• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Saat Plastik Menjadi Hijau, Benarkah Bioplastik Ramah Lingkungan?

MAHASISWA BERSUARA: Saat Plastik Menjadi Hijau, Benarkah Bioplastik Ramah Lingkungan?

Di balik citra hijaunya, bioplastik masih menyimpan berbagai persoalan yang jarang dibicarakan secara serius.

Selina Purnomo

Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung yang tertarik pada isu lingkungan dan keberlanjutan.

Ilustrasi sampah plastik. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

5 Juni 2026


BandungBergerak – Label “eco-friendly” membuat bioplastik semakin populer di tengah masyarakat. Namun, di balik citra hijaunya, benarkah bioplastik benar-benar mampu menyelesaikan persoalan sampah plastik?

Di banyak supermarket atau kedai minuman hari ini, label “eco-friendly” mulai menjadi daya tarik baru. Sedotan berbahan tumbuhan, kantong belanja biodegradable, hingga kemasan makanan berbasis pati dipromosikan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik biasa. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, bioplastik muncul dengan citra yang sangat menjanjikan, plastik yang dianggap lebih aman bagi bumi karena dapat terurai secara alami.

Harapan terhadap bioplastik memang bukan tanpa alasan. Persoalan sampah di Indonesia masih jauh dari kata selesai. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (2025) menunjukkan bahwa sekitar 109 ribu ton sampah per hari di Indonesia masih belum terkelola dengan baik. Tempat pembuangan akhir semakin penuh, sementara plastik sekali pakai tetap digunakan dalam jumlah besar setiap hari. Menurut laporan United Nations Environment Programme (2015), plastik konvensional dapat membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai sehingga terus menumpuk di tanah, sungai, maupun laut. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran bioplastik terdengar seperti jawaban yang selama ini dicari.

Bioplastik sendiri umumnya dibuat dari bahan alami seperti jagung, singkong, tebu, atau pati lainnya. Karena berasal dari bahan nabati, bioplastik sering dianggap lebih mudah terurai dibandingkan plastik berbahan dasar minyak bumi. Masalahnya, istilah “ramah lingkungan” sering membuat masyarakat melihat bioplastik secara terlalu sederhana. Banyak orang menganggap bahwa semua produk berlabel “bio” pasti aman bagi lingkungan, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di balik citra hijaunya, bioplastik masih menyimpan berbagai persoalan yang jarang dibicarakan secara serius. Mulai dari proses produksinya yang tetap menghasilkan emisi karbon, kebutuhan lahan yang besar, penguraiannya yang tidak selalu efektif di alam, hingga sistem pengelolaan limbah yang belum siap mendukung penggunaannya secara luas.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Rebottle Campus, Cara Sederhana Mengurangi Sampah Plastik di Lingkungan Kampus
MAHASISWA BERSUARA: Pengakuan pada Becak di Bandung Berhenti Bersamaan dengan Matinya Pajak Kendaraan Mereka
MAHASISWA BERSUARA: Melawan Gastrocolonialism, Meninjau Food Estate di Papua dan Pentingnya Hutan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan

Plastik Hijau Tetap Menghasilkan Jejak Karbon

Salah satu hal yang sering luput dari pembahasan adalah proses produksi bioplastik itu sendiri. Banyak orang membayangkan bahwa karena bahan bakunya berasal dari tumbuhan, maka seluruh proses pembuatannya otomatis bersih dan bebas polusi. Padahal, produksi bioplastik tetap melibatkan proses industri yang membutuhkan energi, transportasi, dan pengolahan bahan baku dalam jumlah besar.

Emisi karbon dari bioplastik memang cenderung lebih rendah dibandingkan plastik konvensional, tetapi bukan berarti bebas emisi. Menurut penelitian European Bioplastics (2024), proses produksi bioplastik tetap menghasilkan jejak karbon karena melibatkan energi, transportasi, serta pengolahan bahan baku dalam skala industri. Dalam proses produksinya, bahan baku tetap harus ditanam, dipanen, diolah, lalu didistribusikan ke berbagai tempat. Semua tahapan tersebut tetap menghasilkan dampak lingkungan yang tidak sedikit.

Selain itu, bahan baku bioplastik juga membutuhkan lahan pertanian yang luas. Jika produksi bioplastik dilakukan dalam skala besar, kebutuhan terhadap jagung, singkong, atau tebu tentu akan meningkat. Persoalannya, lahan pertanian tidak hanya digunakan untuk kebutuhan industri, tetapi juga untuk pangan. Menurut laporan dari Food and Agriculture Organization (2026), peningkatan kebutuhan bahan baku industri berbasis tanaman dapat mendorong tekanan terhadap penggunaan lahan pertanian di berbagai negara berkembang. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia dan pestisida untuk meningkatkan hasil pertanian juga dapat memunculkan masalah lingkungan baru. Limbah pertanian dapat mencemari tanah dan air apabila penggunaannya tidak dikontrol dengan baik.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kesalahpahaman masyarakat terhadap kemampuan bioplastik untuk terurai. Istilah biodegradable sering membuat orang berpikir bahwa plastik tersebut akan langsung hancur ketika dibuang ke tanah atau laut. Padahal, menurut laporan United Nations Environment Programme (2015), tidak semua jenis bioplastik dapat terurai secara alami dalam kondisi lingkungan biasa.

Beberapa jenis bioplastik justru membutuhkan suhu dan kondisi tertentu, seperti fasilitas kompos industri, agar dapat terdegradasi dengan optimal. Artinya, ketika bioplastik dibuang sembarangan ke lingkungan, proses penguraiannya belum tentu berjalan lebih cepat dibandingkan plastik biasa. Pada akhirnya, bioplastik yang dibuang sembarangan tetap bisa menjadi sampah seperti plastik lainnya.

Masalahnya, label “ramah lingkungan” kadang membuat masyarakat merasa lebih aman menggunakan plastik sekali pakai. Padahal, akar persoalan sebenarnya bukan hanya pada jenis plastik yang digunakan, tetapi juga pada pola konsumsi yang terus menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Ketika Sistem Pengelolaan Sampah Belum Siap

Masalah ini menjadi semakin rumit karena sistem pengelolaan sampah di Indonesia sendiri masih belum berjalan dengan baik ditunjukkan melalui data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (2025) bahwa sebagian besar sampah di Indonesia masih belum tertangani secara optimal. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga juga masih rendah, sementara fasilitas pengolahan limbah khusus bioplastik belum tersedia secara luas. Akibatnya, bioplastik sering bercampur dengan sampah biasa dan berakhir di tempat pembuangan akhir seperti plastik konvensional.

Dalam situasi seperti ini, penggunaan bioplastik sebenarnya belum memberikan perubahan yang signifikan. Mengganti jenis plastik saja tidak cukup jika cara masyarakat mengonsumsi dan membuang sampah masih tetap sama. Meski demikian, bukan berarti bioplastik sepenuhnya buruk atau tidak perlu dikembangkan. Dibandingkan plastik konvensional berbasis minyak bumi, bioplastik tetap memiliki potensi yang lebih baik dalam jangka panjang. Ketergantungan manusia terhadap bahan bakar fosil dapat dikurangi, dan perkembangan teknologi juga memungkinkan terciptanya bioplastik yang lebih efisien dan benar-benar mudah terurai di masa depan.

Bioplastik seharusnya dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan solusi tunggal. Upaya mengatasi krisis sampah plastik tetap perlu disertai perubahan pola konsumsi masyarakat, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta perbaikan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Persoalan lingkungan tidak selesai hanya karena manusia mengganti jenis plastik yang digunakan. Yang dibutuhkan bukan hanya plastik yang terlihat lebih hijau, tetapi juga perubahan kebiasaan dalam menggunakan dan membuang sampah secara lebih bertanggung jawab.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//