MAHASISWA BERSUARA: Dialek Majalengka, Korban Ilusi Kasta Bahasa
Stigma bahwa dialek luar Priangan itu kasar adalah produk feodalisme. Kehalusan budi seorang manusia tidak pernah diukur oleh tingkatan bahasanya.

Tio Shafa Primatama
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad)
16 Juli 2026
BandungBergerak – Barudak Majalengka mendadak gagu saat tiba di Bandung. Di sudut warung kopi Jatinangor atau ruang diskusi kampus, logat medok mereka disembunyikan rapat rapat. Mereka memilih bermain aman dengan merangkai kata dalam bahasa Indonesia baku atau memaksakan diri memakai dialek ibu kota. Alasannya sangat menyedihkan. Ada ketakutan purba untuk dicap kasar, dilabeli kampungan, atau dinilai tidak tahu sopan santun.
Pakar linguistik F. Djajasudarma Idat A. dalam buku Polemik Undak Usuk Basa Sunda mengutip sebuah peribahasa tua yang sangat pas untuk memotret mentalitas ini: kumeok memeh dipacok. Kalah sebelum bertanding. Generasi muda ini menyerah pada identitasnya sendiri karena cemas dihakimi oleh aturan bahasa daerahnya. Wagiati dan kolega koleganya dalam sebuah kajian sosiolinguistik tahun 2017 juga mencatat fenomena ini dengan jelas. Remaja lebih memilih lari ke bahasa Indonesia demi mencari aman. Rasa minder kolektif ini adalah sebuah bunuh diri kultural. Jika terus dibiarkan, dialek Majalengka pelan-pelan akan mati di lidah penuturnya sendiri.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Republik Tanpa Republikan
MAHASISWA BERSUARA: Pengusiran Massal Kelas Menengah dari Panggung Kesejahteraan
MAHASISWA BERSUARA: Fakta di Balik Skena Death Metal Indonesia
Penjajahan Linguistik
Mari kita bongkar kebohongan sejarah ini. Stigma bahwa dialek luar Priangan itu kasar sama sekali bukan hukum alam. Itu adalah produk feodalisme. Early Azhar Diwarya beserta timnya dalam penelitian geografi dialek menempatkan Majalengka ke dalam ragam bahasa Sunda Tengah Timur. Posisinya di kawasan transisi melahirkan keragaman leksikon dan intonasi yang organik. Namun kacamata standar Priangan dengan pongah menghakimi dialek ini sebagai bahasa yang kasar dan tidak beradab. Kita patut menggugat, benarkah karuhun Sunda mengenal hierarki kesopanan yang kaku dan menindas itu?
Jawabannya adalah tidak. Masih dalam Polemik Undak Usuk Basa Sunda, F. Djajasudarma Idat A. menyodorkan bukti telak dari naskah kuno Tjarita Parahyangan buatan abad ke-16. Jauh sebelum budaya Sunda diintervensi oleh kekuasaan asing, leluhur kita hidup dalam tatanan bahasa yang egaliter. Mereka menggunakan kata "aing" dan "siya" dalam percakapan sehari hari tanpa secuil pun niat merendahkan martabat manusia. Kata-kata itu jujur dan lugas. Lantas sejak kapan kejujuran itu dijatuhkan kastanya menjadi bahasa kasar?
Semua berawal dari penjajahan linguistik. Peneliti Elis Suryani Nani Sumarlina udan Rangga Saptya Mohamad Permana menunjukkan bahwa perkembangan undak usuk basa Sunda tidak dapat dilepaskan dari pengaruh unggah-ungguh basa Jawa, yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi eksistensi dan stratifikasi bahasa Sunda. Hierarki ini kemudian diadopsi dan dinikmati oleh kelas aristokrat lokal.
Nina H. Lubis dalam buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 menelanjangi mentalitas ini. Ia memaparkan bagaimana kaum menak atau bangsawan Priangan membangun gaya hidup yang sangat eksklusif. Ada sindiran rakyat yang dicatat Nina Lubis bahwa kata menak sering dipelesetkan menjadi dimémén-mémén diénak-énak. Mereka menuntut untuk selalu dilayani dan dimanjakan. Penguasaan bahasa halus dijadikan tameng etiket sekaligus simbol status sosial untuk membedakan diri mereka dari kaum somah atau rakyat jelata. Rakyat dibiarkan menggunakan bahasa loma agar selalu merasa di bawah. Kasta bahasa di Pasundan lahir bukan dari niat mulia tentang tata krama, melainkan sebagai instrumen kendali feodal pembeda kelas.
Praktik penguasaan lewat bahasa ini dibedah dengan sangat brilian oleh Benedict Anderson dalam bukunya Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Anderson bahkan mengutip J. L. A. Brandes, seorang filolog Belanda, yang menyebut bahwa bahasa halus pada dasarnya adalah sebuah fenomena patologis, semacam penyakit atau kutil yang menempel pada bahasa asli yang sehat. Menurut Anderson, bahasa halus difungsikan oleh kaum elite sebagai topeng resmi, sementara bahasa keseharian atau bahasa loma adalah bahasa hati yang penuh gairah, sinisme, dan kejujuran. Memaksakan standar bahasa halus Priangan kepada penutur dialek Majalengka adalah sebuah represi psikologis yang memaksa mereka memakai topeng kemunafikan.
Nasib Dialek Majalengka
Nasib dialek Majalengka makin tercekik ketika kolonial Belanda ikut mendikte kebudayaan. Sejarawan Mumuh Muhsin Zakaria menyebut fenomena ini sebagai Prianganisasi. Karena Priangan adalah jantung ekonomi perkebunan Belanda, budaya menak Priangan dikonstruksi menjadi representasi tunggal identitas kesundaan modern. Akibatnya wilayah pinggiran seperti Cirebon, Banten, dan Majalengka dimarginalkan sebagai subkultur yang menyimpang.
Peminggiran ini disahkan secara absolut melalui mesin cetak. Mikihiro Moriyama dalam kajiannya Print Culture in Sundanese for 100 Years in the Dutch East Indies membongkar siasat ini. Pemerintah kolonial melalui sistem sekolah dan penerbitan Balai Poestaka turut membentuk penggunaan bahasa Sunda yang lebih terstandardisasi. Dialek artifisial inilah yang diwajibkan di sekolah-sekolah dan digunakan dalam semua buku terbitan Balai Poestaka. Dialek Majalengka yang mengakar disingkirkan dari literatur formal lalu dilabeli sebagai bahasa kampung.
Melihat sejarah yang penuh rekayasa ini, budayawan Ajip Rosidi sejak puluhan tahun lalu telah mengkritik tajam keberadaan kasta bahasa. Ajip membongkar fakta bahwa aturan feodal ini mewariskan satu penyakit psikologis kronis bagi orang Sunda yaitu "sieun salah" atau takut salah. Orang menjadi ngeri dan gagu menggunakan bahasa ibunya sendiri karena cemas keliru menempatkan kata halus atau kata kasar. Dengan tegas Ajip menyatakan bahwa "kalemesan budi henteu diukur ku undak usuk basa". Kehalusan budi seorang manusia tidak pernah diukur oleh tingkatan bahasanya.
Bagi generasi muda Majalengka, rasa takut dan minder ini harus segera diakhiri. Bersembunyi di balik bahasa Indonesia hanya karena takut dianggap kasar adalah sikap mengalah pada ilusi kasta. Ilusi yang diciptakan oleh Mataram dan dirawat penuh kepalsuan oleh mesin cetak Belanda. Ketika ada telinga orang Priangan yang mengerutkan dahi mendengar dialek Anda, tegakkan kepala. Anda sedang berbicara dengan bahasa kemerdekaan. Anda sedang menggunakan dialek organik yang beresonansi langsung dengan kesetaraan karuhun Sunda. Dialek Majalengka adalah kejujuran yang menolak mati. Berbicaralah dengan lantang dan jangan biarkan lidah kita bungkam hanya untuk melayani topeng kesopanan orang lain.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


