• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Memeluk NPC Energy di Tengah Sejuknya Kota Bandung

MAHASISWA BERSUARA: Memeluk NPC Energy di Tengah Sejuknya Kota Bandung

NPC Energy adalah cara anak muda Bandung menikmati "batu Sisyphus" mereka.Ini bukan kepasrahan, melainkan kedaulatan penuh atas rasa bahagia kita sendiri.

Nayla Andrea Maharani

Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Ilustrasi. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

4 Agustus 2026


BandungBergerak – Coba jujur, berapa kali seminggu FYP TikTok atau Threads kamu lewat konten yang serempak menyuruh “be the main character of your own life”? Narasi ini sempat jadi mindset paling hits di kalangan Gen Z: outfit wajib aesthetic, hustle culture bagai kuda, dan kalau bisa udah punya brand sendiri sebelum umur 25. Ambisi buat bersinar jelas keren banget, tapi belakangan ada plot twist seru di linimasa: lahir istilah NPC Energy.

Buat yang belum familiar, NPC atau Non-Player Character itu karakter figuran di dunia game. Tugas mereka santai di pojok jalan, mengulang dialog yang sama, dan enggak pusing ikut campur quest utama sang pahlawan. Uniknya, fenomena ini rasanya punya chemistry yang pas banget pas nemu ruang geraknya di sudut-sudut Kota Bandung.

Di saat kota megapolitan menuntut warganya buat selalu on-fire dan gila kerja, anak-anak muda di sini punya rhythm uniknya sendiri. Memeluk NPC Energy bukan berarti menyerah, tapi pilihan gaya hidup yang adaptif. Banyak dari kita yang memilih buat enggak terlalu menggebu-gebu mengejar validasi, lebih menjaga ritme kerja demi kesehatan mental, dan melipir ke kedai kopi daerah Cihapit, Pasir Kaliki, atau Dago Atas cuma buat duduk santai sambil melamun ngeliatin hujan. Pertanyaannya: Apakah gaya hidup chill ini tanda kalau generasi kita pasrah? Atau jangan-jangan, ini respons psiko-filosofis yang super cerdas di tengah gila-gilanya tuntutan zaman?

Let’s spill the tea!

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Pendaki Kita Lebih Takut Pasar Setan daripada Hipotermia?
MAHASISWA BERSUARA: Pembatasan Media Sosial bagi Remaja, Sekadar Jalan Pintas
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Logistik Mengalahkan Logika

Mencari Validasi, Berdamai dengan Rutinitas, dan Perlindungan Diri

Kota ini punya daya tarik estetis luar biasa–udaranya adem, jalanannya estetik, dan industri kreatifnya super hidup. Di satu sisi memicu semangat berkarya, tapi di sisi lain bikin kita rawan terjebak Main Character Complex: perasaan wajib kelihatan paling menonjol tiap saat. Dari style thrifting Pasar Lilin sampai tempat nongkrong yang harus hidden gem.

Tanpa sadar, dorongan buat terus kelihatan keren ini sering bikin batin engap. Konten orang lain di layar HP bikin otak kita refleks membandingkan diri. Kondisi ini sejalan dengan Social Comparison Theory dari psikolog Leon Festinger dalam A Theory of Social Comparison Processes (1954), di mana manusia cenderung menilai harganya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Ditambah lagi dengan fenomena FOMO yang menurut Andrew K. Przybylski dalam jurnal Computers in Human Behavior (2013) terbukti memicu kecemasan konstan akibat tekanan media sosial.

Merespons teror validasi ini, filsuf Prancis Albert Camus dalam karyanya Mitos Sisyphus (1942) pernah mengenalkan konsep The Absurd (Absurditas). Camus bilang, manusia selalu sibuk nyari "skenario agung" buat hidupnya. Padahal, realitas dunia ini sangat dinamis dan acak.

Benturan antara ekspektasi tinggi buat jadi "tokoh utama" dengan realitas yang acak-adut inilah yang melahirkan kecemasan eksistensial (angst). Nah, pas Gen Z di Bandung memilih memancarkan NPC Energy, secara enggak langsung mereka lagi mempraktikkan ajaran Camus: paham bahwa hidup enggak harus selalu penuh drama bak klip video musik indie.

Ambisi berlebih bukan cuma bikin cemas, tapi juga memicu burnout. Temuan Deloitte Gen Z and Millennial Survey mencatat lebih dari 40 persen Gen Z secara global mengalami tingkat stres dan kelelahan mental yang tinggi. Pas pikiran terus dipaksa memburu pencapaian, kita kehilangan mindfulness–konsep yang dipopulerkan Jon Kabat-Zinn dalam Full Catastrophe Living (1990) sebagai kemampuan untuk hadir utuh menikmati momen hari ini tanpa rasa bersalah.

Soal berdamai dengan rutinitas harian, Camus memakai analogi Sisyphus yang dikutuk mendorong batu besar ke puncak gunung secara berulang. Camus justru menulis kalimat legendaris: "Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia." Karena begitu Sisyphus menerima kenyataan rutinitasnya tanpa ekspektasi palsu, para dewa enggak bisa lagi menyiksanya pakai harapan konyol.

NPC Energy adalah cara anak muda Bandung menikmati "batu Sisyphus" mereka. Mulai dari kerja remote atau ngantor nine-to-five, pulang menembus macet Jalan Soekarno-Hatta, beli cuanki di pinggir jalan, sampai duduk di taman kota mendengarkan playlist adem. Dalam psikologi klinis, sikap ini dikenal sebagai radical acceptance (penerimaan radikal) dari Marsha Linehan dalam pendekatan Dialectical Behavior Therapy (DBT)–kemampuan menerima kenyataan hidup secara lapang dada. Ini bukan kepasrahan, melainkan kedaulatan penuh atas rasa bahagia kita sendiri.

Dari urusan pekerjaan, pilihan mengambil peran NPC adalah bentuk adaptasi sehat buat memagari diri dari tekanan modern.

Konsep Alienasi (Keterasingan) dari Karl Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 menjelaskan gimana seseorang bisa kehilangan rasa terhubung dengan dirinya saat seluruh energinya disedot demi target pekerjaan. Di kota kreatif seperti Bandung, batas antara waktu pribadi dan kerja sering samar, yang rawan bikin anak muda kelelahan mental.

Dulu, hustle culture berusaha meyakinkan kita kalau mengorbankan jam tidur bakal bikin kita jadi "pemenang". Tapi riset dari Harvard Business Review justru menunjukkan bahwa budaya kerja berlebih terbukti menurunkan kreativitas dan meningkatkan risiko depresi secara signifikan.

Maka, memeluk NPC Energy hadir sebagai langkah penyelamatan diri lewat Quiet Quitting—bekerja proporsional. Saat seseorang memilih jadi "figuran" yang fokus bekerja sesuai jobdesk dan milih pulang teng-go demi bisa chill bareng teman-teman di Jalan Gempol, mereka lagi mempraktikkan healthy boundaries dalam psikologi kerja.

Semua Peran Punya Waktunya Masing-masing

Perpaduan antara lifestyle lokal, kesehatan psikologis, dan fenomena NPC Energy memberikan sudut pandang inklusif: kebahagiaan dan kesuksesan tiap orang itu punya tolok ukur yang beda-beda.

Dunia jelas butuh para pemimpi besar dan pahlawan panggung utama. Tapi di saat yang sama, kota ini juga terasa hangat karena kehadiran orang-orang yang memilih peran biasa: mereka yang menjaga kedai kopi langganan tetap buka, menyiram tanaman di pelataran rumah, ramah menyapa "Mari, A/Teteh", dan menikmati dinginnya malam dengan hati yang lapang.

Kita enggak perlu tertekan oleh standar sukses tunggal. Secara psikologis, memaksakan diri mengikuti standar orang lain justru rentan memicu imposter syndrome seperti yang diteliti Pauline R. Clance dan Suzanne A. Imes (1978). Di tengah dunia yang serba cepat, kemampuan buat tetap chill, menjaga kesehatan mental, dan menikmati secangkir teh warmindo saat sore gerimis adalah sebuah kemenangan psiko-eksistensial yang luar biasa.

Jadi, buat kamu yang hari ini memilih buat jalan pelan-pelan, enggak perlu cemas atau merasa tertinggal. Baik jadi tokoh utama maupun NPC, selama itu bikin batimu tenang dan bahagia, relax, euy. Kamu enggak gagal. Kamu cuma lagi menikmati peranmu dengan bijaksana–menemukan kedamaian sejati di tengah sejuknya Kota Bandung.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//