MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan
Selama bertahun-tahun, televisi, keluarga, dan budaya populer terus mengulang anggapan bahwa kartun adalah tontonan anak-anak.

Nayla Arifani
Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
18 Agustus 2026
BandungBergerak –Di tengah masyarakat yang mengaku semakin terbuka terhadap keberagaman selera dan identitas, stigma bahwa kartun hanya pantas dinikmati anak-anak masih bertahan sebagai standar tidak tertulis tentang seperti apa orang dewasa seharusnya bersikap.
“Udah jadi mahasiswa tontonannya masih Upin & Ipin?”
Kalimat itu terdengar ringan. Biasanya diikuti tawa kecil atau komentar yang lebih menghakimi. Lucunya, komentar semacam itu sering datang dari orang-orang terdekat, seolah semua orang sepakat bahwa kedewasaan memiliki daftar syarat yang harus dipenuhi.
Saya mulai menyadari ada yang aneh ketika sedang menonton film animasi di rumah, lalu orang tua saya berkomentar, “Udah kuliah kok masih nonton kartun? Nanti kelihatan kayak anak kecil terus.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa, bahkan dilontarkan tanpa maksud buruk. Namun, sejak saat itu saya bertanya-tanya: mengapa kesukaan terhadap kartun begitu mudah dikaitkan dengan ketidakdewasaan? Mengapa menikmati Upin & Ipin, SpongeBob SquarePants, Chibi Maruko-chan, atau film-film Studio Ghibli seolah menjadi sesuatu yang perlu dibenarkan ketika usia sudah tidak lagi dianggap sebagai usia anak-anak?
Padahal, jika dipikir-pikir, apa sebenarnya yang membuat kartun dianggap hanya pantas untuk anak-anak? Bukankah yang menentukan kedewasaan seseorang adalah cara ia bersikap, bukan daftar tontonan di Youtube atau televisi?
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Memeluk NPC Energy di Tengah Sejuknya Kota Bandung
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Portofolio Menjadi Ukuran Keberhasilan Mahasiswa
MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Menjadi Biasa Kini Terasa Seperti Kegagalan
Dihakimi karena Selera Tontonan
Pertanyaan itu membuat saya mulai memperhatikan bahwa anggapan serupa ternyata tidak hanya datang dari keluarga. Saya beberapa kali mendengar teman yang sebelum memutar kartun saat makan berkata sambil tertawa canggung, “Maaf ya, aku kalau makan suka nonton Upin & Ipin.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyiratkan adanya kekhawatiran akan penilaian orang lain. Seolah-olah menikmati kartun di hadapan orang lain perlu didahului dengan penjelasan agar tidak dianggap kekanak-kanakan atau dihakimi karena selera tontonan.
Fenomena semacam ini ternyata bukan hanya pengalaman pribadi. Penelitian Chandi dan Trehan (2023) mengenai penggemar anime di India menunjukkan adanya fenomena infantilization, yaitu ketika orang dewasa diperlakukan seolah-olah belum dewasa karena kesukaan mereka terhadap animasi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anggapan “animasi adalah tontonan anak-anak” dapat menjadi stereotip yang begitu kuat hingga memengaruhi cara masyarakat memandang para penggemarnya. Meskipun konteks penelitian tersebut berada di India dan berfokus pada anime, fenomenanya terasa cukup dekat dengan pengalaman sehari-hari: seseorang bisa dianggap kekanak-kanakan bahkan sebelum orang lain mengetahui alasan atau makna di balik tontonan yang ia sukai.
Menariknya, stigma ini tetap bertahan meskipun industri animasi telah berkembang jauh melampaui citranya sebagai hiburan anak-anak. Film-film seperti Inside Out, karya-karya Studio Ghibli, hingga serial seperti Bluey dan Arcane mengangkat tema kesehatan mental, kehilangan, keluarga, identitas, bahkan persoalan sosial yang dapat dinikmati dan dimaknai oleh berbagai kelompok usia. Perubahan isi cerita tersebut menunjukkan bahwa animasi sebenarnya tidak memiliki batas usia yang sesederhana “anak-anak” dan “orang dewasa”. Namun, perubahan pada isi cerita ternyata tidak selalu diikuti perubahan cara masyarakat memandang medianya.
Fenomena tersebut mengingatkan saya pada pemikiran filsuf Prancis, Jean Baudrillard. Dalam For a Critique of the Political Economy of the Sign (1981), Baudrillard membahas bagaimana sebuah objek tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga dapat memiliki makna sebagai tanda (sign value). Artinya, sesuatu dapat dinilai bukan hanya berdasarkan kegunaan atau sifat sebenarnya, tetapi juga berdasarkan makna sosial yang melekat padanya (Baudrillard, 1981). Buku tersebut memang secara khusus membahas hubungan antara objek, tanda, konsumsi, dan makna sosial dalam masyarakat modern.
Jika gagasan tersebut ditarik ke persoalan kartun, kartun tidak lagi dipahami hanya sebagai medium yang dapat memuat berbagai jenis cerita untuk berbagai kelompok usia. Kartun telah berubah menjadi simbol masa kanak-kanak. Akibatnya, ketika orang dewasa masih menikmatinya, yang dipersoalkan bukan kualitas ceritanya, melainkan simbol yang dianggap tidak sesuai dengan identitas “orang dewasa”.
Jika ditarik lebih jauh, bukan lagi kartunnya yang menjadi persoalan, melainkan makna yang selama ini kita lekatkan padanya. Selama bertahun-tahun, televisi, keluarga, dan budaya populer terus mengulang anggapan bahwa kartun adalah tontonan anak-anak. Pengulangan tersebut perlahan diterima sebagai sebuah kebenaran, meskipun realitas industri animasi telah banyak berubah. Pada titik inilah pemikiran Baudrillard tentang hyperreality menjadi relevan: representasi atau gambaran yang terus diproduksi dapat terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri (Baudrillard, 1994). Kita akhirnya lebih percaya pada label “kartun untuk anak-anak” daripada kenyataan bahwa animasi dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada stigma sosial. Bagi sebagian orang, khususnya saya sendiri, kartun bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk beristirahat sejenak dari tuntutan kehidupan dewasa. Warna-warna yang cerah, cerita yang sederhana, dan karakter yang sudah akrab sejak kecil menghadirkan rasa nyaman tersendiri yang kini sudah sulit ditemukan dalam rutinitas sehari-hari sebagai orang yang telah beranjak dari usia anak-anak.
Cara Menemukan Rasa Nyaman
Perasaan nyaman tersebut juga dapat dilihat melalui konsep nostalgia. Wildschut, Sedikides, Arndt, dan Routledge (2006) menemukan bahwa pengalaman nostalgia umumnya berkaitan dengan emosi positif dan dapat memiliki fungsi psikologis yang membantu seseorang menghadapi kondisi emosional tertentu. Dengan kata lain, mengingat atau kembali menikmati sesuatu yang memiliki hubungan dengan masa lalu tidak selalu berarti seseorang ingin kembali menjadi anak-anak. Pengalaman tersebut justru dapat menjadi sumber kenyamanan ketika seseorang sedang menghadapi perubahan atau tekanan dalam kehidupannya.
Karena itu, aktivitas menonton kartun bagi orang dewasa bukan semata-mata bentuk dari ketidakdewasaan, melainkan bisa menjadi cara sederhana untuk kembali menemukan rasa nyaman di tengah kompleksitas kehidupan yang semakin bertambah seiring bertambahnya usia. Ada kalanya kita memang hanya ingin makan sambil menonton Upin & Ipin, tertawa melihat tingkah SpongeBob, atau kembali menikmati film yang sudah berkali-kali ditonton. Tidak semua hal yang membuat kita nyaman harus memiliki alasan yang rumit.
Barangkali, yang perlu kita tinggalkan bukanlah kebiasaan menonton kartun, melainkan cara pandang yang terlalu sempit dalam memaknai kedewasaan. Sebab, menjadi dewasa bukan berarti menghapus semua hal yang pernah membawa kita bahagia, melainkan mampu bertanggung jawab atas pilihan hidup tanpa harus kehilangan sisi manusiawi dalam diri.
Jika seseorang masih bisa menjalankan kewajibannya, menghargai orang lain, dan terus bertumbuh, mengapa selera tontonannya harus dijadikan ukuran kedewasaan?
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


