• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Teror Pocong dan Logika Ketakutan Kekuasaan

MAHASISWA BERSUARA: Teror Pocong dan Logika Ketakutan Kekuasaan

Logika pocong yang meneror merupakan metafor yang menggambarkan kondisi perpolitikan kita hari ini.

Adzin Aris Aniq Adani

Mahasiswa Filsafat Islam UIN RMS Surakarta

Politik kita berubah menjadi sirkus isu yang membuat mudah lupa. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

25 Juni 2026


BandungBergerak – Belakangan, jagat media sosial digemparkan dengan munculknya konten-konten yang menampilkan teror “pocong” di beberapa daerah. Seperti yang terjadi di Tangerang, Depok, Lamongan, bahkan sudah diklaim masuk ke rumah warga di Malang (BeritaSatu.com). Hal ini lantas menciptakan rasa takut bagi warga.

Pihak kepolisian telah bertindak dan menegaskan bahwa teror pocong itu hoaks. Tidak ada pocong, yang ada hanyalah orang yang memakai kain berwarna putih di sekujur tubuhnya dan bermaksud menakut-nakuti warga.

Namun, meskipun klaim teror pocong ini telah dibantah, rasa takut tetap menghantui. Hal ini karena sejak dahulu pocong dinarasikan sebagai makhluk gaib dan bahkan, oleh beberapa masyarakat, diyakini bisa meludah dan dapat menyebabkan kulit melepuh.

Rasa takut merupakan salah satu gejala emosi yang unik karena ia memiliki karakteristik penyebaran yang cepat. Hal ini terjadi karena secara biologis otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih menyukai informasi yang memicu pelepasan adrenalin, seperti informasi yang menakutkan ketimbang informasi yang positif.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, narasi fiktif tentang “pocong” diciptakan sebagai media pedagogik orang tua. Untuk mengontrol anak-anaknya agar tidak keluar malam, misalnya.

Pocong bukanlah entitas yang riil, ia adalah rasa takut yang diciptakan agar tercipta ketertiban. Kabar tentang adanya teror pocong tidak bekerja sebagai informasi, tetapi sebagai pemantik rasa takut.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Beasiswa LPDP dan Budaya Baris-berbaris
MAHASISWA BERSUARA: Pungli dan Wajah Suram Pelayanan Publik di Indonesia
MAHASISWA BERSUARA: Dunia Laki-laki dalam Diskusi Pameran NeoFemisida

Politik Rasa Takut

Logika pocong yang meneror ini merupakan metafor yang bagus untuk menggambarkan kondisi perpolitikan kita hari-hari ini. Kekuasaan sering kali mengontrol, bahkan membungkam, ruang publik melalui narasi ketakutan seperti ancaman inflasi, ketidaksetabilan sosial, demokrasi, dan semacamnya.

Rasa takut dihadirkan untuk menciptakan kepatuhan. Dengan demikian, logika ketakutan menjadi formula yang paling efektif untuk mengontrol orang lain, ketimbang perintah itu sendiri.

Maka tak heran jika Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century menyebut keberhasilan terorisme itu tidak diukur dari jumlah korban nyawa atau impak destruktif pada infrastruktur, tetapi pada penanaman rasa takut yang menciptakan kepatuhan buta di tengah masyarakat.

Lalu, pertanyaannya, mengapa orang begitu mudah patuh?

Dalam diskursus filsafat, secara primordial manusia memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kepastian–betapa pun itu bersifat artifficial. Kebebasan, yang oleh Sartre disebut sebagai kutukan, memang bisa memberi keleluasaan untuk memilih, namun di saat yang bersamaan ia menciptakan ketidakpastian.

Manusia tidak bisa hidup dalam ketidakpastian, dan oleh sebab itu manusia cenderung mencari narasi-narasi yang memberinya kepastian dan rasa aman. Dalam kondisi demikian, manusia akan sangat mudah dikontrol dan dikendalikan.

Sehingga apa yang diklaim sebagai ancaman, seperti ketidaksetabilan ekonomi, turunnya indeks demokrasi, menyempitnya ruang kebebasan, dan kasus ketidakpastian hidup lainnya, menjadi momentum bagi para elite kekuasaan untuk menawarkan fiksi kepastian kepada rakyat dan dengan demikian mereka bisa sangat mudah untuk mengontrol dan mengendalikan ruang publik.

Di situasi semacam inilah kritik tajam mulai tumpul, suara vokal lambat laun mulai melirih, dan ruang-ruang diskusi mulai sepi dari nuansa dialektik.

Saatnya Bertanya

Kita perlu bertanya lebih lanjut: siapa yang diuntungkan ketika kita takut? Pertanyaan ini bukanlah ajakan untuk paranoia, melainkan ajakan untuk berpikir kritis tentang asal-usul ketakutan kita dan ke mana ketakutan itu membawa kita.

Gramsci menyebut fenomena ini sebagai hegemoni–suatu kondisi di mana kekuasaan tidak lagi membutuhkan paksaan fisik karena masyarakat secara sukarela telah menginternalisasi nilai-nilai yang menguntungkan mereka yang berkuasa. Ketakutan adalah instrumen paling efektif untuk mencapai keadaan ini. Ketika warga negara takut, mereka tidak perlu dicegah untuk berbicara–mereka akan memilih untuk tetap diam.

Inilah yang disebut teori politik sebagai ketakutan yang direkayasa: ketakutan yang secara sistematis diproduksi untuk membenarkan segala bentuk kebijakan kekuasaan.

Masyarakat demokratis yang sehat adalah masyarakat yang dapat hidup dengan ketidakpastian tanpa menyerahkan akal sehatnya kepada otoritas mana pun. Oleh karena itu, pocong akan terus muncul dalam berbagai bentuk: terkadang terbungkus kain putih di gang gelap, terkadang terbungkus retorika ancaman yang mengintai di balik kebebasan.

Tugas kita bukanlah menghilangkan rasa takut–karena ia respons manusiawi. Tugas kita adalah bagaimana agar rasa takut itu tidak merampas kemampuan kita untuk terus mengajukan pertanyaan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//