• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Fakta di Balik Skena Death Metal Indonesia

MAHASISWA BERSUARA: Fakta di Balik Skena Death Metal Indonesia

Sudah saatnya kita membuang jauh-jauh segala prasangka buruk dan tidak berdasar pada skena death metal di Indonesia.

Jovi Fernando Setiawan

Mahasiswa Bahas Inggris di Universitas Terbuka. Penikmat Sastra dan Musik.

Laku, dalam konteks musik hari ini, sering kali dimaknai sebagai viral, disukai massa, atau menghasilkan keuntungan finansial. (Ilustrasi: Arctic Pinangsia Paramban/BandungBergerak)

9 Juli 2026


BandungBergerak – Saya sesekali merenung dan sekadar membiarkan pikiran mengembara sambil mendengarkan alunan musik hardcore yang membelah ruang dengar saya dan menyadari betapa fenomena skena death metal di tanah air kita ini tumbuh menjadi sebuah raksasa budaya yang luar biasa masif.

Sungguh hal ini kerap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat awam yang mungkin hanya mendengar kebisingan belaka, padahal secara faktual kualitas musisi kita sudah diakui, bahkan sejajar dengan nama-nama besar di kancah musik keras dunia. Ini bukanlah isapan jempol semata bahwa dentuman musik yang sering dianggap gelap ini justru menyimpan energi pergerakan yang sangat positif dan membanggakan bagi lanskap kreatif nusantara.

​Kalau kita mau meluangkan waktu melihat data historis yang ada, sebenarnya pergerakan komunitas underground ini sudah sangat rapi, sangat mandiri. Sejak awal dekade sembilan puluhan, pada masa itu panggung-panggung kolektif berskala kecil mulai menjamur di berbagai pelosok daerah dan perlahan melahirkan nama-nama pionir yang kini melegenda. Sebut saja jajaran raksasa seperti Jasad dari Bandung ,lalu Siksakubur dari Jakarta ,kemudian Death Vomit di Yogyakarta, serta Trauma dan Burgerkill yang secara perlahan berevolusi dengan elemen death metal kental. Para pelopor tersebut tidak menyerah dan membangun fondasi ekosistem yang solid sehingga band lokal kita akhirnya mampu menjajah panggung festival bergengsi kelas dunia seperti Wacken Open Air di Jerman dan Bloodstock di Inggris.

​Pencapaian luar biasa tersebut terekam dalam Global Metal, karya sinema dokumenter seorang antropolog asal Kanada bernama Sam Dunn. Ia secara khusus menyoroti antusias dan besarnya gelombang penikmat musik keras di negeri kepulauan ini. Dedikasi tersebut pada akhirnya melahirkan festival sekelas Hammersonic yang kini memegang predikat sebagai salah satu festival musik ekstrem terbesar di seluruh kawasan Asia Tenggara. Ini menjadi bukti bahwa ekosistem skena tersebut berhasil mendatangkan puluhan ribu massa dengan sangat tertib, mematahkan segala keraguan picisan yang selama ini disematkan oleh mereka yang enggan melihat sisi terang dari skena underground.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Teror Pocong dan Logika Ketakutan Kekuasaan
MAHASISWA BERSUARA: Cuaca Ekstrem Membuat Tubuh Saya Rentan Sakit
MAHASISWA BERSUARA: Pengusiran Massal Kelas Menengah dari Panggung Kesejahteraan

Melawan Stigma

Sayangnya stigma negatif tentang skena musik death metal masih sering bermunculan di tengah masyarakat yang secara sempit mengaitkannya dengan hal-hal destruktif atau bahkan perilaku amoral yang merugikan. Padahal anggapan usang tersebut sudah terbantahkan oleh kajian sains modern karena musik keras ini sejatinya adalah bentuk paling murni dari ekspresi diri, murni sebuah self expression yang memberikan kebebasan mutlak bagi pendengarnya untuk melepaskan segala kepenatan. Ini adalah wadah emosional di mana seseorang bisa meneriakkan keresahannya tanpa harus menghancurkan apa pun ,sebab energi yang bergejolak itu dialirkan sepenuhnya ke dalam apresiasi terhadap karya musikalitas yang sangat jujur dan tanpa kompromi sedikit pun.

Penelitian Leah Sharman dan Genevieve Dingle (2015) mengejutkan banyak pihak awam namun terasa sangat masuk akal bagi para penikmat musik ekstrem itu sendiri. Dalam risetnya, mereka mengumpulkan partisipan yang sedang dalam kondisi marah, lalu diperdengarkan musik ekstrem termasuk death metal untuk melihat reaksi psikologis dan fisiologis yang secara nyata terjadi pada tubuh para pendengar tersebut. ​Hasil eksperimen tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan musik dengan tempo super cepat dan distorsi berat itu sama sekali tidak memicu peningkatan agresi. Sungguh mengejutkan bukan, alih-alih mengamuk, partisipan justru sangat terbantu dalam memproses amarah mereka secara jauh lebih sehat  sehingga mereka merasa jauh lebih tenang dan terinspirasi setelahnya. Hal ini dengan gamblang membuktikan bahwa ritme yang garang serta vokal guttural yang menggelegar itu berfungsi layaknya sebuah katup pelepas tekanan psikologis, ruang di mana semua emosi negatif serta rasa frustrasi terhadap kerasnya beban kehidupan sehari-hari dapat tersalurkan dengan aman tanpa harus menyakiti siapa pun di dunia nyata.

​Terkadang saya berpikir merenung di tengah keramaian, bahwa di sinilah letak ironi yang paling indah dari skena ekstrem ini sebab musik yang terdengar begitu menyeramkan di telinga justru melahirkan sebuah komunitas dengan tingkat solidaritas yang nyaris tak tertandingi. Cobalah sesekali perhatikan pusaran moshpit saat konser memanas, di mana puluhan atau bahkan ratusan tubuh saling berbenturan dengan keras penuh keringat, namun anehnya jika ada satu saja orang yang terjatuh maka dengan sangat sigap puluhan tangan akan langsung menariknya ke atas agar kembali berdiri tegak dengan aman. Budaya saling menjaga inilah yang membuat kancah underground terasa seperti rumah kedua yang sangat hangat bagi banyak individu.

​Perasaan diterima apa adanya tanpa syarat ini adalah sesuatu yang sangat langka, apalagi di kehidupan modern yang sering kali penuh dengan kepalsuan dan tuntutan sosial yang mencekik batin. Riset sosial yang dilakukan Andy Bennett (2004), pakar sosiologi musik asal Inggris, juga memberikan pandangan sejalan bahwa subkultur metal memiliki peran krusial dalam membentuk identitas positif kaum muda melalui jaringan pertemanan global yang membentang luas melintasi batas negara dan hambatan bahasa, komunitas tersebut memperkaya pengalaman kultural mereka secara masif, memberikan ruang aman yang nyaman bagi mereka yang mungkin merasa tidak pernah pas dengan standar norma arus utama.

Aset Kebudayaan Modern

​Kita juga sama sekali tidak boleh melupakan betapa kompleksnya struktur aransemen yang ada di dalam genre death metal ini, karena untuk bisa memainkan instrumen dengan kecepatan dan ketepatan seperti itu jelas membutuhkan proses yang panjang. Para musisi ini pada dasarnya adalah para virtuoso sejati yang menghabiskan ribuan jam latihan yang konsisten, mendedikasikan hidup mereka hanya untuk mengejar kesempurnaan nada dan ritme yang sangat rumit. Setiap riff gitar yang gahar dan rentetan blast beat drum yang repetitif itu dirancang dengan perhitungan matematis yang cermat ,sehingga sangat tidak adil jika karya seni sekompleks ini hanya disederhanakan sebagai sebuah keributan tanpa adanya makna musikal.

​Jika menelisiknya lebih dalam, lirik-lirik yang dibawakan oleh band-band cadas tanah air kerap kali menyuarakan kritik sosial yang tajam serta perenungan filosofis tentang eksistensi manusia di tengah zaman yang semakin hari terasa semakin kacau ini. Album-album dari band kebanggaan ini mendapatkan ulasan dan pengakuan majalah-majalah literasi musik keras dunia seperti Metal Hammer dan Terrorizer, apresiasi tingkat tinggi ini secara otomatis mengangkat martabat dan kredibilitas industri kreatif kita.

Rasanya sudah saatnya kita membuang jauh-jauh segala prasangka buruk dan tidak berdasar pada skena death metal. Mari mulai mengakuinya sebagai salah satu aset kebudayaan modern yang berharga karena mereka telah bertahan melintasi berbagai era dengan mengandalkan semangat "do it yourself" menginspirasi generasi muda. Pada akhirnya, setiap kali distorsi itu kembali mengudara di panggung-panggung swadaya, ketahuilah bahwa di sana sedang terjadi sebuah perayaan katarsis yang secara ikhlas memeluk semua luka untuk dilebur menjadi energi penciptaan yang positif sehingga kita bisa melangkah menantang esok hari dengan jiwa yang jauh lebih damai dan lega.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//