• Berita
  • Kelas Arsip: Dimulai dari Menggunting Potongan Koran

Kelas Arsip: Dimulai dari Menggunting Potongan Koran

Dari praktik kliping hingga penamaan berkas secara kronologis, Kelas Arsip #2 bersama Gus Muh memperlihatkan bahwa kerja arsip dapat dimulai dari kebiasaan kecil.

Kelas Arsip #2 Mari Mengarsip di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Minggu, 27 September 2026. (Foto: Azany Magrina Duarte/BandungBergerak)

Penulis Beladisti Safirani Tanjung5 Oktober 2026


BandungBergerak - Beberapa lembar koran terbentang di atas meja. Peserta mulai memilih halaman yang menarik perhatian mereka, lalu mengambil gunting untuk memotong berita yang ingin disimpan. Potongan-potongan kertas itu kemudian ditempel satu per satu di atas kertas putih. Sederhana, tetapi mungkin tidak banyak orang yang masih melakukannya secara langsung.

Di tengah kebiasaan menyimpan informasi melalui tangkapan layar, tautan, atau folder digital, para peserta dalam kegiatan ini kembali berhadapan dengan cara yang lebih manual yaitu membaca koran, memilih informasi, mengguntingnya, kemudian menjadikannya bagian dari arsip pribadi.

Praktik tersebut menjadi bagian dari sesi kedua dari kegiatan Kelas Arsip #2 Mari Mengarsip di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Minggu, 27 September 2026, yang diisi dengan kegiatan kliping. Narasumber Kelas Arsip, Muhidin M. Dahlan atau yang kerap disapa sebagai Gus Muh berbicara mengenai arsip dan bagaimana seseorang dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana. Salah satu gagasan yang terus muncul adalah bahwa proses mengarsip tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Menurut Gus Muh, hal yang paling dekat dengan diri sendiri dan sesuatu yang paling kita sukai pun dapat menjadi titik awal untuk mulai mengarsip. Gagasan itu kemudian terasa lebih konkret ketika peserta mulai menggunting koran di hadapan mereka. Berita yang mungkin sebelumnya hanya dibaca sekilas di antara halaman koran, dipilih kembali karena dianggap penting, menarik, atau memiliki hubungan dengan perhatian masing-masing peserta.

Di situlah proses mengarsip menjadi lebih dari sekadar menyimpan sesuatu. Ada proses memilih di dalamnya. Dari sekian banyak informasi yang tersedia di hadapan mata, peserta menentukan mana yang dianggap penting untuk dibawa pulang sebagai ingatan.

Bagi Gus Muh, kegiatan menggunting koran tersebut merupakan gambaran sederhana mengenai cara kerja arsip. Mengarsip bukan hanya memindahkan informasi dari satu tempat ke tempat lain, tetapi menentukan informasi apa yang ingin dipertahankan. Hal itu juga berlaku ketika arsip berpindah ke ruang digital. Memotret halaman koran atau menyimpannya dalam bentuk PDF memang membuat bahan fisik menjadi digital, tetapi proses tersebut belum selesai. Informasi tetap perlu dipilih, diberi nama, dikelompokkan, dan disusun agar dapat ditemukan kembali.

Salah satu hal yang ia tekankan kepada peserta adalah penamaan arsip berdasarkan waktu. Tahun diletakkan di awal nama berkas agar dokumen dapat tersusun secara kronologis ketika ingin dibaca atau dicari kembali.

“Sejak penamaan itu sudah kronologis,” ujar Gus Muh, penulis buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998.

Gus Muh mengatakan, cara sederhana tersebut sekaligus menjadi latihan berpikir. Ketika dokumen disusun berdasarkan waktu, seseorang dapat melihat peristiwa secara lebih teratur. Informasi yang sebelumnya tampak terpisah dapat memperlihatkan hubungan ketika ditempatkan dalam urutan yang tepat.

Dengan begitu, pekerjaan arsip tidak berhenti pada kemampuan teknis menyimpan dokumen. Ada proses membaca, memilih, mengelompokkan, memberi nama, hingga menyusun informasi. Semua itu menjadi bagian dari kerja intelektual yang dilakukan sebelum sebuah arsip dapat digunakan kembali.

Namun, memilih apa yang ingin disimpan hanyalah awal. Menurut Gus Muh, pekerjaan arsip membutuhkan sesuatu yang lebih sulit dipertahankan yaitu daya tahan. Ia menjelaskan, mengarsipkan adalah pekerjaan yang dapat berlangsung sangat panjang. Ia tidak selalu menghasilkan sesuatu yang langsung terlihat, apalagi langsung menghasilkan keuntungan. Seseorang bisa menghabiskan waktu membaca, memilah, memotong, menamai, dan menyusun bahan tanpa mengetahui kapan kumpulan tersebut akan benar-benar dibutuhkan.

Di sinilah Gus Muh menempatkan etos kerja sebagai bagian penting dari pengarsipan. Baginya, etos tidak sekadar berarti bekerja keras. Ia berkaitan dengan kesediaan untuk tetap mengerjakan sesuatu karena merasa pekerjaan tersebut penting, bahkan ketika hasilnya belum datang dan tidak selalu ada imbalan langsung. Kerja arsip juga tidak harus bergantung pada peralatan mahal. Ketika seseorang tidak memiliki sumber daya yang besar, ia tetap dapat mencari cara untuk memperoleh bahan dan mengolahnya. Dalam pengalamannya, keterbatasan justru sering membuat orang mencari kemungkinan lain melalui pengetahuan, relasi, dan kerja bersama.

Pekerjaan yang terus dilakukan kemudian membentuk keterampilan. Seperti seorang pengrajin yang telah lama mengerjakan sesuatu, pengetahuan tidak selalu hadir dalam bentuk teori yang dapat dijelaskan secara langsung. Sebagian tumbuh melalui praktik dan pengulangan. Dalam pengarsipan, keterampilan itu dapat berupa kemampuan mengenali informasi, membaca konteks, menemukan hubungan antar dokumen, hingga semakin peka terhadap waktu.

“Kepekaan itu refleks kalau dilatih seperti ini,” kata Gus Muh.

Kepekaan terhadap waktu membuat arsip dapat bekerja lebih jauh daripada sekadar menyimpan masa lalu. Ketika seseorang terbiasa berhadapan dengan tanggal dan urutan peristiwa, ia mulai melihat kemungkinan hubungan antara informasi yang muncul pada waktu berbeda. Satu potongan koran hari ini dapat menemukan pasangannya dalam potongan lain yang disimpan bertahun-tahun sebelumnya.

Memulai dari Hal yang Disukai

Meski membutuhkan etos dan daya tahan, Gus Muh tidak memulai pembicaraannya dengan tuntutan agar semua orang mengumpulkan arsip dalam jumlah besar. Justru sebaliknya, ia mengajak peserta untuk melihat apa yang sudah dekat dengan kehidupan mereka. Seseorang yang menyukai film dapat mulai menyimpan trailer, poster, ulasan, atau catatan mengenai film yang ditontonnya. Orang yang aktif dalam komunitas dapat mendokumentasikan poster kegiatan, publikasi, dan berbagai jejak kegiatan yang mereka ikuti. Sementara seseorang yang tertarik dengan kehidupan kota dapat menyimpan foto, tulisan, atau informasi mengenai perubahan ruang yang ditemuinya sehari-hari.

“Apa yang membuat kita intensif di situ, berarti itu penting,” ujar Gus Muh.

Dengan begitu, seseorang tidak perlu mencari objek arsip yang terasa jauh dari kehidupannya. Ia dapat memulai dari sesuatu yang memang sudah membuatnya tertarik.

Pilihan terhadap satu hal juga memungkinkan seseorang membangun pengetahuan yang lebih dalam. Gus Muh memberi contoh orang-orang yang selama bertahun-tahun mengumpulkan bahan mengenai bidang tertentu hingga akhirnya menjadi rujukan bagi orang lain. Ia menceritakan pengalamannya mengenal Santo, seorang pekerja perpustakaan dan arsip yang menekuni dokumentasi seni rupa. Selama lebih dari sepuluh tahun, sebuah tim mengumpulkan ratusan halaman kliping mengenai seni rupa. Kumpulan tersebut kemudian menjadi arsip yang dapat diakses kembali dan digunakan oleh orang lain.

Menurut Gus muh, proses tersebut menunjukkan bagaimana seseorang dapat menjadi semacam “juru kunci” bagi pengetahuan tertentu. Peran itu tidak selalu diberikan sejak awal. Ia muncul karena seseorang terus mengumpulkan, merawat, dan memahami bahan yang berada dalam bidang perhatiannya. 

Jika seseorang selama bertahun-tahun mendokumentasikan zine di Bandung, misalnya, ia perlahan akan memiliki pengetahuan mengenai perkembangan zine di kota tersebut. Begitu pula dengan orang yang memilih street art, film, musik, agenda kebudayaan, atau perubahan ruang kota sebagai bidang perhatiannya. Tidak semua orang harus mengarsipkan hal yang sama. Justru perbedaan ketertarikan itu dapat membuat pengetahuan yang terkumpul menjadi lebih beragam.

Baca Juga: Dari Mengkliping Koran, Lahirlah Buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998
Mendiskusikan Arsip di Cicalengka, Dokumentasi sebagai Napas Kehidupan Sosial

Kelas Arsip #2 Mari Mengarsip di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Minggu, 27 September 2026. (Foto: Azany Magrina Duarte/BandungBergerak)
Kelas Arsip #2 Mari Mengarsip di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Minggu, 27 September 2026. (Foto: Azany Magrina Duarte/BandungBergerak)

Merekam Peristiwa

April, salah satu peserta yang mengikuti Kelas Arsip, memiliki ketertarikan terhadap arsip karena latar belakang studinya di bidang sejarah. Menurutnya, arsip tidak sekadar tumpukan dokumen lama, tetapi memiliki peran dalam menjaga ingatan dan merekam suatu peristiwa. Ketertarikan itu pula yang membuatnya kembali mengikuti kelas setelah sebelumnya hadir dalam sesi pertama. Namun, praktik kliping membuat pemahamannya terhadap arsip berkembang.

“Setelah melakukan praktik kliping, aku jadi melihat bahwa proses pengarsipan itu ternyata dimulai dari sebuah keputusan kecil yaitu apa yang dianggap penting, apa yang dipilih untuk disimpan, bagaimana cara kita mengelompokkannya, dan apa konteks di dalam arsip yang kita pilih,” kata April.

Pilihan April dalam praktik kliping menunjukkan bahwa arsip tidak selalu harus berangkat dari topik yang selama ini menjadi minat utama seseorang. Saat diminta memilih berita dari koran, ia mengambil berita mengenai perusakan dapur SPPG di Sukabumi. Ketertarikannya mula-mula muncul karena judul berita yang ia lihat. Setelah membaca lebih jauh, ia melihat adanya persoalan sosial yang terjadi di sekitar masyarakat dan bagaimana peristiwa tersebut dicatat oleh media.

Pilihan itu sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan ketertarikannya terhadap sejarah seni yang belakangan sedang banyak ia pelajari. Namun, justru dari berita tersebut ia mulai melihat kemungkinan lain dari sebuah arsip.

“Dari berita itu aku jadi tertarik tentang bagaimana sebuah peristiwa sehari-hari dan persoalan sosial bisa menjadi bagian dari sebuah rekaman peristiwa atau arsip,” ujar April.

Bagi April, bagian yang paling membekas justru adalah praktik mengkliping secara manual. Dari sana, ia merasakan bahwa mengarsipkan membutuhkan perhatian terhadap hal-hal yang mungkin sebelumnya terlihat sederhana.

“Kita nggak cuma ngambil berita lalu menyimpannya, tapi harus memahami kenapa berita itu atau hal itu layak disimpan dan bagaimana nantinya arsip tersebut bisa berguna bagi orang lain,” kata April

Ia dapat dimulai dari satu lembar koran. Dari satu berita yang dianggap menarik, satu poster acara, satu foto, satu tulisan, atau satu benda yang terasa dekat dengan kehidupan seseorang. Yang membuatnya kemudian menjadi arsip adalah perhatian untuk menyimpannya dan kesediaan untuk merawatnya. Di titik ini, ketertarikan dan etos kerja bertemu. Ketertarikan menjadi alasan untuk memulai, sementara etos membuat seseorang mampu mempertahankan pekerjaan tersebut ketika hasilnya belum terlihat.

Menurut April, tantangan terbesar setelah kelas adalah konsistensi. Ia melihat bahwa seseorang sebenarnya tidak harus menunggu memiliki alat arsip yang lengkap atau modern untuk mulai mendokumentasikan sesuatu. Yang lebih sulit adalah membiasakan diri untuk terus mencatat, memilah, mengategorikan, dan menyimpan sesuatu secara teratur.

Pandangan itu bertemu dengan gagasan Gus Muh mengenai etos. Ketertarikan dapat menjadi alasan seseorang memilih satu bidang, tetapi ketekunanlah yang membuat kumpulan kecil tersebut bertahan dan berkembang menjadi arsip.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB 

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//