• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Mengurai Perubahan Iklim dalam Perspektif Sistem Produksi dan Kesadaran Ekologis

MAHASISWA BERSUARA: Mengurai Perubahan Iklim dalam Perspektif Sistem Produksi dan Kesadaran Ekologis

Perubahan iklim adalah hasil dari akumulasi keputusan manusia dalam sistem yang kompleks dan saling terhubung.

Ernest Delvino Dermawan dan Jibrael John Howard Bistolen

Mahasiswa Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Ilustrasi. Perubahan iklim terjadi karena aktivitas tidak ramah lingkungan yang dilakukan manusia. (Ilustrator: Alfonsus Ontrano/BandungBergerak).

27 April 2026


BandungBergerak – Perubahan iklim tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai isu lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari hari. Ia merupakan konsekuensi langsung dari cara manusia membangun dan mengelola sistem hidupnya, terutama dalam aktivitas produksi dan konsumsi. Secara ilmiah, perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang dalam pola temperatur dan cuaca global yang dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer (IPCC, 2021). Namun di balik definisi tersebut, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana cara berpikir manusia modern justru menjadi akar dari krisis ini.

Sejak revolusi industri, manusia berhasil menciptakan sistem produksi yang sangat efisien dan terstruktur. Energi berbasis fosil memungkinkan percepatan pertumbuhan ekonomi secara masif. Produksi menjadi lebih cepat, biaya dapat ditekan, dan distribusi semakin luas. Dalam banyak hal, ini dianggap sebagai keberhasilan besar. Namun, keberhasilan tersebut menyimpan konsekuensi yang jarang diperhitungkan secara utuh. Emisi karbon terus meningkat, dan suhu rata-rata bumi telah naik sekitar 1,1 derajat Celsius dibandingkan era pra industri (IPCC, 2021). Kenaikan ini memicu berbagai fenomena seperti cuaca ekstrem, perubahan pola hujan, serta meningkatnya frekuensi bencana alam.

Masalah utama tidak terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara manusia mendefinisikan efisiensi dan keberhasilan. Sistem produksi modern cenderung mengukur keberhasilan berdasarkan output yang tinggi dengan biaya serendah mungkin. Pendekatan ini tampak rasional, tetapi mengabaikan dampak eksternal yang tidak masuk dalam perhitungan ekonomi. Kerusakan lingkungan, pencemaran udara, dan degradasi ekosistem sering kali dianggap sebagai konsekuensi yang “tidak terlihat”.

Dalam kajian ekonomi lingkungan, kondisi ini dikenal sebagai eksternalitas, yaitu biaya yang ditanggung oleh pihak lain di luar sistem produksi (Stern, 2007). Contoh nyata dapat dilihat pada industri kelapa sawit di Indonesia. Permintaan global yang tinggi mendorong ekspansi lahan secara besar besaran, sering kali melalui deforestasi dan pembakaran hutan. Dari perspektif ekonomi, langkah ini meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Namun dari sisi ekologis, dampaknya sangat besar. Hutan tropis yang sebelumnya berfungsi sebagai penyerap karbon berubah menjadi sumber emisi. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dan deforestasi menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen emisi gas rumah kaca global (IPCC, 2022). Ironisnya, praktik ini masih terus berlangsung dengan alasan kebutuhan ekonomi, seolah tidak ada alternatif lain yang lebih berkelanjutan. Dampak dari aktivitas tersebut tidak berhenti pada tingkat lokal. Emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer berkontribusi terhadap pemanasan global secara keseluruhan. Salah satu konsekuensi paling nyata adalah mencairnya es di wilayah kutub. Studi menunjukkan bahwa lapisan es di Arktik mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade terakhir akibat peningkatan suhu global (Serreze & Meier, 2019). Ketika es mencair, permukaan laut meningkat dan menciptakan ancaman serius bagi wilayah pesisir di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dengan demikian, aktivitas produksi di satu wilayah dapat memicu dampak yang melintasi batas geografis dan mempengaruhi sistem bumi secara global.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Menyoal Iklim yang Pelik
MAHASISWA BERSUARA: Bencana Alam dan Logika Busuk yang Tampak Waras
MAHASISWA BERSUARA: Terburu-buru Menjadi Hijau, Tergesa-gesa Mengabaikan Alam

Kompleksitas Sistem Global

Keterkaitan ini menunjukkan bahwa sistem yang dibangun manusia bersifat saling terhubung. Namun, kesadaran akan keterhubungan tersebut sering kali tidak diikuti oleh perubahan nyata dalam praktik. Banyak pihak masih membicarakan keberlanjutan, tetapi tidak benar-benar mengubah cara kerja yang ada. Istilah seperti ramah lingkungan atau green industry sering digunakan, tetapi dalam banyak kasus hanya menjadi strategi komunikasi, bukan transformasi sistemik. Di titik ini, kritik perlu disampaikan secara jujur. Ada kecenderungan untuk mempertahankan sistem yang sama sambil berharap hasil yang berbeda. Pendekatan semacam ini jelas tidak cukup. Selama logika utama masih berfokus pada eksploitasi sumber daya tanpa batas, maka perubahan iklim hanya akan terus memburuk.

Upaya perbaikan yang bersifat kosmetik hanya akan memperlambat dampak, bukan menyelesaikan akar masalah. Permasalahan ini juga menunjukkan bahwa pendekatan teknis saja tidak cukup. Diperlukan perubahan cara pandang terhadap hubungan antara manusia dan alam. Alam tidak dapat terus diposisikan sebagai objek yang sepenuhnya dapat dikendalikan. Dalam perspektif ekologis, manusia adalah bagian dari sistem yang lebih besar, bukan entitas yang terpisah. Ketika keseimbangan ini terganggu, konsekuensinya akan kembali dirasakan oleh manusia itu sendiri dalam berbagai bentuk krisis.

Kompleksitas sistem global turut memperburuk situasi. Dalam rantai produksi yang panjang dan abstrak, tanggung jawab menjadi tersebar. Individu sering kali hanya memahami sebagian kecil dari keseluruhan proses. Hal ini menciptakan jarak antara tindakan dan dampaknya. Banyak keputusan diambil tanpa mempertimbangkan implikasi jangka panjang.

Pada akhirnya, tidak ada pihak yang merasa sepenuhnya bertanggung jawab, meskipun dampak yang dihasilkan bersifat kolektif. Namun, perubahan tidak harus selalu dimulai dari skala besar. Kesadaran individu tetap memiliki peran penting. Cara berpikir yang lebih kritis terhadap konsep efisiensi dan keberhasilan dapat menjadi titik awal. Pertanyaan sederhana seperti untuk siapa suatu sistem dioptimalkan dan apa dampaknya terhadap lingkungan dapat membuka perspektif baru. Tanpa refleksi semacam ini, upaya yang dilakukan hanya akan bersifat permukaan.

Pada akhirnya, perubahan iklim merupakan hasil dari akumulasi keputusan manusia dalam jangka panjang. Ia bukan fenomena yang muncul secara tiba-tiba, melainkan konsekuensi dari pola pikir dan praktik yang terus diulang. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak dapat hanya bersifat teknis, tetapi juga harus menyentuh dimensi nilai dan kesadaran. Jika cara berpikir yang sama terus dipertahankan, maka berbagai upaya yang dilakukan hanya akan menjadi penyesuaian kecil dalam sistem yang tetap bermasalah. Sebaliknya, dengan keberanian untuk mengevaluasi ulang cara manusia membangun sistemnya, terdapat peluang untuk menciptakan model yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan kehidupan secara menyeluruh.

Solusi Perubahan Iklim Harus Menyeluruh

Merujuk pada International Journal of Innovative Psychology & Social Development 13 (3):102-111, July-Sept, 2025 (Systems Thinking in Industrial Ecology: Approaches and Best Practices) juga memperkuat argumen sebelumnya. Jika melihat pembahasan di atas dan dikaitkan dengan pendekatan systems thinking dalam industrial ecology, keduanya sebenarnya saling memperkuat argumen bahwa perubahan iklim merupakan konsekuensi dari cara manusia membangun sistem produksi yang tidak holistik.

Dijelaskan bahwa, perubahan iklim muncul dari sistem produksi yang mengejar efisiensi melalui output tinggi dan biaya rendah, tetapi mengabaikan dampak eksternal seperti kerusakan lingkungan dan emisi karbon . Perspektif ini menjadi semakin kuat ketika dikaitkan dengan systems thinking, yang menekankan bahwa sistem industri tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan sebagai bagian dari jaringan yang saling terhubung dengan lingkungan dan sistem sosial. Dengan kata lain, apa yang dianggap sebagai “efisiensi” dalam sistem saat ini sebenarnya hanya efisiensi semu, karena tidak mempertimbangkan dampak yang muncul di bagian lain dari sistem, termasuk ekosistem global. Selain itu, juga dijelaskan bahwa aktivitas produksi di satu wilayah dapat memicu dampak global, seperti pemanasan global dan kenaikan permukaan laut. Hal ini sangat sejalan dengan konsep interconnectivity dan feedback loop dalam systems thinking, di mana setiap tindakan dalam sistem akan menghasilkan efek berantai yang sering kali tidak langsung terlihat. Pendekatan ini membantu menjelaskan mengapa eksternalitas yang disebutkan sebelumnya bukan sekadar “dampak sampingan”, tetapi merupakan bagian integral dari sistem yang selama ini diabaikan. Dengan demikian, masalah perubahan iklim bukan hanya soal perilaku individu atau kebijakan lokal, tetapi merupakan hasil dari interaksi kompleks dalam sistem global yang saling bergantung.

Selanjutnya, kritik dalam pembahasan mengenai greenwashing atau sustainability yang hanya bersifat kosmetik juga dapat diperkuat melalui perspektif industrial ecology yang menolak pendekatan “end-of-pipe” dan mendorong perubahan sistemik sejak tahap desain. Systems thinking menunjukkan bahwa solusi parsial tidak akan efektif karena tidak menyentuh akar masalah yang berada pada struktur sistem itu sendiri. Oleh karena itu, gagasan dalam pembahasan bahwa perubahan tidak cukup hanya teknis, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang, menjadi sangat relevan. Namun, dari sudut pandang systems thinking, perubahan mindset tersebut harus diiringi dengan transformasi sistem produksi menuju model yang lebih sirkular, seperti closed-loop systems dan industrial symbiosis, di mana limbah tidak lagi dianggap sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari siklus yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, kedua perspektif ini sama-sama menegaskan bahwa perubahan iklim adalah hasil dari akumulasi keputusan dalam sistem yang kompleks dan saling terhubung. Jurnal awal (IPCC, 2021) memberikan kritik pada level konseptual dan kesadaran manusia, sementara systems thinking memberikan kerangka analisis untuk memahami bagaimana sistem tersebut bekerja dan bagaimana seharusnya diubah. Dengan menggabungkan keduanya, dapat disimpulkan bahwa solusi terhadap perubahan iklim harus bersifat menyeluruh, mencakup perubahan cara berpikir, desain sistem produksi, serta hubungan antara manusia dan lingkungan, sehingga tidak hanya menciptakan efisiensi ekonomi, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//