MAHASISWA BERSUARA: Ketika Logistik Mengalahkan Logika
Dogma abang-abangan organisasi soal “logika tanpa logistik” tidak membunuh gagasan secara langsung. Ia membuat gagasan mati karena malu pada kemiskinannya sendiri.

Muhammad Hermawan Sutanto
Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Rades Mas Said Surakarta. Aktif menulis dan publikasi secara mandiri lewat Sang.kil Zine.
3 Agustus 2026
BandungBergerak – Pertama-tama saya meyakini satu prinsip dalam menghimpun ruang solidaritas yang menginginkan perubahan sosial yang progresif. Tuntut yang mustahil.
Walaupun naif, ia lebih tulus daripada doa yang diucap untuk mengutuk kekuasaan yang sewenang-wenang. Artikel ini berangkat untuk menggugat dogma abang-abangan organisasi yang membatasi kader-kadernya bergerak dengan alasan minimnya komoditas untuk mengeskalasi solidaritas akar rumput. Menurut saya masalah kenapa banyak kader-kader organisasi mahasiswa/ruang kolektif lainya mudah terjebak dalam pragmatisme gerakan bukan karena mereka semata-mata realistis tetapi bagaimana praktik kaderisasi dengan sendirinya membentuk pragmatisme gerakan.
Termasuk memberikan wejangan “logika tanpa logistik” adalah omong kosong. Dalam setiap debat, frasa itu selalu menjadi lampu merah bagi mereka yang punya gagasan bagus tetapi dinilai terlalu utopis untuk dieksekusi–bukan karena ide itu cacat secara logis tetapi bagaimana kapasitas logistik digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan suatu ide. Ketika dalil itu terus diulang, dari sana sebuah slogan yang sejatinya layak diperdebatkan berubah menjadi wahyu yang tidak boleh dibantah.
Bagi saya, "logika tanpa logistik” terdengar seperti penghinaan pada niat baik untuk melakukan sesuatu. Kalimat itu beredar seperti doa pendek yang diucapkan sebelum rapat dimulai, sebelum proposal ditulis, sebelum gerakan dibangun, bahkan sebelum seseorang berani memikirkan perubahan. Ia terdengar masuk akal, terdengar realistis, terdengar dewasa. Dalam beberapa kata saja, ia berhasil memberi kesan bahwa sejarah digerakkan bukan oleh keberanian berpikir, melainkan oleh isi gudang, saldo rekening, dan kapasitas distribusi.
Sekilas tidak ada yang salah. Memang benar, tidak ada organisasi yang dapat bertahan tanpa sumber daya. Tidak ada perang yang dimenangkan hanya dengan pidato. Tidak ada proyek sosial yang berjalan hanya dengan semangat. Namun justru karena mengandung sebagian kebenaran, slogan ini menjadi berbahaya. Ia berhenti menjadi pengingat praktis, lalu menjelma menjadi dogma. Sejak saat itu, ia tidak lagi menjelaskan kenyataan, tetapi mulai mengatur cara manusia membayangkan kemungkinan.
Dogma "logika tanpa logistik" bukan sekadar kekeliruan teknis. Ia adalah kekeliruan epistemologis yang lahir dari pembalikan hubungan antara ide dan material. Lebih payah lagi, ia sering mengaku berbicara atas nama materialisme, padahal justru mengkhianati inti materialisme itu sendiri.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Teror Pocong dan Logika Ketakutan Kekuasaan
MAHASISWA BERSUARA: Satu Langkah Menuju Autokrasi, Ironi Kebebasan Berekspresi
MAHASISWA BERSUARA: Akumulasi Kemarahan Publik dan Bom Waktu Bagi Demokrasi
Membungkam Pikiran
Jika dogma itu mengaku berbicara atas nama materialisme, maka sudah semestinya ia diadili menggunakan pengadilan materialisme itu sendiri. Di sinilah Marx dan Engels menjadi titik berangkat yang tak bisa dihindari. Sebab keduanya tidak pernah memahami materi sebagai takdir yang membungkam manusia, melainkan sebagai medan yang terus diproduksi dan diubah oleh tindakan manusia.
Materialisme tidak pernah mengajarkan bahwa materi adalah hakim terakhir yang membungkam pikiran. Dalam The German Ideology, Karl Marx dan Friedrich Engels justru memulai analisisnya dari aktivitas manusia yang memproduksi kehidupan materialnya. Produksi bukan sekadar menghasilkan barang, melainkan juga menghasilkan hubungan sosial, institusi, pengetahuan, bahkan bentuk kesadaran. Dengan kata lain, kondisi material memang membatasi manusia, tetapi manusia juga mengubah kondisi material melalui praksisnya.
Dogma tersebut diam-diam memperlakukan logistik sebagai sesuatu yang telah selesai. Seolah-olah logistik turun dari langit sebagai prasyarat mutlak sebelum manusia boleh berpikir. Gudang dianggap lebih dahulu ada daripada organisasi. Dana diasumsikan hadir sebelum solidaritas. Infrastruktur diposisikan sebagai sebab pertama dari sejarah.
Padahal dalam pembacaan materialisme historis, logistik sendiri adalah hasil dari sejarah. Ia merupakan produk relasi produksi, teknologi, organisasi, pembagian kerja, hingga legitimasi politik. Tidak ada logistik yang lahir dari ruang hampa.
Dengan demikian, slogan tersebut melakukan pembalikan yang nyaris tak disadari. Akibat diperlakukan sebagai penyebab.
Pembalikan semacam ini sebenarnya bukan gejala baru. Marx juga pernah menunjukkan bagaimana kapitalisme membuat manusia keliru membaca hubungan sosialnya sendiri. Kekeliruan itu ia sebut sebagai fetisisme komoditas. Anehnya, pola pikir yang sama kini muncul dalam cara kita memandang logistik.
Inilah bentuk paling halus dari fetisisme. Jika dalam kapitalisme komoditas tampak memiliki kehidupan sendiri, maka dalam slogan ini logistik diperlakukan seolah memiliki eksistensi yang otonom. Ia dilepaskan dari proses sosial yang melahirkannya. Gudang seakan berdiri sendiri, padahal gudang adalah hasil dari kerja manusia yang berhasil mengorganisasi produksi dan distribusi.
Dogma ini mencampuradukkan dua wilayah yang seharusnya dipisahkan secara tegas wilayah epistemologi dan wilayah praksis. Logika berbicara tentang validitas penalaran. Logistik berbicara tentang kemampuan aktualisasi. Sebuah argumen dapat benar meskipun belum memiliki kondisi material untuk diwujudkan. Sebaliknya, sebuah proyek dapat berjalan sangat efektif meskipun dibangun di atas asumsi yang keliru.
Menyamakan keduanya berarti mengubah ukuran kebenaran menjadi ukuran keberhasilan.
Padahal sejarah pengetahuan justru dipenuhi contoh yang memperlihatkan sebaliknya. Gagasan tentang hak universal manusia pernah dianggap utopis. Demokrasi modern pernah dicemooh sebagai fantasi. Banyak teori ilmiah lahir jauh sebelum instrumen teknologinya tersedia. Jika kebenaran harus menunggu logistik, maka sebagian besar lompatan intelektual umat manusia tidak pernah terjadi.
Ironisnya, mereka yang paling sering mengucapkan slogan ini biasanya mengklaim diri sebagai materialis. Padahal materialisme yang mereka gunakan bukan lagi materialisme dialektis, melainkan materialisme administratif. Segala sesuatu direduksi menjadi soal inventarisasi sumber daya. Politik berubah menjadi manajemen proyek. Organisasi berubah menjadi laporan anggaran. Imajinasi digantikan oleh kolom kalkulasi matematis.
Namun persoalannya tidak berhenti pada ekonomi. Jika logistik hanyalah hasil dari hubungan sosial, lalu bagaimana hubungan sosial itu terbentuk? Pertanyaan inilah yang membawa kita kepada Antonio Gramsci, seorang Marxis yang memperluas medan pertarungan dari pabrik menuju ranah kebudayaan dan kesadaran.
Gramsci menunjukkan bahwa dominasi tidak hanya bertumpu pada kepemilikan ekonomi, tetapi juga pada hegemoni, yakni kemampuan membentuk persetujuan sosial melalui gagasan. Sebelum lahir organisasi besar, selalu ada pertarungan makna. Sebelum ada institusi, selalu ada perang posisi di ranah kebudayaan. Kesadaran kolektif tidak muncul setelah logistik tersedia. Justru kesadaran kolektif itulah yang sering kali menciptakan logistik. Artinya, logistik bukan hanya syarat bagi organisasi. Ia juga merupakan hasil dari kemenangan ideologis.
Selanjutnya dogma “logika tanpa logistik.” menghapus seluruh proses tersebut. Ia hanya melihat hasil akhirnya, lalu menganggap hasil itu sebagai titik awal. Cara berpikir semacam ini tidak berbeda dengan seseorang yang melihat sebuah pohon besar lalu menyimpulkan bahwa biji tidak pernah penting karena pohonlah yang menghasilkan buah.
Meski demikian, dogma ini tidak lahir begitu saja. Setiap slogan memiliki sejarahnya sendiri. Ia lahir dari konteks tertentu, lalu perlahan dicabut dari akar sejarahnya hingga berubah menjadi kebenaran universal. Untuk memahami mengapa “logika tanpa logistik” terdengar begitu meyakinkan, kita perlu menelusuri asal-usulnya terlebih dahulu.
Jika ditelusuri secara genealogis, slogan ini tidak lahir dari filsafat. Akar terdekatnya justru berasal dari tradisi militer. Dalam peperangan, logistik memang menentukan keberlangsungan pasukan. Napoleon gagal di Rusia bukan semata karena strategi yang buruk, tetapi karena rantai pasoknya runtuh. Dari pengalaman seperti inilah muncul kebijaksanaan bahwa strategi membutuhkan logistik.
Namun kebijaksanaan praktis itu mengalami perluasan makna. Apa yang awalnya berlaku dalam perang perlahan diperlakukan sebagai hukum universal bagi seluruh kehidupan sosial. Inilah momen ketika slogan berubah menjadi dogma.
Persoalannya, sebuah slogan tidak akan bertahan puluhan tahun jika hanya bergantung pada sejarah militer. Ia membutuhkan rumah baru. Dan rumah yang paling nyaman bagi dogma ini adalah kapitalisme modern, terutama ketika bahasa manajemen mulai mengkolonisasi hampir seluruh ruang kehidupan.
Yang lebih menarik lagi, transformasi ini berlangsung seiring berkembangnya kapitalisme modern. Dunia korporasi membentuk cara berpikir baru yang mengukur seluruh aktivitas manusia berdasarkan efisiensi, produktivitas, indikator kinerja, dan kemampuan eksekusi. Nilai sebuah ide tidak lagi ditentukan oleh koherensinya, tetapi oleh skalabilitasnya. Kebenaran digantikan oleh performa.
Bahasa manajemen kemudian merembes ke mana-mana. Aktivisme mulai berbicara seperti konsultan bisnis. Politik mulai meniru presentasi investor. Bahkan filsafat pun dipaksa membuktikan manfaat ekonominya.
Tanpa disadari, slogan "logika tanpa logistik" menjadi ekspresi sempurna dari kolonisasi nalar oleh logika kapital.
Jika Marx membantu kita memahami pembalikan hubungan material, dan Gramsci menjelaskan bagaimana sebuah gagasan memperoleh legitimasi, maka masih ada satu persoalan yang tersisa mungkinkah sejarah dijelaskan hanya oleh satu faktor, yaitu logistik? Di sinilah kritik Louis Althusser menjadi penting.
Logika dan Logistik
Louis Althusser pernah mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah ditentukan oleh satu penyebab tunggal. Setiap peristiwa merupakan hasil dari kontradiksi yang saling bertumpuk. Dengan demikian, menjadikan logistik sebagai penjelasan tunggal justru bertentangan dengan materialisme itu sendiri. Ia menyederhanakan kenyataan yang kompleks menjadi satu variabel yang mudah dihafalkan.
Persis seperti semua dogma. Dogma selalu menawarkan dunia yang sederhana. Ia membenci ambiguitas. Ia alergi terhadap dialektika. Ia mengganti analisis dengan slogan agar manusia tidak perlu lagi berpikir terlalu jauh.
Karena itu, fungsi utama slogan "logika tanpa logistik" bukan menjelaskan sejarah, melainkan mendisiplinkan imajinasi. Ia mengajarkan bahwa jangan bermimpi jika modal belum cukup. Jangan berorganisasi jika anggota masih sedikit. Jangan melawan jika dana belum tersedia.
Singkatnya, ia meminta manusia menunggu. Masalahnya, sejarah tidak pernah bergerak karena orang-orang yang menunggu.
Gerakan buruh pertama tidak dimulai dari kas organisasi yang melimpah. Pers bawah tanah tidak lahir dari percetakan modern. Banyak revolusi ilmiah lahir di ruang-ruang kecil dengan peralatan terbatas. Bahkan perusahaan-perusahaan raksasa yang hari ini dipuja dunia bisnis pernah berawal dari garasi, kamar kos, atau meja makan.
Logistik mereka bukan titik awal. Ia adalah hasil.
Di sinilah letak paradoks terbesar slogan tersebut. Ia mengaku realistis, tetapi justru menghapus proses paling material dalam sejarah–bagaimana manusia menciptakan kondisi material baru melalui organisasi, pengetahuan, dan tindakan kolektif.
Karena itu, hubungan antara logika dan logistik tidak pernah bersifat linear. Keduanya saling memproduksi. Logistik memungkinkan gagasan berkembang, tetapi gagasan juga memungkinkan logistik tercipta. Hubungan itu dialektis, bukan hierarkis.
Mengangkat salah satunya menjadi syarat mutlak hanya akan melahirkan fatalisme.
Dan fatalisme adalah kemewahan yang selalu dinikmati oleh mereka yang telah memiliki sumber daya. Mereka bisa berkata, "Jangan bergerak sebelum siap,” karena mereka sudah lama siap. Mereka bisa menasihati orang lain untuk menunggu, sebab posisi mereka tidak sedang dipertaruhkan.
Sementara mereka yang tidak memiliki apa-apa justru dipaksa percaya bahwa kekurangan hari ini adalah hukum alam yang tidak boleh digugat.
Mungkin di situlah fungsi ideologis paling licik dari dogma "logika tanpa logistik". Ia tidak melarang orang berpikir. Ia hanya membuat orang merasa tidak berhak berpikir sebelum memiliki sumber daya. Ia tidak membunuh gagasan secara langsung. Ia membuat gagasan mati karena malu pada kemiskinannya sendiri.
Padahal sejarah selalu dimulai dari sesuatu yang tampak mustahil.
Setiap gudang yang penuh pernah merupakan gudang yang kosong. Setiap organisasi besar pernah hanyalah segelintir orang yang dianggap tidak realistis. Setiap logistik yang mapan pernah lahir dari gagasan yang belum memiliki apa-apa selain keyakinan dan kemampuan mengorganisasi manusia.
Karena itu, slogan "logika tanpa logistik" layak dikembalikan ke tempat asalnya sebagai nasihat teknis, bukan hukum filsafat. Ia berguna untuk mengingatkan bahwa sebuah rencana membutuhkan sumber daya. Namun ketika ia diperlakukan sebagai prinsip universal, ia berubah menjadi ideologi yang membatasi kemungkinan sebelum kemungkinan itu sempat diuji oleh sejarah.
Sebagai epilog, sejarah tidak pernah memilih antara logika atau logistik. Sejarah bergerak melalui hubungan dialektis keduanya. Logika tanpa logistik memang mudah gagal. Tetapi logistik tanpa logika hanya akan menghasilkan gudang yang penuh, organisasi yang sibuk, dan administrasi yang rapi, tanpa pernah tahu untuk apa semua itu dibangun. Saya tidak terlalu khawatir pada organisasi yang miskin logistik. Kemiskinan selalu bisa diorganisasi, solidaritas selalu bisa dibangun, dan sumber daya selalu bisa diciptakan. Yang saya khawatirkan adalah organisasi yang miskin keberanian, tetapi kaya alasan untuk tidak bergerak. Sebab di sanalah setiap slogan berubah menjadi dogma, setiap pengalaman berubah menjadi tirani, dan setiap kader perlahan dididik bukan untuk mengubah sejarah, melainkan sekadar beradaptasi dengannya. Mungkin itulah ironi terbesar dari dogma “logika tanpa logistik”, ia mengaku sedang mengajarkan realitas , padahal diam-diam sedang mempersiapkan generasi yang paling patuh menerima kenyataan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


