Kisah Konferensi Pemuda di Villa Isola Tahun 1945
Para pemuda dari berbagai daerah di Pulau Jawa berkumpul di Vila Isola sepekan setelah Jerman menyerah kalah di Perang Dunia II tahun 1945.

Nabil Haqqillah
Mahasiswa Pendidikan Sejarah UPI. Pemimpin Umum Unit Pers Mahasiswa (UPM) Isola Pos 2023-2024.
23 Januari 2026
BandungBergerak.id – Bulan Mei 1945, sekelompok pemuda berkumpul di Villa Isola, Bandung dalam sebuah konferensi. Pertemuan itu terjadi pada 16-18 Mei 1945 dan dihadiri oleh anak muda dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka merupakan bagian dari kelompok yang kerap disebut sebagai Angkatan Baru atau Angkatan Muda.
“Moelai hari ini dilangsoengkan permoesjawaratan angkatan moeda di Bandung. Menoeroet berita-berita jang sampai sekarang tersiar di sana sini sesoenggoehnja bagi kita beloem begitoe tegas hal permoesjawaratan di Bandung itoe,” tulis Asia Raya, 16 Mei 1945, mengabarkan konferensi tersebut.
Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 (2023) mengatakan bahwa konferensi tersebut diselenggarakan atas inisiatif Djamal Ali dan M. Tahir dari Angkatan Muda Bandung. Sidik yang juga hadir dalam konferensi tersebut sebagai delegasi Jakarta, menyebut konferensi tersebut dihadiri lebih dari seratus orang.
“Konferensi ini mendapat perhatian yang luas, hampir semua daerah penting di Jawa mengirimkan wakilnya, jumlah pesertanya lebih dari seratus orang,” tulis Sidik (2023).
Para delegasi tersebut antara lain: Suwarti, Suharti, dan Harsono (Solo), S. Karna (Semarang), Dradjat (Cirebon), Suryono (Surabaya), Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo dan Adisumarto (Yogyakarta). Sementara itu Sidik Kertapati datang bersama Zus Ratulangi, Anas Makruf, Sjamsuddin, Aidit, dan Chaerul Saleh.
Konferensi tersebut juga dihadiri oleh H. Shimizu dari Sendenbu dan Kaneko yang menurut Sidik dikabarkan bahwa keduanya merupakan perwira angkatan udara Jepang di Bandung. Kehadirannya tentu membuat curiga, tetapi konferensi tetap dilangsungkan.
Ben Anderson dalam Revolusi Pemoeda menyebut konferensi ini sebagai salah satu tanda paling nyata dari bertambah kuatnya posisi tawar kaum nasionalis Indonesia karena situasi militer Jepang terus merosot.
“Salah satu tanda paling nyata dari perubahan ini adalah diselenggarakannya Kongres Pemuda di Villa Isola, Bandung, pada 16-18 Mei 1945, hanya seminggu setelah Jerman menyerah,” tulis Ben Anderson dalam Revolusi Pemoeda.
Anderson juga mengatakan bahwa melalui surat-surat kabar, penyelenggaraan kongres ini diawali dengan tuntutan-tuntutan serempak yang “terencana” agar Angkatan Muda dibiarkan mengembangkan sayap dan muncul di segala bidang, baik sosial maupun politik.

Baca Juga: Dari Hutan ke Ruang Bedah, Jejak Gutta Percha dalam Praktik Kedokteran
Menemukan Kembali Zubaedah, yang Seorang Diri Ditinggalkan Kereta Sejarah
Krisis Malaise 1930 dan Anggaran Pendidikan yang Dikorbankan
Asas Anti-Fasis hingga Merdeka atau Mati
Keberlangsungan konferensi ini cukup banyak dibahas oleh Sidik Kertapati dalam bukunya. Menurutnya, konferensi pemuda ini menjadi momen pertama kalinya lagu Indonesia Raya dinyanyikan tanpa didahului oleh Kimigayo dan Merah Putih berkibar tunggal di lapangan depan tempat konferensi berlangsung.
Selain itu menurut Sidik, di Isola tersebut, “topeng” kerja sama yang dipaksakan untuk pertama kalinya dibuang.
“Di Isola itulah dibuang topeng yang selama ini dipaksakan oleh politik ‘kerja sama’ yang menyeret pemuda dalam kebimbangan dan keraguan.”
Kebimbangan dan keraguan yang dimaksud adalah “apakah kemerdekaan itu harus berkat perjuangan sendiri atau benar harus diterima sebagai hadiah kemurahan hati“ saudara tua bernama Dai Nippon.
Pembahasan tersebut membuat beberapa orang mencoba mengalihkan persoalan, berbicara melantur, bahkan cap komunis mulai dituduhkan.
“Ada memang beberapa orang yang mencoba mengalihkan persoalan dan berbicara melantur, melempar tuduhan ke kanan-kiri, dan mengecap, ‘itu semua komunis’,” lanjut Sidik.
Menanggapi hal tersebut, delegasi dari Semarang, S. Karna berdiri dan berkata bahwa tak perlu banyak pembicaraan lagi dan menegaskan bahwa yang diinginkan adalah merdeka segera mungkin.
G. Pakpahan dalam 1261 Hari di Bawah Sinar Matahari Terbit mengatakan bahwa ketika seorang reporter Domei mewawancarai peserta kongres, dengan serentak mereka menjawab bahwa putusan mereka sudah bulat, yaitu merdeka atau mati.
Menurut Pakpahan, terdapat dua mosi yang dihasilkan dalam Kongres tersebut, yaitu:
- Supaya seluruh tenaga Indonesia dibulatkan dan dipusatkan di bawah satu pimpinan nasional saja.
- Supaya dipercepat terlaksananya Indonesia merdeka dan menyatakan pula bahwa seluruh angkatan muda Indonesia senantiasa siap sedia menyerahkan segenap tenaga lahir batin untuk menyelenggarakan segala usaha ke jurusan itu. Tanggal 9 Maret 2602 & 7 September 2604 tidak akan dilupakan dalam sejarah Indonesia.
Kedua tanggal yang disebutkan dalam tahun Jepang tersebut merupakan tanggal penting dalam sejarah penduduk Jepang. Tanggal 9 Maret 1942 merupakan tanggal Jepang menguasai Indonesia dan 7 September 1944 adalah janji PM Koiso untuk memberikan kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia.
Menurut Sidik Kertapati, Shimizu yang hadir di sana sempat mencoba menenangkan forum dengan menerima asas anti-fasisme, asalkan anti-Amerika.
Pernyataan tersebut menjadi olok-olok hingga M. Tahir di malam perpisahan menyindir, “Sekalipun Kaneko dan Shimizu di sini memakai sarung dan peci, tetapi dalam hatinya mereka tetap Jepang jua.”
Pasca konferensi, sebuah delegasi dikirim menemui Soekarno di Sukabumi. Djamal Ali yang memimpin delegasi tersebut, menyerahkan hasil konferensi dan mendesak agar upaya mencapai kemerdekaan dapat lebih cepat terlaksana.

Golongan Muda Melawan Golongan Tua
Pertemuan di Isola yang dilakukan oleh Angkatan Muda atau Angkatan Baru tampak sebagai respons protes golongan pemuda terhadap Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang didominasi oleh golongan tua. BPUPKI sendiri adalah badan yang dibentuk Jepang.
Untuk ini dapat kita lihat bagaimana tulisan-tulisan yang membahas pertemuan Isola tersebut di surat kabar yang terbit setelah berjalannya pertemuan. Seperti dalam Djawa Baroe edisi ke-12 yang terbit pada 15 Juni 2605 misalnya, Abdullah dalam artikel yang berjudul Apa jang hendak diperdjoeangkan Angkatan Baroe Indonesia menegaskan jiwa perjuangan angkatan baru adalah memperjuangkan kemerdekaan yang sepenuhnya tanpa pengaruh siapa pun, tidak terikat kepada suatu kompromi yang menghambat. Dengan tegas, Abdullah menulis, “Ia tidak ingin mendjadi perkakas angkatan lama, oentoek mendjadi pandjatan bagi tjita-tjita golongan itoe”.
Angkatan Lama yang dimaksud kemungkinan adalah kelompok yang menjadi bagian dari BPUPKI, yaitu golongan tua.
Masih dalam Djawa Baroe edisi ke-12, terdapat sari pidato Anwar Tjokroaminoto berjudul Hasrat Pemoeda. Pidatonya tersebut dengan jelas ia dengan tegas mengatakan bahwa seberapa penakutnya pemuda, tetap mengandung darah yang bergelora, yang sering bertolak belakang dengan darah orang yang lebih tua.
“Sepenakoet-penakoetnja pemoeda, ia mesti mengandoen darah jang bergelora, dan gelora darah pemoeda itoe atjapkali berlainan dengan darah orang jang tergolong toa” tegas Anwar Tjokroaminoto.
Putra H. O. S. Tjokroaminoto tersebut juga mengatakan bahwa pemuda ingin hal-hal yang konkret, sementara orang tua sering merasa sebagai orang penting jika sedang menghadapi sesuatu yang sukar dimengerti.
“Orang toea banjak jang mementingkan filsafat mati, atau filsafat hidoep. Pemoeda tidak,” kata Anwar Tjokroaminoto.
Pandangan lain juga ada dari B. M. Diah, dalam sari pidatonya yang dibacakan di Yaesio Gekizyoo mengatakan bahwa jika pemuda indonesia ingin tanah air yang merdeka, maka kemerdekaan tersebut harus dalam arti yang sesungguhnya.
“Djika kamoe menghendaki tanah air jang merdeka, merdeka dalam arti jang sesoenggoeh-soenggoehnja, bekerdjalah, berdjoeanglah, berkorbanlah dengan tidak tawar-menawar, boekan oentoek negara merdeka itoe sadja, akan tetapi djoega oentoek ra’jat djelaya jang djoemlahnja poeloehan djoeta, jang hendak mendiami tanah air merdeka dan berkehendak mendjari ra’jat merdeka, ra’jat jang berdaulat!,” tegas B. M. Diah dalam sari pidatonya yang juga dimuat di Djawa Baroe dengan edisi yang sama.

Ben Anderson dalam Revolusi Pemoeda, menulis bahwa salah satu peserta Kongres, Isa Anshary memberikan pidato yang tema besarnya mengecam keras Hokokai.
“Serangan tajam Isa terhadap Hokokai tertuju bukan hanya pada segi-seginya yang bersifat menindas dan tidak nasional, melainkan terutama mengenai watak kepemimpinannya yang berada di tangan unsur-unsur kolaborator tua,” tulis Anderson.
Ada berbagai versi mengenai Angkatan Muda atau Angkatan Baru. Mulai dari apakah keduanya organisasi yang sama atau berbeda hingga apa yang melatarbelakangi kongres pemuda bisa dilaksanakan.
John R. W. Smaill dalam Bandung Awal Revolusi menyebut Angkatan Muda dan Angkatan Baru sebagai organisasi kembar. Meski begitu, ia menyebut informasi keduanya masih kurang memuaskan termasuk bukti-bukti mengenai pertemuan di Isola juga tidak lengkap dan masih kontradiktif.
“Contohnya, jelas bahwa oknum Jepang tertentu berada di balik pendirian dua organisasi tersebut dan pertemuan itu sendiri, tetapi tidak ada kejelasan mengenai motif mereka melakukan itu, sejauh mana hal itu sejalan dengan kebijakan resmi pemerintahan Jepang, dan seberapa besar pengaruh mereka,” tulis Smaill.
Sementara itu Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi Indonesia menyebut Angkatan Muda muncul pertengahan 1944 sebagai bentukan Jepang untuk mengawasi ketat aktivitas gerakan bawah tanah para pemuda. Orang-orang yang dicurigai aktif terlibat dalam gerakan bawah tanah, ditunjuk sebagai pimpinan. Sukarni dan Chaerul Saleh dipaksa menduduki jabatan penting dalam cabang Angkatan Muda di Jakarta, sementara Roeslan Abdulgani dipaksa untuk menjadi ketua Angkatan Muda cabang Surabaya (Kahin, 2022, hlm. 140).
Selama masa pendudukan Jepang, para pemuda yang berpendidikan banyak terlibat dalam membangun jaringan bawah tanah. Sutan Sjahrir banyak berperan dalam mengorganisir gerakan bawah tanah. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (hlm. 437), mengatakan bahwa atas pengaruh Sjahrir, para pemuda berpendidikan mulai menggalang jaringan-jaringan bawah tanah mereka sendiri, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung.
Posisi Jepang yang memburuk dalam perang, mendorong mereka untuk memulai rencana merebut kemerdekaan nasional. “Mereka tahu bahwa posisi Jepang dalam perang memburuk, dan mereka mulai menyusun rencana-rencana untuk merebut kemerdekaan nasional dari kekalahan yang mengancam Jepang itu,” lanjut Ricklefs.
Puluhan tahun berlalu, Indonesia sudah memasuki usia yang ke-80. Villa Isola tetap menjadi saksi perlawanan pemuda. Jika dulu yang dilawan pemuda adalah fasisme Jepang, maka sekarang yang dilawan oleh mahasiswa adalah kebijakan rektorat kampus, di mana Villa Isola kini menjadi kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

