• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Cuaca Ekstrem Membuat Tubuh Saya Rentan Sakit

MAHASISWA BERSUARA: Cuaca Ekstrem Membuat Tubuh Saya Rentan Sakit

Masyarakat, korporasi, dan pemerintah harus mengambil peran untuk merawat dan memperbaiki bumi sebelum cuaca ekstrem yang terjadi saat ini menjadi lebih parah.

Ridwan Maulana

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ilustrasi. Eksploitasi alam yang berlebihan memicu krisis iklim. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

3 Juli 2026


BandungBergerak – Yogyakarta, mungkin juga beberapa daerah lain mengalami hal serupa. Siang hari matahari begitu terik menyengat sampai ke ubun-ubun, sore hari sering kali mendung, dan malam sering kali hawanya dingin membuat badan saya harus pakai selimut ketika tidur. 

Rupanya iklim sudah tidak bisa bersahabat lagi dengan manusia sehingga tidak bisa diprediksi kapan hujan dan kapan kemarau. Hitungan bulan yang seharusnya kemarau justru kadang-kadang malah hujan. Begitu juga sebaliknya. Kejadian itu tidak terjadi sekali dua kali, tetapi sering. Kondisi tersebut membuat manusia harus beradaptasi. Dan tanpa kita sadari telah menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang biasa. Padahal kejadian itu akibat krisis iklim. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut perubahan iklim menghadirkan ancaman mendasar bagi kesehatan manusia. Perubahan iklim memengaruhi lingkungan fisik serta aspek sistem alam dan manusia, termasuk kondisi sosial, ekonomi, serta fungsi sistem kesehatan. Bahaya cuaca dan iklim ini memengaruhi kesehatan secara langsung dan tidak langsung, meningkatkan risiko kematian, penyakit tidak menular, kemunculan dan penyebaran penyakit menular, dan keadaan darurat kesehatan.

Krisis iklim yang kian parah memengaruhi kondisi tubuh manusia dalam melakukan aktivitas. Dilansir dari Radar Jogja , suhu udara maksimum di sejumlah wilayah Jawa, termasuk Jogja, tercatat mencapai kisaran 32-35 derajat Celsius, bahkan mendekati 37 derajat di daerah sekitar. Fenomena ini disertai hilangnya hujan secara signifikan yang membuat udara terasa kering dan gerah, terutama di siang hari. 

Kondisi panas ekstrem tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman tetapi menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan ahli kesehatan. Suhu udara yang mencapai lebih dari 35°C setiap harinya memicu berbagai masalah kesehatan serius seperti: risiko kesehatan akibat cuaca panas, dampak pada kualitas udara, dan pengaruh terhadap pertanian dan lingkungan.

Kegiatan masyarakat seperti bertani yang mengandalkan kebaikan alam harus menanggung risikonya. Gagal panen salah satu contohnya. Masyarakat yang berprofesi petani sering kali mengalami kerugian saat panen. Pasalnya, hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi. Saat cuaca sulit diprediksi, petani akan kehilangan kepastian musim tanam. Ketidakpastian itu membuat harga pangan mengalami kenaikan bahkan dapat mengurangi ketersediaan bahan makanan. 

Namun sayangnya, peristiwa itu tidak pernah betul-betul diperhatikan oleh pemerintah. Bahkan pemerintah sering kali abai dan tidak peduli terhadap apa yang menjadi kebutuhan petani. Pemerintah hanya memberikan solusi di permukaan yang tidak sebetulnya tidak pernah menyelesaikan akar permasalahan. 

Mirisnya, pemerintah justru “pelaku” kerusakan ekosistem dan krisis iklim. Pemerintah melalui kebijakan dan regulasi buruknya membuat peraturan yang “membolehkan” merusak alam. Alih fungsi lahan, pertambangan, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) yang justru tidak ramah lingkungan. Pemerintah yang seharusnya peduli dan membuat peraturan yang berpihak terhadap alam dan masyarakat, justru malah sebaliknya: abai, korup, dan eksploitatif. 

Jika kita tilik dan baca secara lebih dalam, ternyata kerusakan alam dan krisis iklim tidak hanya berpengaruh terhadap tumbuhan saja, melainkan juga manusia sebagai penghuni bumi. Namun lagi-lagi, hal itu masih dianggap biasa dan pemerintah membuat statement untuk menenangkan masyarakat adalah dengan menganggap bahwa krisis iklim terjadi karena “kondisi alam (takdir) bukan karena aktivitas ekstraktif manusia”. Pemerintah justru mengkambinghitamkan alam. Miris.  

Pemerintah seharusnya mau belajar banyak terhadap masyarakat adat yang punya cara tersendiri hasil warisan dari nenek moyang dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Sebelum teknologi canggih hadir yang digunakan untuk merusak alam, nenek moyang masyarakat adat menganggap alam memiliki kedudukan yang setara dengan manusia (ekosentrisme). Hari ini, pandangan tersebut justru sangat relevan untuk kita renungkan, pikirkan, dan implementasikan dalam kehidupan ini. 

Masyarakat adat dan komunitas lokal misalnya, mereka telah diakui memiliki tradisi panjang dalam mengelola sumber daya alam tanpa harus mengeksploitasinya. Dengan begitu, alam akan tetap terjaga kelestariannya sehingga dapat diwariskan sampai hari ini. Keberhasilan itu tidak dapat dipisahkan dari pandangan bahwa manusia dan alam memiliki derajat dan kedudukan yang sama dalam kehidupan ini. Sehingga, manusia selain memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tetapi juga harus merawat dan melestarikannya supaya ekosistemnya tetap terjaga. 

Bayangkan jika manusia memiliki pandangan antroposentrisme terhadap alam, manusia bakal mengeksploitasi alam sesukanya demi memenuhi hasratnya. Alam dengan sendirinya akan murka sehingga akan terjadi bencana atau saya menyebutnya sebagai mempercepat terjadinya kiamat.  

Sayangnya, pemerintah cenderung menyalahkan alam tanpa menyadari bahwa alam sebetulnya akan baik-baik saja jika tidak ada populasi manusia di dalamnya. Kesalahan paradigma ini sebetulnya yang membuat kita (masyarakat) secara tidak langsung turut mewajarkan kondisi ini. Sebagai sesama penghuni bumi seharusnya pemerintah segera sadar bahwa krisis iklim yang terjadi saat ini memengaruhi segala hal: politik, ekonomi, psikologis, dan kesehatan masyarakat. 

Dengan kondisi seperti itu, masyarakat kiwari, Gen Z–saya–menjadi rentan sekali terserang penyakit. Cuaca yang sangat terik saat siang hari menyebabkan tubuh saya lebih rentan terkena infeksi saluran pernafasan, flu, atau penyakit berbahaya lainnya. Cuaca ekstrem akibat krisis iklim membuat tubuh saya rentan sakit. 

WHO juga menjelaskan bahwa 37 persen kematian akibat panas disebabkan oleh perubahan iklim yang diinduksi manusia. Kematian akibat panas di kalangan mereka yang berusia di atas 65 tahun telah meningkat sebesar 70 persen dalam dua dekade. Pada tahun 2020, 98 juta lebih banyak orang mengalami kerawanan pangan dibandingkan dengan rata-rata tahun 1981–2010. WHO memperkirakan secara konservatif akan ada tambahan 250.000 kematian setiap tahunnya pada tahun 2030-an akibat dampak perubahan iklim terhadap penyakit seperti malaria dan banjir pesisir. 

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Mengurai Perubahan Iklim dalam Perspektif Sistem Produksi dan Kesadaran Ekologis
MAHASISWA BERSUARA: Saat Plastik Menjadi Hijau, Benarkah Bioplastik Ramah Lingkungan?
MAHASISWA BERSUARA: Banjir Bandung Bukan Bencana Alam

Gen Z Menjadi Korban 

Syahdan, Gen Z dapat dikatakan sebagai generasi yang menerima warisan paling berat akibat dari terjadinya krisis iklim. Gen Z dilahirkan saat bumi mengalami kerusakan yang paling signifikan akibat eksploitasi s80umber daya alam yang terjadi selama puluhan tahun ke belakang. Akibat dari itu semua, Gen Z harus menanggung ketidakpastian masa depan. 

Situasi di atas secara tidak langsung telah menempatkan Gen Z dalam posisi tidak adil. Pasalnya, Gen Z tidak menjadi aktor utama yang menyebabkan kerusakan lingkungan tetapi justru dipaksa harus bertanggung jawab untuk memperbaiki dan merawat bumi agar layak dihuni untuk generasi berikutnya. 

Jika kita lihat, data hasil survei Kompas.id menjelaskan bahwa 80 persen responden dari total 446 mahasiswa di Australia pada September 2021 dan April 2022 merasa cemas akibat perubahan iklim yang terjadi begitu signifikan. Kondisi itu bisa disebut sebagai eco anxiety, yaitu kondisi di mana seseorang mengalami kecemasan akibat kerusakan lingkungan yang berdampak buruk bagi kehidupan. Kondisi itu muncul saat seseorang mengamati dampak perubahan iklim yang mana tampaknya tidak bisa terelakkan dan berakibat pada generasi berikutnya.

Selain itu, perubahan iklim secara drastis memengaruhi tingkat psikologis Gen Z. Pasalnya Gen Z dipaksa untuk kuat dan mampu bertahan menghadapi situasi yang sangat berat ini. Kerusakan ekologi dan ketidakberimbangan ekosistem tentu membawa pengaruh ke dalam segala hal. Salah satunya adalah kesehatan. Aneka macam jenis obat turut ditawarkan agar tubuh manusia dapat beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah-ubah. 

Salah satunya adalah produk obat kesehatan kulit. Tubuh kita, dipaksa bertahan menghadapi cuaca ekstrem dengan tawaran aneka macam jenis produk kesehatan kulit yang harganya semakin mahal sesuai dengan jenisnya. 

Padahal, yang sebenarnya yang seharusnya dihentikan adalah perilaku eksploitasi alam yang dapat menambah kerusakan ekosistem. Pertambangan, pembabatan hutan, gas rumah kaca, dan perilaku lainnya yang dapat merusak alam. Perilaku-perilaku macam itu yang seharusnya diberhentikan melalui peraturan dan kebijakan pemerintah dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan demi anak cucu yang akan datang.

Pemerintah seharusnya lebih punya komitmen untuk betul-betul mengupayakan transisi energi bersih, bukan hanya dalam bentuk pidato dan kebijakan yang jauh dari realitas. Karena sudah saatnya pemerintah mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang ternyata berkontribusi besar dalam menghasilkan gas rumah kaca. Transisi energi bersih dan terbarukan menjadi penting dilakukan saat ini sebelum bumi mengalami kerusakan yang lebih parah dan supaya generasi mendatang tidak mewarisi bumi yang semakin rusak.

The Jeblogs, band yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah dalam lagunya mengatakan:
Apa salah kami / Kau wariskan tanah mati / Gelombang panas ini / Mengubah surga menjadi / Lautan api / Hangus terbakar.

Bumi itu ibarat surga bagi makhluk ciptaan Tuhan. Dengan begitu, seharusnya manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dapat menjaga dan melestarikannya demi keberlangsungan hidup bersama. Sungguh berdosa rasanya apabila manusia yang hidup hari ini justru mewariskan bumi yang rusak bagi generasi mendatang. 

Jadi, apakah kewajiban memperbaiki iklim hanya tanggung jawab Gen Z? 

Padahal krisis iklim yang terjadi saat ini bukan warisan yang diciptakan oleh Gen Z. Mereka hanyalah korban dari generasi sebelumnya. Maka, kewajiban memperbaiki dan melestarikan kembali ekosistem bumi yang sudah rusak seharusnya tidak hanya dibebankan kepada satu generasi saja.

Masyarakat, korporasi, dan pemerintah khususnya harus segera mengambil peran dalam upaya merawat dan memperbaiki bumi sebelum cuaca ekstrem yang terjadi saat ini menjadi lebih parah. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia berpotensi tenggelam pada tahun 2050, mengancam kehidupan sekitar 42 juta penduduk di wilayah pesisir rendah.

Kondisi di atas membuat kita–saya–akan menjadi manusia pesakitan. Dan kita hanya akan mewariskan bencana bagi generasi mendatang.

 

***

*Kawan-kawan bisa membaca lebih lanjut tulisan mengenai sejarah pergerakan nasional melalui tautan berikut ini

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//