MAHASISWA BERSUARA: Bahasa Tongkrongan dan Etika Berbahasa Anak Muda
Tantangan terbesar anak muda saat ini adalah hilangnya kepekaan kontekstual saat berinteraksi.

Fabian Satya Rabani
Pelajar yang gemar membaca dan menulis
6 Oktober 2026
BandungBergerak – Di sebuah kedai kopi pinggiran kota yang bising, sekelompok remaja duduk melingkar menikmati malam. Tawa mereka seketika pecah saat salah satu dari mereka berseru lantang, "Goblok banget lu, Cuk!" Kalimat kasar itu meluncur begitu saja tanpa beban, lalu disambut anggukan akrab oleh teman-teman di sekelilingnya. Bagi mata awam yang kebetulan lewat, dialog singkat ini tentu terdengar seperti makian penuh permusuhan yang menyakitkan telinga. Namun, bagi ekosistem mereka, kata-kata bertabur umpatan adalah paspor sosial, sebuah topeng kata yang “wajib” dipakai agar tidak terasing dari kelompok.
Fenomena bergesernya kesantunan berbahasa demi popularitas kelompok ini bukan sekadar urusan moralitas dangkal yang bisa dihakimi sepihak. Ruang tongkrongan sering kali mendesentralisasi norma verbal yang berlaku di masyarakat umum. Akibatnya, apa yang dianggap kotor oleh publik diadopsi menjadi simbol keakraban yang mempererat solidaritas internal mereka.
Pada titik inilah masyarakat perlu membedakan antara makna sopan dan santun dalam kehidupan sehari-hari. Sopan pada dasarnya terkait erat dengan perilaku fisik yang terlihat oleh mata, seperti senyuman hangat, anggukan kepala menghormati, membungkukkan badan saat melintas, atau bersalaman. Sementara itu, santun mencakup dimensi verbal yang terdengar oleh telinga, meliputi pilihan diksi yang tepat, volume bicara yang terjaga, serta tempo dan nada suara yang tidak merendahkan orang lain. Memahami perbedaan kedua entitas ini menjadi kunci penting untuk membedah akar krisis komunikasi yang sedang melanda generasi muda kita saat ini.
Remaja berada pada fase krusial pencarian jati diri yang sangat dinamis dan rentan. Mengacu pada studi perilaku remaja dalam jurnal Family and peer influences on the frequency of swearing karya Stapleton (2010), hasrat untuk diterima oleh kelompok sebaya (peer acceptance) terbukti jauh melampaui rasa takut akan sanksi moral orang dewasa. Menggunakan bahasa kasar akhirnya menjadi mekanisme pertahanan ego agar mereka tidak dieliminasi dari lingkaran pertemanan. Remaja mengadopsi umpatan ini bukan dengan niat murni untuk menyakiti, melainkan murni sebagai alat adaptasi sosial yang instan.
Bahasa yang mendudukkan fenomena kebahasaan ini sebagai instrumen perekat sosial. Riset kontemporer mengenai fungsi umpatan bertajuk Swearing as Social Bonding oleh Guenter (2014) menegaskan bahwa kata-kata tabu sering kali berfungsi sebagai social glue (perekat sosial). Fungsi ini memperkuat solidaritas dan identitas kelompok, alih-alih menjadi wujud agresi verbal yang merusak. Di dalam ruang privat tongkrongan, terjadilah pergeseran nilai di mana keakraban diukur dari seberapa berani mereka menabrak batasan bahasa formal masyarakat.
Fenomena kelonggaran verbal ini mencerminkan krisis substansi yang mengkhawatirkan. Bahasa seharusnya menjadi medium berpikir logis dan penyampaian gagasan yang presisi bagi pertumbuhan intelektual manusia. Ketika kosakata remaja menyusut dan digantikan oleh repetisi kata makian, terjadi apa yang disebut erosi fungsi retoris. Remaja perlahan kehilangan daya pilih kata (diction) yang kaya untuk mengekspresikan emosi kompleks yang mereka rasakan. Kegembiraan, kekecewaan, hingga kejutan seluruhnya direduksi ke dalam satu atau dua kata kasar yang seragam secara monoton.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Nyawa Kedua Barbie yang Membongkar Kebohongan Daur Ulang
MAHASISWA BERSUARA: Kemiskinan yang Tidak Diakui Sistem
MAHASISWA BERSUARA: G30S dan Generasi yang Menolak Nonton Sendirian
Krisis Kontekstual dan Tantangan Keteladanan Publik
Tantangan terbesar remaja saat ini adalah hilangnya kepekaan kontekstual saat berinteraksi. Kajian ilmiah dalam artikel Krisis Kesantunan Berbahasa di Kalangan Remaja oleh Sari (2022) menunjukkan bahwa normalisasi bahasa kasar di media sosial memicu disorientasi moral yang nyata. Batas antara ruang privat tongkrongan dan ruang publik, seperti sekolah atau media sosial, kini menjadi sangat kabur. Ketika kata kasar dianggap wajar di dunia maya, etika berkomunikasi beradab yang menghormati lawan bicara seketika tergeser oleh egoisme ekspresi.
Bahasa adalah cerminan dari eksistensi manusia karena cara kita berbahasa ikut membentuk realitas sosial di sekitar kita. Jika dunia batin anak muda terus dipenuhi oleh narasi yang kasar, maka realitas sosial yang mereka bangun pun akan cenderung abrasif dan rapuh. Umpatan yang awalnya digunakan hanya sebagai topeng agar terlihat keren, lama-kelamaan dapat mengkristal menjadi karakter nyata (habitual action). Seseorang yang terbiasa memandang dunia lewat kosakata merendahkan akan kesulitan menumbuhkan rasa hormat mendalam kepada sesama manusia.
Menghadapi realitas ini, peran figur publik, pejabat publik, dan orang tua menjadi benteng pertahanan yang sangat penting. Mereka harus bisa memberi contoh nyata dan membiasakan diri untuk selalu santun dalam bertutur kata. Jangan sampai para pemimpin dan tokoh masyarakat malah memberikan contoh buruk yang melanggar sopan santun, terlebih saat berada di depan publik.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


