• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Meme Jomok, Pornografisasi, dan Rezim Informasi

MAHASISWA BERSUARA: Meme Jomok, Pornografisasi, dan Rezim Informasi

Meme jomok menyasar orang-orang yang sudah terstigma dan membuat bias permisif tindakan diskriminatif. Upaya mendemonisasi suara oposisi?

Muhammad al-Askary

Mahasiswa dari kampus biasa aja di Yogyakarta yang tertarik dengan media digital, ekonomi politik, dan sejarah.

Ilustrasi. Aktivitas manusia dengan gawainya di era teknologi digital. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

26 Agustus 2026


BandungBergerak – Di salah satu grup Whatsapp, kolega penulis mengirimkan stiker yang sudah disimpan dan dibagikan melalui berbagai ponsel, dalam berbagai percakapan, dan oleh berbagai orang. Stiker itu memiliki pola sebuah meme populer di bangsa yang besar ini, isinya: lelaki, berkulit hitam, dan frasa kapalan.

Stiker semacam ini disebut stiker “jomok”, salah satu genre meme yang sedang panas di skena shitposting Indonesia. “Jomok” merupakan gabungan dari kata “jokes” dan “homo”, sesuai dengan isi dari meme tersebut.

Tren ini menyebar layaknya pandemi. Mulai dari Facebook sebagai medan klasik per-meme-an Indonesia, di Whatsapp melalui stiker yang dikirim dari ponsel ke ponsel, hingga Instagram dan X yang ekosistemnya mungkin lebih liar.

Sebagai mahasiswa rumpun ilmu politik yang gabut, penulis penasaran sejauh mana meme jomok disebarkan dan apakah ini bisa menjadi alat kekuasaan?

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Akumulasi Kemarahan Publik dan Bom Waktu Bagi Demokrasi
MAHASISWA BERSUARA: Tujuannya Merdeka 100%, Bukan Setengah!
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Komitmen pada Ruang Publik Aman Berhenti di Atas Panggung

Meme Jomok dan Wacana Rezim

Sebagai meme, beberapa orang menganggap meme jomok hanya sebagai candaan dan gurau belaka. Disisi lain, meme jomok justru dianggap sebagai bentuk hiperseksualisasi dan rasisme terhadap orang kulit hitam. Kehadirannya justru menyasar orang-orang yang sudah terstigma dan membuat bias permisif tindakan diskriminatif.

Meme ini sudah muncul sejak tahun 2023. Walaupun sudah banyak yang menulis bagaimana ini berbahaya bagi kelompok rentan, meme ini masih beterbangan di media sosial. Melalui berbagai akun anonim, meme yang kemungkinan dibuat di Canva atau Pixellab itu direproduksi menjadi stiker WhatsApp.

Pada era digital ini, anonimitas memang menjadi pisau bermata dua. Akun meme tidak memiliki akuntabilitas kepada siapa pun ketika mengunggah konten sensitif. Kira-kira, siapa yang bisa diuntungkan dari kondisi ini?

Mari kita gunakan akun @elitglobal_real sebagai contoh, salah satu akun meme yang memiliki 119.000 lebih pengikut. Sebelumnya, perlu diingat bahwa tidak semua dari unggahan yang tercantum semerta-merta diunggah oleh akun tersebut, melainkan juga kolaborasi dengan akun lain melalui fitur yang disediakan Instagram.

Ambil saja unggahan meme jomok pada Rabu, 15 Juli 2026, yang berkolaborasi dengan akun @mimlort. Terdapat foto pemain tim nasional Prancis yang wajahnya diedit foto lelaki kulit hitam dan kreator Reza Auditore, serta kalimat “Merodok gawang Spanyol”. Kata “merodok” menurut KBBI berarti “menikamkan atau menusukkan (barang yang panjang) ke atas atau ke depan”; dalam konteks yang lebih vulgar, “meniduri”.

Meme dengan visual yang serupa juga diunggah sebelumnya melalui kolaborasi pada Selasa, 14 Juli 2026. Juga meme jomok lain seperti pada Senin, 08 Juni 2026. Meme jomok yang diunggah hari itu lebih dari satu, belum meme lain yang berbau seksual seperti editan ciuman Messi dan Ronaldo pada Kamis, 09 Juli 2026. Unggahan-unggahan tersebut mendapat jumlah likes ribuan hingga belasan ribu.

Di sela-sela meme jomok, ternyata akun tersebut juga membuat unggahan meme yang sering kali bersinggungan dengan politik atau fenomena sosial lain. Tak jarang, unggahan meme tersebut bisa sejalan dengan kepentingan pemerintah.

Dalam analisis wacana kritis (critical discourse analysis) Norman Fairclough, kita dapat mengidentifikasi mulai dari bagaimana tiap kata diproduksi hingga kondisi sosiokultural yang mempengaruhi terciptanya meme tersebut. Analisis ini menjadi kacamata kita untuk melihat apakah suatu akun meme berada dalam hegemoni pemerintah.

Pertama, mari kita lihat bagaimana teks yang ada dibuat dan makna didalamnya. Menurut Fairclough dalam Critical discourse analysis: The critical study of language (2013), suatu teks muncul dan dibentuk secara ideologis dari relasi kuasa dan konflik kekuasaan. Maka, bahasa adalah media yang tidak netral—ia adalah alat kekuasaan.

Kita lihat salah satu unggahan terbaru mereka, yakni pada Minggu, 26 Juli 2026. “Apakah “londo ireng” adalah lawan kata dari “buzzer”?” merupakan salah satu kalimat dalam meme tersebut. Ditambah takarir “Yang satu dibayar pemerintah, yang satu dibayar…..soros?”

Sekilas, kalimat tersebut nampak netral. Disini pengunggah memposisikan diri melalui memenya sebagai orang ketiga yang bukan “londo ireng” dan bukan “soros”. Dibuktikan dengan kata-kata “yang satu dibayar” dalam takarirnya, alih-alih menggunakan “kami” atau “kita”. Kalimat ini membentuk persepsi bahwa ada dua sisi berlawanan yang sama-sama dependen, mengimplikasikan seolah-olah ada posisi ketiga yang merdeka dan bebas.

Kedua, untuk menghubungkan teks dengan praktik sosial, Fairclough berpandangan bahwa kita harus melihat praktik diskursif yang terjadi. Kita harus memahami bagaimana individu, rutinitas, dan organisasi dari akun tersebut untuk menyebarkan meme tersebut.

Menurut informasi dari Instagram, sebesar 62 persen pengikut @elitglobal_real juga mengikuti akun Coki Pardede. Seorang stand up comedian yang lalu terkenal sebagai pendukung Prabowo-Gibran hingga sempat membuat konten bersama Wakil Presiden Gibran. Kesamaan pengikut ini kemungkinan besar terjadi karena seringnya kolaborasi unggahan dengan Coki, selain dengan akun meme lain seperti @mimlort atau @_drakjoke.

Di sinilah kita dapat menarik garis yang menghubungkan antara meme yang diproduksi dengan wacana yang sebenarnya ada dibaliknya.

Mari kita melihat bagaimana praktik sosiokultural yang mungkin memengaruhi terciptanya meme ini. Melalui bingkai Fairclough, kita perlu melihatnya dalam tiga level berbeda: situasional, institusional, dan sosial.

Dalam level situasional, kita perlu mengetahui apa koneksi dari meme yang diunggah dengan konteks khusus yang ada. Meme londo ireng itu diunggah tiga hari setelah pidato Presiden Prabowo dalam Harlah PKB pada Kamis, 23 Juli 2026, yang menabalkan jurnalis sebagai londo ireng, menunjukkan bahwa meme yang dimaksud mereferensikan pidato tersebut.

Sementara pada level institusional, kita akan kembali melihat bagaimana akun meme ini bekerja. Akun tersebut biasanya membuat meme untuk merespons suatu peristiwa sosial atau politik yang baru terjadi, kemudian membuat unggahan kolaborasi dengan akun meme lain dengan meme-meme serupa.

Adanya kesamaan pengikut yang cukup besar dan intensifnya kolaborasi dengan Coki membuat akun ini paling tidak memiliki paham politik yang beresonansi dengan mantan anggota MLI itu.

Di depan layar, Coki memang terkenal sangat pro terhadap kebebasan berpendapat. Ia beberapa kali membuat candaan yang sering disebut sebagai dark jokes dan menerima backlash. Apakah ini berarti opini miliknya bebas dalam arti independen? Belum tentu.

Pemahaman ala liberal mengasumsikan bahwa kebebasan hadir selama seseorang bisa membuat pilihan sendiri, negara tak membatasi, dan tak ada orang lain yang mengganggu. Padahal faktor material dalam dunia yang ‘bebas’ ini tetaplah memaksa beberapa orang menjual tenaganya, menjadi buruh dan seterusnya—sementara beberapa lainnya bisa ‘bebas’ mengakumulasi kapital bersama kelas penguasa.

Wacana yang coba dibuat memposisikan suara oposisi seperti jurnalis atau londo ireng sebagai aktor yang jahat karena diklaim tidak merdeka dan dimotori asing. Berbanding dengan mereka yang nampak berada di luar pemerintahan, katanya open minded, dan bebas–padahal belum tentu lepas dari hegemoni penguasa.

Lantas, kenapa sangat besar upaya untuk mendemonisasi suara oposisi?

Kita masuk dalam level sosial, untuk mengidentifikasi secara lebih luas kenapa meme semacam ini dipengaruhi kondisi sosial. Gerakan yang mencoba menentang pemerintah dianggap antagonis. Kita semua sudah mendengar beritanya. Demo dibilang ditunggangi partai politik, kadang dibilang ditunggangi asing, LSM-media dibilang didanai Soros, aksi mahasiswa dibilang ademokratis atau mendukung penyimpangan, dan banyak lagi.

Untuk mengikat semuanya, kita dapat menarik satu kesimpulan: wacana yang coba dihadirkan saat ini adalah membentuk citra buruk kritikus pemerintah. Membentuk sebuah ilusi bahwa ada opsi ketiga yang independen atau sering disebut juga sebagai posisi yang “mengkritik apa yang buruk dan mendukung apa yang baik”.

Apakah Meme Jomok Secara Aktif Menjadi Umpan?

Untuk saat ini, meme jomok memang memancing cukup banyak atensi karena keabsurdannya dan posisinya sebagai candaan yang membuat audiensnya tertawa di atas stigma kepada kelompok lainnya. Itulah mengapa meme ini bisa digunakan oleh corong-corong penerangan pemerintah untuk menarik atensi kepada akun-akun yang sesuai kepentingan mereka.

Keberadaan genre meme jomok di akun yang secara aktif melanggengkan wacana penguasa menunjukkan bahwa upaya apa pun akan dilakukan untuk mengontrol opini publik. Sekalipun ada meme yang tampak menyerang pemerintah, kritik yang dilontarkan tidaklah menantang langsung rezim yang berkuasa.

Meme yang menargetkan pemerintah umumnya hanya berhenti di pengeditan wajah salah satu menteri atau bahkan meme jomok tentang hubungan antar pejabat publik itu sendiri. Pemerintah sadar bahwa dengan menjadi subtle, di bawah absurditas dan ilusi kebebasan, wacana strategis mereka bisa dikonsumsi rakyatnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//