KABANDANG LEMBANG #3: Melarung Trauma Sejarah Masa Lalu di Lapangan Sinapeul
Warga Desa Gudang Kahuripan berhasil meredam cerita kelam Lapangan Sinapeul dengan gelombang keriaan warga yang memanfaatkan keberadaan lapangan itu.
Ernawatie Sutarna
Ibu rumah tangga, peminat sejarah, anggota sejumlah komunitas sejarah di Bandung.
5 Oktober 2026
BandungBergerak – Setiap fajar menyingsing, kabut tipis Lembang tak pernah lupa untuk turun memeluk hamparan rumput di kaki perbukitan. Di bawah bayang-bayang anggun Observatorium Bosscha, sebuah ruang terbuka mulai berdenyut menghidupkan suasana pagi di Desa Gudang Kahuripan. Suara entakan kaki warga yang berolahraga jalan dan lari pagi mewarnai awal hari. Tak hanya mereka yang berusia muda, tetapi ada pula beberapa orang lanjut usia yang berolahraga pagi di sana, pemandangan yang menambah sejuk suasana pagi di Lapangan Sinapeul.
Pada tulisan sebelumnya disampaikan bahwa kata sinapeul ditemukan dalam Kamus Basa Sunda daring dan mengandung arti tempat yang sanget atau angker. Hal selaras juga disampaikan sastrawan Sunda, Us Tiarsa.
Pada hari Jumat, 25 September 2026 lalu, saya bertemu dan berbincang dengan dalam kesempatan berbeda dengan Pak Pepen (65 tahun ) dan Pak Aek (63 tahun). Keduanya menyampaikan narasi yang sama tentang peristiwa yang terjadi pada masa penjajahan Jepang, tentang tabir berdarah yang selama ini membisu di bawah tanah Sinapeul.
Pak Pepen dan Pak Aek mendengarnya dari cerita orang tua mereka bahwa di lahan yang sekarang menjadi Lapangan Sinapeul tersebut menjadi saksi peristiwa pembantaian terhadap warga pribumi yang melakukan perlawanan pada penjajah Jepang. Warga lokal dan pejuang Indonesia yang melawan atau dianggap membangkang pada pendudukan Jepang, diangkut dan dieksekusi di tempat itu.
Cerita tersebut seolah memperkuat alasan nama Sinapeul pada tempat yang dibasahi darah para martir yang menolak tunduk pada penjajah itu. Pak Aek menambahkan, konon dulu banyak yang mengalami hal-hal mistis di sana, misalnya berupa “penampakan”, tapi ia mengaku tidak pernah mendapatkan pengalaman serupa.
Dari perbincangan dengan beberapa warga Kampung Andir, pada Sabtu, 26 September 2026, didapatkan satu lagi narasi tentang kata sinapeul.
“Pan saur sepuh kapungkur, para pejuang the dijajarkeun sina napel dina taneuh, teras didereded (Kata orang tua kami dulu, para pejuang diposisikan berjejer menempel pada tanah lalu ditembak).”
Konon penamaan sinapeul dari sina napel. Walaupun menempel dalam bahasa Sunda itu napel, bukan napeul.
Terlepas dari peristiwa tersebut, di sekitar tahun 1950-1960-an, lahan tersebut sempat menjadi hamparan kebun jagung. Dari penuturan Pak Aek, baru pada tahun 1976 lahan tersebut beralih fungsi menjadi lapangan karena kebutuhan sarana olahraga warga dan digunakan anak-anak untuk berlatih sepak bola. Sat ini Pak Aek yang mendapat tugas menjaga lapangan Sinapeul.
Lapangan Siapeul memiliki luas kurang lebih 5.000 meter persegi. Lapangan Sinapeul sudah melalui dua kali renovasi. Pertama pada tahun 1997 dan perbaikan oleh Pemerintah Desa Gudang Kahuripan pada tahun 2018, sehingga saat ini menjadi lapangan yang cukup representatif untuk digunakan warga melakukan berbagai aktivitas. Selain berolahraga, lapangan Sinapeul juga sering digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah desa, misalnya pada peringatan peristiwa nasional.
Melalui kegiatan olahraga dan kegiatan kemasyarakatan itu, warga Desa Gudang Kahuripan melarung trauma masa lalu. Mereka mengubah fungsi lahan yang dulunya memutus kehidupan, menjadi ruang publik terbuka yang justru merayakan kehidupan, keceriaan anak-anak, serta kebersamaan yang melibatkan lintas generasi. Dari generasi ke generasi lapangan ini berhasil meredam trauma sejarah dengan gelombang keriaan warga yang memanfaatkan keberadaannya.
Lapangan Sinapeul sekarang dikelola langsung melalui sinergi pemerintah desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Di area sekitar lapangan dihidupkan dengan berbagai lapak UKM milik warga. Setiap akhir pekan lapangan ini selalu ramai dengan suara anak-anak siswa SSB yang rutin berlatih di sana, juga ibu-ibu yang berlatih aerobik atau zumba, hingga warga yang sekadar menjadikannya rute lari pagi untuk menghirup udara segar dan bersih di Lembang.

Baca Juga: KABANDANG LEMBANG #1: Menjadi Warga Baru Kampung Andir
KABANDANG LEMBANG #2: Trek Lari Pagi Favorit dari Rumah ke Lapangan Sinapeul
Tempat Peristirahatan Sang Kuncen Bandung
Jika di bagian depan lapangan riuh dengan teriakan para pemain dan penonton yang menunggu gol dalam pertandingan sepak bola, maka di balik dinding benteng di belakang lapangan Sinapeul terdapat pemandangan yang memang kontras. Di belakang lapangan Sinapeul, dibatasi oleh sebuah benteng, terdapat area pemakaman umum untuk warga desa Gudang Kahuripan, namanya Pemakaman Sinapeul. Keberadaan lapangan yang bersebelahan dengan pemakaman tersebut seolah mengingatkan bahwa kehidupan, kematian, masa lalu, dan masa kini hanya berjarak hitungan langkah kaki.
Di antara deretan nisan di area pemakaman itu, terdapat satu klaster pemakaman keluarga yang bersahaja. Dalam kesederhanaannya, kompleks pemakaman ini menyimpan magnet yang menarik perharian mereka yang mempunyai ketertarikan pada sejarah, terutama sejarah Bandung. Di dalam klaster pemakaman keluarga itu, terbaring dengan damai jasad Haryoto Kunto, nama yang istimewa untuk para pegiat dan pecinta sejarah, budayawan, serta warga Jawa Barat. Seorang planolog yang lebih dikenal sebagai “ Kuncen Bandung” karena tulisan-tulisannya yang bercerita tentang Bandung menjadi penyelamat memori kolektif warga Bandung khususnya, tentang banyak hal yang terjadi pada proses bertumbuhnya kota Parijs van Java.
Haryoto Kunto yang lahir pada 23 Juli 1940, kerap menulis dengan detail yang sering kali jenaka tentang peristiwa, tempat, kuliner, serta gaya hidup yang terjadi di Bandung di masa silam. Dalam buku-bukunya, ia menulis bagaimana ruang publik–termasuk pemakaman–di masa lalu, bersentuhan dengan aktivitas sosial masyarakat. Dan kini, tempat peristirahatan sang penjaga cerita itu, justru diteduhi oleh atmosfer kehidupan masa sekarang dari aktivitas di lapangan yang terletak berdampingan. Di bawah riuhnya deru langkah kaki para pemain bola dan para pegiat olahraga lainnya di lapangan Sinapeul, sang penjaga ingatan Kota Bandung beristirahat dengan tenang ditemani semangat anak-anak muda yang berlarian menciptakan sejarah baru mereka sendiri.
Sang Kuncen Bandung memang telah berpulang sejak tahun 1999, namun apa yang telah dia tulis puluhan tahun lalu akan tetap terasa bermakna. Di tengah laju pertumbuhan kota Lembang, catatan beliau akan tetap menjadi pengingat tentang pentingnya merawat ruang publik dan memori kolektif tentang sebuah kota. Ketika sang Kuncen Bandung merawat sejarah melalui tulisan, maka warga Desa Gudang Kahuripan merawat kebersamaan dalam kegiatan merayakan kehidupan di bentangan tanah yang juga memendam sejarah.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


