MAHASISWA BERSUARA: Mengapa Pendaki Kita Lebih Takut Pasar Setan daripada Hipotermia?
Petaka di gunung terjadi akibat ketidaksiapan fisik dan minimnya peralatan, bukan karena kualat oleh ucapan.

Zakki Ahmad Satria
Mahasiswa Psikologi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
17 Juli 2026
BandungBergerak – Bagi sebagian besar pendaki, melakukan perjalanan menuju puncak pada dini hari adalah momen yang paling magis sekaligus mencekam. Di tengah kegelapan, dengan sisa-sisa energi yang sudah menipis dan suhu udara yang menusuk, indra pendengaran manusia sering kali mendadak menjadi sangat sensitif. Gesekan semak atau derik ranting pohon yang patah di kejauhan dengan cepat membuat jantung berdebar.
Jika situasi tersebut terjadi di siang hari yang benderang, logika kita akan dengan mudah menyimpulkannya sebagai aktivitas hewan liar atau sekadar embusan angin. Namun, pada jam tiga pagi, dalam cekaman sunyi dan gelap, pikiran manusia kerap mengalami distorsi. Suara-suara alami alam itu seketika berubah wujud di dalam kepala menjadi sosok makhluk halus atau penunggu gunung.
Mengapa otak kita begitu cepat melompat pada kesimpulan mistis? Jawabannya ada pada kebiasaan yang mengakar di masyarakat kita. Sejak kecil, kita telah hidup dalam lingkungan yang mengglorifikasi hal-hal horor. Kita tumbuh dengan cerita urban legend, tontonan televisi mistis, hingga film horor yang selalu laris manis di bioskop. Kita dididik untuk lebih akrab dengan rupa-rupa hantu daripada literasi sains dasar. Kebiasaan turun-temurun inilah yang tanpa sadar kita bawa di dalam ransel hingga ke puncak gunung.
Imajinasi mistis yang dipupuk sejak kecil ini menjadi jauh lebih aktif dan "siap pakai" saat kita berhadapan dengan situasi mencekam di alam liar. Kondisi psikologis yang rapuh ini kemudian diperparah oleh warisan cerita pendakian yang kerap diulang-ulang: "Jangan sompral (berbicara sembarangan), nanti disasarkan ke pasar setan." Narasi semacam ini telah lama menjadi semacam aturan tak tertulis dalam dunia pendakian di Indonesia.
Namun, sebagai seorang pendaki, ada sebuah kegelisahan yang mengusik: mengapa setiap kali ada peristiwa ganjil atau hilangnya pendaki di gunung, jalan pintas pemikiran kita selalu tertuju pada takhayul? Mengapa kita begitu gemar menyalahkan makhluk gaib ketimbang mengevaluasi kesalahan logis diri sendiri?
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Lembaran Tisu yang Dikemas dengan Dalih Jaga Alam pada Nyatanya Tidak Demikian
MAHASISWA BERSUARA: Mewaspadai Kejahatan Tersembunyi dalam Relasi Personal
MAHASISWA BERSUARA: Dialek Majalengka, Korban Ilusi Kasta Bahasa
Jalan Pintas Emosional
Jika dibedah lebih dalam, fenomena ini sebenarnya memperlihatkan kebiasaan malas kita yang suka mencari kambing hitam saat sedang terdesak atau bingung. Di dunia akademis, ada istilah menarik untuk menggambarkan hal ini, yaitu "God of the Gaps", sebuah kecenderungan manusia untuk memakai penjelasan supranatural demi menutupi celah ketidaktahuannya atas hal-hal yang belum bisa ia jelaskan secara akal sehat.
Pada dasarnya, manusia membenci ketidakpastian. Mengakui sebuah kebodohan atau kesalahan fatal di alam liar merupakan tamparan keras bagi harga diri. Mengakui bahwa seorang teman tersesat karena kita tidak mampu membaca peta atau kompas membutuhkan keberanian untuk disalahkan dan dievaluasi. Sebaliknya, melempar kesalahan pada "gaib pasar setan" adalah jalan pintas emosional yang instan dan menenangkan mental. Takhayul, pada titik ini, berfungsi sebagai pelarian dari rasa malas kita untuk berpikir kritis.
Lebih jauh lagi, pantangan seperti "jangan sompral agar gunung tidak marah" sebenarnya adalah upaya sia-sia manusia untuk "memanusiakan" gunung. Satu hal yang perlu kita sadari secara jernih: alam semesta, termasuk gunung, sejatinya bersifat acuh tak acuh. Gunung itu mekanis, netral, dan tidak memiliki aturan moral seperti kita. Badai akan tetap turun, tebing akan tetap curam, dan suhu ekstrem akan tetap membuat tubuh kedinginan tanpa peduli siapa yang sedang mendakinya. Gunung tidak punya telinga untuk mendengar ucapan santun, tidak pula punya perasaan untuk tersinggung oleh makian.
Namun, karena manusia pada dasarnya gentar menghadapi realitas alam yang liar dan tak tertebak, kita menciptakan aturan-aturan mistis itu. Tujuannya satu: agar gunung yang asing tersebut terasa seolah-olah bisa dijinakkan lewat kesepakatan fiktif di kepala kita. Kita telanjur percaya bahwa dengan bersikap sopan secara lisan, alam otomatis akan membalasnya dengan garansi keselamatan fisik.
Padahal, jika dibongkar lewat logika sebab-akibat yang nyata, petaka di gunung terjadi akibat ketidaksiapan fisik dan minimnya peralatan, bukan karena kualat oleh ucapan. Pendaki yang tersesat umumnya bernasib demikian karena mereka ceroboh tidak membawa headlamp, buta navigasi, atau nekat mendaki tanpa peta. Begitu pula dengan fenomena pendaki yang terjatuh ke jurang atau berhalusinasi.
Secara medis, tubuh yang mengalami kelelahan ekstrem akan membuat pasokan oksigen ke otak menurun drastis. Hal ini memicu hilangnya fokus dan memunculkan bayangan atau suara aneh. Sains kedokteran dengan gamblang mengidentifikasinya sebagai gejala hipoksia (kekurangan oksigen) atau hipotermia (kedinginan ekstrem). Sayangnya, masyarakat kita buru-buru melabelinya sebagai "gangguan jin".
Salah kaprah semacam ini nyatanya benar-benar terjadi di lapangan. Kita bisa melihat kenyataan pahit yang kerap dilaporkan di berbagai gunung populer, termasuk di kawasan Jawa Barat seperti Gunung Cikuray atau Gede Pangrango. Ketika ada seorang pendaki yang tiba-tiba meracau, tatapannya kosong, atau bahkan berteriak tidak jelas di tengah malam yang sangat dingin, apa reaksi pertama rombongannya?
Nalar Logis
Sering kali, kepanikan tidak diarahkan pada pencarian kotak P3K, melainkan pada asumsi bahwa si korban sedang ketempelan atau dirasuki penunggu gunung karena melanggar pantangan. Pernah juga ada kasus nyata yang sempat ramai di pemberitaan tentang seorang pendaki yang kritis di tengah suhu ekstrem, namun rekan-rekannya justru mengiranya sedang kesurupan.
Di sinilah letak bahayanya. Alih-alih segera melakukan pertolongan pertama darurat seperti mengganti pakaian basah korban, memberinya teh hangat, atau memasukkannya ke dalam sleeping bag, orang-orang di sekitarnya malah sibuk memberinya doa pengusir setan. Padahal, menurut ilmu medis, saat tubuh terserang hipotermia berat, otak perlahan kehilangan fungsi logisnya. Orang yang sedang kedinginan parah memang bisa melantur saat bicara hingga berhalusinasi melihat sesuatu yang tidak ada.
Sayangnya, karena nalar logis sudah lebih dulu dikalahkan oleh takhayul, penanganan darurat yang seharusnya sederhana malah jadi berantakan. Korban yang sebenarnya sedang meregang nyawa karena kedinginan dibiarkan tergeletak di alam terbuka demi mengajak ngobrol 'penunggu' yang dianggap merasukinya. Sangat disayangkan melihat bagaimana nyawa bisa melayang begitu saja. Bukan karena alam yang kejam, tapi karena kita masih lebih rajin mencari kambing hitam mistis dibanding mengandalkan akal sehat.
Takhayul pada akhirnya sering kali berubah menjadi tameng pelindung bagi pendaki yang tidak bertanggung jawab. Banyak pendaki pemula merasa telah aman hanya karena mereka sudah mengucapkan "permisi" pada pohon dan batu, lalu dengan santai mengabaikan standar keselamatan baku, seperti membawa jas hujan layak, tenda yang mumpuni, logistik memadai, atau kotak P3K. Mitos secara tragis telah memotong rasa tanggung jawab pribadi manusia atas keselamatannya sendiri.
Keselamatan di atas gunung tidak pernah ditentukan oleh seberapa pandai kita berkompromi dengan mitos, melainkan oleh seberapa matang persiapan fisik kita, seberapa lengkap logistik kita, seberapa terang senter kita, dan seberapa waras otak kita dalam membaca alat navigasi. Sudah saatnya kita berhenti menggunakan cerita hantu dan hal mistis sebagai jalan pintas untuk menutupi kecerobohan kita sendiri di alam liar.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


