• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Lembaran Tisu yang Dikemas dengan Dalih Jaga Alam pada Nyatanya Tidak Demikian

MAHASISWA BERSUARA: Lembaran Tisu yang Dikemas dengan Dalih Jaga Alam pada Nyatanya Tidak Demikian

Tisu digunakan untuk menjaga kebersihan, tetapi juga benda yang turut serta mengeksploitasi alam dan menimbulkan sampah sebagai benda sekali pakai.

Iza Fatihasari

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM). Kawan-kawan bisa mengunjungi media sosialnya di Instagram dengan akun @izafatih27

Di balik narasi hijau yang dijual kemana-mana. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

10 Juli 2026


BandungBergerak – Jika ditanya, “Apa sampah yang paling sering kamu hasilkan?” Kamu mau menjawab dengan dosa apa? Sebagian orang mungkin akan menjawab sampah plastik. Jawaban itu sangat masuk akal dan bahkan secara sadar sering dijumpai, tapi bukan itu yang dimaksud. Pernahkah memperhatikan lembaran tisu yang berserakan? Tisu tersebut adalah bukti jika manusia sering secara tidak sadar telah menghasilkan suatu sampah, padahal niat awalnya hanya untuk membersihkan sesuatu, tetapi pada akhirnya… jadi sampah juga. 

Tisu merupakan benda yang biasanya digunakan manusia untuk mengelap sesuatu dari yang kotor menjadi bersih. Tisu tersebut berbentuk lembaran tipis yang didominasi warna putih, agaknya melambangkan kebersihan atau kesucian. Bahan utama untuk membuat tisu adalah serat selulosa, yaitu serat yang biasanya dijumpai dari pohon-pohon atau tanaman tertentu yang kemudian diolah menjadi bubur kertas dan diolah lagi menjadi lembaran tisu yang sering ditarik seenaknya oleh manusia.

Pernah tidak sih, mengamati tisu yang selalu berserakan di atas meja, di samping piring, di bawah lantai, bahkan segulung tisu di dalam tas. Tangan kotor kena noda, ambil tisu, lalu buang. Ada meja atau tempat duduk yang kotor dan berdebu, ambil tisu, jika meja kursinya sudah bersih tisunya langsung dibuang. Wajah basah setelah cuci muka, ambil tisu, lap, lalu dibuang. Lembaran tisu yang penggunaannya tidak begitu disadari dan berubah menjadi ketergantungan, lambat laun menumpuk dan berubah menjadi sampah.

Setelah menjadi anak kos yang hidup di tengah kota dengan mobilitas tinggi ini, saya merasa tidak bisa lepas dari lembaran tisu. Entah kenapa saat menemukan sesuatu yang kotor, saya langsung mencari tisu. Sebagai anak kos yang seharusnya hemat, membeli tisu adalah sesuatu yang hampir wajib. Terkadang juga heran karena cukup kontras perbedaannya saat saya hidup di rumah yang sangat slow living dengan hidup di perantauan kini. Seminggu sekali saat belanja ke minimarket, opsi yang selalu saya tuju adalah rak tisu. Di sana disediakan banyak sekali paket beli satu gratis satu, beli dua harganya lebih murah, bundling dan promo yang terlalu menggiurkan untuk tidak saya ambil dan masukkan ke dalam keranjang belanja.

Dua tahun lalu, saat masih tinggal di rumah, setidaknya satu bungkus tisu dengan isi 200 lembar bisa dihabiskan dalam kurun waktu satu bulan. Sekarang, sebagai anak kos yang penginnya hidup serba instan dan sat-set, tisu yang sering saya beli yang beli dua harganya sepuluh ribu lebih sedikit itu bisa habis setidaknya dalam satu minggu. Satu bulan versus satu minggu. Satu bungkus versus dua bungkus. Jujur, saya tercengang saat tersadar. Sebersih apa hidup para anak kos dan manusia-manusia yang sangat ketergantungan dengan tisu ini. Apakah benar bersih, atau malah menjadi penyumbang sampah terbesar setiap harinya.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Cuaca Ekstrem Membuat Tubuh Saya Rentan Sakit
MAHASISWA BERSUARA: Pengusiran Massal Kelas Menengah dari Panggung Kesejahteraan
MAHASISWA BERSUARA: Mendorong Kesiapan Infrastruktur Pelayanan Publik dalam Perlindungan Korban Kekerasan Seksual

Slogan Jaga Bumi

Menariknya di sini, tisu-tisu yang dijual di luaran sana, khususnya yang pernah saya beli, selalu saja ditemukan tulisan “virgin pulp” di kemasan belakang. Dan baru-baru ini, saya mencoba Googling satu persatu istilah yang ada pada kemasan tisu yang paling best seller di minimarket tersebut. Di sana terdapat tulisan save the world, recyclable, non bleaching, 100% virgin pulp. Sekilas mungkin tidak ada yang aneh, namun jika dipahami ulang, ternyata terdapat fakta unik. Save the world artinya jaga bumi, contoh sederhananya bisa dengan tidak mencemari lingkungan sekitar dan turut serta menjaga alam. Recyclable artinya dapat didaur ulang, jika dilihat secara logika, limbah tisu yang sudah terkontaminasi tidak dapat digunakan lagi karena ditakutkan menimbulkan penyakit, mungkin daur ulang di sini hanya dimaksudkan untuk kemasannya saja. Non bleaching artinya tanpa melalui proses pemutihan. Dan 100% virgin pulp artinya bahan baku yang digunakan seratus persen dari serat kayu (serat selulosa) yang baru, bukan daur ulang, dan serat kayu tersebut didapatkan dari… tentu saja dengan penebangan pohon.

Fakta unik dari slogan save the world dan virgin pulp ini sebenarnya sangat kontradiktif. Herannya, saya baru menyadari keunikan yang mendekati kejanggalan ini. Padahal sudah jelas-jelas tulisan yang kontradiktif tersebut tertulis dengan sangat rapi di kemasannya. Dari sebuah produk yang menggaungkan jagalah bumi, cintailah bumi, rawatlah bumi, dan apalah itu, ternyata juga merupakan produk yang bahan bakunya saja terbentuk dari hasil mengeksploitasi bumi. Sebuah brand yang mengklaim produknya menggaungkan “jagalah bumi” ternyata masih saja sama, tetap bergantung pada penebangan pohon sebagai bahan baku produksinya. Di sinilah letak kejanggalan yang sering luput disadari konsumen.

Konsumen seperti saya ini merasa “sok keren” karena telah membeli produk yang kelihatannya ramah lingkungan dengan harga yang ramah juga bagi kantong anak kos. Padahal kenyataannya memang hanya kelihatannya saja. Tisu tersebut bukan benar-benar benda yang ramah lingkungan dan digunakan untuk menjaga kebersihan, tetapi juga benda yang turut serta mengeksploitasi alam dan menimbulkan sampah sekali pakai. Di balik brand-brand yang mengklaim save the world yang tercetak rapi pada bungkus tisu, terselip fakta 100% virgin pulp yang menjadi kontradiktif dalam menggambarkan bagaimana kepedulian lingkungan kerap sekali hadir dalam kemasan saja, bukan sepenuhnya dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Pantas saja ditulis dengan ukuran yang mini.

Penggunaan tisu berlebihan yang pada akhirnya berubah menjadi sampah sebenarnya sangat mengganggu keseimbangan lingkungan. Alam menjadi tidak stabil karena ekosistemnya terganggu, pohon-pohon yang ditanam sudah ditargetkan sebagai bahan baku pulp yang digunakan untuk membuat tisu, tahan yang dipaksa memproduksi ribuan pohon dan kemudian ditebang untuk membuat tisu secara terus menerus juga mengalami gangguan pada unsur haranya, dan bahkan cara menguraikan sampah tisu tersebut juga menjadi pekerjaan yang lagi-lagi menyulitkan alam.

Eksploitasi Alam

Di Indonesia, pohon-pohon yang sering dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan tisu adalah pohon ekaliptus, akasia, dan pinus. Pohon-pohon tersebut memerlukan waktu yang lumayan untuk bertumbuh dan siap diproses. Menurut sumber yang saya baca, pohon ekaliptus memerlukan waktu kisaran lima sampai delapan tahun untuk siap dipanen, pohon akasia memerlukan waktu kisaran enam hingga delapan tahun, sedangkan pohon pinus memerlukan waktu lima belas hingga tiga puluh tahun untuk siap dipanen. Lama! Bayangkan berapa banyak tanah yang dieksploitasi untuk menanam pohon-pohon tersebut di setiap tahunnya dan berapa banyak pohon yang ditebang demi keperluan memproduksi tisu. Bayangkan juga bagaimana para pekerja yang memperlakukan alam untuk brand-nya, apakah dengan penuh kehati-hatian, ataukah dengan cara yang sadis dengan melukai bumi ini.

Sebagai konsumen yang terima jadi, tisu yang sudah dibeli itu digunakan dengan sukarela, setelah dipakai lalu dibuang. Bahan bakunya yang harus diproduksi selama minimal lima tahun tersebut hanya digunakan selama beberapa detik, lalu masuk kembali ke keranjang sampah. Bahkan tisu yang kelihatannya lembut, tipis, dan mudah hancur tersebut juga memerlukan waktu untuk terurai. Menurut sumber yang saya baca, tisu kering yang biasanya dijumpai di minimarket dengan promonya yang menggiurkan tersebut dapat terurai dalam waktu dua hingga enam minggu. Namun, jika tisu yang telah menjadi sampah tersebut tidak diproses dengan benar, penguraiannya juga akan terhambat menjadi beberapa bulan bahkan tahunan.

Dan pada akhirnya, tisu yang awalnya digunakan untuk menjaga kebersihan, tisu yang branding-nya jaga alam jaga bumi, hingga tisu yang sudah menjadi kebutuhan dan ketergantungan manusia, akhirnya menjadi sebuah sampah. Sampah yang tidak pernah disadari. Bukan hanya menjadi sampah, tetapi juga bahan bakunya dari hasil mengeksploitasi bumi, hingga proses menguraikannya juga memerlukan waktu. Apakah ini termasuk dosa manusia yang dilakukan tanpa kesadaran?

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//