• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Nyawa Kedua Barbie yang Membongkar Kebohongan Daur Ulang

MAHASISWA BERSUARA: Nyawa Kedua Barbie yang Membongkar Kebohongan Daur Ulang

Masyarakat lebih sering digiring untuk memilah sampah demi didaur ulang.

Madeleine Constance Tanur

Mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Ilustrasi sampah plastik. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

7 September 2026


BandungBergerak – Gaya hidup zero waste kini menjelma tren global, mulai dari kampanye membawa tumbler pribadi hingga gerakan menolak kantong plastik di swalayan. Sayangnya, gerakan yang semula bertujuan mulia ini kerap tereduksi menjadi sekadar simbol status atau konten media sosial, tanpa benar-benar menyentuh akar masalah produksi dan konsumsi berlebih. Di tengah peristiwa ini, banyak orang mendengungkan slogan “daur ulang menyelamatkan bumi” begitu sering hingga nyaris tidak ada yang berani mempertanyakan kebenaran di baliknya. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh secara skeptis, slogan tersebut menyimpan kebohongan kecil, anggapan bahwa barang lama seperti mainan bekas otomatis kehilangan nilai dan pantas dibuang begitu saja ternyata keliru besar. Reader’s Digest bahkan mencatat fakta yang terdengar hampir mustahil, yaitu salah satu barbie edisi kolektor, AKA Centennial Barbie keluaran 2008, bisa bernilai jual minimal 1.000 dolar Amerika Serikat, atau sekitar Rp15 juta, asalkan kondisinya masih mint in box, alias mulus lengkap dengan kemasan aslinya.

Kebenaran itu justru saya buktikan sendiri suatu sore, saat sedang membongkar gudang dan menemukan setumpuk boneka Barbie yang sudah bertahun-tahun terlupakan di dalam kardus. Awalnya boneka-boneka itu saya banderol murah, yakin tidak akan ada yang tertarik dengan barang seusia mereka, tetapi dugaan saya salah total karena lapak online saya justru diserbu pembeli hanya dalam hitungan jam. Salah seorang calon pembeli bahkan sempat bertanya heran apakah saya yakin memasang harga semurah itu, dan boneka tersebut akhirnya terjual dengan harga berkali-kali lipat dibandingkan saat pertama kali dibeli bertahun-tahun silam. Momen itu membuka mata saya bahwa ekonomi sirkular lewat jalur reuse, yaitu jual-beli barang preloved, ternyata jauh lebih taktis dan berdampak nyata dibandingkan sekadar menaruh harapan pada keajaiban daur ulang. Tulisan ini akan membongkar mengapa daur ulang, sehebat apa pun slogannya, masih memiliki keterbatasan teknis dan kesenjangan implementasi, sekaligus menelusuri mengapa hierarki hukum dan pertumbuhan pasar justru membuat reuse menjadi jawaban paling mendesak bagi krisis zero waste hari ini.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kapitalisme Menguasai Industri Sepak Bola Modern
MAHASISWA BERSUARA: Ancaman Musnahnya Buku Fisik karena AI
MAHASISWA BERSUARA: QRIS, Pain of Paying, dan Perilaku Konsumtif

Boneka Barbie yang Membuat Mesin Daur Ulang Menyerah

Di balik senyum plastiknya yang manis, boneka Barbie sesungguhnya merupakan teka-teki kimia dalam meracik PVC, ABS, EVA, dan vinil sekaligus dalam satu produk yang sama. Barbie hanyalah satu contoh dari jutaan mainan plastik yang diproduksi setiap tahun dengan filosofi desain serupa, yakni mengutamakan daya tahan warna dan detail visual, bukan kemudahan untuk didaur ulang di ujung siklus hidupnya. British Plastics Federation, lembaga industri plastik di Inggris, menegaskan bahwa kombinasi material semacam ini justru menjadi mimpi buruk bagi sistem daur ulang rumah tangga biasa, karena lapisan-lapisan plastik yang berbeda nyaris mustahil dipisahkan secara mekanis. Mesin pemilah di fasilitas daur ulang konvensional umumnya dirancang untuk mengenali satu jenis plastik dalam satu waktu, sehingga produk yang mencampur beberapa jenis polimer sekaligus, seperti Barbie, kerap otomatis tersingkir dari jalur pemrosesan dan berakhir di tumpukan residu. Akibatnya, siapa pun yang membuang barang bermaterial kompleks dengan dalih “nanti juga didaur ulang” sesungguhnya sedang menitipkan sampah itu untuk menumpuk diam-diam di tempat pembuangan akhir, mungkin hingga ratusan tahun ke depan.

Data yang dihimpun Kompas pada 2026 mengonfirmasi kegagalan itu dengan angka yang cukup menampar, yaitu dari lebih 5 juta ton sampah plastik yang menumpuk sepanjang 2025, baru sekitar 22 persen yang benar-benar berhasil didaur ulang. Dengan kata lain, dari setiap lima kantong sampah plastik yang kita buang dengan keyakinan “nanti didaur ulang”, hanya satu yang benar-benar sampai ke sana, sementara empat sisanya menghilang entah ke tanah, sungai, atau lautan. Sebagian besar sisa yang tidak tertangani itu turut mencemari perairan, sejalan dengan berbagai kajian lingkungan yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia. Kesenjangan sebesar itu adalah bukti telak bahwa mengandalkan daur ulang sebagai satu-satunya solusi adalah taruhan yang terlalu berisiko, mengingat kapasitas industri daur ulang nasional belum mampu mengimbangi laju timbunan sampah yang terus melonjak.

Banyak dari kita tidak menyadari, Indonesia sebenarnya sudah memiliki payung hukum yang secara eksplisit menempatkan reuse di atas recycle. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menetapkan hierarki pengelolaan sampah yang dimulai dari reduce, dilanjutkan reuse, baru kemudian recycle, sebelum berakhir pada recovery dan disposal sebagai opsi paling terakhir. Undang-undang ini bahkan mewajibkan produsen ikut bertanggung jawab atas produk dan kemasan yang mereka hasilkan lewat skema tanggung jawab produsen, bukan semata membebankan urusan sampah kepada konsumen di ujung rantai. Urutan hierarki tersebut bukan tanpa alasan, sebab semakin dini sebuah barang dicegah menjadi sampah, semakin kecil pula energi, biaya, dan risiko pencemaran yang harus ditanggung dibandingkan menunggunya diproses ulang di pabrik daur ulang. Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, masyarakat justru lebih sering digiring untuk memilah sampah demi didaur ulang, sementara opsi menjual atau menyumbangkan barang yang masih layak pakai jarang digaungkan sekeras kampanye daur ulang.

Reuse Bukan Sekadar Gaya

Padahal, secara global, pasar barang preloved justru sedang tumbuh pesat dan sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Laporan Resale Report 2025 yang disusun GlobalData bersama ThredUp memperkirakan nilai pasar pakaian preloved dunia akan mencapai 367 miliar dolar Amerika Serikat pada 2029, dengan laju pertumbuhan sekitar 10 persen setiap tahun. Tren serupa juga merambah Indonesia, terlihat dari menjamurnya kategori preloved di marketplace besar maupun munculnya komunitas jual-beli barang preloved khusus, termasuk untuk barang mewah sekalipun. Gaya hidup zero waste, dengan begitu, harus berhenti dipahami sekadar sebagai estetika membawa tumbler atau tas belanja sendiri, dan mulai dipahami sebagai keberanian mempertanyakan apa masih adakah nyawa lain yang bisa diberikan pada barang yang telanjur diproduksi, sebelum barang ini benar-benar berubah menjadi sampah?

Kisah nyawa kedua yang saya temukan di gudang, pada akhirnya, adalah bukti kecil dari kebenaran besar bahwa barang yang tampak usang tidak pernah benar-benar kehilangan nilainya, ia hanya menunggu seseorang yang mau melihatnya kembali. Bumi yang kian sesak oleh sampah tidak butuh lebih banyak slogan tentang daur ulang, melainkan lebih banyak orang yang berani memberi kesempatan kedua pada barang-barang lama, alih-alih menunggu keajaiban teknologi yang keterbatasannya sudah terbukti, baik secara teknis maupun data. Perubahan itu bahkan tidak memerlukan teknologi canggih atau kebijakan baru, sebab payung hukumnya sudah tersedia sejak 2008, yang masih kurang hanyalah kemauan untuk benar-benar menjalankannya. Ellen MacArthur, pendiri Ellen MacArthur Foundation yang menjadi rujukan utama gerakan ekonomi sirkular dunia, kerap menegaskan pentingnya beralih dari budaya sekali pakai menuju ekonomi yang mempertahankan nilai barang selama mungkin, sebuah gagasan yang, anehnya, saya pahami lewat cara paling sederhana, yaitu sekotak boneka Barbie yang nyaris saya anggap sampah namun ternyata menyimpan nyawa kedua yang menunggu untuk ditemukan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//