• Narasi
  • Secangkir Ideologi dari Rumah Peneleh

Secangkir Ideologi dari Rumah Peneleh

Di Asrama Peneleh, Surabaya, rumah kos milik H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah tinggal, makan, dan belajar politik bersama: Musso, Kartosuwiryo, dan Sukarno.

Mochamad Taufik

Pegiat Literasi

Ada orang-orang yang berperan signifikan dalam dinamika zamannya tapi ditinggalkan begitu saja oleh sejarah. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

2 Juli 2026


BandungBergerak – Sore ini, aku ingin menyuguhkan secangkir cerita tentang persahabatan, perdebatan, dan perpecahan yang lahir dari satu atap sederhana di Peneleh, Surabaya. Mari kita mundur sejenak ke era 1910–1920, di sebuah rumah kos milik tokoh pergerakan Islam, H.O.S. Tjokroaminoto, asrama tersebut tempat penggodokan pemikiran ideologis pemuda pergerakan di bawah bimbingan langsung Tjokroaminoto.

Di Asrama Peneleh itu, tiga pemuda pernah tinggal, makan, dan belajar politik bersama: Musso, Kartosuwiryo, dan Sukarno. Mereka duduk di meja yang sama, menyerap ajaran dari guru yang sama. Namun, sejarah mencatat bahwa mereka akhirnya melangkah ke arah yang saling bertolak belakang.

Baca Juga: Abangan, Tragedi 1965, dan Sejarah Luka di Indonesia
Pengalaman Berhubungan dengan Buku Sejarah Nasional
Pengaruh Kelahiran Budi Utomo terhadap Pergerakan di Bandung

Musso, Kartosuwiryo, dan Sukarno

Jika kisah ini adalah minuman, maka Musso adalah kopi hitam pekat. Pahit, tegas, dan tanpa kompromi. Sebagai seorang Marxis, Musso melihat penderitaan rakyat Indonesia bukan semata akibat penjajahan bangsa asing, melainkan hasil dari sistem ekonomi yang menindas yakni kapitalisme dan imperialisme yang bekerja bersama-sama merampas kehidupan kaum bawah.

Baginya, kemerdekaan politik tidak akan berarti jika setelah merdeka kaum buruh dan tani tetap hidup dalam penindasan. Revolusi, menurutnya, harus dipimpin oleh kelas pekerja untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas. Pandangan ini bukan sekadar semangat muda melainkan dibentuk oleh pengalaman panjang Musso di Uni Soviet sebagai bagian dari Komintern (Komunis Internasional), di mana ia menyerap langsung teori Lenin tentang imperialisme sebagai stadium tertinggi kapitalisme.

Bahkan di masa muda, di bawah atap yang sama, Musso dikenal sebagai sosok yang kerap menggugah cara berpikir Soekarno, tak jarang ia mengajaknya melihat dunia dengan daya ledak ideologis yang radikal. Seperti dicatat sejarawan John Ingleson dalam kajiannya tentang pergerakan buruh Indonesia, arus kiri pada era itu bukan pinggiran tetapi ia adalah salah satu kekuatan penggerak utama pergerakan nasional.

Perbedaan tajam dua sahabat kamar itu mencapai puncaknya dalam Peristiwa Madiun 1948, ketika Musso memimpin pemberontakan melawan pemerintahan Soekarno-Hatta yang dianggap terlalu condong ke Barat. Secangkir kopi yang pekat dan penuh sejarah itu akhirnya mendidih dan tumpah.

Untuk menetralkan pahitnya kopi, aku mencoba menyuguhkan segelas air putih hangat sebagai kisah sang anak emas yang dipanggil Kartosuwiryo. Ia sosok yang tenang di permukaan, namun menyimpan arus yang kuat di bawahnya.

Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo adalah murid kesayangan Tjokroaminoto, bahkan dijadikan sekretaris pribadi sang guru. Dari kedekatan itulah ia banyak menyerap gagasan tentang politik Islam modern ia meyakini bahwa Islam bukan sebatas ritual, melainkan sebagai sistem yang utuh mencakup hukum, politik, dan tata negara.

Baginya, kemerdekaan sejati hanya dapat terwujud jika negara berdiri di atas hukum Islam. Ia menolak hukum warisan kolonial dan ideologi sekuler yang dianggap tidak berpijak pada wahyu. Posisi ini, sebagaimana dianalisis sejarawan Chiara Formichi dalam Islam and the Making of the Nation, bukan sekadar fanatisme, melainkan respons ideologis yang koheren terhadap kegagalan nasionalisme sekuler memenuhi janji-janjinya kepada umat Islam Indonesia.

Dan janji-janji itu terasa paling nyata dikhianati melalui Perjanjian Renville 1948, sebuah kesepakatan yang memaksa pasukan republik, termasuk laskar Islam di Jawa Barat, mundur dari wilayah yang telah mereka pertahankan dengan darah. Bagi Kartosuwiryo, ini bukan sekadar kekalahan taktis. Ini adalah bukti bahwa Soekarno-Hatta telah memilih kompromi dengan Belanda di atas prinsip perjuangan. Kepercayaan itu retak, dan dari retakan itulah Darul Islam lahir.

Melalui gerakan DI/TII, Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Air yang tampak tenang itu pecah menjadi jeram, mengalir deras menuju perlawanan bersenjata terhadap negara yang sebelumnya ia perjuangkan. Hingga akhirnya perlawanan itu dipatahkan melalui Operasi Bharatayudha di Gunung Rakutak pada 4 Juni 1962. Kartosuwiryo ditangkap, diadili oleh Mahkamah Darurat Perang, dan dieksekusi pada 5 September 1962 di sebuah pulau di Teluk Jakarta. Tragisnya, perintah eksekusi itu ditandatangani oleh sahabatnya sendiri — Soekarno.

Sebagai penutup, aku menyajikan teh manis. Namun, tidak kusisipkan senyum dalam penyajiannya karena ternyata, tidak semua yang manis itu jujur.

Soekarno, sang peramu besar berbagai ideologi menjadi nasionalisme, berdiri sebagai pemenang dalam panggung sejarah. Ia bukan hanya seorang aktor, tetapi juga penentu arah narasi bangsa. Setelah dua sahabatnya tumbang, satu oleh peluru, satu oleh eksekusi yang ia tandatangani sendiri, sejarah pun perlahan disusun ulang.

Berapa banyak nama yang ikut berjuang merebut kemerdekaan, namun kemudian dicoret dari buku sejarah hanya karena berada di sisi yang kalah? Musso adalah salah satunya–seorang yang pernah hidup dengan Soekarno kini dikenang sebagai pemberontak.

Narasi Revolusi Indonesia

Ben Anderson, dalam Java in a Time of Revolution, mengingatkan kita bahwa narasi revolusi Indonesia tidak pernah netral; ia merupakan produk dari siapa yang memegang kendali atas ingatan kolektif. Buku-buku sekolah menyederhanakan, nama-nama dibersihkan dari kompleksitasnya, dan yang tersisa adalah versi yang paling nyaman bagi kekuasaan. Begitulah sejatinya sejarah diukir oleh yang berkuasa: versi yang bertahan adalah versi yang menang.

Kisah inilah yang lahir dari keresahan yang kurasa, dan dari keresahan itu perlahan terkuak kejanggalan yang tak bisa diabaikan. Rasa manis yang menyembunyikan pahit, cerita yang disederhanakan agar mudah diterima namun kehilangan kompleksitasnya.

Sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia membentuk cara kita melihat masa kini, mempengaruhi moral, arah berpikir, bahkan cara sebuah bangsa memahami dirinya sendiri. Ketika sejarah direduksi, pemahaman menyempit. Ketika pemahaman menyempit, keputusan-keputusan yang lahir pun kehilangan kedalaman.

Hari ini, kita melihat demoralisasi akut, kualitas pendidikan yang tertinggal, rasa keadilan yang sulit digapai oleh masyarakat bawah. Keresahan ini adalah api yang sama yang dimiliki oleh Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo saat mereka berusia muda, saat mereka melihat ketidakadilan kolonial Belanda dari jendela kos Peneleh. Bedanya, hari ini musuh yang dihadapi bukan lagi bangsa asing dengan bedil, melainkan bangsa sendiri yang mabuk kekuasaan dan keserakahan.

Aku tidak sedang bermimpi. Aku hanya sedang melihat realitas yang coba ditutupi oleh narasi-narasi kosmetik. Sebagai sesama anak bangsa, melihat dan mengakui kebenaran pahit ini adalah langkah pertama agar kita tidak terus-menerus dibohongi oleh sejarah maupun keadaan saat ini.

Dan rumah kos di Peneleh itu kini berdiri sunyi. Catnya mengelupas, kayunya menua. Tapi dindingnya menyimpan bisikan tiga pemuda yang pernah bermimpi tentang Indonesia yang sama, dan berakhir saling membunuh atas nama mimpi itu.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//