MAHASISWA BERSUARA: Faculty of Wonder dan Matinya Skeptisisme Profesional
Hilangnya skeptisisme di kehidupan sehari-hari membuat seseorang lebih rentan terhadap manipulasi narasi, disinformasi digital, maupun relasi yang toksik.

Madeleine Constance Tanur
Mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
20 Agustus 2026
BandungBergerak – Banyak orang memaknai skeptisisme sekadar sebagai sikap sinis yang gemar meragukan segala sesuatu demi kepentingan berdebat. Padahal, apabila ditelaah secara jernih, skeptisisme sejatinya merupakan bentuk ketajaman kognitif, yaitu komitmen intelektual untuk tidak menelan mentah-mentah informasi apa pun tanpa validasi rasional yang memadai. Perenungan saya atas persoalan ini bermula ketika saya membaca novel Sophie’s World karya Jostein Gaarder. Novel tersebut memperkenalkan konsep faculty of wonder, sebuah kemampuan bawaan manusia untuk senantiasa takjub memandang dunia sebagaimana pertama kali dilihat oleh mata seorang bayi. Bayi memandang realitas dengan kekaguman murni tanpa prasangka apa pun, tetapi manusia dewasa berangsur-angsur kehilangan kepekaan tersebut seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Gaarder menggambarkan situasi ini melalui metafora seekor kelinci putih raksasa yang ditarik keluar dari sebuah topi oleh seorang pesulap. Manusia dewasa memilih berdiam di pangkal bulu kelinci yang empuk dan nyaman karena mereka telah terbiasa dengan rutinitas serta enggan mempertanyakan hal-hal yang tampak lumrah.
Fenomena hilangnya faculty of wonder tersebut tidak berhenti pada konsep filosofis semata, sebab ia juga menemukan wujud paling krusialnya dalam dunia profesi, khususnya pada praktik skeptisisme profesional auditor yang kini menghadapi tantangan baru di tengah gempuran kecerdasan buatan. Rutinitas kerja audit yang berulang setiap tahun, ditambah ketergantungan yang kian tinggi pada teknologi yang rentan mengalami AI hallucination, secara perlahan mengikis kapasitas auditor untuk tetap kritis dan mempertanyakan apa yang tampak di hadapannya. Berangkat dari paralel antara metafora kelinci putih Gaarder dan sikap auditor yang memilih berdiam nyaman dalam rutinitas maupun otomatisasi digital, matinya skeptisisme profesional bukan sekadar persoalan teknis audit, melainkan krisis faculty of wonder yang, jika dibiarkan, akan terus melahirkan skandal keuangan dengan wajah-wajah baru.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Memeluk NPC Energy di Tengah Sejuknya Kota Bandung
MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Menjadi Biasa Kini Terasa Seperti Kegagalan
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan
Skeptisisme Profesional di Bawah Bayang-bayang Algoritma
Fenomena serupa, dengan konsekuensi yang jauh lebih serius, ternyata berlangsung pula di ranah profesi akuntansi, khususnya pada praktik skeptisisme profesional auditor. Skeptisisme profesional (professional skepticism) bukanlah sekadar rasa tidak percaya biasa, melainkan tuntutan etis dan kompetensi yang mewajibkan seorang auditor memiliki pemikiran yang senantiasa mempertanyakan, waspada terhadap indikasi salah saji material, serta kritis dalam menilai bukti audit yang tersedia. Steven Glover dan Douglas Prawitt, dua akademisi akuntansi yang meneliti persoalan ini secara mendalam, bahkan menggambarkan skeptisisme profesional bukan sebagai kondisi tetap, melainkan sebagai kontinum yang dapat bergeser naik-turun akibat tekanan waktu, beban kerja, maupun rasa percaya berlebih terhadap sistem yang telah mapan.
Krisis besar dalam dunia audit muncul ketika faculty of wonder yang dimiliki seorang auditor mulai pudar akibat rutinitas kerja yang berulang setiap tahun. Di era kecerdasan buatan, taruhannya melonjak berkali-kali lipat karena auditor kini rentan menerima hasil keluaran kecerdasan buatan secara mentah-mentah tanpa verifikasi manusia yang memadai, padahal teknologi ini sewaktu-waktu dapat mengalami AI hallucination, yakni memproduksi informasi yang tampak meyakinkan namun sesungguhnya fiktif. Istilah ini merujuk pada kecenderungan model bahasa menghasilkan jawaban yang tersusun rapi dan terdengar meyakinkan, padahal sesungguhnya tidak berpijak pada data atau fakta yang benar-benar ada, sebuah cacat yang sulit dideteksi justru karena tampilannya begitu meyakinkan. Skala persoalan ini bukan isapan jempol belaka: data KPMG International dalam Global AI in Finance Report (2024) mencatat adopsi kecerdasan buatan di sektor keuangan global melonjak tajam, tren yang terus berlanjut seiring pembaruan platform seperti KPMG Clara pada 2025. George Botic, Ketua Pelaksana Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) selaku regulator audit publik di Amerika Serikat, bahkan secara terbuka memperingatkan dalam Konferensi AICPA pada Desember 2025 bahwa ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan berisiko mengikis kualitas mendasar yang menjadi inti seorang auditor efektif, termasuk skeptisisme profesional itu sendiri.
Kasus paling nyata datang dari Deloitte Australia yang pada 2025 terungkap telah menggunakan model GPT-4o secara minim pengawasan dalam menyusun laporan senilai sekitar 440.000 dolar Australia bagi Departemen Ketenagakerjaan dan Hubungan Kerja Australia, sehingga laporan tersebut dipenuhi kutipan fiktif yang disematkan pada seorang hakim Pengadilan Federal serta rujukan akademis yang sama sekali tidak pernah ada. Setelah kejanggalan ini terungkap ke publik, Deloitte pun terpaksa merevisi laporan tersebut dan mengembalikan sebagian pembayaran kepada pemerintah Australia, sebuah konsekuensi nyata yang menegaskan bahwa kepercayaan buta pada kecerdasan buatan bukan sekadar risiko teoretis. Auditor kerap melihat transaksi yang janggal dan menemukan angka yang tidak wajar, tetapi mereka memilih menganggapnya sebagai hal yang lumrah karena pola serupa telah berulang dari tahun ke tahun. Mereka enggan memanjat keluar dari bulu kelinci tersebut untuk menatap gambaran besar di baliknya dan lebih memilih kesimpulan sederhana bahwa kejanggalan itu hanyalah kesalahan entri data biasa. Terlebih lagi, efisiensi yang ditawarkan teknologi dapat berbalik menjadi bumerang apabila auditor memilih terlelap nyaman di ujung bulu kelinci digitalnya sendiri, sebab ketergantungan buta pada mesin berpotensi melahirkan skandal finansial dengan wajah baru. Pada titik abai itulah skeptisisme profesional sesungguhnya telah mati, dan dari sanalah berbagai skandal keuangan berskala besar kerap kali bermula.
Bukan Sekadar Neraca: Faculty of Wonder untuk Semua Orang
Pembelajaran dari persoalan ini sesungguhnya tidak terbatas pada dunia audit maupun profesi akuntansi semata. Hilangnya skeptisisme dalam kehidupan sehari-hari turut menandakan kemunduran kognitif, sehingga seseorang menjadi jauh lebih rentan terhadap manipulasi narasi, disinformasi digital, maupun relasi yang toksik. Dalam konteks yang lebih luas, kemunduran semacam ini berpotensi mengikis fondasi kepercayaan publik itu sendiri, sebab masyarakat yang terbiasa menerima informasi tanpa verifikasi akan semakin sulit membedakan fakta dari rekayasa, baik dalam laporan keuangan, pemberitaan, maupun percakapan sehari-hari. Padahal, kepercayaan publik semacam itulah yang menjadi alasan utama mengapa profesi seperti akuntan dan auditor terus dibutuhkan, bukan untuk sekadar membubuhkan tanda tangan persetujuan, melainkan untuk secara aktif mempertanyakan apa yang tampak meyakinkan sekalipun. Menjaga faculty of wonder tetap hidup bukan hanya berfungsi sebagai tameng bagi akal sehat, tetapi juga merupakan wujud penghargaan seseorang terhadap kapasitas berpikirnya sendiri sebagai manusia. Bagi mahasiswa akuntansi khususnya, kesadaran semacam ini semestinya mulai ditanamkan sejak bangku kuliah, sebab kompetensi teknis semata tidak akan pernah cukup tanpa disertai keberanian untuk terus bertanya. Pengalaman membaca ulang Sophie’s World mengingatkan saya bahwa kedewasaan sejati bukan berarti berhenti bertanya, melainkan keberanian mempertahankan rasa ingin tahu di tengah rutinitas yang menjemukan.
Skeptisisme sejati, pada akhirnya, bukan sekadar alat kerja seorang auditor, tetapi cara pandang yang menjaga kejernihan akal setiap orang yang enggan tertidur nyaman di dalam bulu kelinci. Baik kelinci itu berbulu nyata maupun berwujud algoritma yang bekerja tanpa henti di layar komputer, prinsipnya tetap sama: kenyamanan berlebihan selalu berisiko melumpuhkan kewaspadaan. Masa depan profesi akuntansi, pada akhirnya, tidak ditentukan oleh secanggih apa teknologi yang digunakan, melainkan oleh sejauh mana manusia di baliknya masih berani mempertanyakan. Pertanyaan yang tersisa kini adalah keberanian setiap individu untuk terus memanjat, bukan justru memilih terlelap. Sebagaimana pernah dituliskan oleh Johann Wolfgang von Goethe dalam Maxims and Reflections, “keraguan tumbuh bersama pengetahuan” sebuah pengingat bahwa semakin dalam kita memahami sesuatu, semestinya semakin jernih pula kesadaran kita untuk terus mempertanyakannya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


