• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Limbah Makanan, Waste Accounting, dan Ketahanan Pangan

MAHASISWA BERSUARA: Limbah Makanan, Waste Accounting, dan Ketahanan Pangan

Limbah makanan atau food waste sebenarnya bukan hanya soal makanan yang masuk ke tempat sampah. Ada biaya dan sumber daya yang ikut hilang di dalamnya.

Madeleine Sharlene Suhariawan

Mahasiswi Jurusan Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung

Warga menunjukan daging ayam beku dan telur yang baru diterima dari program pemerintah untuk bantuan pangan di halaman kantor Kecamatan Andir, Kota Bandung, Jumat (5/5/2023). (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

25 Agustus 2026


BandungBergerak – Makanan menjadi salah satu hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika melihat makanan yang terlihat enak, terkadang kita langsung tertarik untuk membelinya tanpa memikirkan apakah makanan tersebut akan kita habiskan atau tidak. Setelah dibeli, tidak jarang makanan hanya dimakan sebagian, disimpan terlalu lama, atau bahkan terlupakan sampai akhirnya basi. Jika hal seperti ini terus terjadi, makanan yang terbuang tentu akan semakin banyak. Terlebih lagi, makanan tersebut sebelumnya telah melalui berbagai proses dan menggunakan banyak sumber daya, seperti bahan baku, air, listrik, tenaga kerja, serta biaya.

Ternyata, jumlah makanan yang terbuang di Indonesia juga cukup besar. Menurut kajian Bappenas, pada tahun 2000–2019 jumlah food loss and waste di Indonesia mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun atau sekitar 115–184 kg per orang setiap tahunnya. Permasalahan ini juga dapat terjadi dalam kegiatan usaha. Restoran, hotel, supermarket, dan industri makanan harus mengatur jumlah bahan maupun makanan yang mereka sediakan setiap harinya. Kalau perkiraannya tidak sesuai, bahan makanan bisa tidak terpakai, makanan menjadi berlebih, atau produk tidak terjual. Pada akhirnya, makanan tersebut harus dibuang dan biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan ikut terbuang.

Jadi, food waste sebenarnya bukan hanya soal makanan yang masuk ke tempat sampah. Ada biaya dan sumber daya yang ikut hilang di dalamnya. Karena itu, perusahaan perlu melihat lebih jauh berapa banyak pemborosan yang terjadi dan apa penyebabnya. Dari sini, akuntansi bisa digunakan untuk membantu perusahaan melihat pemborosan tersebut dengan lebih jelas.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: TPA Sarimukti Hampir Penuh dan Kita Masih Berpura-pura Baik-baik Saja
MAHASISWA BERSUARA: Tentang Mereka yang Tak Dapat Bersuara di Balik Jeruji Kebun Binatang
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kapitalisme Menguasai Industri Sepak Bola Modern

Kenapa Food Waste Bisa Menjadi Masalah?

Pada dasarnya, food waste adalah makanan yang seharusnya masih bisa dimanfaatkan tetapi akhirnya terbuang. Masalah ini dapat terjadi di rumah, restoran, hotel, supermarket, maupun industri makanan. Penyebabnya beragam, seperti membeli atau membuat makanan terlalu banyak, penyimpanan yang kurang baik, atau makanan yang tidak terjual hingga akhirnya dibuang.

Kita mungkin pernah melihat makanan yang tersisa setelah acara atau makanan yang tidak habis terjual di sebuah tempat makan. Makanan tersebut sebenarnya masih memiliki nilai, tetapi nilainya hilang ketika tidak lagi dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan bahwa food waste bukan hanya persoalan sampah, tetapi juga kehilangan nilai dari makanan yang seharusnya dapat digunakan.

Selama ini, ketika mendengar tentang food waste, kita mungkin langsung menghubungkannya dengan masalah lingkungan. Memang benar, makanan yang terbuang akan menjadi sampah dan perlu dikelola dengan baik. Namun, masalah ini juga berkaitan erat dengan keuangan perusahaan. Misalnya, sebuah restoran membeli bahan makanan sesuai perkiraan jumlah pelanggan. Namun, ketika pelanggan yang datang lebih sedikit, sebagian bahan tidak terpakai dan akhirnya rusak. Restoran tersebut bukan hanya kehilangan bahan makanan, tetapi juga uang yang telah digunakan untuk membelinya. Jika hal ini terus terjadi, pemborosan akan semakin besar dan menunjukkan bahwa pengelolaan persediaan atau perencanaan produksi perlu diperbaiki.

Selain bahan makanan, terdapat pula biaya tenaga kerja, listrik, air, dan penyimpanan yang ikut terbuang ketika makanan tidak dimanfaatkan. Karena itu, food waste dapat menjadi tanda bahwa kegiatan perusahaan belum berjalan secara efisien.

Food waste menjadi masalah karena memiliki kaitan dengan ketahanan pangan. Di satu sisi, makanan yang terbuang di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Berdasarkan kajian Bappenas, food loss and waste di Indonesia pada periode 2000–2019 mencapai sekitar 23–48 juta ton setiap tahunnya. Jumlah tersebut bahkan diperkirakan setara dengan makanan yang bisa dikonsumsi oleh sekitar 61–125 juta orang dalam satu tahun. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Pada 2024, sekitar 4,02 persen penduduk Indonesia mengalami kerawanan pangan sedang atau berat, sedangkan 8,27 persen mengalami kekurangan asupan energi. Selain itu, sekitar 123 juta orang atau 43,5 persen penduduk Indonesia belum mampu mendapatkan makanan dengan pola makan yang sehat.

Kalau melihat angka tersebut, menurut saya ada hal yang cukup memprihatinkan. Pada satu sisi terdapat makanan yang terbuang sia-sia dengan jumlah yang sangat besar, tetapi di sisi lain masih terdapat masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan cukup dan bergizi. Memang, makanan yang sudah terbuang tidak semuanya bisa langsung diberikan kepada orang yang membutuhkan karena terdapat masalah kualitas, keamanan, dan cara pendistribusiannya. Tetapi, angka tersebut menunjukkan bahwa masih ada banyak makanan dan sumber daya yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dengan lebih baik.

Apa Hubungannya dengan Akuntansi?

Salah satu cara yang dapat digunakan perusahaan adalah waste accounting. Secara sederhana, waste accounting membantu perusahaan untuk mencatat dan mengukur pemborosan yang terjadi, termasuk makanan yang terbuang dan biaya yang ikut hilang. Jadi, perusahaan tidak hanya tahu bahwa ada makanan yang dibuang, tetapi juga bisa melihat seberapa banyak yang terbuang, jenis makanan apa yang paling sering terbuang, dan apa penyebabnya.

Hal serupa juga telah dilakukan oleh beberapa pihak di negara lain. IKEA, misalnya, mengukur dan mencatat food waste di restorannya dengan menimbang makanan yang dibuang, mengelompokkannya, dan mencari penyebabnya. Dari data tersebut, IKEA dapat mengetahui sumber pemborosan dan memperbaiki proses penyediaan makanan. Hasilnya, IKEA berhasil mengurangi food waste dari proses persiapan makanan sekitar 50 persen dibandingkan tahun dasar 2017, atau lebih dari 20 juta porsi makanan berhasil diselamatkan hingga akhir 2022.

Penerapan pengukuran food waste juga dilakukan di Seoul, Korea Selatan. Seoul menggunakan sistem untuk mengukur jumlah sampah makanan dan menghubungkannya dengan biaya yang harus dibayar masyarakat. Pemerintah kota menargetkan pengurangan food waste sebesar 20 persen pada 2030 dibandingkan tingkat 2019.

Dari kedua contoh tersebut, dapat dilihat bahwa pencatatan food waste dapat membantu perusahaan maupun pemerintah mengetahui sumber pemborosan dan menentukan langkah perbaikan. Dengan demikian, waste accounting tidak hanya berfungsi untuk mencatat limbah, tetapi juga dapat digunakan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

Walaupun terdengar sederhana, penerapan waste accounting tidak selalu mudah. Masih ada perusahaan yang belum menganggap pencatatan limbah sebagai hal penting karena lebih berfokus pada pendapatan dan pengeluaran utama. Selain itu, tidak semua perusahaan memiliki sumber daya manusia yang memahami cara mencatat dan mengukur food waste. Karena itu, diperlukan pengetahuan dan keterampilan agar waste accounting dapat diterapkan dengan baik. Pemerintah, akademisi, dan perusahaan juga perlu bekerja sama untuk mendorong penerapannya di Indonesia.

Menurut saya, hal yang paling penting dari waste accounting bukan hanya mencatat berapa banyak makanan yang terbuang, tetapi bagaimana perusahaan belajar dari catatan tersebut. Makanan yang terbuang dapat menjadi tanda bahwa ada proses yang perlu diperbaiki, seperti pembelian bahan, penyimpanan persediaan, jumlah produksi, atau kegiatan operasional. Dengan melakukan pencatatan secara rutin dan memasukkan informasi tersebut dalam evaluasi perusahaan, pemborosan dapat dikurangi dan penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.

Pada akhirnya, food waste bukan hanya tentang makanan yang dibuang, tetapi juga tentang bahan baku, uang, tenaga, air, dan energi yang ikut terbuang. Karena itu, perusahaan perlu mengetahui sumber dan biaya pemborosan yang terjadi. Waste accounting dapat membantu perusahaan mencatat dan mengukur food waste sehingga pemborosan dapat diketahui dan diperbaiki.

Dengan mengukur food waste, perusahaan dapat menemukan bagian yang masih boros, seperti pembelian bahan, penyimpanan, produksi, atau operasional. Dengan begitu, limbah tidak hanya dianggap sebagai sampah, tetapi juga sebagai informasi untuk meningkatkan efisiensi. Pada akhirnya, mengurangi food waste berarti menggunakan sumber daya secara lebih bijak dan mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai “sampah” menjadi sebuah nilai.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//