KABANDANG LEMBANG #1: Menjadi Warga Baru Kampung Andir
Sejak hari pertama, aroma hutan perlahan menghapus bau hangus yang sesekali masih datang mengganggu.
Ernawatie Sutarna
Ibu rumah tangga, peminat sejarah, anggota sejumlah komunitas sejarah di Bandung.
14 September 2026
BandungBergerak – Tinggal di sebuah kota kecil yang sejuk dengan nuansa pedesaan yang cenderung hening, pemandangan yang hijau, serta udara yang relatif masih bersih adalah impian yang dicita-citakan oleh banyak orang, termasuk saya. Takdir memang pada akhirnya membawa saya ke kota kecil nan sejuk itu, Lembang, tapi hanya setelah bencana kebakaran menghanguskan rumah di Kebonkawung, Kota Bandung.
Kehilangan rumah oleh kobaran api itu menjadi patah hati paling sunyi yang pernah saya alami bersama keluarga. Sebuah malam riuh yang menyisakan abu, reruntuhan, serta banyak kenangan yang terpaksa dilepaskan. Namun hidup kan harus terus berjalan?
Maka pada akhir Februari 2022, setahun setelah bencana, saya menyusuri jalan menanjak ke utara hingga melewati gerbang batas kota yang seolah mengucapkan selamat datang. Saya dan keluarga pun menjadi warga baru Lembang. Ikon wisata yang selama ini menjadi primadona tujuan pelesir para turis yang datang ke Bandung ini segera menjadi rumah kedua kami setelah Bandung.
Di sana, waktu mendadak melambat. Sejak hari pertama, aroma hutan perlahan menghapus bau hangus yang sesekali masih datang mengganggu. Panas yang sempat terasa menyengat di wajah tergantikan oleh udara sejuk pegunungan. Ada rasa damai ketika saya membuka pintu yang kebetulan menghadap bukit di sebelah timur yang dihiasi cahaya matahari pagi yang perlahan mengurai kabut.
Sedikit demi sedikit luka saya disembuhkan oleh alam. Bab baru dalam hidup disusun. Dari hiruk-pikuk keseharian menuju suasana yang lebih sunyi, lebih tenang, dan tidak tergesa.
Namun, meski jarak Lembang tak begitu jauh dari Kota Bandung, dan akar adat kebudayaannya pun masih sama, yakni Sunda, tetap saja ada banyak hal baru yang harus saya pelajari. Dan tentu ada sekian banyak pengalaman baru yang layak diceritakan.

Baca Juga: MULUNG TANJUNG #12: Hanjuang dan Handeuleum, Tanaman yang Erat dengan Urang Sunda
Mulung Tanjung #11: Pamali, Kearifan Lokal Masyarakat Sunda Beranjak Terlupakan
Kampung Padat dan Mata Air di Setapak Lengang
Kami tinggal di Kampung Andir, Desa Gudangkahuripan, yang terletak di sebuah lembah yang diapit ruas Jalan Raya Lembang dan Bukit Pangjebolan. Bukit ini sangat menggoda untuk dijelajahi dan cukup menantang untuk dijadikan rute jalan pagi atau hiking tipis-tipis.
Kampung Andir relatif sudah padat oleh penduduk, baik mereka yang tinggal lama dan disebut penduduk asli maupun mereka yang menetap belakangan dan disebut pendatang. Setiap pagi banyak warga yang berseliweran. Ada suara kendaraan roda dua milik para pekerja dan mahasiswa yang bersiap ke pabrik, kantor, atau kampus. Ada suara kendaraan milik para orang tua yang berangkat mengantar putra putrinya ke sekolah. Ada juga denting mangkok yang dipukul berkali-kali oleh Aa–karena masih muda–penjual bubur ayam, obrolan bapak-bapak yang sedang ngopi di warung, serta percakapan tukang sayur yang bertransaksi dengan para ibu. Ramai tapi tetap tak se-riweuh Bandung.
Bagi saya dan keluarga, Kampung Andir di Lembang ini bukan tempat bernama Andir pertama yang kami tempati. Sebelumnya, sejak akhir Februari 2021 sampai Februari 2022, segera setelah bencana kebakaran, kami tinggal tak jauh dari landasan pacu Bandar Udara Husein Sastranegara, yang di masa lampau disebut sebagai Lapangan Andir karena memang terletak di wilayah Kecamatan Andir. Begitulah perjalanan kami, secara kebetulan, berpindah dari Andir Bandung ke Andir Lembang.
Kesamaan nama ini mengusik rasa penasaran saya untuk membaca buku karya T. Bachtiar dan kawan-kawan yang membahas tentang toponimi, asal-usul nama suatu tempat atau wilayah. Beberapa buku dan bacaan lain juga saya baca sebagai referensi tambahan untuk menuruti rasa penasaran saya.
Dijelaskan, ada beberapa pengertian kata andir yang ada di tengah masyarakat Sunda. Andir bisa berarti pengurus jalan, yakni tukang yang mengurus jalan di desa atau di kota. Sebagai nama tempat, kawasan Andir dengan makna ini biasanya terletak di tepi jalan utama, sebagaimana ditemukan di Kota Bandung.
Selain pengurus jalan, kata andir dalam bahasa Sunda juga berarti (1) salah satu alat yang digunakan di dalam proses menenun serta (2) mata air atau cinyusu yang biasanya ditemukan di lereng tebing atau di bawah rumpun pepohonan yang rimbun.
Dua pengertian kata andir yang disebut terlebih dahulu banyak ditemukan dalam penelusuran digital. Namun, dari semua referensi tentang kata andir yang saya baca, belum ada informasi definitif yang bisa dengan yakin saya klaim sebagai dasar penamaan tempat kampung yang sekarang saya tinggali. Karena itulah saya memelihara rasa ingin tahu itu. Kata saya: Nanti deh saya mencari tahu pada sepuh-sepuh penduduk asli tentang kemungkinan adanya mata air atau cinyusu di sekitar kampung ini.
Pada suatu Sabtu pagi, 12 Maret 2022, saya menjelajahi sendirian sebuah jalan tembus yang konon menghubungkan kampung ini dengan daerah di sekitar sebuah pabrik farmasi yang ada di Jalan Setiabudi Bandung. Namun, belum sampai setengah perjalanan, saya sudah putar balik karena kondisi jalan setapak yang penuh dengan pepohonan dan semak belukar itu sangat lengang.
Ketika itu, saya sudah melewati sebuah kolam pemancingan yang sepi dan sebuah lokasi reruntuhan bangunan yang tampaknya memiliki satu mata air. Apakah itu mata air yang dimaksud dengan toponimi tempat ini?
Nanti kita cari tahu karena waktu itu suasana sepi tanpa orang lain, hawa dingin, dan suara gemercik air memaksa saya untuk menghentikan rencana jalan pagi lalu lari secepatnya ke rumah. Dan sampai saat ini, hampir empat tahun kemudian, saya masih belum berniat menyusuri jalan itu lagi, Mungkin nanti kalau ada yang berkenan menemani, saya akan mencoba kembali ke jalan setapak itu untuk memastikan keberadaan mata air.
Hayu, ada yang mau?
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


