MAHASISWA BERSUARA: Komodifikasi dan Simulakra pada Tren Pilates Princess di Era Digital
Fenomena Pilates Princess berisiko mengubah olahraga pilates menjadi barang mewah yang eksklusif, sehingga fungsi asli untuk menyehatkan tubuh justru terabaikan.

Ratu Eartha Novezelia
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Telkom University
27 April 2026
BandungBergerak – Coba perhatikan beranda Instagram atau TikTok Anda dari tahun 2024 sampai awal 2026 ini. Isinya pasti terlihat serupa: video perempuan muda berbalut pakaian olahraga berwarna pastel yang serasi secara estetik sering kali dari merek mahal dan terkenal seperti Alo Yoga atau Lululemon. Mereka mengenakan kaus kaki grip yang trendi, menggenggam botol minum viral seperti Stanley atau Owala, dan berpose anggun di atas mesin Reformer Pilates. Fenomena ini populer di dunia maya sebagai tren "Pilates Princess" atau "Pink Pilates Princess". Secara statistik, fenomena ini bukanlah sebuah tren minor (niche); data dari Hypebae (2024) mencatat bahwa pada akhir 2024 saja, konten terkait tagar ini sudah menembus lebih dari 44 juta unggahan, menjadikannya standar baru gaya hidup sehat bagi perempuan saat. Di samping itu, laporan industri dari The Protein Works menunjukkan lonjakan luar biasa pada pencarian "Reformer Pilates" sebesar 233 persen menjelang 2025. Angka ini membuktikan bahwa “Pilates Princess” telah menjadi salah satu tren gaya hidup terbesar di masa sekarang.
Namun, jika kita melihat sejarahnya, terdapat sebuah ironi historis yang cukup mencolok. Awalnya, metode "Contrology" (yang kini dikenal sebagai Pilates) diciptakan oleh Joseph Pilates pada era Perang Dunia I. Kala itu, tujuannya sangat mulia dan sederhana: sebagai metode rehabilitasi fisik bagi para tahanan, veteran perang yang terluka, dan para penari balet. Praktik ini lahir dari kebutuhan akan pemulihan trauma fisik yang esensial dan inklusif. Sayangnya, melalui lensa budaya popular saat ini, visualisasi Pilates hari ini lebih dari sekadar representasi olahraga penyembuhan belaka, seperti yang dicatat oleh Karen Irene Thal dalam bukunya Wellness Tourism: An Introduction (2025) kini ia bermutasi menjadi simbol kehidupan yang terlihat sempurna, menggabungkan gagasan kebugaran jasmani dengan sentuhan kemewahan dan perawatan diri yang sangat eksklusif.
Di balik indahnya visual tersebut, muncul sebuah urgensi yang perlu kita pertanyakan secara kritis. Dari jutaan perempuan yang mengadopsi tren ini, berapa banyak yang benar-benar berfokus pada perbaikan postur tubuh, penguatan core, dan mobilitas sendi? Sebaliknya, berapa banyak yang sekadar membayar biaya kelas studio yang menguras kantong demi bisa membuat konten foto berdurasi sepuluh menit di depan kaca estetis studio? Ada pergeseran makna yang sangat jelas di sini. Fenomena ini menunjukkan adanya obsesi untuk tampil sempurna di media sosial. Banyak orang langsung mengadopsi 'gaya' seorang pesenam Pilates secara instan tanpa benar-benar ingin menjalani proses olahraganya yang melelahkan. Akibatnya, fokus mereka bergeser: bukan lagi mencari manfaat kesehatan bagi tubuh, melainkan sibuk mengatur hasil foto agar terlihat cantik demi mendapatkan perhatian di dunia maya.
Oleh karena itu, esai ini berargumen bahwa praktik Pilates dalam lanskap budaya populer digital telah mengalami komodifikasi yang sangat ekstrem; maknanya telah bergeser jauh dari dari yang asalnya adalah olahraga kesehatan yang mendasar, kini hanya menjadi sekadar gaya hidup, pencitraan dunia maya, dan simbol status sosial seseorang. Melalui kacamata cultural studies (studi budaya), fenomena Pilates Princess merepresentasikan bagaimana pertemuan antara bisnis modern, keinginan untuk pamer di dunia digital, serta tekanan budaya terhadap perempuan terus memaksa mereka untuk memiliki tubuh yang dianggap 'sempurna' di zaman sekarang.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Menggugat Peminggiran Perempuan Korban Morphing AI
MAHASISWA BERSUARA: Setara di Layar, Timpang di Kehidupan Nyata: Kesetaraan Gender dan Generasi yang Terlalu Cepat Merasa Selesai
MAHASISWA BERSUARA: Digital Taylorism dan Urgensi Pekerja Kategori Ketiga
Komodifikasi Gaya Hidup
Dalam perspektif studi budaya, khususnya melalui kritik Marxisme mengenai komodifikasi, kita dapat melihat bagaimana nilai guna (use-value) dari sebuah praktik kebugaran telah sepenuhnya ditelan oleh nilai tukar (exchange-value) dan nilai simbolisnya. Kapitalisme modern dengan cerdik telah mengemas ulang konsep kesehatan menjadi apa yang disebut sebagai wellness industrial complex serangkaian barang konsumsi yang seolah wajib dibeli.
Skala komersialisasi ini tidak main-main. Laporan data dari portal statistik Statista mencatat bahwa nilai pasar industri kesehatan dan kebugaran (wellness) dunia telah menembus angka fantastis sebesar 6,8 triliun dolar AS pada tahun 2024. Bahkan, merek pakaian Lululemon yang kerap menjadi "seragam wajib" dari tren ini berhasil meraup pendapatan bersih global hingga 9,6 miliar dolar AS pada tahun yang sama. Dengan putaran uang sebesar itu, industri ini mendikte bahwa untuk dapat diterima secara sosial sebagai seorang Pilates Princess, seorang perempuan seolah diwajibkan untuk mengonsumsi pakaian olahraga bermerek premium, aksesori spesifik, dan mendaftar pada keanggotaan studio eksklusif.
Praktik ini selaras dengan narasi postfeminism dan neoliberalism dalam industri activewear seperti yang diuraikan oleh Brice et al. (2023). Industri ini memanipulasi konsep pemberdayaan perempuan (women empowerment), di mana prinsip otonomi diri justru disalahgunakan untuk keuntungan kapitalistik. Dalam logika ini, seorang perempuan dianggap "merdeka" dan "berdaya" apabila ia memiliki daya beli untuk merawat dirinya melalui produk-produk mahal. Tubuh perempuan dikapitalisasi menjadi ladang bisnis yang tiada akhir, mengharuskan mereka untuk secara konstan mendisiplinkan diri demi menyesuaikan dengan standar ideal feminin yang sepenuhnya berorientasi pada konsumerisme seperti harus langsing, kencang, muda, dan estetik. Melalui mekanisme ini, industri kebugaran berhasil mengeksploitasi gagasan tentang perawatan diri (self-care) menjadi semacam kewajiban moral untuk terus berbelanja.
Komodifikasi gaya hidup ini secara logis melahirkan praktik yang oleh sosiolog Thorstein Veblen dikonseptualisasikan sebagai konsumsi mencolok (conspicuous consumption). Kelas Pilates, khususnya varian Reformer atau Cadillac, secara struktural menuntut biaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keanggotaan pusat kebugaran konvensional. Oleh karena itu, tindakan mengunggah foto atau video saat berada di studio Pilates butik bukan lagi sekadar kegiatan berbagi rutinitas fisik, melainkan sebuah cara yang dilembagakan untuk unjuk gigi secara ekonomi. Ini adalah manifestasi modern untuk mendeklarasikan kepada publik maya bahwa sang pengunggah memiliki privilese kelas pekerja kerah putih, fleksibilitas waktu luang, dan modal ekonomi yang berlebih.
Pakaian olahraga yang digunakan berfungsi sebagai proksi kelas sosial, yang menunjukkan tingkat legitimasi seseorang semata-mata berdasarkan logo yang melekat pada tubuhnya. Merek-merek activewear elit secara tidak langsung menciptakan eksklusivitas yang menyingkirkan kelas pekerja. Temuan Cowley dan Schneider (2025) mempertegas hal ini; mereka menemukan bahwa perempuan kerap merasa dihakimi dan mengalami gym anxiety karena tekanan untuk berpenampilan "tepat". Dengan mengenakan pakaian ketat dan estetis dari merek mahal, perempuan secara tidak langsung dipaksa tunduk pada ekspektasi tersebut demi berbaur dan menghindari perasaan terasing. Pada akhirnya, kelas Pilates bertindak sebagai penjaga gerbang (gatekeeper), di mana kenyamanan di dalam studio kebugaran menjadi sangat problematis karena bersyarat pada penampilan fisik dan kemampuan ekonomi semata.
Simulakra Pilates Princess
Lebih jauh, fenomena Pilates Princess semakin diperkuat oleh struktur media sosial yang menciptakan apa yang filsuf Jean Baudrillard sebagai simulakra (simulacra), yakni sebuah realitas semu di mana representasi (citra/foto) dari sesuatu telah menggantikan realitas aslinya. Di era sekarang, citra "tampak sehat" yang diproyeksikan di layar ponsel jauh lebih krusial daripada indikator kesehatan biologis yang sesungguhnya. Di era sekarang, tampilan “tampak sehat” yang diperlihatkan di layar ponsel jauh lebih penting daripada indikator kesehatan tubuh yang sesungguhnya. Banyak pengikut tren ini yang lebih mengutamakan “fabrikasi momen” (manufacturing moments)–memastikan pencahayaan, posisi tubuh agar tidak terlihat berlemak, riasan natural yang glowing, dan keringat yang tidak berlebihan. Esensi asli dari Pilates memudar, sepenuhnya kalah oleh pencitraan gaya hidup.
Dampak dari simulakra ini sangat bermasalah, karena tidak hanya bekerja tampilan visual, tetapi juga digerakkan oleh sistem algoritma yang menekan. Sebagaimana dikemukakan oleh Dennehy et al. (2024), perempuan yang menggunakan media sosial untuk kebugaran dihadapkan pada pengawasan ekonomi (economic surveillance) dari platform yang terus-menerus mendikte standar kebugaran tak realistis. Algoritma TikTok, misalnya, secara masif mendistribusikan konten fitspiration yang sangat dikurasi. Studi Limniou et al. (2025) membuktikan bahwa paparan fitspiration ini secara drastis menurunkan rasa puas terhadap tubuh pemirsanya dan memicu perbandingan sosial yang merusak. Seperti yang dicatat Juanta et al. (2025), Generasi Z menjadi kelompok yang perilakunya paling rentan disetir oleh pengaruh digital ini. Perbandingan sosial ini kian beracun karena dunia maya hanya menampilkan versi paling buatan dari kehidupan. Pada akhirnya, perempuan terperangkap dalam jerat narsisme digital sekaligus menjadikan diri mereka sendiri sebagai objek, mengikuti pandangan orang lain di dunia digital (the digital gaze) dan menjadikannya standar tunggal untuk menilai harga diri mereka.
Tidak ada satu pun yang salah dengan Pilates sebagai sebuah disiplin ilmu kesehatan. Secara anatomi, praktik warisan Joseph Pilates ini menawarkan segudang manfaat nyata yang bisa dirasakan siapa saja, mulai dari membangun kekuatan otot, memperbaiki postur tubuh, hingga menjaga kesehatan mental. Namun, permasalahan sosial yang mendesak saat ini adalah bagaimana mesin budaya populer digital dan kapitalisme mendangkalkan olahraga ini. Pilates kini seolah hanya menjadi sekadar "seragam", tren kecantikan untuk pamer, dan bahan konten yang dikomodifikasi secara massal. Fenomena Pilates Princess membuktikan bahwa ketika niat sehat (wellness) bersilangan tanpa batas dengan kepentingan-kepentingan bisnis dan keinginan untuk pamer di media sosial, olahraga ini berisiko berubah menjadi barang mewah yang eksklusif, sehingga fungsi asli untuk menyehatkan tubuh justru terabaikan.
Ketika tempat-tempat olahraga berubah menjadi panggung sandiwara digital hanya untuk memamerkan kekayaan dan kecantikan palsu, kita dituntut untuk memeriksa kembali apa motivasi sebenarnya di balik aktivitas fisik kita. Hak setiap orang untuk sehat harus dikembalikan. Kesehatan sejati dan kesejahteraan yang menyeluruh seharusnya dirasakan, dijalani, dan dinikmati oleh tubuh itu sendiri–baik saat sendirian maupun di tengah keramaian–tanpa harus bergantung pada penilaian algoritma media sosial. Pada akhirnya, kesehatan dan ketekunan dalam berolahraga bukanlah barang dagangan, bukan pula piala status sosial yang dipamerkan secara dangkal demi mendapatkan deretan likes di layar ponsel.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


