MAHASISWA BERSUARA: Ancaman Musnahnya Buku Fisik karena AI
Membaca buku fisik sejatinya memberikan kita kebebasan penuh meresapi makna secara perlahan tanpa adanya gangguan notifikasi atau pelacakan data dari pihak ketiga.

Jovi Fernando Setiawan
Mahasiswa Bahas Inggris di Universitas Terbuka. Penikmat Sastra dan Musik.
1 September 2026
BandungBergerak – Bayangkan sejenak kita hidup di zaman di mana akses informasi terasa begitu instan, namun di balik layar justru terjadi proses penghancuran sistematis yang jarang disadari oleh masyarakat luas. Belakangan ini mulai muncul kekhawatiran beralasan mengenai praktik perusahaan teknologi raksasa yang secara diam-diam memborong buku fisik dari berbagai tempat untuk dipindai sebagai data pelatihan kecerdasan buatan. Sayangnya digitalisasi massal ini kerap menggunakan metode pemindaian destruktif di mana punggung buku dipotong habis agar halamannya bisa dimasukkan ke mesin pemindai berkecepatan tinggi dengan mudah. Setelah dipindai, buku yang telah rusak itu sering kali dibuang begitu saja tanpa memedulikan apakah itu karya langka yang jumlahnya sangat terbatas di dunia atau sekadar buku biasa. Hal ini sungguh terasa seperti mimpi buruk karena perlahan kita digiring menuju era distopian yang menakutkan di mana wujud fisik dari ilmu pengetahuan mulai di musnahkan demi algoritma korporat.
Skenario kelam seperti ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru karena sudah pernah diprediksi dengan sangat akurat oleh para pemikir di masa lalu. Salah satu karya yang paling relevan untuk menggambarkan situasi menakutkan ini adalah sebuah novel terbitan tahun 1953 berjudul Fahrenheit 451 karangan penulis legendaris Ray Bradbury.
Dalam buku tersebut diceritakan sebuah masyarakat distopia di mana pemerintah secara aktif membakar buku-buku fisik demi mencegah masyarakat berpikir kritis dan mengendalikan aliran informasi agar seragam. Usut punya usut, buku yang telah dipotong dan diubah menjadi sekumpulan data biner oleh mesin pemindai juga akan di musnahkan dengan cara dibakar. Yeah praktik yang para perusahaan Artificial Intelligence (AI) lakukan hampir sebelas dua belas dengan apa yang terjadi di dalam novel tersebut dan dampaknya berpotensi sama saja bagi masa depan kita. Ketika semua ilmu pengetahuan hanya eksis di dalam server perusahaan korporat maka kita akan sangat bergantung pada mereka untuk mencari kebenaran dan itu adalah sebuah posisi yang sangat rentan bagi peradaban manusia yang bebas.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Faculty of Wonder dan Matinya Skeptisisme Profesional
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Komitmen pada Ruang Publik Aman Berhenti di Atas Panggung
MAHASISWA BERSUARA: Meme Jomok, Pornografisasi, dan Rezim Informasi
Bahaya Monopoli Data
Mungkin ada sebagian orang yang berpikir bahwa digitalisasi adalah hal baik karena membuat buku lebih mudah diakses oleh siapa saja di seluruh penjuru dunia. Namun kenyataannya, praktik pengambilan data untuk melatih model bahasa sering kali dilakukan tanpa transparansi dan melanggar hak cipta seperti yang terungkap dalam kasus dataset raksasa bernama Books3. Kasus kontroversial ini berisi lebih dari 191,000 buku fisik yang diubah menjadi teks digital tanpa izin dari penulisnya lalu digunakan oleh berbagai perusahaan untuk melatih sistem mereka. Menurut laporan investigasi terpercaya dari media The Atlantic pada tahun 2023 ribuan penulis ternama terkejut saat menemukan karya mereka disedot secara sepihak untuk mengajarkan mesin cara menulis.
Bayangkan ketika entitas korporat memiliki kendali penuh atas repositori raksasa ini, mereka bisa dengan sangat mudah menyaring atau mengubah narasi yang ada sesuai dengan agenda pribadi mereka saat perpustakaan fisik mulai kehilangan koleksi berharganya dan buku cetak perlahan lenyap ditelan zaman. Kita akan kehilangan jendela utama menuju masa lalu yang otentik dan tak bisa dimodifikasi. Bayangkan jika suatu saat nanti sebuah rezim otoriter atau perusahaan teknologi ingin menghapus fakta sejarah kelam, mereka hanya perlu mengubah beberapa baris kode di server pusat, tiba-tiba saja seluruh dunia akan membaca versi sejarah baru yang dimanipulasi dengan rapi tanpa ada seorang pun yang menyadari perubahan tersebut karena tidak ada lagi buku fisik sebagai pembanding. Berbeda dengan buku cetak yang jika sudah diproduksi pada tahun 1990 misalnya, tentu tidak akan bisa diubah isinya secara rahasia oleh siapa pun pada tahun 2026. Buku fisik adalah artefak sejarah yang jujur sementara data digital adalah entitas cair yang bisa dimodifikasi kapan saja tanpa meninggalkan jejak yang jelas bagi pembaca biasa.
Mari kita lihat sebuah bukti akademis yang menyoroti bahaya monopoli data dan dampaknya terhadap masyarakat luas agar kita bisa lebih memahami skala masalah ini. Dalam sebuah jurnal penelitian valid yang diterbitkan pada tahun 2021 berjudul On the Dangers of Stochastic Parrots Can Language Models Be Too Big karya Emily M. Bender dan rekan-rekannya, dijelaskan realitas yang mengkhawatirkan. Penelitian tersebut membedah dengan rinci bagaimana dataset raksasa yang dikumpulkan secara brutal dari internet dan buku cetak tidaklah merepresentasikan pandangan umat manusia melainkan hanya kelompok tertentu saja. Mereka memperingatkan bahwa pembuat AI sering kali hanya memprioritaskan kuantitas data daripada kualitas sehingga menghasilkan model bias yang terus mencerminkan hegemoni pihak berkuasa, jurnal ini menjadi bukti nyata bahwa menyerahkan pengelolaan ilmu pengetahuan sepenuhnya kepada mesin adalah langkah yang sangat berisiko bagi keberagaman pemikiran kita.
Sumber penelitian kedua yang patut dicermati bersama adalah sebuah artikel akademis komprehensif berjudul The Law and Economics of Copyright in the Digital Age karya Christian Peukert dan Margaritha Windisch (2023). Penelitinya membahas secara mendalam bagaimana digitalisasi massal tanpa regulasi ketat perlahan akan menghancurkan insentif bagi para penulis untuk terus berkarya karena hasil keringat mereka dengan mudah disalin, ketika buku fisik dibeli lalu dihancurkan dalam proses pemindaian demi melatih algoritma kita sebenarnya tidak hanya merusak wujud bukunya tetapi juga merendahkan nilai intelektual dari penciptanya. Lebih jauh lagi penelitian ini menegaskan bahwa tanpa adanya perlindungan hukum yang jelas masyarakat perlahan akan terjebak dalam ekosistem informasi tertutup di mana hanya platform bermodal besar yang bisa mendistribusikan ilmu pengetahuan.
Kita sebenarnya bisa belajar banyak dari kasus nyata yang pernah terjadi pada masa lalu terkait pemindaian massal yang menuai kontroversi luar biasa di kalangan akademisi. Sekitar tahun 2005 sebuah proyek sangat ambisius bernama Google Books mulai memindai jutaan buku dari berbagai perpustakaan universitas terkemuka di mana banyak karya langka terpaksa melalui pemotongan punggung agar bisa dipindai dengan cepat. Meskipun niat awalnya sering diklaim untuk membangun perpustakaan digital universal, proyek raksasa ini justru berujung pada gugatan hukum massal dari serikat penulis ternama yaitu Authors Guild yang memakan waktu bertahun-tahun. Kasus nyata yang terdokumentasi dengan baik ini menunjukkan kepada kita bahwa niat korporasi besar untuk mendigitalkan semua informasi selalu diiringi konsekuensi hilangnya kendali masyarakat atas privasi dan kepemilikan mereka sendiri.
Coba kita renungkan sejenak apa jadinya bila generasi penerus kita kelak tidak pernah lagi merasakan sensasi ajaib saat membalik halaman kertas tua yang berbau khas, mereka mungkin hanya akan mengenal dunia melalui layar gawai dingin di mana setiap informasi yang dibaca telah disaring dan bahkan dimanipulasi oleh algoritma yang diciptakan semata-mata untuk memaksimalkan keuntungan finansial. Membaca buku fisik sejatinya memberikan kita kebebasan penuh untuk meresapi makna secara perlahan tanpa adanya gangguan notifikasi atau pelacakan data dari pihak ketiga yang memantau halaman mana yang paling lama dibaca. Hilangnya media cetak dari kehidupan sehari-hari berarti hilangnya salah satu kebebasan paling mendasar yang dimiliki ras manusia yaitu kebebasan berpikir mandiri dan utuh di luar jangkauan pengawasan sistem.
Merawat Buku Fisik
Saya sering kali merenung dan merasa bahwa mungkin saat ini kita sudah terlalu terlena dengan segala kemudahan teknologi kecerdasan buatan hingga lupa pada harga mahal yang harus dibayar. Wajar saja jika sesekali kita manusia melakukan kesalahan tulis dalam kehidupan sehari-hari karena hal itu sangat natural, namun sistem digital selalu menuntut kesempurnaan yang lama-kelamaan membunuh keaslian jiwa. Saat mesin pintar ini terus diberi makan oleh jutaan literatur yang dihancurkan, mereka perlahan menduplikasi cara kita berpikir sehingga batas kreativitas organik dan teks buatan menjadi sangat kabur. Kita semua harus sadar bahwa membiarkan korporasi memonopoli jendela ilmu pengetahuan pada dasarnya sama saja dengan menyerahkan kunci pikiran kita secara sukarela kepada entitas asing tanpa empati maupun hati.
Tentu saja kita harus adil menilai bahwa tidak semua kemajuan teknologi bersifat merusak dan kita juga tidak bisa begitu saja menolak inovasi canggih di era modern yang bergerak serba cepat ini. Masalah yang paling krusial sebenarnya terletak pada kenyataan bahwa saat ini nyaris tidak ada regulasi untuk mengontrol pihak-perusahaan yang mengeksploitasi data demi kepentingan komersial. Kita sangat membutuhkan kesepakatan global yang tegas melarang penghancuran literatur cetak demi pemindaian brutal sekaligus mewajibkan transparansi penuh mengenai asal-usul data pelatihan model bahasa. Masyarakat sipil jelas memiliki hak penuh untuk mengetahui dari mana mesin canggih ini mendapatkan ilmunya dan apakah proses panjang tersebut ternyata mengorbankan warisan budaya tak ternilai.
Pada akhirnya upaya melestarikan keberadaan fisik buku di tengah gempuran tren digital bukanlah sekadar bentuk romantisisme masa lalu atau keengganan beradaptasi dengan perubahan zaman. Menjaga lembaran kertas utuh adalah tindakan perlawanan nyata terhadap potensi distopia di mana kebenaran faktual bisa dihapus atau diubah hanya dengan menekan satu tombol di server pusat korporasi. Kita harus terus mendukung keberadaan penerbitan independen serta menjaga perpustakaan lokal agar tetap hidup sebagai benteng pertahanan terakhir bagi arus informasi murni yang tak tertembus manipulasi peretas. Mari kita jaga sisa-sisa peninggalan berharga tersebut sebelum semuanya benar-benar berubah menjadi deretan angka biner dingin dan tak berjiwa di dalam pusat data penguasa teknologi masa kini.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


