MAHASISWA BERSUARA: QRIS, Pain of Paying, dan Perilaku Konsumtif
Perilaku konsumtif yang berawal dari kebiasaan kecil menjadi kebiasaan rutin sehingga dampak yang ditimbulkan tidak dapat disadari.

Callista Shilo Abby Gael
Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
4 September 2026
BandungBergerak – Bayangkan ketika sedang berkeliling kota dan melihat berbagai barang yang menarik perhatian. Hanya dengan sekali scan, satu transaksi telah berhasil dilakukan. Saat ini, begitulah cara transaksi bekerja yang mengubah perilaku masyarakat. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) merupakan inovasi sistem pembayaran digital yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia di mana sistem ini bertujuan untuk mempermudah dan menyederhanakan kegiatan transaksi di masyarakat. Selain itu, inovasi ini mendukung pencatatan keuangan digital untuk setiap transaksi secara otomatis dan real time sehingga para pengguna dapat memantau arus keluarnya kas pribadi.
Sebagian besar pengguna tidak sadar bahwa kemudahan yang ditawarkan oleh QRIS dapat menimbulkan berbagai tanda perilaku konsumtif. Fitur pembayaran menggunakan metode ini dilakukan tanpa perlu menyentuh atau menghitung uang secara fisik sehingga perlahan dapat menghilangkan pain of paying dalam diri seseorang. Hilangnya sensasi psikologis inilah yang sebenarnya menjadi penyebab utama munculnya perilaku konsumtif di masyarakat, bukan QRIS sebagai sistem pembayaran itu sendiri.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan
MAHASISWA BERSUARA: Faculty of Wonder dan Matinya Skeptisisme Profesional
MAHASISWA BERSUARA: Limbah Makanan, Waste Accounting, dan Ketahanan Pangan
QRIS dan Pain of Paying
Toko kelontong hingga pusat perbelanjaan kini telah menyediakan QRIS sebagai salah satu sistem pembayaran. Cara kerja sistem yang dinilai sederhana menjadi alasan perkembangannya yang begitu pesat. Pengguna layanan e-wallet hanya perlu memindai kode QR dengan kamera ponselnya, memasukkan nominal pembayaran, mengonfirmasi pembayaran menggunakan pin, dan transaksi akan berhasil dalam hitungan detik. Hal tersebut jauh berbeda dengan transaksi tunai, di mana pembeli harus menghitung terlebih dahulu uang tunai yang dia miliki. Jika pembeli tidak memiliki uang tunai yang sesuai dengan harga barang, penjual harus memberikan kembalian berupa uang tunai yang tentunya harus dihitung terlebih dahulu sehingga akan memakan waktu yang lumayan lama.
Pada era digital saat ini, setiap pengguna e-wallet minimal akan melakukan transaksi sekitar tiga kali sehari. Transaksi yang berulang ini mungkin terjadi secara perlahan, tetapi akan membentuk kebiasaan baru. Masyarakat akan semakin jarang menggunakan uang tunai sebagai transaksi. Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan bahwa transaksi yang dilakukan dengan QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta pedagang hingga bulan Agustus 2025. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode pembayaran digital ini sudah meluas. Semakin luas penggunaan QRIS, maka semakin hilang juga sensasi pain of paying yang dialami oleh para pengguna.
Pain of paying adalah kondisi psikologi negatif yang muncul seperti rasa tidak nyaman dan kehilangan ketika mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu. Hal ini menjelaskan kesadaran perilaku konsumen saat melakukan pembayaran, seseorang akan merasa uang yang dimilikinya berkurang sehingga mulai mempertanyakan kegunaan barang yang dibeli. Namun, perasaan ini lebih nyata ketika metode pembayaran yang digunakan bersifat tunai. Penggunaan uang tunai mendorong setiap pribadi untuk memberikan jeda waktu dan menghitung berapa banyak uang yang tersisa akibat pengeluaran yang akan dilakukan. Jeda waktu yang dihasilkan saat melakukan transaksi akan hilang jika metode pembayaran yang digunakan berupa pembayaran digital.
Selagi bisa membayar, maka saldo di rekening masih cukup. Kira-kita begitulah pola pikir dalam melakukan pembayaran digital. Pengguna akan memilih barang, memindai kode, dan melihat notifikasi pembayaran yang muncul di layar ponsel tanpa membutuhkan ‘jeda waktu’. Notifikasi yang diberikan ini lebih sering diabaikan sehingga pada akhirnya nominal pembayaran yang dikeluarkan juga akan dilupakan. Fenomena ini berkaitan dengan hilangnya pain of paying di mana metode pembayaran digital mendorong masyarakat untuk tidak langsung peduli terkait nominal yang dikeluarkan dan nominal yang tersisa di rekening.
Dilip Soman, seorang akademisi University of Toronto, menyatakan bahwa pembayaran digital lebih mudah untuk dilupakan. Alasannya sederhana, ketika pembayaran dilakukan secara tunai, menghitung dan menyerahkan uang akan menyadarkan secara langsung bahwa uang tunai berkurang. Lain halnya dengan pembayaran digital, pengeluaran yang terjadi dinilai begitu cepat dan tidak meninggalkan kesan fisik secara langsung. Metode pembayaran ini menjadi alasan munculnya kebiasaan ‘lupa’ saat melakukan transaksi sehingga masyarakat langsung saja bayar tanpa memikirkan sisa nominal uang yang ada di rekeningnya. Perilaku tersebut tanpa sadar merupakan salah satu alasan akan hilangnya pain of paying yang kemudian menjadi akar dari perilaku konsumtif yang berkembang di tengah kemudahan sistem pembayaran digital seperti QRIS.
Perilaku Konsumtif
Perilaku konsumtif tidak terjadi karena kegiatan membeli barang mewah atau mengoleksi barang bermerek. Namun, perilaku ini muncul dari beberapa kebiasaan kecil mulai dari membeli kopi setiap pagi sampai memenuhi kepuasan pribadi dengan memanfaatkan promo bulanan untuk membeli hal yang tidak penting. Beberapa tindakan ini terjadi bukan hanya karena keinginan untuk berbelanja, melainkan juga kemudahan yang diberikan oleh metode pembayaran digital saat ini.
Kemudahan dalam kegiatan transaksi digital membebaskan masyarakat melakukan transaksi tanpa harus memiliki uang tunai. Kebebasan ini akhirnya mendukung hilangnya pain of paying dalam diri masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan perilaku konsumtif yang berawal dari kebiasaan kecil menjadi kebiasaan rutin sehingga dampak yang ditimbulkan tidak dapat disadari. Oleh karena itu, salah satu penyebab dari sifat konsumtif ini sebenarnya bukan QRIS sebagai suatu sistem pembayaran, melainkan hilangnya pain of paying sebagai kesadaran psikologis yang seharusnya dapat menjadi “alarm” ketika seseorang mengeluarkan uangnya. QRIS awalnya dirancang untuk mempermudah transaksi dan pencatatan keuangan para pengguna, tetapi kemudahan ini tanpa sadar, secara tidak langsung, menghilangkan sensasi psikologis yang penting untuk menahan diri dalam melakukan transaksi.
QRIS sejak awal hadir bukan untuk mendorong pemborosan, melainkan untuk mempermudah masyarakat dalam mencatat pembelian serta memantau arus keuangan pribadi secara otomatis dan real time. Semakin ke sini, berbagai perilaku masyarakat yang berkaitan dengan pembayaran digital membuktikan bahwa cara masyarakat memandang uang sudah berbeda. Proses menghitung dan menyerahkan uang yang semakin jarang dilakukan menyebabkan pain of paying yang seharusnya hadir sebagai ‘alarm’ perlahan menghilang.
Meskipun demikian, hilangnya pain of paying bukan merupakan suatu hal yang tidak dapat diatasi. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan fitur recap atau “riwayat keuangan” yang telah tersedia di setiap aplikasi e-wallet. Kedua fitur ini bisa menjadi peran pengganti untuk “jeda waktu” dan “bukti fisik” yang dinilai perlahan menghilang karena penggunaan pembayaran digital. Dengan memeriksa fitur rekap keuangan secara konsisten, bukan hanya setiap akhir bulan, sensasi pain of paying akan kembali hadir karena pengguna akan sadar pengeluaran apa saja yang telah dilakukan. Dengan demikian, kemudahan berupa scan dan bayar dengan QRIS tidak lagi berujung pada lupa yang mengakibatkan perilaku konsumtif, melainkan tetap berada dalam kendali penuh para pengguna.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


