• Kolom
  • KABANDANG LEMBANG #2: Trek Lari Pagi Favorit dari Rumah ke Lapangan Sinapeul

KABANDANG LEMBANG #2: Trek Lari Pagi Favorit dari Rumah ke Lapangan Sinapeul

Melihat barisan tanaman selada, kubis, serta tomat yang tertata rapi dan tampak berkilauan diterpa sinar matahari, ternyata sangat menyenangkan.

Ernawatie Sutarna

Ibu rumah tangga, peminat sejarah, anggota sejumlah komunitas sejarah di Bandung.

Lapangan Sinapeul sebagai titik akhir trek lari pagi. (Foto: Ernawatie Sutarna)

23 September 2026


BandungBergerak – Setelah menjadi penduduk Kampung Andir, Lembang, aktivitas saya dan keluarga berjalan seperti biasa. Pagi hari cukup padat. Karena masih bersekolah dan berkuliah di Kota Bandung, anak-anak harus berangkat lebih awal. Setiap pukul tiga, saya sudah terjaga lalu menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang mereka.

Baru ketika jarum jam menunjuk pukul enam pagi, saya bisa memilih aktivitas saya sendiri. Hawa dingin Lembang yang menyergap kulit seolah memberikan pilihan: kembali meringkuk di balik selimut atau segera mengikat tali sepatu lari dan bergerak menembus sisa kabut tipis semalam yang masih membasahi ujung-ujung dedaunan dan rerumputan. Biasanya saya akan memilih opsi yang kedua.

Saya mulai melangkahkan kaki menuju jalan menanjak di belakang rumah yang menjadi akses terdekat ke Jalan Raya Lembang. Begitu menyentuh jalan lebar itu, napas sudah memburu. Tapi itu tidak melunturkan niat bergerak ke arah utara.

Hari yang mulai merambat terang memberikan pemandangan hijau yang indah di lembah dan bukit di sepanjang sisi kiri-kanan jalan. Namun kewaspadaan tidak boleh berkurang karena arus kendaraan cukup ramai. Lagi pua tidak tersedia trotoar di beberapa ruas jalan.

Ketika berbelok ke arah Jalan Peneropongan Bintang, saya kembali  menemui jalan menanjak meski sebetulnya sepanjang jalan yang dilintasi sebelumnya pun merupakan tanjakan. Di jalan ini, ada satu lapangan bola yang mempunyai trek lari, namanya Lapangan Sinapeul. Di sanalah saya melanjutkan aktivitas lari pagi demi menggenapkan jarak tempuh menjadi lima (5) kilometer. Jarak yang lumayan membuat berkeringat untuk saya yang bukan atlet.

Nama “Sinapeul” memancing rasa penasaran tentang cerita-cerita yang ada di baliknya. Saya pernah menanyakan artinya pada Ua Us Tiarsa, dan menurutnya kata tersebut berarti tempat sanget, tempat yang angker. Keterangan ini selaras dengan apa yang tersaji dalam kamus Sunda daring.

Di Majalengka aya lembur namina Sinapeul, sentra duren. Cenah eta lembur teh baretona kacida sangetna (Di Majalengka ada satu kampung yang bernama Sinapeul, sentra duren. Konon kampung itu di zaman dahulu sangat angker),” tambah Ua.

Dari Lapangan Sinapeul, saya melanjutkan berjalan kaki sejauh kurang lebih 3,2 kilometer ke Pasar Panorama Lembang. Sebagai ibu rumah tangga, saya tentu saja tidak mau rugi. Bahkan dalam kegiatan olahraga, harus ada pekerjaan rumah tangga yang bisa saya tunaikan, yakni belanja keperluan dapur.

Dari Sinapeul ke pasar, saya berjalan melintasi beberapa kebun sayuran milik warga lokal dengan pemandangannya yang memanjakan mata. Sesekali saya duduk di sisi jalan setapak yang membelah hamparan lahan perkebunan sayur itu untuk beristirahat sejenak sekaligus me-recharge isi kepala yang penat. Melihat barisan tanaman selada, kubis, serta tomat yang tertata rapi dan tampak berkilauan diterpa sinar matahari, ternyata sangat menyenangkan.

Dari pasar, saya pulang dengan naik angkot. Di tangan: barang belanjaan yang siap dimasak menjadi menu baru hari itu.

Hamparan ladang sayur di setapak dari Lapangan Sinapeul ke Pasar Panorama Lembang. (Foto: Ernawatie Sutarna)
Hamparan ladang sayur di setapak dari Lapangan Sinapeul ke Pasar Panorama Lembang. (Foto: Ernawatie Sutarna)

Baca Juga: KABANDANG LEMBANG #1: Menjadi Warga Baru Kampung Andir
MULUNG TANJUNG #12: Hanjuang dan Handeuleum, Tanaman yang Erat dengan Urang Sunda

Investasi Kualitas Hidup

Ketika tinggal di Kota Bandung dengan jalanannya yang sibuk, kata “olahraga pagi” bagi saya selalu identik dengan upaya melawan kemalasan serta  keengganan menghadapi debu jalanan dan asap knalpot. Namun Lembang mengatur ulang kebiasaan itu. Menepis selimut tebal memang membutuhkan sedikit keberanian di tengah suhu yang sering kali menyentuh angka belasan derajat Celcius. Namun udara kaya oksigen yang menyentuh wajah ketika saya melangkahkan kaki ke luar rumah, menjadi sumber energi instan untuk terus bergerak.

Berlari di Lembang bukan lagi sekadar berolahraga, tetapi menjadi waktu meditasi dalam gerak, membiarkan detak jantung berirama selaras dengan alam. Jalurnya dinamis. Ada tanjakan-tanjakan kecil yang melatih kekuatan kaki, ada turunan yang memberikan kesempatan untuk bernapas lebih panjang. Jangan lupa, ada banyak bonus yang akan kita dapatkan yaitu interaksi yang hangat dengan warga lokal. Senyum dan sapaan ramah para petani yang sedang berkegiatan di ladang, seketika mengurangi rasa lelah.

Selain hak paru-paru untuk mendapatkan pasokan udara bersih terpenuhi, dampak terbesar yang saya peroleh dengan berlari pagi di sini justru adalah isi kepala yang lebih segar. Waktu tempuh setengah hingga satu jam menjelma satu sesi detoksifikasi mental. Setiap tetesan keringat yang jatuh mengurangi kecemasan dan beban pikiran sedikit demi sedikit. Saat kembali ke rumah, saya tidak hanya membawa tubuh yang bugar, tapi juga pikiran yang lebih segar, jernih, dan tenang.

Saya adalah orang yang percaya bahwa alam selalu dengan rela menukar energi negatif yang kita lepaskan akibat berbagai permasalahan dalam hidup dengan energi positif yang mereka miliki. Inilah yang membuat setiap kali beres lari pagi, saya pulang mengantongi sumber energi baru menghadapi permasalahan-permasalahan baru yang mau tidak mau akan senantiasa datang di kehidupan kita.

Ternyata keputusan untuk menetap di Lembang bukan lagi sekadar urusan tempat tinggal. Ada sebuah investasi besar bagi kualitas hidup.

 

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//