Jejak Tentoonstelling St. Lucasgilde di Bandung
Kiprah kelompok pelukis St. Lucasgilde (1948-1953) menunjukkan bagaimana pergerakan ekosistem seni rupa di Bandung pasca kemerdekaan.

Hazim M Zarkasyi Hakim
Penulis independen asal Bandung
8 Juli 2026
BandungBergerak – Di Bandung pada masa revolusi kemerdekaan terdapat kelompok pelukis yang mungkin tidak akan disukai oleh S. Soedjojono, karena menjadi wadah perkumpulan para pelukis Belanda dan Indonesia. Kelompok itu bernama St. Lucasgilde, nama yang sangat kebarat-baratan. Mereka rutin menyelenggarakan pameran hampir setiap dua kali dalam setahun.
Saat terbentuknya St. Lucasgilde tahun 1948, masyarakat Bandung mungkin cukup terbuka terhadap keberadaan orang Belanda. Selain itu, belum terlaksananya Konferensi Meja Bundar 1949, jadi Bandung masih dikuasai oleh Belanda. Sudjoko dalam Menuju Nirada (1992) menuliskan bahwa masyarakat Bandung tidak berniat untuk membenci atau mengusir penduduk Belanda dan menganggap bahwa kebudayaan Barat sebagai pemaju, kecuali terhadap pasukan Westerling. Selanjutnya, St. Lucasgilde merupakan kelompok pelukis yang menerima berbagai macam latar seniman dan aliran. Bahkan menerima seniman seperti Soedjana Kerton, Abedy, dan Kartono Yudhokusumo yang pernah berpartisipasi pada Pertoendjoekan Seni Loekis Perdjoeangan tahun 1946 di Tasikmalaya. Pelukis-pelukis Indonesia lainnya yang tercatat pernah berpameran dalam kelompok St. Lucasgilde adalah Umar Basalmah, Wahdi, Roediyat, Barli, Angkama Setjadipradja, dan Soelarko.
St. Lucasgilde rutin menyelenggarakan tentoonstelling (pertunjukan) atau sekarang disebut sebagai pameran di gedung bekas Sosieteit Ons Genoegen di Jalan Naripan no. 1 yang masa kemerdekaan menjadi Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK). Gedung itu diberikan oleh Kepala Algemene Burgerzorg Priangan tahun 1948 untuk mendukung perkembangan seni rupa Bandung. Soelarko dalam Seni Rupa Modern: Esai-esai Pilihan oleh Siregar dan Supriyanto (eds, 2006) menuliskan bahwa para pelukis St. Lucasgilde mengumpulkan lukisan yang di-steleng-kan setiap enam bulan sekali untuk dijual sebanyak-banyaknya.
Hingga tahun 1951, St. Lucasgilde setidaknya sudah menyelenggarakan enam kali pameran. Pameran keenam mereka berlangsung pada 8–22 Desember 1951 di Gedung YPK dan disertai pameran reproduksi karya-karya pelukis Inggris oleh British Council. Berdasarkan Hujatnika dalam katalog Art Turns, World Turns (2017), kelompok ini bubar tahun 1953 karena hampir seluruh anggota orang baratnya pulang ke negeri asalnya akibat dari tekanan kaum komunis dan kebijakan Zwarte Sinterklaas oleh Soekarno.
Baca Juga: Kisah Konferensi Pemuda di Villa Isola Tahun 1945
Saat Libur Lebaran di Bandung Tanpa Kebun Binatang
Secangkir Ideologi dari Rumah Peneleh
Dari Pameran ke Pameran
Media cetak seperti De Preangerbode dan beberapa lainnya pernah menerbitkan ulasan pameran-pameran St. Lucasgilde. Hingga tulisan ini dibuat, temuan ulasan pameran mereka paling lama adalah pameran ketiga yang terbit pada koran De Preangerbode edisi 10 Juli 1950. Pameran tersebut dinilai berhasil dan dianggap tidak akan memalukan jika karya-karyanya dipamerkan di Belanda. Dari 16 seniman, karya Umar Basalmah dan H. Franz paling menonjol. Basalmah berhasil melukiskan bentang alam Indonesia yang khas serta berhasil mengaplikasikan warna yang sulit diolah, yaitu cadmium green. Franz yang sejak tahun 1948 tercatat sebagai guru gambar anatomi di Balai Pendidikan Universiteir Guru Gambar (sekarang FSRD ITB) berhasil dengan karya-karya figur dan bunga. Pelukis lainnya yang dianggap menarik adalah Angkama, namun tampak sangat terpengaruh oleh Van Gogh. Barli ikut berpartisipasi, tetapi hanya memamerkan dua lukisan saja. Pameran ketiga ini turut memamerkan karya model patung tiga dimensi (boetseewerk) oleh Balner dan Otten. Pelukis lainnya yang diulas antara lain Soelarko, Wahdi, Kees Mulder, dan satu-satunya pelukis perempuan bernama Ton Veen.
Keberhasilan pameran ketiga juga diberitakan pada koran De Preangerbode edisi 21 Juli 1950. Jumlah pengunjung mencapai 250 orang per hari dan banyak karya yang telah terjual, bahkan ada kolektor yang membeli langsung di studio seniman berkat pameran itu. Pameran tersebut juga sempat diliput untuk dimasukkan ke dalam jurnal berita bioskop (bioscoopjournaal) oleh Multifilm.
Bulan November di tahun yang sama dengan ulasan sebelumnya, St. Lucasgilde mengumumkan pameran keempat yang akan dilaksanakan pada Desember 1950 dengan memamerkan lebih dari seratus lukisan baru di Gedung YPK. Pengumuman tersebut diterbitkan pada De Preangerbode edisi 30 November 1950. Pameran ini cukup besar karena bertepatan dengan sambutan konferensi ILO (International Labor Organization). Hujatnika dalam Kurasi dan Kuasa (2015) menuliskan bahwa pameran tersebut juga mengikutsertakan para pelukis peserta konferensi ILO dari Prancis dan Burma dengan memamerkan 90 karya berbagai gaya seperti naturalisme, impresionisme, ekspresionisme, surealisme, dan kubisme. Pelukis maestro Basuki Abdullah juga ikut berpartisipasi dalam pameran. Pada saat yang sama, Kementerian Penerangan menyelenggarakan pameran kerajinan kepulauan Indonesia di Gedung YPK yang dibuka oleh Ibu Sewaka pada 8 Desember 1950 jam 18.00 dan dihadiri oleh tamu undangan, pejabat daerah, dan delegasi ILO.
Meskipun pameran besar, ulasan pameran St. Lucasgilde bulan Desember itu dinilai mengecewakan. Ulasan pada koran De Prengerbode edisi 9 Desember 1950 itu diawali dengan mengapresiasi ke-16 seniman yang berhasil menyelenggarakan pameran dengan 85 karya dalam waktu enam bulan, tetapi kualitas pameran itu tidak melampaui pameran sebelumnya yang diselenggarakan pada bulan Juli. Pameran kali ini para seniman tidak memiliki standar cukup tinggi dalam berkarya dan seleksi kurang ketat. Umar Basalmah masih menjadi pelukis paling menonjol, namun lukisan yang tidak didominasi warna hijau dinilai kurang menarik. Angkama dinilai berkembang karena berhasil menciptakan karya yang lebih orisinal. Seniman lainnya yang dinilai cukup baik adalah Franz, Supena, Surjono, Abedy, D. Dan, dan karya-karya gambar pena dari Soelarko. Sebaliknya, karya-karya yang dinilai belum menunjukkan perkembangan memuaskan adalah Kees Mulder, Otten, Supena, Surjono, Ton Veen, Wahdi, Pieters, Susanto, dan L. van Aken.
Pertengahan tahun berikutnya, St. Lucasgilde kembali menyelenggarakan pameran kelima mereka pada tanggal 7–21 Juli 1951. Presiden Soekarno dilaporkan sempat mengunjungi pameran tersebut saat sedang berada di Bandung. Terdapat dua ulasan yang telah ditemukan untuk pameran ini, ulasan dari koran De Nieuwsgier edisi 14 Juli 1951 dan tulisan Soelarko pada Majalah Zenith, TH I No. 10, Oktober 1951 dalam Seni Modern Indonesia: Esai-esai Pilihan oleh Siregar dan Supriyanto (eds, 2006). Keduanya terkesan bahwa pameran kelima ini sangat mengecewakan. Beberapa poin yang disampaikan di antaranya kurang adanya standar kualitas karya, seleksi tidak ketat, karya dekorasi, dan kecenderungan komersial. Meskipun begitu, masih terdapat beberapa karya yang patut diapresiasi.
Kualitas Karya
Ulasan dari De Neuwsgier diawali dengan membahas harga dan kualitas karya tidak sebanding. Bahkan tulisan tersebut menulis kritik dengan bahasa yang sudah diterjemahkan seperti ini:
“Jika melihat harga-harga jual yang tercantum dalam katalog, para peserta pameran tampaknya juga tidak terlalu menunjukkan sikap rendah hati.”
Dari kutipan di atas mungkin sudah terbayang bagaimana kualitas karya yang dipamerkan pada saat itu. Kemudian, dilanjutkan dengan dugaan pengulas bahwa interaksi dari berbagai latar belakang anggota Indonesia, Tionghoa, dan Eropa tidak menghasilkan perkembangan artistik yang baik karena para anggota Eropa tidak memiliki kapasitas yang cukup besar sebagai seniman. Satu-satunya karya paling bagus dalam pameran ini adalah lukisan berjudul Kebun oleh Kartono Yudhokusumo yang disebut sebagai ‘permata’ dan memiliki kekuatan artistik sendiri melampaui 94 karya lainnya.
Pengulas dari De Neuwsgier ini membandingkan dengan pameran yang sebelumnya mereka kunjungi dalam waktu berdekatan di gedung Stichting, Jakarta, oleh kelompok seniman Bandung dalam lingkaran Ries Mulder, seorang guru gambar Balai Pendidikan Guru Seni Rupa. Beberapa pelukis tersebut memiliki potensi lebih besar daripada anggota St. Lucasgilde. Kedua kelompok tersebut dianggap memiliki ideologi dan pandangan artistik yang berlawanan meskipun berasal dari kota yang sama.
Soelarko juga menuliskan kurang lebih sama, tetapi menulis jumlah karya yang dipamerkan sebanyak 98 karya. Dia menambahkan bahwa sejumlah karya yang dipamerkan merupakan karya lama, belum laku, dan diubah sedikit. Menurutnya, St. Lucasgilde tidak memiliki mekanisme seleksi ketat untuk berpameran dan terlalu berorientasi pada penjualan. Hanya bermodalkan kenal dengan ketua kelompok, dapat ikut berpameran. Soelarko khawatir karena sifat kolompok ini yang komersial, ke depannya hanya akan menjadi kunstnijverheid (industri kerajinan) saja. Sangat disayangkan bila nantinya banyak pelukis Bandung yang tergabung hanya menjadi pengrajin biasa tidak punya ideologi selain berjualan.
Pemberitaan terakhir mengenai pameran St. Lucasgilde yang telah ditemukan adalah pengumuman dalam De Preangerbode edisi 25 Juli 1952 yang menginformasikan pameran akan berakhir pada hari berikutnya.
St. Lucasgilde tercatat bubar pada tahun 1953, namun satu tahun kemudian mereka mengadakan pameran comback di Panty Budaya dan mendapat ulasan positif. Tyas dalam teks kuratorial Imagined Curatorial II (2019) mengutip ulasan De Preangerbode edisi 26 Juli 1954 yang menyebutkan bahwa pameran tersebut, jika bukan yang terbaik, merupakan salah satu pameran terindah yang pernah diselenggarakan St. Lucasgilde dan layak dikunjungi.
Paparan di atas memperlihatkan bagaimana ekosistem seni rupa Bandung pasca-kemerdekaan telah berkembang melalui peran organisasi seniman yang aktif menyelenggarakan pameran, fasilitas peredaran karya, dan diskursus seni melalui media cetak.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


