• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kapitalisme Menguasai Industri Sepak Bola Modern

MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kapitalisme Menguasai Industri Sepak Bola Modern

Sepak bola sudah menjadi sistem produksi ekonomi-politik yang digerakkan oleh hubungan material dan kontradiksi di dalamnya.

Ahmad Zaydan Puliwarna

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Ilustrasi – Sepak bola. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

18 Agustus 2026


BandungBergerak – Sepak bola bukan lagi sekadar cabang olahraga, melainkan candu global. Banyak orang yang rela begadang hingga larut malam, dan mengantre membeli tiket, dan berdebat sengit demi membela pemain atau tim yang didukung. Bagi mereka, sepak bola adalah hiburan sekaligus pelepasan emosi.

Dari banyaknya orang yang menonton sepak bola, para petinggi federasi sepak bola, baik itu FIFA, Konfederasi, dan Federasi sepak bola negara melihat celah untuk dapat menggerakkan sepak bola dari hanya sekadar hiburan menjadi mesin pencetak uang.

Komersialisasi ini dapat dilihat nyata pada kasus tingginya harga tiket untuk menonton final Piala Dunia 2026, harga tiket paling murahnya dibanderol mencapai 2.030 Dolar AS (sekitar Rp36,5 juta). Angka ini melonjak drastis dari edisi sebelumnya yang hanya berkisar Rp24.000.000 untuk kategori termahal.

Atau isu pembuatan ESL atau European Super League yang didirikan oleh pemilik klub-klub besar yang ada di Eropa agar meraih keuntungan uang sebesar-besarnya, pembagian hak siar langsung ke rekening klub elite tanpa adanya perantara dari UEFA, dan menyaingi UEFA Champions League karena dianggap kurang menguntungkan bagi klub-klub elite Eropa.

Kemudian, banyaknya klub-klub bersejarah sepak bola di Eropa dibeli oleh konglomerat hingga dana berdaulat oleh negara petro (negara-negara yang menggantungkan pendapatannya dari hasil minyak dan gas alam). Contohnya klub Manchester City yang dibeli oleh Syeikh Mansour dari Uni Arab Emirate dan PSG yang dibeli oleh Nasser Al-Khelaifi dari Qatar.

Selain itu, banyaknya perusahaan televisi rela untuk mengeluarkan puluhan miliar Dolar untuk mendapatkan hak siar suatu turnamen besar. Contohnya membeli hak siar Premier League yang mencapai Rp130+ triliun untuk pasar domestik saja dan nilai pasar internasionalnya melebihi nilai pasar domestik Inggris.

Bahkan ada contoh dari FIFA yang membuat turnamen besar Piala Dunia Antarklub yang diselenggarakan 4 tahun sekali dan diikuti oleh 32 tim yang berasal dari 6 konfederasi berbeda. Selain itu, turnamen Piala Dunia 2026 diselenggarakan di 3 negara berbeda (Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada) dan ditambah kuota pesertanya menjadi 48 negara. Di tahun 2030, pesertanya rencana akan ditambah lagi menjadi 64 negara (menunggu pengumuman resmi dari FIFA) dan diselenggarakan di 6 negara dan 3 benua yang berbeda (Argentina, Uruguay, dan Paraguay untuk benua Amerika Selatan, Spanyol dan Portugal untuk benua Eropa, dan Maroko untuk benua Afrika).

Di Indonesia sendiri, praktik akuisisi dan pemindahan lisensi klub banyak dilakukan oleh para investor–yang kerap dijuluki sebagai “klub siluman”–dan menjadi jalan pintas untuk langsung bermain di Liga Super. Contoh klubnya seperti Bali United (sebelumnya Persisam Putra Samarinda FC), Rans Nusantara FC (sebelumnya Cilegon United), Garudayaksa FC (klub milik Prabowo Subianto, Presiden RI ke-8), dan Dewa United (sebelumnya Martapura FC).

Dari berbagai contoh yang telah dipaparkan sebelumnya, banyak orang yang menganggap bahwa fenomena ini sebagai konsekuensi alamiah dari modernisasi olahraga. Namun, jika dianalisis melalui teori Materialisme Dialektis ala Karl Marx–bahwa sepak bola sudah menjadi sistem produksi ekonomi-politik yang digerakkan oleh hubungan material dan kontradiksi di dalamnya.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Karena Suporter Fomo Menjadi Makanan Kapitalis Sepak Bola (Indonesia)
MAHASISWA BERSUARA: Komodifikasi dan Simulakra pada Tren Pilates Princess di Era Digital
MAHASISWA BERSUARA: Transisi Teknologi dan Prekariat Kerja Proyeksionis Bioskop Garut

Komersialisasi dan Imperialisme Olahraga

Dalam teori Materialisme Dialektis, basis material (alat dan relasi produksi, dalam hal ini struktur ekonomi) menentukan suprastruktur (segala non-fisik seperti hukum, kebudayaan dan institusi). Secara historis, sepak bola lahir pada abad ke-19 di Inggris sebagai olahraga rekreasi kolektif. Sepak bola saat itu memiliki nilai guna yang tinggi sebagai identitas sosial dan ruang solidaritas warga.

Namun, seiring berkembangnya zaman, sepak bola mengalami komodifikasi masif yang di mana nilai tukar menjadi hal yang utama. Komoditas ini bukan hanya mengutamakan penjualan tiket pertandingan, tetapi dari nilai sponsor, hak siar, televisi, hingga industri taruhan. Basis material inilah yang pada akhirnya dapat mengatur jadwal pertandingan, regulasi kompetisi, hingga format kompetisi yang baru untuk memaksimalkan akomodasi modal.

Dialektis menurut Hegel adalah keadaan (tesis) berbenturan dengan kontradiksi (antitesis), sehingga menghasilkan keadaan yang baru (sintesis). Jika dikaitkan dengan sepak bola modern dan teori Materialisme Dialektis Karl Marx, sepak bola sebagai identitas budaya lokal dan milik bersama (tesis) berbenturan dengan sepak bola sebagai peluang bisnis yang menguntungkan (antitesis).

Kontradiksi ini melahirkan gentrifikasi stadion (sintesis), di mana pendukung loyal dari kelas proletar yang telah membangun identitas klub seketika runtuh oleh orang-orang kelas borjuis melalui penjualan tiket yang sangat mahal. Tempat mereka digantikan oleh orang-orang kelas atas dari penonton VIP atau turis industri rekreasi yang mampu membayarnya lebih tinggi. Klub memandang bahwa pendukungnya hanya sebagai konsumen pasar, bukan sebagai pemilik identitas klub.

Fenomena ini terjadi juga pada klub Persib Bandung. Manajemen Persib mengeluarkan kebijakan tiket penuh secara daring serta pengetatan aturan stadion. Di satu sisi, kebijakan ini meningkatkan profesionalitas dan pendapatan klub. Namun di sisi lain, bobotoh dari kelas menengah ke bawah merasa kesulitan untuk mengakses stadion. Dari kasus ini, adanya pergeseran peran penggemar dari pemilik identitas menjadi sekadar konsumen pasar.

Di sisi lain, hubungan kerja dalam sepak bola memunculkan relasi kelas kapitalis dan alienasi atau keterasingan dari pemain. Jika dianalisis dengan teori dari Karl Marx, meskipun para pemain mendapatkan gaji yang sangat fantastis, mereka tetaplah sebagai tenaga kerja yang menjual skill dalam struktural posisi.

Kondisi ini dapat memicu suatu alienasi (keterasingan), yang pertama adalah keterasingan dari tubuh proses kerja pemain. Tubuh mereka bekerja seperti mesin yang tidak boleh berhenti kerja, mulai dari diet, jam tidur, hingga taktik permainan mekanis dan mereka bermain bola bukan untuk bersenang-senang, melainkan hanya sekadar rutinitas fisik yang membuatnya dapat memicu kelelahan fisik maupun mental akibat jadwal pertandingan yang sangat padat.

Yang kedua adalah keterasingan dari hasil dan nilai diri. Pemain bermain untuk meraih kemenangan dan nilai budaya, tetapi hasil kemenangan dan pemasukannya lainnya disedot oleh pemilik modal. Bahkan, identitas pemain disusutkan menjadi aset finansial yang diukur dalam bursa transfer dan nilainya disusutkan di dalam laporan keuangan klub.

Dialektika industri sepak bola modern terjadi dalam skala internasional. Ada suatu pembagian tempat bekerja yang tidak setara antara negara berkembang (Seperti di benua Asia, Afrika, dan Amerika Selatan) dengan negara-negara kapitalis sepak bola global di Eropa.

Negara-negara periferi ini menciptakan “bahan mentah” bernilai murah (talenta-talenta berbakat sepak bola) yang nantinya akan diolah, dikomersialkan, dan dimaksimalkan nilainya oleh klub-klub elit Eropa. Ini yang menjadikannya ada suatu ketimpangan kualitas antara sepak bola di Eropa dengan benua-benua lainnya.

Ini juga yang menjadikan sepak bola tidak lagi hanya menjadi pertandingan olahraga selama 2x45 menit saja, tetapi sudah masuk ke dalam industri konten hiburan global yang berputar selama 24/7.

Suporter yang Mengubah Arah Kapitalisme

Materialisme Dialektis mengajarkan bahwa suatu sistem yang tertutup akan terjadinya perlawanan dari dalam dirinya sendiri. Ketahanan dari penggemar suatu tim menjadi penanda bahwasanya sepak bola tidak sepenuhnya diubah menjadi suatu komoditas yang kaku.

Contoh nyatanya seperti para penggemar klub-klub Liga Jerman, Bundesliga, yang berhasil mempertahankan aturan 50+1 (di mana penggemar memegang saham mayoritas klub) atau para penggemar klub-klub Inggris protes keras untuk diadakan European Super League. Di Indonesia sendiri, ketahanan serupa muncul ketika para penggemar melakukan protes terkait jadwal pertandingan Liga 1 (saat ini menjadi Liga Super) yang terlalu malam demi mengejar rating televisi dan “prime time”. Ini menunjukkan bahwa ada kesadaran kelas dan ketahanan budaya di dunia sepak bola.

Dalam konteks Bandung, ketahanan budaya ini dapat dilihat dari aksi protes bobotoh terhadap manajemen Persib, mulai dari boikot nonton ke stadion terkait harga tiket yang terlalu mahal hingga penentuan atas jadwal yang terlalu larut malam hanya demi kepentingan rating televisi. Ini menunjukkan bahwa bobotoh bukan hanya penonton yang pasif, tetapi menjadi penjaga terakhir nilai-nilai sosial dan identitas komunitas sepak bola.

Kerangka Materialisme Dialektis membantu kita dapat menyadari bahwa krisis, ketimpangan, dan komersial yang brutal bukan sebuah kebetulan atau sekadar ulah dari pemilik klub. Melainkan adanya suatu konsekuensi logis dan terstruktur dari logika akumulasi kapitalisme ke dalam arena sepak bola.

Sepak bola mungkin saat ini telah benar-benar dikuasai oleh pemilik klub yang memiliki modal besar. Namun, jiwa sosialnya masih berada di tangan penggemar dan komunitas yang setia mendukung tim kesayangannya. Selama bola masih bergulir, kontradiksi antara pemilik modal dan pemilik identitas akan terus berlangsung di dalam maupun di luar lapangan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//