sektor perkebunan teh, kopi, dan kina. Para pengusaha Eropa tersebut, yang kemudian mendapat julukan Preangerplanters, berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan yang sangat besar. Namun, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan bekerja dalam kesepian di perkebunan-perkebunan yang terisolasi di dataran tinggi. Oleh karena itu, akhir pekan senantiasa menjadi momen yang ditunggu mereka untuk “turun gunung” menuju kota, mencari hiburan, dan bersosialisasi. Melihat peluang tersebut, seorang pengusaha Belanda bernama De Vries bersama keluarganya mendirikan sebuah toko kecil di pinggir Jalan Raya Pos. Toko ini awalnya hanya menyediakan barang-barang kebutuhan pokok bagi komunitas Eropa yang terus tumbuh di sekitar Societeit Concordia.
Societeit Concordia sendiri pada masa itu merupakan bangunan kelab eksklusif (kini Gedung Merdeka) tempat para elite Eropa berkumpul, berdansa, dan menikmati pertunjukan seni. Lokasi toko De Vries yang tepat berada di seberang gedung perkumpulan tersebut bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah strategi bisnis spasial yang sangat cermat. Berkat lokasinya yang sangat strategis, usaha kelontong tersebut berkembang menjadi sebuah toko serba ada pertama di Bandung yang melayani gaya hidup modern elite kolonial. Perkembangan ini menandai transisi awal Bandung dari sekadar kota transit komoditas perkebunan menjadi sebuah pusat perbelanjaan yang mulai mengadopsi dan mempraktikkan budaya konsumerisme Eropa secara masif.
Memasuki abad ke-20 dan dimulainya Bandung sebagai gemeente (kota otonom), bangunan ini mengalami perombakan oleh firma arsitek terkenal Cuypers & Hulswi yang mengubah gedung ini menjadi Warenhuis de Vries yang megah dengan gaya arsitektur Indische Empire, lengkap dengan menara sudutnya yang ikonis. Status gemeente yang disandang Bandung pada tahun 1906 memberikan kewenangan kepada pemerintah setempat untuk mengelola tata kotanya sendiri. Hal ini memicu lonjakan pembangunan infrastruktur sipil dan komersial berskala besar.
Transformasi fisik Gedung De Vries menjadi cerminan langsung dari ambisi tersebut. Desain arsitekturnya mengawinkan elemen klasik peradaban Eropa dengan penyesuaian khusus terhadap iklim tropis, mempertegas status sosial para pengunjungnya. Bangunan ini tidak lagi hanya sekadar ruang niaga, melainkan telah bermetamorfosis menjadi simbol prestise, kekayaan, dan kemajuan zaman. Toserba mewah ini menjual aneka barang impor berkelas dari Eropa, mulai dari pakaian model terbaru, makanan kaleng, minuman, hingga cerutu premium yang memicu kemunculan toko-toko eksklusif lain di sekitarnya dan memperkuat citra Bandung sebagai Parijs van Java–sebuah pusat gaya hidup modis ala Eropa di tanah Hindia.
Berdasarkan kajian mengenai sejarah gaya hidup elite Eropa (Budiman, 2017), kehadiran Warenhuis de Vries bertindak sebagai pemicu awal yang meletakkan fondasi terbentuknya kawasan Bragaweg (Jalan Braga) sebagai promenade atau kawasan pejalan kaki prestisius bagi kaum elite. Kesuksesan finansial De Vries menjadi magnet yang mengundang masuknya butik fesyen tingkat tinggi, toko perhiasan, salon kecantikan, hingga kafe dan restoran bergaya Eropa seperti Maison Bogerijen. Melalui sirkulasi barang-barang impor mewah yang dijajakan–seperti parfum langsung dari Paris, gaun-gaun haute couture, hingga literatur dan majalah mode–terbentuklah budaya pamer (conspicuous consumption) di kalangan kaum borjuis.
Lebih jauh lagi, mengutip analisis sejarah tentang akar kreativitas di masa kolonial (Sunjayadi, 2020), aktivitas ekonomi sirkuler dan pergaulan kosmopolitan ini secara fundamental menaburkan benih-benih kreativitas yang luar biasa di Bandung. Ekosistem industri kreatif perlahan mulai tumbuh di sekitar kawasan ini untuk mendukung gaya hidup kelas atas, mulai dari menjamurnya studio dan jasa fotografi, desain poster reklame, seni arsitektur, hingga produksi seni pertunjukan. Hal inilah yang menjadi fondasi awal, terus mewarnai, dan membentuk identitas komersial serta kreatif Kota Bandung hingga sekarang.
Baca Juga: Secangkir Ideologi dari Rumah Peneleh
Jejak Tentoonstelling St. Lucasgilde di Bandung
Mewarisi Banjir Tahunan di Kampung Halaman Kami, Baleendah
Menjadi Saksi Konferensi Asia Afrika
Uniknya, saat Konferensi Asia Afrika digelar pada April 1955, pemerintah Indonesia di bawah Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dihadapkan pada keterbatasan ruang di Gedung Merdeka untuk menampung ratusan delegasi dari 29 negara. Perhelatan berskala internasional yang bertujuan menggalang persaudaraan dan solidaritas negara-negara yang baru saja merdeka dari belenggu penjajahan ini merupakan momen pembuktian bagi Republik Indonesia di mata dunia kala itu. Seluruh fasilitas kota dikerahkan secara maksimal demi menyukseskan acara bersejarah tersebut. Karena lokasinya yang tepat berada di seberang ruang sidang, gedung ini diambil alih sementara oleh komite penyelenggara sebagai area spillover (limpahan). Pengambilalihan ini menciptakan sebuah ironi sejarah yang sangat puitis dan memiliki makna dekolonisasi yang mendalam.
Gedung yang dulunya merupakan simbol kapitalisme dan tempat nongkrong eksklusif meneer Belanda, disulap menjadi ruang makan darurat, tempat rehat kopi, dan ruang tunggu bagi staf delegasi serta jurnalis internasional. Bangunan yang dibangun pada masa penjajahan, yang selama puluhan tahun secara nyata menyimbolkan segregasi rasial, supremasi kulit putih, dan ketimpangan ekonomi, pada momen KAA tersebut berbalik fungsi menjadi ruang kolaborasi bagi gerakan pembebasan bangsa kulit berwarna. Di dalam ruangan yang sama di mana para baron perkebunan Eropa dahulu memamerkan kekayaannya, para utusan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika kini duduk sejajar, minum teh bersama, dan merumuskan perlawanan terhadap imperialisme.
Kini, meskipun fungsi/nuansa kolonialnya telah usai, Gedung De Vries tetap berdiri kokoh sebagai cagar budaya kelas A yang dirawat dengan sangat baik melalui proses pemeliharaan oleh OCBC NISP. Pelestarian gedung ini merupakan salah satu contoh sukses praktik adaptive reuse (penggunaan kembali bangunan bersejarah dengan fungsi baru) tanpa harus mengorbankan nilai-nilai peninggalan masa lalunya. Kehadirannya dengan kokoh mengikat jalinan masa lalu, dinamika masa kini, dan harapan masa depan Kota Bandung dalam satu bingkai fisik yang sarat akan makna.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


