• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Dunia Laki-laki dalam Diskusi Pameran NeoFemisida

MAHASISWA BERSUARA: Dunia Laki-laki dalam Diskusi Pameran NeoFemisida

Sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, secara paradoks juga menuntutnya untuk selalu tampil dominan, rasional, dan tidak menunjukkan kelemahan.

Alghiffara Maulidansyah

Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Dari kiri ke kanan: Ratna M. Dinangrit (moderator), Muhammad Nashrul (seniman), dan Galih Jatu Kurnia (kurator) dalam Diskusi Publik Pameran NeoFemisida, di Thee House Gallery, Bandung, Jumat 29 Mei 2026. (Foto: Rizwan Taufik Hidayat)

22 Juni 2026


BandungBergerak – Di tengah berbagai percakapan mengenai kesetaraan gender, kritik terhadap patriarki, dan meningkatnya kesadaran terhadap isu kekerasan berbasis gender, laki-laki kerap ditempatkan sebagai sosok yang harus selalu kuat, tegas, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh dengan kalimat-kalimat yang akrab di telinga: “laki-laki jangan menangis”, “harus kuat”, atau “jangan cengeng seperti perempuan”. Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi di baliknya terdapat konstruksi sosial yang membentuk cara laki-laki memahami dirinya sendiri.

Dalam sebuah diskusi publik yang merupakan bagian dari rangkaian Pameran NeoFemisida, yang diselenggarakan pada Jumat, 29 Mei 2026 pukul 15.00 WIB di Dago Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, seniman sekaligus pameris Muhammad Nashrul mengemukakan sebuah pernyataan yang menarik: dunia tidak membutuhkan laki-laki yang kuat, tetapi laki-laki yang jujur pada dirinya sendiri. Pernyataan tersebut tampak sederhana, namun sesungguhnya mengandung kritik yang mendasar terhadap cara masyarakat selama ini membangun gagasan tentang maskulinitas.

Selama bertahun-tahun, kekuatan seolah menjadi ukuran utama bagi seorang laki-laki. Kekuatan fisik, kekuatan ekonomi, hingga kekuatan emosional dipandang sebagai syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dianggap sebagai laki-laki “sejati”. Akibatnya, banyak laki-laki tumbuh dengan kesulitan untuk mengenali, menerima, bahkan mengungkapkan perasaannya sendiri. Kesedihan dianggap sebagai kelemahan, ketakutan dianggap sebagai tanda kegagalan, dan kerentanan dipandang sebagai sesuatu yang memalukan.

Padahal, kemampuan untuk mengakui perasaan, menerima keterbatasan, dan mengungkapkan kerentanan justru merupakan bagian penting dari kedewasaan manusia. Tidak ada yang salah dengan rasa takut, kecewa, atau sedih. Emosi tersebut adalah bagian alami dari pengalaman manusia, bukan sesuatu yang harus disembunyikan demi mempertahankan citra maskulinitas.

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara mengenai budaya patriarki. Dalam banyak pembahasan, patriarki sering dipahami semata sebagai sistem yang merugikan perempuan. Pemahaman tersebut tentu tidak salah. Namun, pada saat yang sama, patriarki juga melahirkan berbagai tuntutan yang membatasi laki-laki. Sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan secara paradoks juga menuntut mereka untuk selalu tampil dominan, rasional, dan tidak menunjukkan kelemahan.

Di sinilah kemudian muncul apa yang sering disebut sebagai toxic masculinity. Istilah ini bukan berarti bahwa maskulinitas itu sendiri bersifat beracun, melainkan merujuk pada pola-pola perilaku yang lahir dari pemahaman maskulinitas yang sempit. Ketika seorang laki-laki diajarkan bahwa kemarahan lebih dapat diterima daripada kesedihan, bahwa kekuasaan lebih penting daripada empati, dan bahwa dominasi merupakan bagian dari identitasnya, maka relasi yang sehat dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain menjadi semakin sulit untuk dibangun.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih sulit mencari bantuan ketika menghadapi tekanan psikologis. Mereka lebih enggan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental, lebih jarang membicarakan persoalan pribadi dengan orang terdekat, dan lebih sering memilih memendam masalahnya sendiri. Tidak sedikit kasus depresi, penyalahgunaan zat, hingga bunuh diri pada laki-laki yang berkaitan dengan budaya yang menganggap ekspresi emosi sebagai tanda kelemahan.

Di Indonesia, persoalan ini memiliki akar sejarah dan budaya yang panjang. Selama masa Orde Baru, misalnya, negara secara aktif membangun berbagai konstruksi sosial mengenai peran laki-laki dan perempuan. Laki-laki ditempatkan sebagai kepala keluarga sekaligus figur otoritas, sementara perempuan diposisikan sebagai pendamping yang mendukung keberhasilan suami. Dalam kehidupan sehari-hari, warisan budaya tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Kita mengenal istilah “ibu RT”, “ibu dosen”, atau berbagai penyebutan lain yang identitasnya dilekatkan pada posisi suami. Di sisi lain, laki-laki juga dibebani ekspektasi untuk selalu menjadi pemimpin, pencari nafkah utama, dan figur yang tidak boleh gagal.

Karya Muhammad Nashrul berjudul All Rites All Rights. (Foto Sumber: E-Katalog Pameran NeoFemisida, Antologi Karya Seni Rupa: Arsip Respon atas Kekerasan terhadap Perempuan)
Karya Muhammad Nashrul berjudul All Rites All Rights. (Foto Sumber: E-Katalog Pameran NeoFemisida, Antologi Karya Seni Rupa: Arsip Respon atas Kekerasan terhadap Perempuan)

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Pungli dan Wajah Suram Pelayanan Publik di Indonesia
MAHASISWA BERSUARA: Transisi Energi Tanpa Transformasi, Ilusi Hijau Kebijakan Kendaraan Listrik Indonesia
MAHASISWA BERSUARA: Republik Tanpa Republikan

Dunia Tidak Membutuhkan Laki-laki yang Selalu Tampak Kuat

Masalahnya, kehidupan modern semakin menunjukkan bahwa manusia tidak dapat terus-menerus hidup di bawah standar yang tidak realistis. Dunia hari ini menghadapi berbagai persoalan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Kesehatan mental, relasi yang setara, kemampuan berkomunikasi, serta empati justru menjadi kualitas yang semakin dibutuhkan dalam kehidupan sosial.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita meninjau kembali cara kita mendidik laki-laki. Alih-alih membesarkan mereka dengan tuntutan untuk selalu kuat, masyarakat perlu menciptakan ruang yang memungkinkan laki-laki untuk mengenali dirinya sendiri. Laki-laki perlu diajarkan bahwa menangis bukanlah tanda kelemahan, meminta bantuan bukanlah bentuk kegagalan, dan berbicara tentang perasaan bukanlah sesuatu yang memalukan.

Kejujuran terhadap diri sendiri bukan berarti kehilangan maskulinitas. Sebaliknya, kejujuran merupakan fondasi untuk membangun maskulinitas yang sehat. Seorang laki-laki yang mampu memahami emosinya, menghormati orang lain, dan membangun relasi yang setara justru menunjukkan bentuk kedewasaan yang lebih utuh daripada sekadar mempertahankan citra kekuatan yang rapuh.

Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan laki-laki yang selalu tampak kuat. Dunia membutuhkan laki-laki yang mampu mengakui ketika dirinya lelah, berani meminta pertolongan ketika menghadapi kesulitan, dan tidak takut menjadi manusia yang utuh dengan segala kerentanannya. Sebab mungkin, di balik setiap laki-laki yang diam, terdapat seorang anak kecil yang sejak lama hanya ingin didengarkan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//